Minggu, 22 November 2020

Tantangan Memiliki Anak Remaja

Tantangan Memiliki Anak Remaja - "Mbak Myra mah enak, anak-anaknya udah pada gede. Udah gak repot kayak saya yang ke mana-mana masih diikutin anak."
 
mendidik anak remaja pusing gak sih
 
Lumayan banyak juga yang bilang kalau hidup Chi sekarang enak karena anak-anak udah pada gede. Malah ada juga yang menyarankan untuk punya anak lagi. Alasannya kami dianggap masih muda. Masih sanggup lah direpotin ma bayi atau anak kecil lagi.
 
Bersyukur dulu deh kalau memang dibilang hidupnya enak. Berarti terlihat bahagia hehehe. Setelah itu, kadang-kadang Chi menjelaskan panjang lebar. Kalau lagi agak malas, menjawab singkat aja. Tetapi, sering juga cuma nyengir 😄.

 

Punya Anak Remaja Itu Asik dan Seru

 
Beberapa waktu lalu, Chi diajak KEB untuk ikut #KEBNgobrol live IG. Temanya adalah "Mendidik Anak Remaja Pusing Ngga Sih?" Mak Efi Fitriyah yang menjadi host pada malam itu menanyakan tentang mengatur waktu antara mengurus keluarga dan hobi.
 
Chi jawab kalau saat ini justru lebih fleksibel mengatur waktu. Berbeda dengan ketika Keke dan Nai masih kecil. Di mana pusat dunia mereka adalah bundanya. Kemana bunda pergi selalu diikutin, termasuk ke wc. Para ibu yang punya anak kecil biasanya merasakan hal sama, deh hehehe.
 
Tidak hanya itu. Ketika mereka remaja, banyak hal yang sudah bisa dilakukan sendiri. Chi gak perlu lagi nyuapin, mandiin, bahkan menemani mereka bermain. Jadi Chi pun punya waktu me time yang lebih banyak selain mengatur waktu lebih fleksibel.

Ngobrol dengan anak remaja juga udah dengan banyak topik. Bisa lebih seru obrolannya. Kadang-kadang kami satu frekwensi. Tetapi, kadang-kadang juga bisa berdebat.

Ketika Keke dan Nai mulai remaja, Chi juga sering jalan-jalan berdua ma K'Aie. Awalnya agak baper karena merasa ada yang hilang kalau jalan tanpa anak. Tetapi, lama-lama asik juga. Berasa jadi pacaran lagi hehehe.

Tuh! Memang asik kan punya anak remaja. Makanya mungkin itulah kenapa suka banyak yang bilang kalau hidup Chi sekarang udah enak. Karena anak-anak udah pada remaja. Sehingga bundanya terlihat santai dan gak rempong lagi.

Padahal yaaaa ... Di masa remaja inilah justru Chi merasakan jumpalitannya sebagai orang tua 😂.


Pola Asuh Anak Remaja itu Berat!


Chi menulis ini bukan bermaksud untuk mengeluh, ya. Tetapi, sebagai catatan bagi diri sendiri, kalau memiliki anak remaja itu tidak sekadar asik. Juga penuh tantangan. 

Remaja itu fase di mana sedang mencari jati diri. Di satu sisi, mereka merasa sudah bukan anak kecil lagi. Kadang-kadang jadi suka sulit diberi nasehat. Merasa dirinya paling tau dan paling benar. Padahal, di sisi lain, mereka masih perlu banyak sekali arahan.

Apalagi, sekarang pengaruh bisa dari mana-mana. Beda ma zaman Chi dulu. Sekarang buka internet aja bisa dapat ribuan bahkan jutaan sumber yang bisa mempengaruhi pikiran dan perilaku kita. Itu baru dari internet, belum dari tv, teman, dan lain sebagainya. Kebayang kan seperti apa efeknya kalau diri sendiri gak mampu memfilter pengaruh sebanyak ini?

Berbagai permasalahan kerap timbul ketika mereka mulai puber. Bahkan banyak yang mengatakan kalau usia remaja rentan mengalami depresi. Bisa menjadi tantang yang berat bagi orang tua yang memiliki anak remaja. 
 
[Silakan baca: Masa Puber Bikin Baper]


Masalah yang Sering Dialami Remaja


“Fase perkembangan anak memang punya tantangan masing-masing. Tidak bisa dikatakan kalau anak pada masa balita lebih mudah diurus dibandingkan anak-anak yang masuk pada usia pra-remaja. Hanya saja, memang menghadapi anak-anak yang mulai masuk pada usia pra-remaja ini lebih banyak tantangannya, karena mereka sudah memiliki keinginan sendiri. Berbeda dengan anak balita, yang memang mudah mengikuti keinginan orangtuanya." ujar Vera Itabiliana K. Hardiwidjojo, Psi.

