Pilih Sekolah Swasta atau Negeri?

Ketika memilih sekolah untuk anak-anak, Chi gak pernah mendadak. Selalu dari jauh-jauh hari. Diskusi panjang pun dilakukan. Anak tentu saja dilibatkan karena dialah yang akan merasakan langsung proses belajar-mengajarnya.

Kami sudah mulai memikirkan dan berdiskusi Keke akan masuk sekolah mana sejak Keke kelas 5 SD. Saat itu, anatara Chi dan K'Aie mempunyai pendapat yang berbeda. Alasan kami sama, hanya saja sudut pandangnya yang berbeda.


Usia SMP adalah Masa Pencarian Jati Diri


Chi dan K'Aie sama-sama berpikir kalau usia SMP adalah masa pencarian jati diri. Di usia ini mungkin akan banyak terjadi 'gelombang' dalam pola asuh. Maka, kami pun merasa harus mencari sekolah yang tepat. Sayangnya, sudut pandang kami untuk mencari solusinya berbeda.

Chi berpendapat, sekolah swasta adalah jawaban yang paling tepat. Sekolah swasta umumnya jumlah murid per kelasnya tidak banyak. Sehingga para guru pun akan lebih mudah mengenal karakter anak didiknya. Apalagi, sekolah swasta yang Chi pilih adalah lanjutannya dari SDnya Keke. Setidaknya kami udah akrab dengan lingkungan sekolahnya. Gak perlu meraba-raba lagi.

Chi bukan bermaksud memindahkan urusan pola asuh ke sekolah. Teteplah yang namanya pola asuh, orang tua yang paling bertanggung jawab. Tapi memang lebih baik kalau bisa menemukan sekolah yang bersahabat. Karena sekian jam anak berada di sekolah. Tentunya lebih bagus menemukan sekolah yang bisa menjadi wakil orang tua selama anak di sana.

Sedangkan K'Aie memilih negeri. Menurutnya, sudah saatnya Keke bergaul dengan lingkungan yang lebih heterogen. Kalau terus di swasta kan secara ekonomi hampir homogen. Ada kekhawatiran kalau kelamaan berada di lingkungan yang sama, Keke akan menjadi anak yang borju.


Bukan berarti kami tidak pernah mengajarkan tentang kesederhanaan. Chi rasa samalah seperti banyak orang tua lainnya yang selalu berusaha menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak. Begitupun dengan sekolah termasuk pertemanan Keke di sekolah. Semuanya anak baik-baik. Tapi Chi sebetulnya juga setuju kalau memang sudah saatnya Keke mengenal lingkungan yang lebih beragam.

Ya, Chi pun punya kekhawatiran yang sama. Tapi, tetap saja buat Chi sebaiknya Keke di swasta. K'Aie pun sependapat dengan Chi tentang pentingnya pembentukan karakter. Tapi, K'Aie tetap berpendapat bahwa sudah saatnya Keke masuk sekolah negeri.


Bertanya Kepada Anak


Kami pun bertanya ke Keke. Kami sebutkan kelebihan dan kekurangan sekolah negeri dan swasta. Keke mengatakan kalau dia tidak masalah meu sekolah di manapun. Asalkan jumlah muridnya tidak banyak. Alasannya, Keke kurang bisa konsentrasi belajar kalau terlalu banyak murid.

Tentu sekolah swasta bisa menjawab keinginan Keke. Kalaupun tetap mau di negeri, berarti sebaiknya masuk kelas international. Keke pun mau juga di negeri asalkan masuk kelas internasional. *Belakangan kami baru tau kalau kelas internasional ternyata udah gak ada. Kudet banget kami, ya hahaha.


Masa Pendaftaran yang Gak Sama


Keke sudah memutuskan mau negeri atau swasta gak masalah asalkan jumlah murid di kelas jangan kebanyakan. Chi pun berpikir, sebaiknya coba negeri dulu, deh. Kalau gak keterima baru ke swasta. Selesai masalahnya? Ternyata enggak.

Masa pendaftaran yang gak sama antara swasta dan negeri membuat masalah baru. Sekolah swasta umumnya sudah buka pendaftaran sejak bulan Oktober - November yang terbagi dalam 3 gelombang. Sedangkan sekolah negeri biasanya baru buka pendaftaran sekitar bulan Juli. Menunggu hasil UN keluar dulu. Sekolah swasta juga tetap ada yang buka pendaftaran sampai Juli tapi sudah terbatas banget pilihannya. Biasanya sekolah favorit sudah tutup pendaftaran di bulan April - Mei.

