Lagi heboh pro-kontra tentang kurikulum 2013, ya? Etapi, kapan sih kurikulum di negara kita gak rame dengan yang namanya pro-kontra? Dari sebelum ada kurikulum 2013 juga kurikulum yang sebelum-sebelumnya selalu rame pro-kontra. Emang gak pernah sepi kalau ngomongin kurikulum hehehe.

Kalau ditanya suka atau tidak dengan kurikulum 2013, Chi akan jawab iya. Oiya, Chi pro untuk K13 yang SD, ya. Kalau yang SMP/SMA masih no comment. Belom ngerasain hehe. Tapi terlepas dari apakah Chi pro atau kontra dengan kurikulum baru ini yang penting adalah Teaching With Love.

Kalau dikatakan Chi pro dengan kurikulum 2013, tapi bukan berarti dengan kurikulum sebelumnya Chi selalu kritik dan mengeluh terus-terusan, lho (Bisa dibuktikan dengan membaca tulisan-tulisan Chi di file metode belajar). Boleh aja berpro-kontra, tapi kalau Chi hanya fokus kepada kritik dan mengeluh malah jadinya lupa untuk mengajarkan Keke dan Nai. Padahal materi pelajaran segabruk yang harus dipelajari. Lagipula semua kurikulum itu ada ribetnya masing-masing tapi juga ada keuntungannya masing-masing. Gak ada yang 100% sempurna atau 100% buruk.

Teaching with love yang Chi terapkan adalah mengajarkan Keke dan Nai sesuai dengan karakter gaya belajar mereka. Jadi walopun materinya sama, bukan berarti Chi bisa mengajarkan dengan cara sama ke mereka. Seringkali Chi menulis kalau Keke gaya belajarnya auditori sedangkan Nai itu visual. Tentunya untuk beberapa hal, Chi harus menjelaskan dengan cara berbeda. (Silakan lihat lagi file metode belajar, bagaimana Chi mengajarkan Keke dan Nai). Chi gak bisa 100% mengandalkan ke guru. Chi juga harus terjun langsung mengajarkan Keke dan Nai.

Kesimpulannya sih, apapun kurikulumnya, Chi berusaha siap aja lah. Etapi, denger dari sumber yang (mudah-mudahan) bisa dipercaya Kurikulum 2013 gak dihentikan total, cuma dievaluasi. Judul berita di media aja yang seolah-olah dihentikan total. Kalau memang bener, syukur lah. Jangan sampe semakin melekat pemikiran "Ganti Menteri, Ganti Kurikulum." Karena buat Chi, sih, apapun kurikulumnya memang sebaiknya jangan gonta-ganti. Sempurnakan aja yang sudah ada. Dan, untuk menyempurnakan itu memang butuh proses yang gak instan. Butuh waktu panjang juga buat pembiasaan.

Mungkin untuk orang tua yang mempunyai sedikit waktu bersama anak karena harus bekerja akan merasa kesulitan bagaimana mengajarkan anak. Waktunya aja udah habis di jalan dan di kantor. Ya, sebetulnya ang Chi lakuin di atas kan cuma salah satu cara. Untuk orang tua yang bekerja bisa dengan cara meningkatkan kualitas. Misalnya, ketika bertemu dengan anak jangan cuma nanya nilai pelajaran. Tapi, tanya juga perasaannya tentang sekolah, teman, ada kesulitan belajar atau enggak, dan lain-lain. Kasih motivasi yang bikin anak senang bukan yang membebani. Chi rasa walopun cuma 10 menit, kalau ditanya begitu bisa menambah semangat anak untuk belajar dan berprestasi, lho. Karena anak itu sebenarnya seneng kok bikin bangga orang tua. Diskusi-diskusi ringan seperti ini juga termasuk teaching with love.

Masa' sih? Kan, Chi di rumah? Darimana tau kalau 10 menit aja cukup?

Iya lah Chi tau. Kan, dulu orang tua Chi dua-duanya juga bekerja. Seringkali ketemunya pagi aja sama wiken. Atau kalau masih penasaran juga, belajar aja dari orang tua yang keduanya bekerja tapi anak-anaknya tetap berprestasi dan bahagia. Di lingkungan sekitar kita pasti banyak contohnya.

Oiya, belum tertarik untuk memasukkan Keke dan Nai ke bimbingan belajar juga bagian dari teaching with love yang Chi berikan. Kasihan, mereka udah sekolah sampe lewat tengah hari. Masa' masih harus belajar lagi di bimbel. Kapan mainnya? Ngebul nanti otak mereka kalau belajar melulu hehehe. Etapi, bukan berarti orang tua yang memasukkan ke bimbel trus Chi berkesimpulan kalau mereka gak sayang anak, ya. Plisss, jangan di generalisir. Karena setiap keluarga punya pendapat dan kebutuhan masing-masing :)

Jadi, karena Chi bukan orang yang berwenang mengubah kurikulum (ada yang lebih ahli untuk hal itu). Maka, yang bisa Chi lakukan adalah mengajarkan Keke dan Nai dengan cara Teaching with Love. Apapun kurikulumnya, Chi akan berusaha agar Keke dan Nai tetap bahagia ketika belajar. Syukur-syukur kalau berprestasi juga :)

Chi: "Bu, model UASnya ganti lagi, ya?"
Wali kelas: "Iya, Ma. Karena bla.... bla...bla..."
Chi: "Oh gitu. Saya cuma nanya aja, sih. Karena apapun modelnya, tetep aja harus belajar."
Wali kelas: "Iya bener, Ma hehehe."

Obrolin ringan Chi di WA dengan wali kelas Keke. Emang iya, kan apapun modelnya tetep aja harus belajar? Nah, Chi memilih dengan cara Teaching With Love.

Bagaimana dengan teman-teman? ;)


post signature