Sumber: Bagaimana Menghadapi Problem Pra-Remaja

 
Yup! Setiap fase memang memiliki tantangan masing-masing. Nah, sekarang apa aja sih masalah yang kerap dialami remaja?

 

Remaja Mulai Memperhatikan Penampilan

Sejak masa pra-remaja biasanya mulai suka memperhatikan penampilan. Secuek apapun karakternya. Perubahan secara fisik anak yang mulai puber bisa menjadi salah satu pemicunya.  
 
Keke pernah kebingungan ketika pertama kali mimpi basah. Nai pun sempat gak mengerti bagaimana caranya menggunakan pembalut waktu pertama kali haid. Perubahan-perubahan seperti ini juga bisa mempengaruhi penampilan mereka. Mulai membandingkan fisik diri sendiri dengan idola atau teman sebaya. 
 
Untuk beberapa anak, juga bisa bikin insecure. Apalagi kalau kemudian si anak dibully. Pada melakukan body shaming.


Keke dan Nai mulai milih-milih skincare apa yang tepat untuk kulit mereka. Pokoknya urusan penampilan mereka udah punya selera sendiri. Mulai ada rasa gak percaya diri kalau penampilan gak sesuai yang mereka inginkan. 
 
[Silakan baca: Nai dan Haid Pertama]


Bullying

Masalah bullying dan senioritas juga biasanya mulai dialami saat fase pra-remaja. Chi pernah membaca obrolan Keke dengan beberapa temannya saat baru masuk SMP tentang susahnya berbaur. Masalahnya karena mereka berasal dari sekolah swasta. Udah langsung ada cap 'anak borju'. 

Padahal mereka sebetulnya ingin sekali bisa bergaul dengan banyak orang. Tetapi, stigma itu kerap menghalangi. Butuh proses panjang hingga akhirnya bisa berbaur. 
 
Selalu ada alasan bagi seseorang untuk melakukan bullying. Bullying dan dibully sebetulnya sama-sama korban. Anak yang suka menindas orang lain bisa jadi karena terpengaruh dan lama-lama jadi kebiasaan. 


Mulai Merasakan Jatuh Cinta

Chi pernah bilang ke anak-anak kalau bisa jangan pacaran dulu. Tetapi, kita gak bisa melarang orang untuk jatuh cinta, kan? Yang bisa dibatasi adalah menjaga dan mengelola hawa nafsu.

Bagi orang tua, rasa cinta anak remaja mungkin dianggap cinta monyet. Tetapi, dalam sudut pandang mereka bisa jadi sesuatu yang serius. Mereka akan bisa merasakan bahagia ataupun patah hati.Sama halnya seperti orang dewasa yang sedang jatuh cinta.
 
Bila pergaulannya kurang tepat, mereka juga bisa ikut arus pergaulan bebas dengan alasan cinta. Duh! Ngeri banget 'kan kalau begini.

 

Beban Pendidikan yang Berat

Pelajaran zaman sekarang menurut Chi jauh lebih sulit daripada dulu. Di saat pandemi ini, banyak orang tua yang mengeluh karena kesulitan harus mengajarkan anak-anaknya. Makanya, lebih merasa nyaman saat anak-anak bersekolah daripada harus PJJ. Karena tugas mengajar menjadi tugas guru di sekolah atau bimbingan belajar.
 
Tetapi, bagi anak-anak, mau itu sekolah tatap muka ataupun belajar dari rumah, mereka tetap harus belajar. Siapun pengajarnya dan seperti apa suasana. Kewajiban mereka ya belajar.
 
Merekalah yang hampir setiap hari menghadapi pelajaran semakin sulit. Ditambah lagi dengan faktor lain dari pendidikan, misalnya suasana dan pengajarnya. Dan, semakin tinggi tingkat pendidikan, bisa jadi semakin sulit bobot pelajarannya. 
 

 

Tekanan Pertemanan

Salah satu kekhawatiran Chi ketika anak-anak masuk SMP adalah bila dianggap tidak punya solidaritas terhadap pertemanan bila menolak suatu ajakan. Misalnya, ketika diajak untuk tawuran. Bisa jadi si anak tau kalau tawuran itu salah. Tetapi, karena khawatir dianggap gak solider, dimusuhin teman, atau bahkan dibully jadinya terpaksa untuk ikutan. Padahal kebutuhan untuk bersosialisasi bagi generasi Z sedang tinggi-tingginya.

Tidak hanya permasalah tawuran aja, lho. Narkoba, pergaulan bebas, dan lain-lain mulai menjadi cobaan di saat anak-anak mulai remaja. Kadang-kadang permasalahan di kalangan remaja ini awalnya datang dari tekanan pertemanan.


