Benarkah anak pertama itu eksperimen?

Sudah membaca buku Mommylicious tulisan duo mama, yaitu Mama Arin dan Mama Rina? Mommylious adalah buku kisah tentang pengalaman duo mama tersebut saat mengasuh anak-anaknya. Sebuah buku yang berisi beberapa kisah unik dan lucu yang diceritakan secara sederhana dan tidak terasa menggurui. 2 paragraf akhir dari cerita pertama yang berjudul "Pengalaman Pertama (Catatan Mama Arin)", lah yang membuat Chi ingin membuat postingan ini.


Saat saya menulis buku ini, Cinta telah berusia 9 tahun, dan mempunyai adik bernama Asa, 4 tahun. Saya bukan lagi mama baru. Namun rasanya masih demikian, karena selalu saja ada hal baru yang saya rasakan setiap harinya.

Kehadiran Asa membuat saya merasa memutar ulang kisah romantis saya dan Cinta semasa awal kelahiran dulu. Rasanya tak kalah mendebarkan. Setiap anak adalah unik, setiap tumbuh kembangnya juga unik. Saat Cinta kecil adalah pengalaman pertama saya dalam mengasuh anak. Sekarang, mengasuh Asa kecil juga tetap menjadi pengalaman pertama, yaitu pengalaman pertama mengasuh dua-kakak beradik. Saya bersyukur memiliki cukup waktu untuk menuliskannya.

Pernah beberapa kali Chi mendengar kalau anak pertama itu seperti sebuah eksperimen. Chi sendiri pun kadang merasa dan berpikiran seperti itu. Baik itu karena di dalam keluarga, Chi adalah anak pertama. Maupun ketika mengasuh Keke, yang menjadi anak pertama Chi.

Eksperimen yang dimaksud bukan seperti jargon sebuah iklan produk yang cukup terkenal "untuk anak, kok, coba-coba." Eksperimen disini adalah karena untuk anak pertama seringkali semuanya serba pertama. Pertama kali hamil, melahirkan, menyusui,  memberi makan, masuk sekolah, dan masih banyak kisah pertama lainnya.
Seperti halnya sebuah eksperimen, kadang kita harus coba berbagai metode dulu untuk mengetahui berhasil atau tidak. Misalnya, ketika menghadapi anak menangis, sebagai orang tua baru, Chi masih sangat meraba-raba kira-kira apa yang membuat ana menangis dan bagaimana mendiamkannya. Tentu harus mencoba berbagai cara. Mungkin itu tidak akan terjadi kepada anak kedua dan seterusnya.

Ketika mulai hamil anak pertama, Chi mulai banyak mengkoleksi buku tentang parenting, hingga berlangganan majalah dan tabloid tentang ibu-anak. Pada masa itu, Chi belum akrab sama yang namanya dunia maya. *biaya internetannya masih mahaaal untuk ukuran kantong kami saat itu. Mau ke warnet males hehehe*

Walopun banyak membaca buku, majalah, maupun tabloid tapi pada prakteknya tetep aja gak semudah itu. Ketika hamil, sih masih cukup mudah, ya. Karena mengurus diri sendiri. Kehamilan Chi juga termasuk hamil kebo dan alhamdulillah anak-anak selama dikandungan selalu sehat. Tapi, ketika bayi mulai dilahirkan, disinilah perjuangan baru dirasakan dan semuanya serba pertama. Banyak menerka-nerka harus melakukan apa.

Melahirkan dan membesarkan Keke hingga punya adik masih bisa Chi jalanin dengan mudah. Seingat Chi, Keke gak pernah tantrum, susah makan, atau hal-hal lain yang bikin kepala Chi cenat-cenut dan menguji emosi. Kami seperti saling mengerti. Karena itu pula Chi sempat berpikir, "Kalau mengasuh anak pertama aja mudah, berarti kalau dikasih anak kedua dan seterusnya akan lebih mudah. KArena anak pertama kan seperti eksperimen."

Ternyata, apa yang Chi pikirkan itu gak sepenuhnya benar. Ketika Nai lahir, memang gak seluruhnya pengalaman pertama. Pengalaman ketika hamil dan melahirkan Keke atau Nai, tidak memiliki cerita yang terlalu berbeda. Ketika hamil anak kedua pun Chi kembali hamil kebo. Lahirnya juga kembali melakukan operasi caesar. Alhamdulillah, Nai pun selalu sehat. Menyusui, memandikan, dan beberapa aktivitas lainnya juga gak banyak perbedaan.

Ketika bilirubin Nai tinggi, Chi masih bisa tenang menghadapinya. Bahkan, dengan setelah izin dari dokter anak, kami lebih memilih merawat Nai di rumah. Menaruhnya di tempat tidur bayi yang diberi lampu, penutup mata, dan lainnya. Pokoknya, persis seperti bayi-bayi yang dirawat di rumah sakit karena bilirubinnya tinggi. Hanya saja, kami melakukannya di rumah.

Berbeda ketika Keke mengalami bilirubin tinggi dan disarankan dirawat. Chi langsung sedih luar biasa. Kepala rasanya sakit sekali hingga sulit untuk bangun. Tapi, Chi harus memaksakan dir untuk bangun. Supaya bisa ke rumah sakit dan tetap menyusui Keke. Ketika Nai yang mempunyai bilirubin tinggi, Chi bisa jauh lebih tenang menghadapinya. Mungkin ini juga termasuk eksperimen terhadap anak pertama, ya. Karena belum ada perbandingan. Jadi, kadang masih meraba-raba ketika mengambil keputusan. Termasuk masih suka panikan.

Ujian pun kembali datang ketika Nai lahir. Seperti yang Mama Arin bilang, pengalaman pertama mengasuh kakak-adik. Chi yang tadinya merasa saling mengerti satu sama lain dengan Keke mulai merasa diuji emosinya. Chi merasa Keke mulai berulah sejak punya adik. Beberapa kali emosi Chi meledak. Walopun semuanya baik-baik saja, tapi sampai sekarang kalau mengingat saat-saat itu perasaan bersalah masih juga hinggap :(

Sekali lagi, Chi setuju dengan pendapat Mama Arin kalau setiap anak itu unik, perkembangannya pun unik. Keke dan Nai pun 2 anak yang memiliki kepribadian berbeda walopun lahir dari rahim yang sama. Makanya, Chi suka heran juga kalau sampe ada mom war. Yang lahir dari rahim yang sama aja bisa berbeda, kok, cara kita mengasuhnya. Apalagi kalau dibandingin anak orang lain.

Jadi, benarkah anak pertama itu eksperimen? Ya, mungkin untuk banyak hal, anak pertama akan banyak mengalami segala hal terlebih dahulu. Begitu juga dengan orang tua. Sehingga, ketika mengasuh anak pertama, kadang masih suka menerka-nerka, sebaiknya bagaimana? Tapi, semua itu kan berproses. Sebagai orang tua, kita yang lebih tau anak kita. Pokoknya, mau itu anak pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, sebagai orang tua kita harus terus berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak.

Jangan lupa baca buku Mommylicious. Membuat kita berpikir, kalau kita tidak sendiri. Kita semua bukan perfect mom tapi pasti akan selalu sekuat tenaga memberikan yang terbaik untuk anak-anak :)