Kalau mendaftar di sekolah swasta, setelah lulus ujian masuk, akan diminta melakukan daftar ulang dan melunasi pembayaran. Biasanya jangka waktunya 2 minggu setelah dinyatakan lulus. Bagaimana bila tidak melakukan daftar ulang dan melunasi pembayaran? Dianggap batal masuk ke sekolah tersebut. Kalau mau masuk lagi maka harus melakukan tes lagi. Bila sudah daftar dan lunas, trus memilih sekolah lain bagaimana? Boleh aja memilih sekolah lain, tapi uang yang sudah masuk biasanya dianggap hangus alias tidak dikembalikan.

Masa pendaftaran yang gak sama antara swasta dan negeri jadinya ngeselin. Pengennya kan daftarin Keke ke sekolah swasta dulu. Kalau sudah dinyatakan diterima, ada kebijakan boleh gak langsung bayar. Tunggu sampai si anak ada kepastian masuk negeri atau enggak. Tapi, gak ada sekolah yang kayak gitu.

UNTUNGNYA (sengaja dicapslock, karena memang merasa beruntung banget) sekolah swasta yang Chi pilih adalah lanjutan dari SDnya Keke. Dan, siswa yang berasal dari dalam dapat keuntungan pembayaran. Pertama, gak perlu beli formulir. Lumayan banget bisa hemat Rp300.000,00. Kedua, gak perlu ikut tes masuk. Ketiga, cukup membayar salah satu itemnya aja. Chi pilih bayar SPP Juli aja karena paling murah dibanding item lain. Resikonya kalau Keke gak jadi masuk sana, uang Rp900.000,00 yang sudah dibayar akan dianggap hangus. Sebetulnya sayang, sih tapi daripada hangus sampai puluhan juta? Anggap aja uang Rp900.000,00 itu untuk membeli ketenangan. Setidaknya kalau Keke gak bisa masuk negeri, sudah ada sekolah swasta yang menerimanya.


Plus-Minus Sekolah Negeri dan Swasta


Keke pun akhirnya bersekolah di sekolah negeri. Awalnya, Keke sempat menolak begitu tahu kalau kelas internasional udah gak ada. Kami pun kembali ajak Keke berdiskusi tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing sekolah.

Sekolah swasta memang jumlah murid per kelasnya lebih sedikit. Bisa setengah dari jumlah murid di sekolah negeri. Sehingga Keke jadi bisa lebih konsentrasi belajar. Para pengajar pun kemungkinan bisa lebih mengerti karakter anak didiknya, tapi jam sekolahnya lebih panjang. Kayaknya, Keke cuma bisa main di hari Sabtu dan Minggu saja karena hari lainnya sudah dihabiskan di sekolah. Biaya di sekolah swasta juga lebih mahal.

Sekolah negeri, jam sekolahnya lebih pendek. Bahkan lebih pendek dari jam sekolah Nai yang sekarang masih di SD. Kemungkina Keke jadi punya banyak waktu bermain. Tapi, Keke harus berusaha lebih keras berkonsentrasi kalau di sekolah negeri karena jumlah muridnya yang banyak. SPP di sekolah negeri gratis, berasa banget lah penghematannya.

Setelah diskusi cukup panjang, Keke akhirnya mau coba berusaha masuk negeri dulu. Tapi, dia tetep kasih syarat. Katanya kalau sampe bisa dapet negeri, harus dibeliin PS4 dan game Uncharted 4. Baiklaaaah. Deal! :D

Usaha Keke untuk mendapatkan NEM yang baik sudah Chi publish tulisannya beberapa waktu lalu. Kapan-kapan Chi tulis proses pendaftaran ke sekolah negeri. Sekarang Chi akan bercerita tentang pengalaman Keke selama di negeri yang ternyata prosesnya jumpalitan.

[Silakan baca: Tanpa Ikut Bimbel, Nilai UN Bisa Tetap Bagus? Bisa!]


Adaptasi di Sekolah Negeri


Keke mengawali masa awal sekolah dengan rasa marah. Berkali-kali dia minta pindah lagi ke sekolahnya yang lama. Kadang dia menangis. Agak kaget juga melihat Keke menangis. Seingat Chi, Keke sudah lama gak menangis.

Kami meminta Keke untuk coba bertahan dan terus beradaptasi. Kenyataannya, Keke gak sendiri menghadapi hal ini. Chi bertanya dengan beberapa saudara dan teman yang anaknya pernah sekolah di swasta kemudian ke negeri. Ternyata, banyak yang mengalami hal sama. 

Proses adaptasi dari swasta ke negeri yang gak mudah. Ada yang cuma tahan 1 hingga beberapa hari saja lalu pindah lagi ke swasta. Ada juga yang berproses panjang bahkan hingga setahun sampai anaknya mulai bisa beradaptasi. Tentu saja masing-masing punya alasan kenapa memilih balik lagi ke swasta atau terus bertahan. Alasan yang tidak bisa kita hakimi tetapi harus saling menghormati.