Tips Menghadapi Remaja dan Permasalahannya


tips menghadapi anak remaja dan permasalahannya
 
Di atas adalah beberapa problematika yang bisa terjadi di dunia remaja. Itulah kenapa Chi bilang menghadapi anak remaja itu jungkir balik. Tetapi, usahakan jangan sampai parno juga. Tetap bisa kok kita sebagai orang tua menghadapi remaja


Bonding dengan Anak

Beberapa bulan lalu di FB, Chi pernah nyetatus tentang pentingnya menjaga bonding dengan anak. Status itu berangkat dari berbagai video orang tua yang memarahi anak di saat PJJ. 

Chi paham kok kalau kondisi saat ini sulit bagi semua. Termasuk bagi orang tua yang mendadak menjadi guru bagi anak-anak. Tetapi, usahakan jangan terus menerus melampiaskan kemarahan ke anak-anak. Apalagi sampai menyakiti fisik. 
 
Keke dan Nai juga masih full PJJ sama seperti siswa lainnya. Tetapi, Chi gak mau terlalu menekan. Mendingan ekspektasi pencapaian akademis sedikit diturunkan. Setidaknya mereka tetap tekun udah bagus.

Bonding itu harganya mahal. Bonding juga gak bisa tercipta secara instan. Anak bisa merasa enggan dekat dengan orang tua kalau merasa dimarahin melulu. Bila bonding sudah longgar, untuk mempererat kembali butuh proses panjang yang mungkin saja gak mudah. Itulah kenapa Chi katakan mahal.

Chi pernah tanya ke Keke, alasan sampai usia menjelang 17 tahun ini dia masih mau terbuka dan bebas cerita ke orang tua. "Karena udah terbiasa." Memang sesederhana itu jawaban Keke. Tetapi, kalau anak merasa gak punya kedekatan batin dengan orang tua, sepertinya juga tidak akan mudah bisa terbuka. Malah mungkin akan banyak ditutupi.

Bahayanya adalah kalau orang tua merasa anaknya baik-baik aja. Padahal sebetulnya orang tua gak tau apa yang anaknya lakukan di luaran. Itu karena anaknya gak mau cerita. Lebih memilih sering berbohong karena takut dimarahi. 
 


Banyak Mendengarkan Cerita Anak

Seperti yang Chi tulis di awal, usia remaja itu salah satu fase di mana anak merasa serba paling tau. Egonya lagi tinggi-tingginya. Mereka pun mulai belajar melawan.

Arti melawan di sini, gak selalu dengan cara langsung. Misanya membentak orang tua. Tetapi, bisa juga melakukan perlawanan secara diam-diam. Di depan orang tua kayak yang menurut. Padahal di luar bersikap sebaliknya.

Belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Kadang-kadang mereka tuh sebetulnya hanya ingin didengar. Ketika ditanya solusinya, mereka udah tau apa yang harus dilakukan. Dengan merasa orang tua mau mendengarkan, itu udah jadi salah satu kebahagiaan buat anak.
 
Jangan hanya mendengarkan ketika mereka punya masalah aja. Dengarkan juga keseruan cerita lainnya. Siapa yang sedang mereka idolakan, trend apa yang lagi hits saat remaja, dll. 
 
Ya gak perlu juga ikut-ikutan satu selera. Misalnya Keke dan Nai sekarang lagi gandrung dengan drakor. Chi gak pernah tuh nyinyir sama selera mereka meskipun sampai saat ini belum bisa menikmati drakor apapun.
 
Tetapi, baik kami selalu mendengarkan kalau mereka cerita. Bahkan sesekali ikut menonton juga. Setidaknya kami tau lah mereka sedang mengidolakan siapa atau apa.


Jangan Menyepelekan Masalah Remaja

Kurang-kurangin deh ngomong, "gitu aja dipikirin." Bagi orang tua permasalahan mereka mungkin kelihatan sepele. Tetapi, belum tentu bila dipandang dari sudut remaja.

Permasalahan yang semakin kompleks di masa remaja saat ini juga bikin mereka mudah depresi. Makanya kalau Keke dan Nai lagi curhat, seringkali Chi membayangkan menjadi diri sendiri ketika masih remaja. 
 
Lebih suka diperlakukan seperti apa? Dan, biasanya usia remaja tuh gak suka disepelekan. Mereka malah jadinya kesel dan menutup diri. 
 


Menjadi Teman yang Berwibawa

Kenapa sih remaja lebih suka curhat ke teman daripada orang tua? Karena biasanya teman tidak menghakimi, kasih solusi yang asik, dan tidak menggurui.
 
Makanya di usia ini anak mulai belajar untuk memilih-milih. Siapa sosok yang mau mereka dengar/ikuti dan tidak. Ya bagus kalau mereka dikelilingi oleh lingkungan yang baik. Insya Allah perilaku anak masih bisa tetap terjaga kalau berada di lingkungan yang baik meskipun kurang merasa dekat dengan orang tua.

Sederhananya, nih, kalau anak masih kecil dimarahin orang tua paling nangis dan ngamuk. Tetapi, tetap aja pusat dunia anak kecil adalah orang tuanya. 
 
