Featured Post

Antara Kopi Hijau, Diet, dan Antioksidan

Chi pernah bercerita di blog kalau K’Aie adalah seorang pecinta kopi. Setelah bangun tidur, aktivitas yang pertama kali dilakukan adalah ...

Rabu, 26 Oktober 2016

Tentang Aksi Damai IDI


Senin, 24 Oktober 2016, bertepatan dengan HUT ke-66 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menggelar aksi damai secara serentak di seluruh tanah air dengan berpusat di depan istana negara, Jakarta. IDI ingin menyuarakan tentang Reformasi Sistem Kesehatan dan Reformasi Sistem Pendidikan Kedokteran yang Pro Rakyat.

Oke, sebelum Chi membahas tentang aksi damai IDI ini, mau cerita dulu tentang 'keakraban' keluarga kami dengan tenaga medis di 2 tahun terakhir ini. Sekitar 2 tahun lalu, papah mertua pernah terjatuh ketika sedang membuka pagar. Karena sempat tidak sadarkan diri setelah terjatuh menyebabkan harus dirawat selama sebulanan di rumah sakit. Penyakit diabetes yang sudah menahun memang mambuat papah mertua menjadi lebih lama dirawat rumah sakit.

Setelah pulang dibolehkan pulang hingga kini, setiap 1-2 minggu sekali, papah mertua harus rutin melakukan terapi dan kontrol di rumah sakit. Kondisinya memang belum kembali seperti semula. Hanya bisa berbaring di kasur dan perlu banyak bantuan. Progress ada tetapi perlahan.

Kondisinya yang demikian tidak memungkin papah mertua untuk jalan sendiri ke rumah sakit. Biasanya selain mamah mertua, K'Aie dan kakaknya ikut menemani. Berangkat pagi-pagi dan di rumah sakit bisa seharian. Paling tidak sampai pukul 1 atau 2 tapi kadang sampai sore.

Kok, bisa selama itu? Menurut K'Aie yang bikin lama itu antreannya. Untuk pengobatan dan terapi ini kami menggunakan BPJS. Ya, kalau mau cepat sih bisa tapi biayanya juga lebih tinggi, ujar Chi dalam hati. Prihatin dan sedih sebetulnya. Tapi, mau gimana lagi? Cuma bisa pasrah dan berharap yang terbaik.

Menunggu itu pekerjaan yang paling membosankan, lho. K'Aie yang sehat setidaknya masih bisa berjalan-jalan sejenak atau sekadar menggerakkan badan untuk mengusir bosan. Masih bisa lihat smartphone untuk online. Bagaimana dengan papah mertua yang hanya bisa duduk di kursi roda selama menunggu, Pastinya melelahkan. Berjam-jam lho menunggunya. Hiks :(

Seringkali Chi berpikir, mungkin gak ya suatu saat nanti ada solusi yang lebih baik? Dari sisi keluarga pasien, keberadaan BPJS memang sudah membantu. Bersyukur tenaga medisnya cukup ramah. Tapi, berharap suatu saat antreannya gak selama itu. Gak minta dikasih fasilitas macam-macam, kok. Hanya berharap supaya antreannya bisa lebih dipersingkat. Berharap boleh, kan?

Aksi damai IDI beberapa hari lalu, menarik perhatian. Apa saja yang disuarakan oleh IDI dalam aksi damai ini?

Pendidikan Kedokteran
  1. Program studi Dokter Layanan Primer (DLP) dengan segala bentuk pelaksanaannya bertentangan dengan UU Praktik Kedokteran.
  2. Program studi DLP mengingkari peran dokter dari hasil pendidikan fakultas kedokteran se-lndonesia.
  3. Pendidikan kedokteran saat ini semakin mahal, lama, dan tidak pro-rakyat.
  4. lnstitusi pendidikan kedokteran saat ini telah bergeser dari lembaga pendidikan terprofesi yang luhur menjadi profit oriented.
Pelayanan Kesehatan
  1. Rakyat membutuhkan perbaikan sarana prasarana, obat dan alat kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan primer
  2. Distribusi dokter saat ini belum proporsional
  3. Diperlukan perbaikan sistem pembiayaan kesehatan
Pernyataan Sikap
  1. Menolak Program Studi Dokter Layanan Primer (DLP )
  2.  Merekomendasikan:
    • Meningkatkan kualitas dokter di pelayanan primer dengan program Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (P2KB) terstruktur.
    • Perbaikan proses akreditasi pendidikan kedokteran akuntabel, adil dan transparan.
    • Menghadirkan pendidikan kedokteran yang berkualitas dan terjangkau .
Selain berharap suatu saat ada sesuatu yang lebih manusiawi untuk urusan antrean pasien BPJS, Chi juga beberapa kali berpikir tentang pendidikan kedokteran. Gimana ya kalau suatu saat Keke atau Nai ingin menjadi dokter? Denger sana-sini, pendidikan kedokteran itu sangat mahal. Ya, kita memang gak pernah bisa menebak misteri rezeki, tapi kalau sekarang dengar berapa dana yang dibutuhkan rasanya bikin merinding.

