Hayoo ... Siapa yang selama ini setuju bahkan protes kalao pendidikan di Indonesia itu lebih ke nilai-nilai akademis, sementara karakter diabaikan? Seandainya sekarang kurikulumnya adalah pendidikan karakter yang diutamakan, apa kita akan langsung senang? Kalau Chi, sih, senang, tapi ternyata ada pertanyaan lanjutan ... Kurikulum 2013, Siapkah Kita? *nanya ke diri sendiri

Sabtu kemarin, ada pertemuan orang tua murid kelas 4 dengan pihak sekolah untuk menjelaskan tentang kurikulum 2013 yang baru. Ini poin-poin yang coba Chi catat:


  1. Kurikulum 2013 ini baru percobaan. Hanya 30% sekolah yang ada di Indonesia (negeri dan swasta) yang ditunjuk Diknas untuk uji coba kurikulum 2013. Jadi jangan heran kalau ada orang tua yang anaknya masih pake kurikulum lama di sekolahnya.
  2. Dari 30% itu juga baru di uji coba untuk SD kelas 1 dan 4, SMP kelas 7, dan SMA kelas 10. Tahun depan untuk baru kelas 2 dan 5 ikut diuji coba. Kalo SMP dan SMA, Chi gak tau tahun depan kelas berapa lagi.
  3. Sekolah Keke-Nai juga bukan sekolah yang ditunjuk oleh Diknas untuk ikut uji coba kurikulum baru. Tapi melakukannya secara mandiri dengan alasan selama ini pendidikan karakter menjadi bagian utama dari  sekolah. Dan karena kurikulum yang baru ini mengutamakan pendidikan karakter, yayasan pusat merasa sejalan jadi memustuskan mengikuti kurikulum baru secara mandiri. Selain itu untuk sekolah yang sama, udah ada 4 sekolah yang ditunjuk oleh Diknas. Jadi tetep bisa belajar dari 4 sekolah itu.
  4. Melakukan kurikulum 2013 secara mandiri artinya sekolah menggunakan kurikulum 2013, tapi seluruh pembiayaan (termasuk pelatihan kurikulum baru untuk guru-guru) dan juga tanggung jawab efek dari kurikulum itu sepenuhnya ditanggung oleh sekolah.
  5. Sistem belajarnya adalah tematik. Jadi tidak lagi belajar per mata pelajaran tapi per tema (dengan beberapa sub tema untuk setiap tema). Didalamnya mencakup Agama, Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, PPKn, Olahraga, dan Seni Budaya. Tapi katanya, sih, untuk kelas 1 pelajaran IPA dan IPS ditiadakan. => Karena Keke-Nai sekolah di sekolah islam jadi buku agama terbitan dari yayasan pusat.
  6. Contoh tematik seperti ini ... misalnya sub tema tentang pasar tradisional. Nanti akan dijelaskan apa itu pasar tradisional. cerita pendek tentang pasar tradisional.Pokoknya semua tentang pasar tradional dan didalamnya itu mencakup mata pelajaran yang Chi sebut di nomor 5.
  7. Ulangannya (ulangan harian, UTS, dan UAS) katanya juga bukan lagi per mata pelajaran, tapi per sub tema.
  8. Zaman dulu pernah ada istilah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Nah, sekarang model belajarnya seperti itu. Kalau sebelumnya guru mendiktekan murid, setelah itu biasanya ulangan. Sekarang murid diminta untuk aktif. Mulai dari aktif di kelas, aktif untuk menggali ilmu dari luar (misalnya internet) yang sesuai dengan tema yang sedang diajarkan saat itu.
  9. Chi sering nonton film barat yang ada setting sekolahan, kalo siswa suka dapet tugas untuk membaca sebuah buku trus dibuat siswa diminta untuk membuat pendapatknya di kertas dan kemudian dipresentasikan di depan kelas. Nah, nanti salah satu bentuk CBSA akan seperti itu. Mungkin untuk tahap awal bukan buku dulu, tapi sebuah cerita pendek, dimana siswa juga diminta membuat kesimpulannya sendiri dari cerita yang dia baca dan dipresentasikan di depan kelas.
  10. Pasti sering denger juga, kan, kalau pelajaran anak-anak zaman sekarang itu sulitnya minta ampun. Pelajaran waktu kita SMP bahkan SMA, sekarang udah diajarin di SD. Nah, kalo sekarang pelajaran kembali jadi jauh lebih mudah. 
