Weaning with love (WWL) atau menyapih dengan cinta. Sejujurnya, kalau ditanya apakah Chi melakukan WWL ke Keke dan Nai, agak bingung juga jawabnya. Setelah baca sana-sini, Chi berkesimpulan kalau WWL itu kan katanya menyapih secara alami dengan cinta. Artinya tanpa ada paksaan sama sekali.  Orang tua sering mengajak anak untuk berkomunikasi tentang menyapih. Maksudnya, biar si anak mau menyapih dengan keinginan sendiri.

Chi juga pengennya begitu. Makanya dari jauh-jauh hari, Chi udah melakukan persiapan seperti di bawah ini:


  1. Tidak menawarkan menyusui dan mengalihkannya dengan melakukan berbagai aktivitas yang menyenangkan. Supaya Keke lupa sama kegiatan menyusuinya.
  2. Kalau Keke tetap meminta, Chi mencoba mengajaknya ngobrol. Misalnya dengan bilang, "Keke udah mulai besar, mending main aja, yuk!"
  3. Mengajaknya ngobrol tentang rencana menyapih. Kasih penjelasan positif, disesuaikan dengan daya tangkap anak juga tentunya
  4. Menata perasaan. Karena saat menyapih, sebetulnya gak cuma anaknya yang sedih, bundanya juga.

Awalnya, berhasil. Keke seperti mengerti. Kalau malam, dia udah bisa nyenyak tanpa terbangun minta nenen. Siang hari pun bisa dialihkan dengan berbagai permainan. Tapi, keberhasilan itu cuma sementara...

Pelan-pelan, Keke mulai sering minta menyusui lagi. Malah gak mau brenti. Dialihkan perhatiannya dengan cara apapun gak mempan. Pengennye nempel terus, sampe Chi susah ngapa-ngapain. Bahkan, ketika lagi makan pun, Keke minta menyusui. Makan dan menyusuui bisa dilakukan berbarengan. Ampun, deh!

Perasaan, sebelum ada rencana menyapih, Keke gak sampai segitu ketergantungannya. Bahkan, ketika Nai lahir dan Chi melakukan tandem nursing pun Keke gak sampe segitunya. Kenapa juga setelah dibicarakan baik-baik, dia malah makin menjadi ketergantungan? Sempet terpikir, jangan-jangan dia udah ngerti kalau sebentar lagi gak boleh menyusui?

Chi lalu kepikiran buat sedikit 'memaksa'. Sebetulnya gak rela juga, sih. Apalagi ASI Chi masih banyak. Udah gitu, sempet baca beberapa info parenting kalau anak yang disapih dengan cara memaksa atau 'menipu' misalnya dengan dipahitin atau dikasih betadine putingnya, akan membuat anak mengalami luka batin, Dan, hubungan batin antara ibu-anak menjadi rusak karena anak merasa haknya dirampas. Atau anak merasa ditipu sama ibunya.

Wuiiihhh, serem banget baca efeknya! Makanya, Chi sempet ragu berat mau menyapih dengan paksa. Tapi, kalau gak disapih, Keke semakin gak bisa lepas. Malah makin menjadi. Setelah ditimbang-timbang dan diskusi dengan K'Aie, kami pun sepakat untuk sedikit memaksa Keke. Caranya seperti ini:


  1. Beberapa hari sebelum hari H, sudah dikasih tau kalau akan disapih.
  2. Ketika hari H, Keke benar-benar gak dibolehin menyusui sama sekali.
  3. Di Hari H, K'Aie ambil cuti.

Kenapa K'Aie sampe harus cuti, karena saat benar-benar dilarang untuk nenen, Keke menjadi rewel luar biasa. Seharian itu, dia nangis dan minta digendong terus. Chi tentu aja kerepotan kalau harus nanganin Keke sendirian. Apalagi saat itu udah ada Nai yang masih bayi. Jadi, memang perlu kerjasama.

Melihat Keke seharian menangis, Chi jadi merasa bersalah banget. Apalagi setelah itu, Keke demam. Tinggi juga panasnya. Makin merasa bersalah, deh. Apalagi, Chi tetep harus konsisten untuk tidak menawarkan Keke untuk menyusui lagi. Untungnya cuma sehari demamnya. Setelah itu, dia udah lupa sama kegiatan menyusuinya. Keke kembali ceria tanpa ingin menyusui. Bahkan 2 minggu setelah disapih, Chi pernah coba-coba nawarin, Keke menolak sambil ketawa-ketawa. Keke pun resmi disapih, saat umurnya sekitar 2,5 tahun.

Bagaimana dengan Nai. Sama aja ternyata. Setelah Chi bilang mau nyapih, awal-awalnya berhasil tapi lama-lama jadi ketergantungan. Pokoknya persis kayak yang Keke lakuin dulu. Dan, Chi pun kembali terpaksa menyapih.

K'Aie kembali cuti. Untungnya walaupun ngamuk banget, tapi Nai gak sampe demam. Besoknya, Nai udah ceria dan gak minta nenen lagi. Nai disapih wkatu umurnya mendekati 3 tahun.

Ya, mungkin Chi tidak melakukan weaning with love. Walopun, Chi merasa begitu. Karena paksaan yang Chi lakukan cuma sedikit. *membela diri :p Tapi, apakah Keke dan Nai memiliki luka batin karena pemaksaan tersebut? Hmmm... kayaknya enggak, ya. Mereka memang menangis hampir seharian. Bahkan, Keke sempat demam. Tapi, Chi pikir wajar aja. Namanya anak suka menangis kalau keinginannya ditolak, kan?

Walopun begitu, Chi gak merasa hubungan antara Chi dan anak-anak jadi rusak karena urusan ini. Kami baik-baik aja. Bahkan tetap akrab sampai sekarang, kok. Ketika menyusui memang hubungan batin antara ibu dan anak terjalin. Chi merasakan banget, makanya selalu mellow tiap kali mau menyapih. Tapi, kalau kita bisa memberikan kasih sayang dengan kualitas yang sama bagusnya, anak juga lama-lama akan mengerti. Dan, tetap akan merasa disayang. :)