Nah, ketika mereka mulai merasa besar, perlawanannya belum tentu menangis dan mengamuk. Bisa jadi mulai kabur-kaburan atau melakukan pelarian lainnya. Naudzubillahi mindzalik.

Makanya, Chi dan K'Aie berusaha membangun komunikasi terbuka sejak mereka kecil. Bukan bermaksud untuk mengontrol. Apalagi bersikap otoriter. Tetapi, supaya tetap bisa mengenali karakter dan dekat dengan anak.
 
Meskipun demikian, jangan sampai kehilangan wibawa kami sebagai orang tua. Berusaha menjadi orang tua yang asik supaya bisa menjadi teman bagi anak. Tetapi, mereka juga harus menghormati kami sebagai orang tua. Jadi, ketika suatu saat kami harus tegas, mereka akan tetap menurut dan hormat.

 

Beri Kepercayaan dan Tanggung Jawab Kepada Anak

Chi suka bilang ke Keke dan Nai, harap maklum kalau ayah dan bundanya saat ini masih terdengar cerewet. Terus mengulang-ulang pesan yang sama. Tentu sambil diberikan penjelasan.
 
Menurut kami, hingga anak-anak SMA adalah kesempatan emas bagi orang tua untuk memberikan bekal dan mengajarkan tanggung jawab kepada anak. Hingga mereka SMA, kegiatan masih terukur. Paling pagi hingga siang atau menjelang sore berada di sekolah. Setelah itu mereka pulang. Kalaupun terlambat biasanya karena kerja kelompok atau mau main sebentar.
 
Berbeda dengan nanti kalau sudah kuliah. Mereka akan semakin sibuk dengan aktivitas. Dan belum tentu bisa sama terukurnya seperti saat masih sekolah. Tentu orang tua butuh menaruh rasa percaya kepada anak. Yakin kalau mereka tetap berada di jalur yang benar. Serta anak sudah memiliki benteng yang kuat sehingga tidak mudah terbawa arus.

Memberikan kepercayaan kepada anak ada proses tahapannya. Ketika baru lahir, anak akan terus diawasi dan didampingi selama 24 jam. Secara perlahan, orang tua gak mungkin terus-terusan mendampingi dan mengawasi.

Pelan-pelan harus mulai dikasih kepercayaan. Tetapi, tentunya juga dibekali dengan benteng yang kuat. Jadi, ketika mereka sedang tidak bersama orang tua, tetap bisa menjaga diri karena benteng pertahanan sudah kokoh.

Meskipun demikian, anak-anak tetaplah manusia yang bisa saja khilaf. Sebagai orang tua, tentu gak pernah sedikitpun menginginkan sesuatu yang gak baik terjadi pada anak. Tetapi, bagaimana bila kemudian terjadi masalah?

Kami selalu berpesan ke Keke dan Nai, apapun masalahnya orang tua akan berusaha mendengarkan. Tetapi, bukan berarti setiap permasalahan, orang tua yang harus membereskan. Mereka juga harus belajar bertanggung jawab. Gak bisa sedikit-sedikit orang tua ikut campur untuk semua masalah.

Gak hanya tentang masalah, sih. Termasuk juga tentang pilihan. Ajarkan mereka untuk bertanggungjawab dengan segala konsekuensi yang dipilih. Orang tua paling mengarahkan, tetapi keputusan tetap ada di tangan anak-anak. Kecuali, untuk beberapa hal yang prinsipil dan gak bisa dikompromikan. Tetap ada beberapa hal di mana mereka harus menurut apa kata orang tua. 
 
Begitupun dengan peraturan. Mereka harus mulai belajar paham aturan, bukan sekadar mengikuti. Bila sudah paham, biasanya akan lebih tau dan mau menerima konsekuensinya.

Seru kan punya anak remaja? Asik kok kalau bisa dekat dengan remaja. Tetapi, harus berusaha siap juga dengan segala tantangan di fase ini. Insya Allah, anak pun akan melewati masa ini dengan baik-baik aja. Bisa jadi bekal ketika mereka nanti dewasa.
Keke Naima
Keke Naima

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

98 komentar:

  1. Noted buat aku baca dan pahami lagi nih Mak, soalnya ilmu untuk memahami perasaan anak apalagi anak remaja tuh penting banget, salah sedikit wes...ambyar...heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus dimulai sejak dini karena bonding itu gak instan :)

      Hapus
    2. setuju mbak, anakku baru 8 tahun sudah berasa nih mood swingnya :( kudu banyak belajar dari mbak Myra yang udah kayak temen sama anaknya

      Hapus
    3. Bener banget, bonding itu gak instan. Anak perlu nyaman dan deket biar bisa bonding.