Swasta dan negeri memang berbeda. Baik dari fasilitasi dan kegiatan belajar-mengajar. Gak heran kalau anak swasta sempat terkaget-kaget. Hal-hal kecil misalnya seperti buku pelajaran. Kalau di swasta setiap tahun beli buku baru. Di sekolah Negeri bukunya lungsuran yang kondisi ... begitulah hehehe. Keke juga sempat keteteran untuk berbagai informasi. Karena ketika di swasta biasanya selalu ada surat resmi, buku penghubung, atau wali kelas yang akan WA orang tua bila ada info. Di negeri mah jarang ada kayak gitu. Siswa harus aktif mencari tahu. Jadi, Chi mulai minta Keke untuk lebih aktif cari tahu. Termasuk aktif mendatangi guru yang bersangkutan bila ada ulangan susulan atau apapun.

Di minggu pertama sekolah, Keke pernah meninggalkan seluruh isi tasnya di kelas. Katanya di taro di bawah meja. Chi sempat ngomel karena khawatir bukunya hilang semua. Mana di sekolah negeri kan hampir tiap hari ada PR. Belajar pake apa kalau bukunya gak ada? Rupanya, Keke masih merasa kayak di sekolah swasta yang sebagian bukunya disimpan di loker. Sekarang, sih kalau inget itu Chi ngikik hehehe.

Kalau untuk fasilitas, Keke gak begitu ambil pusing. Dia gak masalah kelasnya gak pake AC lagi. Paling dia cuma bilang kalau lebih suka kelasnya gak usah pake apapun daripada pake kipas angin. Kipas angin beberapa kali bikin badannya masuk angin. Kelas Keke ada di lantai atas. Ventilasi ruang kelasya kelihatannya cukup baik. Menurutnya, angin sering masuk ke kelasnya sehingga gak terlalu gerah. Jadi, tanpa kipas atau AC pun gak masalah.

Keke sempat kesal dengan kegiatan belajar-mengajar (KBM). Kalau di sekolahnya dulu, kan banyak berdiskusi. Murid punya banyak kesempatan untuk bertanya dan berpendapat. Biasanya, guru justru senang dengan siswa yang aktif karena membuat kelas lebih hidup. Nah, di negeri kebanyakan menulis. Kalau kata Keke, sekarang dia jadi boros bolpen. Bukan karena sering hilang, tapi tintanya habis karena dipake terus.


"Buku pelajaran ada, kenapa juga harus nyatet lagi yang ada di papan tulis? Padahal bahasannya sama. Kenapa juga harus merangkum buku? Biar ingat sama pelajarannya? Cara belajar setiap anak kan beda-beda."

Chi seringkali speechless kalau Keke udah ngomong kayak gitu. Ada benarnya apa yang Keke bilang. Untuk beberapa anak, banyak merangkum dan menulis memang bisa membantu. Tapi, buat Keke yang gaya belajarnya cenderung auditori malah jadinya mengesalkan. Paling kalau udah gitu, Chi cuma bisa bilang sabar dan ikutin aja prosesnya. Meskipun ada kalanya Chi juga kurang sabar ngasih taunya. Karena perasaan Chi yang juga ikut campur aduk gara-gara urusan ini.

Jumlah murid yang banyak serta durasi jam belajar yang lebih sedikit memang kurang memungkinkan bagi Keke untuk lebih aktif. Jauh sebelum masuk ke negeri, Chi udah mengingatkan tentang hal ini. Meminta Keke untuk lebih luwes. Kalau memang masih belum puas untuk bertanya, lampiaskan aja di rumah. Banyak bertanya sama bunda *Trus Chi pun pusing kalau Keke udah mulai banyak tanya hahaha*

Di Negeri itu PRnya banyaaaakk! Dulu, jarang banget ada PR. Pulang lebih cepat pun akhirnya gak bikin jadi lebih banyak waktu bermain kalau PRnya lagi menumpuk. Untung aja sepulang sekolah, Keke gak ada kursus apapun selain latihan Taekwondo yang cuma seminggu sekali.

[Silakan baca: (Wacana) Full Day School Setuju Saja, Asalkan ...]

Ada kalanya, dia tidur sampai larut malam karena urusan PR. Sesekali gak apa-apa, lah. Tapi, pernah beberapa hari berturut-turut PRnya sangat banyak. Chi pun langsung tegas mengatakan gak bisa terus begitu. Keke tetap harus sudah tidur pukul 9 malam. Bukan berarti Chi mengajarkan Keke untuk menyepelekan PR. Tapi, istirahat yang cukup juga sangat penting. Apalagi Keke masih dalam usia pertumbuhan. Urusan PR yang belum selesai, biar dia belajar bertanggung jawab.