Hal ini pun yang membuat IDI angkat suara. Saat ini sudah sangat jarang anak bangsa yang memiliki kemampuan akademis tapi dengan latar belatang sebagai anak petani, anak nelayan, dan anak dari kalangan kurang mampu lainnya yang bisa menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran.
Mahasiswa Kedokteran saat ini sudah terkelompok dalam strata sosial dan ekonomi yang relatif sama hal ini akan menimbulkan dokter yang bermental elit yang lambat laun akan menyebabkan dokter Indonesia tidak mampu "membumi" yaitu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat, tidak dapat merespon kebutuhan masyarakat dan pada akhirnya tidak memiliki arah dan tujuan profesionalisme kebangsaan untuk masa depan. Mereka hanya siap di sarana kesehatan yang telah mapan dan menjanjikan kehidupan ekonomi yang lebih baik, padahal saat ini masih banyak daerah yang membutuhkan dokter yang sanggup menjadi pionir dan memiliki struggle for life.
Belum lagi kalau bicara infrastruktur serta sarana dan prasarana di berbagai daerah. Masih banyak  fasilitas di beberapa daerah yang belum memadai. Hal ini pula yang dijadikan alasan bagi beberapa dokter di Indonesia untuk tetap memilih hidup di perkotaan.
Dokter spesialis di lndonesia jumlahnya selalu kurang. Sistem pendidikan spesialis di lndonesia yang sifatnya "University Based " mengakibatkan program pendidikan spesialis di lndonesia menjadi mahal dan kursinya terbatas sesuai jumlah fakultas kedokteran di lndonesia. Biaya pendidikan yang mahal dan keterbatasan kursi ini mengakibatkan sangat sedikit dokter umum yang bisa meneruskan pendidikan spesialisasi. Kondisi ini berbeda jauh dengan negara lain di dunia yang menerapkan sistem " Hospital based" dokter umum yang ingin memperdalam spesialisasi tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun, mereka justru dibayar karena kerjanya selama proses pendidikan. Sistem pendidikan dokter spesialis seperti ini semestinya menjadi alternatif solusi bagi lndonesia
Sejatinya, urusan kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Semoga IDI dna pemerintah dapat duduk bersama untuk menciptakan pelayanan kesehatan yang bermutu dan pro rakyat. Jangan sampai masyarakat jadi enggan ke dokter karena belum apa-apa sudah pusing karena takut biaya yang mahal. Atau masyarakat di daerah sulit mendapatkan dokter serta fasilitas kesehatan yang minim. Jangan sampai pula, banyak anak bangsa yang menguburkan impiannya menjadi seorang dokter karena terkendala biaya. Semoga ada solusi terbaik yang benar-benar pro rakyat untuk smeua masalah ini, ya
Kesehatan masyarakat di suatu negara itu penting. Bangsa yang sehat karena masyarakatnya juga sehat.

14 komentar:

  1. turut prihatin dengan makin mahalnya biaya kuliah mbak :(

    BalasHapus
  2. semoga harapan dari aksi damai ini tercapai ya, mb Chi. sedih klo liat biaya kesehatan di rs makin mahal dari tahun ke tahun.

    BalasHapus
  3. Semoga kedepannya biaya pendidikan dokter terjangkau, ya. Biar makin banyak yang membantu org sakit. :)

    Selamat Hari Blogger Nasional buat KekeNai. ;)

    BalasHapus
  4. Mbaaakk terima kasih atas perhatian dan dukungannya. Semoga segera ada titik terang untuk semua ya :)

    Btw, kalau Mbak berkenan mampir ke blog aku, kemarin aku publish blogpost tentang Menjadi Seseorang Dokter. Siapa tau bisa jadi bekal Keke dan Nai kalau memang mau jadi dokter :)

    BalasHapus
  5. Semoga saja layanan kesehatan di Indonesia semakin baik ya

    BalasHapus
  6. Temanku punya anak yang ngambil kuliah kedokteran.. Menurut cerita temanku lumayan banget biaya kuliah yg mesti dikeluarkan karena untuk jadi dokter sekarang banyak banget tahapan dan tambahan kuliahnya.. Kini anak temanku itu barusan aja lulus dari kuliah kedokteran dan magang di RS..