      Hapus
    4. Kita sama-sama belajar ya, Mbak Winda :)

      Hapus
    5. Makanya harus selalu dijalin dan dijaga ya, Mbak Nia :)

      Hapus
  2. Menurutku yang mantan anak remaja, anak usia segitu memang lagi aktif dan banyak eksplor dunia luar. Kalau anak kecil agak bisa diatur. Udah belasan tahun tuh punya selera sendiri. Setuju sama Mqk Myra bahwa kita kudu lebih peduli malahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Kalau udha remaja mulai melakukan perlawanan

      Hapus
    2. Yes, betul banget. Sebenarnya bukan maksudnya ngelawan sih. Lebih ke ngeluarin pendapat yang berbeda yang sering bertentangan dengan orangtua

      Hapus
    3. Iya karena remaja sudah lebih bisa mengemukakan pendapatnya

      Hapus
  3. Mumpung anak masih kecil, mari menciptakan bobding yang baik. Semoga nanti anak anakku kalau beranjak remaja, dewasa masih bisa curhat dengan asik.
    Makasih ya mak Chi tips tipsnya, buat bekal aku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya karena bonding gak bisa dibentuk instan. Butuh proses panjang

      Hapus
  4. Nah meski anakku masih TK, tapi suka khawatir juga nih soal circle pertemanan. Takut anak nggak bisa sosialisasi, takut anak egois, takut anak malah dibully. Beneran never ending journey of learning ya, mak, punya anak tuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus terus belajar kalau mau jadi orang tua hahaha

      Hapus
  5. Ahh, Chi menuliskan isi hatiku juga yang punya anak remaja, kadang gampang2 susah. Buatku menjadikannya sahabat lebih asik deh, kadang tak jadiin assisten juga buat jadi tukang poto hahaaa.
    Semoga saja kita bisa menjadi ortu terbaik buat anak2 kita dan selalu dekat dengan mereka. Mkasih loh sharing2nya ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk usia remaja memang asiknya memposisikan sebagai sahabat. Tetapi, tetap harus menghormati posisi kita sebagai orang tua

      Hapus
  6. Wah pas banget ini, bergizi banget bacaan ini buatku, karena anakku yang pra remaja umur 10 tahun ini sudah mulai memasuki fase ini ,dan semua yg di tulis mbak myra ini sudah mulai terasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Umur 10 tahun juga mula masuk pra-remaja. Anak sekarang cepat gedenya :D

      Hapus
  7. anakku masih pra remaja.. penting banget memiliki informasi parenting terkait remaja begini, sayang aku missed nih IG live nya

    BalasHapus
  8. yess, give trust each other, ini etrlihat mudah tapi susah apalgi kalo ingat bahwa dia anak kita ortu, padahal ngadepin anak remaja gak bisa kayak atasan dan bawahan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Harus mulai kasih kepercayaan ke anak

      Hapus
  9. wah klo anak anak da remaja, tantangannya beda lagi ya mbak...dan benar banget, saat anak remaja orang tua baiknya bisa berperan jadi teman terbaik anak ya mbak

    BalasHapus
  10. Jadi bekal aku buat menghadapi masa remajanya nanti nih.

    Memang tiap periode umur anak itu punya tantangannya masing-masing.
    Buat aku yang punya anak balita, memang lebih ke fisik dan penanaman nilai-nilai.

    Usia anak remaja, fokusnya lebih ke emosi. Betul mba, anak remaja memang lebih ingin dimengerti dan didengerin bukan dibantah.
    Kasih pengertiannya pun, harus pelan-pelan supaya mereka mau terima.

    Aku salut sama mba Chi yang bisa deket terus sama anaknya sampai remaja.

    Semoga aku juga bisa jadi orang tua sekaligus teman yang baik buat anak-anak sampai dewasa nanti. Amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Ada fasenya masing-masing. Dengan tantangan yang berbeda-beda pula

      Hapus
  11. Terkadang aku ingin tau juga nih perasaan mamah papahku pas aku dan adikku udah remaja dan dewasa. Pasti berat banget ya mbaaaa ada rasa gejolak juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mamah saya pernah bilang ketika anak-anaknya masih remaja, terutama yang laki-laki, sampai bikin mamah saya kurus hahaha

      Hapus
  12. Setiap fase tumbuh kembang anak memang berbeda-beda, ya. Dulu waktu kecil ya dramanya sering nangis, susah diajak diem dan sebagainya. Sekarang sudah remaja, beda lagi permasalahannya.

    Iya, anak remaja memang egonya lagi tinggi-tingginya. Kita sebagai orang tua kadang perlu 'mengalah' mendengarkan mereka berkeluh kesah mengutarakan isi hati.

    Soal hati memang gampang-gampang susah. Tapi anak SMP sekarang, pengaruhnya kan banyak ya. Belum lagi kalau bener-bener jatuh cinta, dipaksa jangan cinta ya malah bisa berakibat fatal.