[Silakan baca: Kualitas Tidur dan Kecerdasan Anak]

Bukan hanya Keke yang stress. Chi pun ikutan stress. Kalau ikutin rasa gak tega, pengennya langsung nurutin keinginan Keke untuk pindah sekolah. Khawatir juga dengan makan dan minum Keke selama di sekolah. Biasanya kalau di sekolah Keke bisa minum 1 liter lebih. Setiap hari dia bawa botol minum ukuran 1 liter. Nanti biasanya dia isi lagi dari dispenser yang ada di sekolah.

Di sekolah Negeri gak ada fasilitas dispenser. Keke jadi bawa 2 botol minum ke sekolah yang akibatnya beban tasnya semakin berat. Tapi, Chi perhatiin, dia seringkali minum gak sampe 1 liter. Alasannya, kalau minum banyak khawatir bakal sering pipis. Keke khawatir tulisan di papan tulis keburu dihapus kalau ditinggal ke wc. Keke janji banyak minumnya kalau udah di rumah aja. Ya, Chi pun akhirnya nurutin kemauan Keke. Paling dia bawa 2 botol minum kalau lagi ada pelajaran olahraga aja.

Di masa adaptasi tentu aja berimbas ke nilai-nilainya. Chi mulai akrab dengan kata remedial. Sebetulnya bukan karena Keke gak bisa. Chi yakin Keke bisa. Hanya saja semangat belajarnya di masa adaptasi ini memang menurun sekali. Kadang, Chi harus tegas meminta Keke untuk tidak berlarut-larut dalam masalah. Harus mulai terpicu untuk beradaptasi. Tapi, Chi pun mencoba untuk memahami hal ini. 

Masih ada beberapa keluhan lain. Walaupun begitu, progress tetap ada. Keke sudah mulai bisa beradaptasi. Sudah mulai lebih banyak cerita senengnya. Sudah mulai ada semangat untuk belajar lagi. Alhamdulillah. Insya Allah, akan semakin membaik.

Diskusi dilakukan setiap hari. Gak hanya antara Chi dan Keke. Tapi juga antara Chi dan K'Aie. Ya, K'Aie juga yang selalu optimis dengan proses ini. K'Aie yang setiap malam selalu menyabarkan Chi. Ya, apalagi yang dihadapi ini anak abege. Tau sendiri lah gimana sifat anak abege. Dan, Keke juga tipe yang cukup keras. Kalau dia udah gak suka dengan sesuatu akan bersikap masa bodoh atau melawan. Makanya harus sering diajak ngobrol dari hati ke hati kalau udah kayak gitu. K'Aie juga  ajak Keke ngobrol. Biasanya dilakukan di jalan menuju sekolah.


Benarkah Anak Swasta Manja-Manja?


Nah, ini pro-kontra yang baru-baru ini Chi dengar setelah merasakan sekolah negeri. Beberapa bilang kalau anak-anak dari swasta itu manja-manja. Menurut Chi, terlalu cepat kalau langsung menuduh anak-anak yang berasal dari swasta itu manja. Kasih kesempatan bagi mereka untuk beradaptasi. Biar gimana, selama 6 tahun bahkan lebih mereka terbiasa dengan fasilitas yang nyaman. Selain itu, para pendidik di sekolah swasta juga lebih ngemong.

Kalau di negeri, murid yang harus lebih aktif. Kalau ulangan harian di bawah KKM  nilainya, maka murid yang harus 'mengejar' guru bersangkutan untuk minta remedial. Kalau di swasta, sering dapat surat. Libur cuma sehari aja atau ada info ulangan, orang tua dapat surat resmi atau minimal ada info di buku penghubung. Kalau di negeri enggak. Malah kalau perlu harus aktif cari info.

Jadi kalau di awal tahun ajaran, murid dari swasta terlihat pontang-panting ya harus dimaklumi. Mereka belum terbiasa dengan kultur seperti di sekolah negeri. Chi sempat sedih juga mendengar judging seperti itu. Tapi, lama-kelamaan bodo amat lah. Setidaknya Chi tau persis kalau Keke dan mungkin banyak anak dari swasta sedang terus berproses.

Jadi pilih sekolah swasta atau negeri? Apapun pilihannya selalu ada plus-minusnya, kok. Karena sekarang Keke sudah memilih maka yang dilakukan sekarang adalah berusaha terus beradaptasi. Memang prosesnya harus saling mendukung sesama keluarga, sih. Keke gak bisa dibiarkan menjalankan sendiri. Insya Allah, bisa. Semangat! ^_^