Memasuki semester kedua di kelas dua ini, Nai mulai belajar tentang pembagian. Sebelum belajar tentang pembagian, tentu aja Nai harus belajar perkalian. Alhamdulillah, gak terlalu sulit mengajarkannya perkalian selama dia gak terburu-buru.

Ketika memasuki pelajaran pembagian, Nai mulai mengalami kesulitan. Terutama kalau angka yang harus dibagi sudah ratusan. Misalnya, 153 : 3 = ...

Mengajarkan pembagian ke Nai dengan cara tahapan-tahapan konvensional, bikin dia tambah bingung. Cara yang tepat adalah dengan bercerita. Nai yang gaya belajarnya lebih ke visual dan bercerita memang lebih mudah menangkap sesuatu dengan cara bercerita. Biar, gampang jelasinnya, Chi kasih contohnya, ya..

153 : 3 = ...

Penyelesaian : Ada 1 orang penumpang, ingin naik kereta. Tapi, menurut peraturan, kereta baru bisa jalan minimal kalau ada 3 orang yang naik. Setelah ditunggu, terkumpulah 15 penumpang. 1 gerbong hanya boleh diisi 3 penumpang, kalau ada 15 orang yang naik berarti butuh 5 gerbong kereta.

Setelah kereta pertama jalan, kemudian datang 3 penumpang lagi. Karena jumlahnya sudah ada 3 orang, maka kereta kedua pun bisa langsung jalan dengan 1 gerbong saja.

Jadi, 153 : 3 = 51

Buat Nai, cara bercerita seperti itu memudahkannya untuk belajar pembagian. Malah kalau dia lagi seru, suka ditambahin berbagai dialog seperti layaknya sebuah cerita, misalnya "Aku ikuuuuttt!" atau "Ya, terpaksa menunggu, deh."

Kadang, Chi dan Nai bercerita bersama. Tapi, kadang Nai ngoceh-ngoceh sendiri dengan ceritanya. Gak apa-apa juga, sih, biar gimana kalau di sekolah kan dia gak bakal dibantu sama Chi. Harus ngerjain sendiri.

Cara ini berlaku untuk Nai. Kalau untuk Keke beda lagi. Chi ngajarin biasa aja, mengajari tahapan-tahapan pembagian seperti umumnya. Ya, setiap anak kan memang berbeda-beda gaya belajarnya. Bahkan untuk kakak-adik sekandung pun gaya belajarnya berbeda-beda :)