    Setuju banget, orang tua memang mengarahkan, semuanya ada di tangan anak. Biar mereka juga belajar tanggungjawab. Kecuali tentang prinsip atau menyangkut adab, anak harus nurut orang tua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak bisa juga kan kita melarang jatuh cinta? Namanya juga perasaan. Tetapi, kita bisa bilang untuk mengontrol hawa nafsu. Jangan sampai cinta buta dan jadi kebablasan

      Hapus
  13. Anak lanangku juga udah beranjak remaja nih. Agak kompleks juga ya PR nya. Kadang suka roaming juga soal komunikasi haha..Thank insightnya mba. Bisa dipraktekkan.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang menarik sih kalau ngobrol sama anak muda. Saya juga harus berusaha update dengan perkembangan hehehe

      Hapus
  14. Tantangannya emang selalu ada yaaa, walau udah remaja, ini lebih ke gmn anak2 bisa tetap mempraktikkan prinsip yang selama ini udah kita ajarkan di tengah gempuran pergaulan mereka sama org2 asing/ lingkungannya.
    Anakku dah 8 thn dan aku jg deg2an cepet banget, nyampek fase usia segini2 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! Ibaratnya saat masih kecil tuh kita menanam banyak nilai kebaikan ke anak. Nanti pelan-pelan dikasih kepercayaan

      Hapus
  15. Setuju kalo anak-anak udah remaja itu bakal punya banyak waktu me time untuk diri sendiri dan dengan pasangan. Tapi memang makin nambah usia anak, masalah yang muncul bisa beragam. Bonding yang udah dibiasakan sejak anak-anak kecil jadi modal ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bonding menjadi salah satu modal kuat yang gak bisa diabaikan

      Hapus
  16. Nano-nano ya mbak rasanya punya anak-anak yang beranjak remaja. Ngerasa lebih worry pasti, tapi yang penting anak-anaknya diberi kepercayaan ya. Semoga apa yang ditulis di sini bisa jadi bekal aku kelak punya anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya jadi banyak khawatirnya. Tetapi, juga menyenangkan banget punya anak udah pada remaja

      Hapus
  17. Semoga kita diberi kekuatan kesabaran utk mendidik anak2 kita ya mak..Tantangan jaman now bikin kita gak boleh lengah...

    BalasHapus
  18. Saya pun banyak membaca dan belajar tentang bagaimana menghadapi anak remaja ya dari postingan di blog ini. Kelihatannya kok seru banget lihat gimana Keke dan Nai berkomunikasi dengan orangtuanya. PR banget nih bagi saya, yang beberapa tahun lagi bakal menghadapi si sulung yang masuk usia remaja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Remaja sudah mempunyai dunia sendiri. Kalau mau tetap bisa berkomunikasi dengan anak memang bagusnya dijalin sejak dini

      Hapus
  19. Jumpalitan!!!
    iya banget, mbak. Kalo anak kecil dimarahin palingan nangis tapi kalo remaja bisa kabur segala, hiii... kudu makin hati-hati ngomongnya

    punya anak remaja berarti harus up-to-date bin gaul. Kalo si anak suka main game, kitanya ikutan cek game-nya seperti apa sih kok dia suka. Bukan hanya marah-marah melarang anak bermain game.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jumpalitan banget, tetapi seru hehehe. Iya anak remaja udah sulit dilarang gitu aja

      Hapus
  20. Duh seru amat sih ini pembahasannyaaa.. Aku ketinggalan kemarin IGlivenyaaa.. huhu. Sekarang aku lagi ada di masa deg degan una bakal masuk ke masa haid pertamanya, doakan aku ya maaaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah harus siap-siap deh, ya. Apalagi kalau udah mulai haid. :)

      Hapus
  21. Punya anak remaja memang gimana gitu ya. Susah-susah gampang. Gampangnya karena kita udah gak terlalu ngurusin ini itu. Tapi beratnya, karena pemikiran dan keinginannya yang udah susah diatur-atur. Setuju banget dengan tipsnya. Aku pun hampir sama seperti itu ke dua anak remajaku. Walopun ya, terus belajar aja. Soalnya tiap waktu ada saja hal baru yang ditemui. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fisik kita udah gak terlalu capek ngurusin anak. Tetapi, pikiran yang mulai lebih banyak bekerja hahaha

      Hapus
  22. Punya anak remaja itu rasanya kaya naik roller coaster, Mbak Chi hehehe. Di satu sisi emang udah lebih santai, tapi di sisi lain kayanya capek pikiran. Makasih tipsnya, Mbak. Aku PRnya masih di komunikasi karena anakku tertutup banget. Jadi berusaha mencari celah komunikasi yang enak dan efektif di antara kami baiknnya gimana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayak Nai, Mbak. Dia juga tertutup anaknya. Saya juga kadang-kadang masih harus cari celah