    BalasHapus
  7. melipir cantik melihat biaya kuliah kedokteran yang melangit.

    BalasHapus
  8. Smoga keinginan kuliah di kedokteran tak hanya jadi mimpi ya mba

    BalasHapus
  9. Iya mb. Klo jamanku kuliah dulu..masih ada anak Desa yang bisa jadi dokter, mmng harus di PTN tapi. Sekarang....klo PTN udah otonomi kampus....sangat sulit...biayanya mahal...

    BalasHapus
  10. Fakultas Kedokteran makin mahal euy :(
    Saya juga berharap layanan semisal antrean bisa lebih efektif utk BPJS.

    BalasHapus
  11. Keponakanku ada yang mengubur cita-citanya jadi dokter karena gak sanggup dengan biaya kuliahnya :(

    BalasHapus
  12. Iya SPPnya mahal banget belum kalo praktek harus beli ini itu,adek iparku ada satu yang lagi kuliah kedokteran tapi ya moga aja selalu ada rejekinya buat bayar, aamiin

    BalasHapus
  13. Semoga pemerintah membuat kebijakan yg sesuai dgn kebutuhan rakyat...
    Pengalaman saya pakai bpjs, tgt rumah sakitnya... Operasi gigi di rshs & kuret di humana prima oke... Tp di al-islam setiap tindakan (misal konsul, usg, rontgen, dll) hrs selang 3 hari... Buang waktu bgt...

    BalasHapus
  14. Halo..saya dokter, dan saya ingin menyumbangkan beberapa penjelasan.

    Memang kuliah kedokteran sekarang butuh biaya cukup banyak, minimal Rp 100 juta (untuk perguruan tinggi negeri. Swasta butuh lebih banyak lagi.)
    Sebabnya, kan untuk menggaji dosennya. Dosen perlu membimbing tiap mahasiswa per individual dalam tiap kelompok kecil, dan itu butuh biaya yang banyak (kan menggaji guru itu butuh biaya besar).
    Juga untuk biaya praktikum, karena pemeliharaan alat-alat kesehatan untuk kepentingan pengajaran juga butuh biaya besar (coba tebak, berapa harga boneka manekin yang ada mainan jantung dan paru di dalamnya?)

    Itu semua diperlukan kalau ingin menciptakan generasi dokter yang kompeten setelah lulus nanti.
    Supaya mereka bisa bekerja dengan tepat ketika menghadapi pasien dari segala kondisi, sebab sudah diuji dengan alat dan bahan kuliah (yang mahal-mahal itu).

    Sebetulnya nggak cuma kuliah kedokteran yang sekarang mahal. Lapangan lainnya juga cukup mahal, misalnya fakultas arsitektur, fakultas farmasi, dan lain-lainnya. Perbedaan tarif kuliahnya mungkin cuma 30-40%.

    Tidak akan terasa mahal jika mahasiswanya ingin kuliah kedokteran dengan keinginan sendiri. Yang terasa mahal itu, kalau orangtuanya yang ingin menguliahkan anak di sekolah kedokteran, padahal anaknya ingin kuliah di bidang lain :-D

    Kalau mau sekolah kedokteran yang lebih murah, lebih baik sekolah di luar negeri. Misalnya di Filipina, atau di Malaysia. Mungkin biayanya sama, tapi mahasiswa mendapat value tambahan seperti belajar hidup dengan kultur yang berbeda, belajar mandiri di asrama yang disiplin, dan sebagainya. Plus sertifikat yang mereka terima dari fakultas kedokteran luar negeri bisa berlaku di hampir seluruh negara di dunia. Tidak seperti lulusan kedokteran Indonesia yang masih harus ikut ujian internasional tambahan jika ingin sertifikatnya diakui di luar negeri. Kelemahan dokter lulusan luar negeri cuma satu: tidak bisa memahami perilaku budaya pasien Indonesia, terutama pasien-pasien yang masih senang ngomong pakai bahasa daerah, hahaha..

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
badge