Bunda, tadi di sekolah ada audisi spelling bee buat diikutin lomba."

Keke dan Nai saling rebutan bercerita tentang audisi spelling bee yang diadakan di sekolah. Kalau Keke bilang dia malas ikutan lomba dan sengaja disalah-salahkan jawabannya supaya gak terpilih. Nai kebalikannya, dia terlihat sedikit kecewa karena gak terpilih.

Bunda: "Keke kenapa disalah-salahin jawabannya?"

Keke: "Keke males ikut lomba, Bun!"

Bunda: "Ya, kalaupun gak disalah-salahin belum tentu juga kepilih, kan? Berusaha maksimal aja dulu."

Keke: "Iya, deh. Iyaaaa..."

Bunda: "Nai masih kecewa?"

Nai: "Enggak, sih. Cuma sedikiiiitt aja tadi."

Bunda: "Gak apa-apa juga kecewa. Asal jangan berlebihan."

Sebetulnya dalam hati Chi agak sedikit serba salah ketika menasehati Keke. Chi minta Keke jangan sengaja menyalah-nyalahkan jawaban. Tapi, seandainya dia berbuat yang terbaik dia bisa trus kepilih gimana? Sedangkan Keke gak ingin ikut sama sekali. Hmm.. mungkin ke depannya, Chi akan minta Keke untuk berterus terang aja kalau memang gak ingin. Tentunya harus punya alasan yang kuat dan tepat.

Beberapa minggu kemudian...

Nai: "Bunda, Ima dapet surat dari sekolah. Baca, deh."

Bunda: "Bunda lagi nyetir, Nak. Ima bacain aja."

Nai: "Jadi, minggu depan kan ada lomba di TMII. Ima dipilih sama sekolah buat ikut lomba mewarnai."

Chi belum pernah denger Nai ikut audisi mewarnai di sekolah. Tapi beberapa waktu sebelumnya ada lomba pekan Muharram, dan Nai juara 1 untuk lomba mewarnai. Mungkin dari situ dia terpilih untuk mewakili sekolah.

Acaranya sudah berlangsung 2 minggu yang lalu di Istana Anak, TMII. Kami berkumpul di sekolah dari pukul 6 pagi. Siswa/i yang ikutan lomba berangkat pakai mobil antar-jemput sekolah. Orang tua mengiringi aja. Berangkat sekitar pukul 7, dan suasana Istana Anak udah sangat ramai.

Sebetulnya Chi rada malas ngelihat lomba kayak gini. Pernah Chi tulis alasannya di postingan “Berbagai Tingkah Laku Orang Tua Di Lomba Mewarnai”. Memang bukan urusan Chi, tapi ngelihat yang kayak gitu bikin gregetan. Makanya, Chi itu suka rada males ngajak anak-anak untuk ikut lomba hehe. Tapi, kalau anaknya semangat ikutan, masa' kita harus melarang? Sesekali singkirkan ego orang tua :)

Saat lomba, Nai Chi minta duduk paling depan, jauh dari orang tua dan pengajar. Benar-benar berusaha sendiri. Memang Nai gak mendapat juara apapun. Tapi, Chi bangga karena Nai udah berusaha maksimal yang dia bisa dengan jujur.



Godie bag yang rapet-rapet

“Dek, ini goodie bagnya. Tapi khusus yang ini kasih ke mama, ya.”

Setiap anak yang ikut lomba, mendapatkan 1 tas goodie yang isinya lumayan banyak dengan aneka camilan dan minuman. Tapi, setiap kali memberikan goodie bag kepada peserta, mbak-mbak yang memberikannya selalu berkata seperti itu. Dalam hati, Chi merasa tinggal tunggu saatnya aja Nai cepat atau lambat akan bertanya tentang benda yang ‘khusus buat mama’.

Nai: “Bun, emangnya ini apa, sih?”

Tuh! Benar, kan? Seusai lomba Nai pun bertanya. Benda yang ‘khusus buat mama’ itu adalah minuman jamu untuk wanita yang rapet-rapet itulah. Kayaknya gak perlu Chi jelasin secara detil kali, yaaa… Hahaha.

Bunda: “Jamu untuk perempuan yang udah dewasa.”

Untungnya setelah itu, Nai gak bertanya lebih lanjut. Dia cuma bilang, “Oh.”

K’Aie: “Lagian aneh. Lomba untuk anak kok ada goodie bag kayak gitu.”

Hihihi bener juga apa kata K’Aie. Kalaupun mau ada goodie bag untuk mama atau papanya cari yang gak bikin anak-anak penasaran kali, yaaa.. Misalnya, kopi arabika. Kalau goodie bagnya kopi, Keke dan Nai juga udah tau apa itu kopi. Lagian aman buat dijawab hehehe.

Etapi, bukan karena gak ada goodie bag kopi kalau setelah lomba kita lanjut ngopi-ngopi di Rumah Kopi Nusantara yang letaknya pas di seberang Istana Anak. Abis itu lanjut ke museum PPIPTEK yang ternyata berada hampir 3 jam di sana masih kurang puas.

Cerita ngopi-ngopi di Rumah Kopi Nusantara dan ke museum PPIPTEK dipostingan berikutnya aja. Sekarang baca-baca dulu postingan ini sambil nyeruput kopi. Mumpung lagi hujan, nih. Menikmati hujan memang paling enak sambil nyeruput kopi


 
Mari kita ngopi dulu :)