      Hapus
  23. Anakku dua2nya remaja, Alhamdulillah enak jadi ada teman dan bisa tukeran baju, bisa cerita banyak hal karena mereka deket banget. Gak ada satu pun yang dia rahasiain, bahkan akun sosmed keduanya dikasih tau. Katanya soalnya banyak guru follow juga di akun pertama. Mau posting bercandaan sama teman suka gak enak kalau ada dosen dan guru2 di sekolah lama. Ahaha. Hal2 kecil aja cerita mereka, karena banyak anak yg justru lebih nyaman cerita sama temannya dibanding ibunya, karena sejak awal kurang adanya pendekatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu lah salah satu yang saya maksud. Kedekatan ini tentunya harus dijalin sejak kecil. Makanya menurut saya bonding itu mahal

      Hapus
  24. Ngeri ya mak, Alhamdulillah tiga anakku melewati masa remajanya baik-baik aja. Karena aku atau suamiku punya cara utk selalu komunikasi sm mereka, jd otomatis kalau ada update apapun pasti kita tau. Mereka malah sering nyeritain gimana temennya yg kadang dpt under estimate dr ibunya atau masa bodoh bapaknya. Sedih kan 😢

    BalasHapus
    Balasan
    1. komunikasi masih jadi kunci utama ya, Mak

      Hapus
  25. Terkadang aku kangeeeennnn dgn segala kerempongan ketika anak masih bayi/balita.
    Karena walopun cranky atau tantrum, balita itu relatif mudah diarahkan.

    Kalo remaja?
    Yaaaa gitu deh :D Memang ortu dituntut untuk banyak bersabar, selalu mendekatkan diri pd Yang Maha Kuasa, mohon petunjuk dan pertolongan-NYA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Mbak. Saya seringkali kangen dengan mereka yang masih kecil. Time flies, ya

      Hapus
  26. Setiap masa pertumbuhan anak ada saja hal menakjubkan yg baru diketahui kita sebagai orangtua ya.
    Deg-deg an menjadi ibu dr anak remaja beda dgn masa mrk masih anak2.
    Dialog sama mereka harus dengan alasan yg kuat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda banget. Ketika anak mulai remaja, kedekatan dan komunikasi semakin diuji

      Hapus
  27. Anakku yang gede juga masuk usia remaja nih mbak, musti pinter pinter ngasih tau/nasehat soalnya anaknya sekarang lebih sensitif...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Karena anak remaja sudah semakin punya pendapat

      Hapus
  28. Aku aja pas remaja gak bisa handle diriku sendiri kak #lah
    Jadi tahu banget betapa pusingnya orang tua di saat anaknya beranjak remaja. Masa transisi sebelum menjadi dewasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu maksud saya. Anak remaja itu biasanya suka merasa udah paling tau segalanya. Padahal sebetulnya masih banyak pelajaran hidup yang harus mereka control. Makanya bisa bikin orang tua jumpalitan ahahahaha

      Hapus
  29. Pola pengasuhan di tiap masa perkembangan anak memang mempunyai tantangan masing2 ya.. Trims sudah berbagi ttg pengasuhan anak remaja ini, Chi, insya Allah berguna bagi kita yang baca..

    BalasHapus
  30. Anakku masih SD dan TK tapi suka kuatir bagaimana menghadapi mereka saat remaja nanti. Itu pun harus dimulai keterbukaan sejak dini ya, mbak. Supaya kita bisa menjadi teman curhat buat mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Kedekatan sebaiknya sejak dini

      Hapus
  31. Wah senang sekali bisa membaca sharingnya mbak Myra. Iya mbak, kalau masa kanak kanak sudah dilewati bukan berarti tugas ortu udah selesai ya, justru ini adalah tantangan baru lagi. saya juga baru tahu, terntara remaja yang canggung bisa jadi ada masa kanak-kanak yang kurang distimulasi di usia dininya, sehingga ada beberapa aspek perkembangan yang tidak berkembang hingga ke masa remaja. sehingga remaja jadi introvert atau dijauhi teman dianggap tidak bisa atau bodoh. semoga kita bisa mendampingi anak anak dengan baik ya mbak sehingga mereka nyaman berada di dekat kita dan menjadi teman curhatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang saya tau juga begitu. Karakter kita setelah remaja dan selanjutnya ditentukan oleh masa lalu juga

      Hapus
  32. Anak semakin besar, terkesan emang kita jadi lebih nyantai dari segi fisik yah tapi justru malah jadi sering deg-degan sih ehehehe

    Setujuuu, penting banget menjaga bonding sama anak supaya bisa tetap dekat dan bisa curhat terus yaaah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setelah remaja pikiran lebih bekerja hahha

      Hapus
  33. Sebetulnya mendidik anak itu yg utama adalah saat mereka kecil kita mau bercape cape berusaha dekat dengan mereka, berusaha memberi yg terbaik saat usia dini nya. Jadi ketika mereka sudah besar kita sdh tidak cape lagi krn sudah bisa saling memahami dan memiliki bounding yg kuat ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setidaknya sudah ada yang bisa 'dipetik' meskipun bukan berarti tanpa masalah

      Hapus
  34. Kalo saya memang membangun bonding dan membiasakan utk ngobrol sejak kecil sih, semoga kelak anakku mau share sama aku apapun masalahnya

    BalasHapus
  35. Mbak chiiii, makasih banyak nih sudah berbagi pengalamannya dalam hal parenting untuk remaja. Paling suka di part anak anak mbak Chi masih suka berbagi cerita bahkan saat sudah menginjak remaja.

