Seminggu lalu...

Ketika kami pulang dari jalan-jalan, jalanan di depan rumah tergenang kira-kira semata kaki. Alhamdulillah, tempat kami gak kebanjiran. Kalaupun waktu itu sempat tergenang sampai semata kaki itu karena hujan yang sangat deras dalam jangka waktu yang lama. Biasanya setelah hujan agak mereda, air akan langsung surut.

Keke : "Horeeee.... Banjiiiirrr! Main aiiiirr."
Bunda : "Keke, diam! Banjir malah seneng, gimana sih!"

Keke langsung terdiam mendengar sentakan Chi. Setelah beberapa saat, Chi baru sadar, biar gimana Keke masih anak-anak. Yang namanya anak-anak kadang gak mengerti apa itu banjir. Buat mereka tetap aja itu artinya bisa main air.

Tapi, Chi dulu sampe remaja tinggal di perumahan yang sering banjir. Salah satu lokasi yang selalu masuk tv dan media internet kalau banjir lagi melanda. Karena memang parah banget banjirnya. Jadi, sekarang kalau lihat air menggenang dikit aja rasanya udah males banget. Khawatir banjir lagi. Makanya pas Keke ngomong gitu, Chi spontan ngebentak. Maafkan Bunda, Nak.

Walopun begitu, Chi belum pernah ngerasain tinggal di penampungan, sih. Tapi, tetep aja yang namanya banjir itu gak enak. Cuma bisa diam di lantai atas. Ribet lah pokoknya.

2 hari yang lalu...

Keke   : "Bunda, tadi Keke gak belajar. Sekitar 1,5 jam, lah."
Bunda : "Kenapa? Gurunya gak masuk?" 
Keke   : "Enggak, tadi Keke kepilih jadi perwakilan kelas buat ikut ke lokasi penampungan. Nyerahin sumbangan, Bun."
Bunda : "Oiya? Dimana?"
Keke   : "Deket, kok. Di Jati Asih. Ada juga temen Keke yang dapet lebih jauh lokasinya. Tau gak, Bun. Katanya dari 13 RT yang paling parah banjirnya itu ada 7 RT. Jadi, harus tinggal di penampungan."
Bunda : "Gimana kondisi di penampungan?"
Keke   : "Gak sampe penampungan, karena jalan kesananya masih banjir. Jadi, taro sumbangan di PAUD. Di sana ada posko, sumbangan kita diterima sama dicatet, Bun."
Bunda : "Berarti Keke belom ngelihat langsung lokasi penampungan, ya. Tapi, kalau dari hasil pengalaman itu, bisa ngebayangin gak kayak apa lokasi penampungan menurut Keke?"
Keke   : "Di penampungan gak enak."
Nai      : "Pasti karena Keke gak bisa main komputer, makanya gak enak."
Keke    : "Bukaaaaannnn..."

Keke lalu kasih pendapatnya tentang gak enaknya tinggal dipenampungan. Menurutnya, kalau di penampungan itu:

  1. Gak bisa makan banyak. Katanya, gak enak kalau kepengen nambah. Kan, orang yang makan banyak.
  2. Gak bisa tidur sepuasnya, termasuk bangun siang. Pasti rame banget suasananya
  3. MCKnya pasti jorok. Keke memang belum pernah lihat kondisi MCK di penampungan, tapi membayangkan segitu banyak orang yang membutuhkan MCK, Keke gak yakin kalau MCKnya bakal bersih. Ngebayangin aja dia gak mau, katanya.

3 hal itu yang menurut Keke tinggal di penampungan gak enak. Yang bikin Chi agak terkejut, Keke sama sekali menyebutkan tentang game sebagai alasannya. Padahal dia hobi banget main game.

Bunda : "Trus, kalau gitu perasaan Keke gimana?"
Keke   : "Hmmm... apa, yaaa...? Bersyukur, ya, Bun?"
Bunda : "Iya, betul. Keke harus bersyukur, sampe sekarang gak harus merasakan penampungan. Hujan terus-terusan kayak gini, rumah gak kebanjiran, gak mati lampu. Masih bisa sekolah, malah bisa jalan-jalan juga."

Alhamdulillah. Semoga setelah ini, Keke semakin mengerti tentang pentingnya bersyukur. Aamiin.