Judul postingan ini, sengaja Chi samain dengan judul tulisan yang masuk ke majalah Good Housekeeping Indonesia, sekitar 1 tahun lalu. Tulisan pertama Chi yang masuk media cetak, dan setelah itu belom ada lagi *karena gak ngirim-ngirim lagi :p

Tulisan itu menceritakan tentang kejadian dimana Chi dan beberapa orang teman lama ngobrol-ngobrol di dumay. Karena udah lama gak ngumpul, kami berencana untuk ketemuan. Chi bilang kalau mau ngumpul sebaiknya hari Sabtu atau Minggu. Karena Chi cuma bisa di 2 hari itu. Alasannya, kalau wiken K'Aie libur, jadi anak-anak bisa ditemenin sama K'Aie.

Setelah Chi komen gitu, salah seorang temen berkomentar, "Kamu, kok, anggap suami kayak pembantu aja. Masa' disuruh ngasuh anak."

Chi kaget banget baca komen tersebut. Gak tau, deh, apa temen Chi itu becanda atau enggak. Chi gak tanya, lebih memilih untuk menjelaskan. Sama sekali Chi gak menganggap kalau K'Aie itu seorang PRT. Mengasuh anak memang sudah jadi kesepakatan kami bersama sejak awal. Chi memang pengen banget K'Aie itu dekat dengan Keke dan Nai.
 
Walopun Chi gak merasa seperti itu, tapi gara-gara komen tersebut, bikin Chi jadi bertanya ke K'Aie. Gak bermaksud menuduh, sih. Tapi, siapa tau aja, K'Aie lama-lama keberatan sama yang namanya mengasuh anak.

K'Aie : "Apa-apan, sih. Ya, enggak lah! Masa' kayak gitu keberatan."
Chi    : "Ya, kali aja..."
K'Aie : "Enggak, lah. Namanya juga berumah tangga, ya sama-sama lah."

Alhamdulillah, K'Aie gak pernah ada rasa keberatan. Tetap menjadi suami dan ayah yang mau sama-sama mengurus rumah tangga dan anak-anak

Sebetulnya, tanpa diminta pun, sejak masih pacaran Chi udah yakin. Kelak kalau kami menikah dan punya anak, K'Aie akan menjadi ayah yang dekat dengan anak-anaknya. Tidak hanya ingin mencari nafkah, sementara urusan anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab istri. Chi yakin K'Aie gak seperti itu. Alhamdulillah, terbukti sampai sekarang.

Buat, Chi penting banget bagi seorang anak untuk dekat dengan sosok ayah. Ketika setahun lalu lihat Nai asyik berlama-lama ngobrol berdua sama ayahnya tentang perayaan ulang tahun yang Nai inginkan. Chi memang sengaja gak ikut nimbrung. Chi cuma duduk dekat mereka, sambil tersenyum senang melihat ayah dan putrinya saling berdiskusi. Keke pun begitu. Seringkali Chi biarkan Keke ngobrol berdua dengan ayahnya. Dan, Chi hanya jadi pengamat sambil tersenyum mendengar obrolan mereka.

Ketika Keke dan Nai masih bayi, K'Aie pun rajin ngemandiin mereka setiap pagi bahkan bantu nyuapin sarapan. Menggendong anak-anak pake gendongan bayi. Hingga cuti kerja untuk membantu Chi dalam proses menyapih.

K'Aie juga andal dalam urusan rumah tangga. Rajin banget bebersih rumah, memasak juga oke. Tentu aja itu semua dilakukan saat lagi gak ke kantor, lah. Karena kegiatan utamanya kan mencari nafkah.Dan, K'Aie termasuk suami yang bertanggung jawab.

Chi merasa jadi perempuan yang sangat beruntung punya suami seperti K'Aie. Sekali lagi, Chi sama sekali gak menganggap K'Aie itu seorang PRT karena selalu membantu urusan rumah tangga. Jauh-jauh, deh, dari pikiran itu! Chi tetap menghargainya sebagai suami, ayah Keke-Nai, dan kepala rumah tangga.

Tapi, kalau ada orang lain yang berpikiran seperti itu. Biarkan itu jadi urusannya. Yang penting, keluarga kami asyik-asyik aja dengan keadaan ini :)