    BalasHapus
  36. iya bener Myra. Tantangan pada tiap fase pertumbuhan anak tuh beda-beda ya. Nggak bisa diklaim yang satu lebih berat dari yang lain. PErasaan aku juga semuanya berat sebenarnya jadi ya dinikmati aja akhirnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap fase selalu ada tantangannya ya, Mbak

      Hapus
  37. Tiap tahap usia anak ada tantangan masing-masing ya ternyata. Saya ni masih merasa punya banyak PR pengasuhan sampai jadi nggak PD sendiri deh kadang kadang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun suka begitu. Apalagi yang diasuh ini manusia bukan robot. Buat saya penting berada dalam circle yang saling mendukung

      Hapus
  38. Namanya hidup sudah pasti punya tantangan yang berbeda. Begitupun punya anak, usia bayi dan remaja nggak bisa dibilang enak-tidak enak, semua pasti ada tantangannya.

    Apalagi yang sudah remaja, bukan tidak mungkin tantangannya makin berat. Anak sudah banyak mau, kebutuhan sekolah besar, belum soal pertemanan remaja. Orang tua yang kudu pinter mencari tau masalah sekaligus pemecahnya ya Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Tetap ada serunya. tetapi, siap juga dengan tantangannya

      Hapus
  39. Punya anak remaja di zaman sekarang pastinya bikin deg degan ya Mba, harus jeli sebagai orang tua. Makasih sharingnya Mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Pengaruhnya soalnya banyak banget :D

      Hapus
  40. Aku kalau ngeliat mbak ipar dan anaknya sama-sama bertumbuh udah jadi teman curhat dan gede, bikin envy mbak Seru gitu. Semoga aku lekas menyusul dapet momongan aamiin. Terima kasih mba, aku jadi belajar banyak.

    BalasHapus
  41. orang tua yang bisa dekat dan terbuka ke anak-anak itu keren, lebih keren lagi anak-anak yang bisa jadikan orang tuanya tempat curhat terbaik, duuh istimewa banget ya.
    tapi memang butuh usaha juga tuk orang tua agar bisa membuat anak nyaman dan bisa selalu terbuka, daripada orang tua jadi yang paling terakhir tahu tentang anak sendiri kan itu nyesak banget ya Mbak :(
    duuhh, harus banyak belajar nih, apalagi anak-anakku cowok semua, pengennya sih mereka itu bisa jadikan orang tuanya sebagai tempat ternyaman juga untuk segala hal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak saya ynag cowok justru paling terbuka. Insya Allah, anak cowok juga bisa, kok

      Hapus
  42. I know exactly how you feel mbaa.. . My big boy is at senior high school now so we start having this kind of period. It was fun but challenging as well at the same time

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Asik ya Mbak punya anak remaja hehehe

      Hapus
  43. Yang paling terasa saat anak-anak remaja adalah kita gak boleh too kepo yaa, kak..
    Suka lupa kalau mereka butuh privacy.
    Dan aku suka banget penjelasan kak Myra kalau cerita tentang komunikasi kepada Keke dan Nai.

    Terimakasih insight nya kak Myra..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya harus mulai belajar menghargai privacy. Agar anak juga belajar hal yang sama

      Hapus
  44. Aku ya sedang mengalami nih masa-masa punya anak remaja. Agak khusus juga karena anakku kan tidak berada di rumah. Ketika konflik terjadi karena hubungan pertemanan, dia tak ada tempat mengadu, selain yaaa dengan teman-temannya juga yang ada di pondok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu menarik juga dan ada perbedaan antara pola asuh remaja yang tinggal bersama orang tua dengan yang di pondok

      Hapus
  45. Semoga kelak anak2ku masih mau cerita apa aja ma aku huhuhu
    Krn aku sendiri ngalamin males cerita ma. Semoga saat ini pas mereka masih kecil waktunya memupuk bonding sama anak2.
    fyuh kirain masa remaja bisa lbh enak ternyata makin beat tantangannya yaa, semangaaaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Males cerita biasanya berawal dari ketidaknyamanan. Makanya saya pun berusaha menghargai apa yang anak-anak ceritakan

      Hapus
  46. waaa seru banget ini pembahasannya deh soal anak remaja hihihi, ilmu yang bermanfaat banget walaupun aku sendiri belum punya anak ehhehe

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^