Kapok Mengajar - Selain menggambar, Nai suka sekali dengan craft. Setiap hari, ada aja kreasi yang dia bikin. Dan, gak selalu harus Chi yang ajarin. Kadang, dia cari sendiri di youtube buat dipelajar atau punya ide-ide spontan. Bahan-bahannya juga seadanya di rumah, yang penting ada gunting dan lem. Seringkali, Chi harus diam-diam kalau mau buang sampah, dan menyisakan sedikit saja sampah daur ulang. Karena kalau ketahuan Nai suka dikumpulin. Kertas koran, dus bekas cereal, botol plastik, dan lainnya. Semua dikumpulin Nai buat dibikin kreasi. Walopun gak langsung saat itu bikinnya.

Kalau udah asik menggambar atau nge-craft, Nai udah anteng banget. Malah, Chi suka disuruh menjauh. Kalau udah selesai baru dikasih lihat. Dia juga sering bawa hasil craftnya ke sekolah untuk dilihatin ke teman dan wali kelasnya.

Saking senangnya craft, waktu kelas 1 dia kadang suka minta pindah lagi ke TK. Katanya di TK kegiatannya enak cuma berkreasi, gak kayak di SD. Makanya, di SD ini dia paling seneng kalau udah ada pelajaran SBK, yaitu Seni Budaya dan Ketrampilan.

Hari Jum'at lalu, waktu Chi jemput Nai....


Kata Nai ini kupu-kupu dari kertas origami


Nai     : "Hari ini bad day banget buat Ima, Bun."
Bunda : "Bukannya Ima paling seneng hari Jumat? Kan, ada SBK."
Nai     : "Justru itu karena SBK. Hhhh... Bad day, lah. Cape!"
Bunda : "Emangnya ngapain? Kok, tumben?"
Nai     : "Bunda tau, kan, kupu-kupu yang waktu itu Ima bikin dari kertas origami?"
Bunda : "Iya, tau."
Nai     : "Itu, kan, Ima bikin di sekolah pas lagi istirahat. Ternyata, temen-temen pada suka gitu. Jadi aja hari ini Nai disuruh jadi guru SBK sama bu guru."
Bunda : "Trus, yang bikin Ima jadi bad day apa? Bukannya Ima malah seneng kalau temen-temen pada suka? Di rumah Ima juga suka ngajarin Bunda."
Nai     : "Banyak yang gak mau nurut, Bundaaaaa.... Ima udah ajari, banyak yang tanya-tanya karena gak ngerti. Malah ada juga yang minta bikinin. Ima bilang, kalau mau harus baris biar tertib, biar Ima gak bingung. Tapi, gak nurut. Pada berebutan gitu. Jadi, Ima biarin aja, deh. Terserah aja mau bikin kayak apa. Gak usah mirip sama yang Ima bikin. Abis gak nurut."
Bunda  : "Trus, hasilnya mana?"
Nai      : "Kan, dikumpulin, Bun."

Ada rasa senang mendengar Nai dipercaya wali kelas untuk mengajarkan ketrampilannya ke teman-temannya. Buat Chi itu pengalaman berharga sekali buat Nai. Tapi, ngikik juga membayangkan dia kerepotan mengajarkan teman-teman sekelasnya dan membuatnya kapok mengajar😂

Bunda : "Jadi, gimana rasanya jadi guru?"
Nai     : "Cape, ah!"
Bunda : "Kalau gitu, udah ngerti belom kenapa Bunda suka ngingetin Aa dan adek untuk tertib kalau lagi belajar di kelas?"
Nai     : "Belom. Emangnya kenapa, Bun?" *gubraaaakkk! :O
Bunda : "Ima baru jadi guru SBK sehari aja udah kapok mengajar. Alasannya tadi karena apa?"
Nai     : "Karena banyak yang gak bisa dikasih tau."
Bunda : "Nah, kebayang, gak? Setiap hari, Bu guru harus ngajarin anak-anak untu banyak pelajaran. Tapi, gak semua anak muridnya tertib. Bu guru mungkin pusing. Tapi, gak boleh kapok kayak Ima. Nanti kalau semua guru kapok, yang ngajarin murid-murid siapa?"
Nai     : "Oiya, ya."
Bunda : "Berarti, Ima udah ngerti kan kenapa Bunda sering ngingetin untuk tertib kalau lagi belajar."
Nai     : "Iya."
Bunda : "Kira-kira kalau bu guru minta Ima jadi guru lagi, mau gak?"
Nai     : "Enggak!"
Bunda : "Ya, udah kalau gitu Ima ngegantiin Bunda aja gimana? Kan, kalau jadi Bunda cuma ngurusin 2 anak, A' Keke sama Bunda. Gimana?"
Nai     : "Engaaaaaaakkkk.... Gak mauuuuuuu.... Ima mau jadi anak-anak ajaaaa...!"
Bunda : "Hahahaha"

Seneng banget Chi godain Nai hari itu. Tapi, setuju banget sama Nai. Jadi, anak-anak aja dulu. Dunia anak-anak itu nikmat. Puaskan dirimu jadi anak-anak, ya, Nak. Nanti akan ada saatnya Keke dan Nai akan menjadi orang dewasa. Kalau masa kanak-kanak sudah terpuaskan, Insya Allah, Keke dan Nai gak menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan. Itu harapan ayah dan bunda😘