  11. Berkaitan dengan nomor 10, gak cuma pihak sekolah yang ngomong kayak gitu tapi temen-temen Chi yang anaknya udah ada yang lebih gede juga bilang yang sama. Katanya pelajaran di kurikulum yang baru ini jauh lebih mudah. Contohnya dulu untuk pelajaran science kelas 4, ada pelajaran tentang tulang-tulang manusia. Dan siswa harus hapal semua bagian-bagian tulang itu (untuk bagian kepala aja ada beberapa tulang, tuh, belum tulang di bagian lain).Mana sekolah Keke-Nai itu, kan, billingual jadi gak cuma harus hapal susunan tulang dengan bahasa Indonesia, tapi bahasa Inggrisnya juga. Kalau sekarang udah gak ada lagi. Paling cuma disuruh belajar tentang fungsi panca indera aja. Gampang, kan?
  12. Pendidikan akademis menjadi jauh lebih mudah, tapi karakter diutamakan.Penilaiannya di raport adalah tentang Karakter, Pengetahuan, dan Ketrampilan.
  13. Raport di kurikulum baru gak ada angka-angka akademis lagi. Tapi berbetuk narasi. Bisa dibilang raportnya nanti mirip dengan raport TK yang isinya semuanya narasi. Contohnya tentang sopan-santun, aktif., ketertiban, dan lainnya.
  14. Ulangan, UTS, dan UAS tetap ada.Tapi penilaiannya di raport nanti tidak dalam bentuk angka, tetap narasi (nilai di konversikan ke karakter). Contohnya siswa A untuk nilai tematik pertama dapat 80. Nanti di rapor akan tertulis nilainya itu termasuk baik, cukup, atau kurang. Dan dijelaskan secara narasi kenapa untuk tematik pertama, siswa mendapat nilai cukup.Apa siswa A itu untuk tematik pertama siswa yang aktif tapi kelamahannya di tes tertulis, misalnya. Kira-kira seperti itu, deh, penilaiannya.
  15. PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) berubah nama menjadi PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Perbedaannya, kalau sebelumnya lebih banyak pelajaran tentang ketatanegaraan yang harus dihapal anak, padahal sebetulnya belum waktunya anak SD belajar seperti itu.Sekarang lebih kepada sikap berpancasila dan gak hanya teori tapi perilaku sehari-hari terutama di sekolah juga dinilai. => Kalo gitu udah gak ada alasan lagi, kalo gak hapal pancasila, ya :)
  16. Chi gak tau apa di sekolah lain juga sama. Tapi berkaitan dengan kurikulum baru ini, untuk kelas 4 akan dibagikan buku 'kebaikanku'. Dimana setiap harinya siswa diminta mengisi kebaikan dan kesalahan apa aja yang mereka uah perbuat pada hari itu. Kemungkinan mereka berbohong itu ada, tapi di situlah kelebihannya karena anak dituntut untuk menilai diri sendiri dengan jujur, kan? Chi sendiri selalu menekankan ke Keke, sepintar-pintarnya berbohong ke manusia, Allah gak bisa dibohongi :)
  17. Kurikulum yang sebelumnya mulai kelas 4 s/d 6. nilai-nilai akademis harus dimasukkin ke Diknas. Tujuannya kalau sampe siswa nilai UANnya kecil, nilai akademis mulai dari kelas 4 itu bisa membantu kelulusan (Chi rasa hal ini yang gak banyak orang tau). Di kurikulum baru, peraturan itu tetap ada tapi dalam bentuk narasi laporannya.
  18. Pelajaran Komputer (TIK) termasuk yang ditiadakan tapi diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran. Sekolah Keke-Nai tetep ada mata pelajaran komputer. Tapi karena diminta juga untuk diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran, jadi kemungkinan ada tugas-tugas yang banyak berhubungan dengan penggunakan komputer termasuk siswa lihai mempresentasikan karyanya itu dengan komputer ketika diminta.
  19. Pelajaran Bahasa Inggris juga seperti TIK. Kalo Chi lihat seperti juga gak termasuk daftar pelajaran yang diwajibkan Diknas tapi kembali ke masing-masing sekolah. Karena sekolah billingual jadi di sekolah Keke-Nai bahasa Inggris masih ada. Tapi Chi gak tau di sekolah lain seperti apa.=> Dan untuk kelas 4 ini karena materi pelajarannya berubah, jadi lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia dulu. Sampai ada buku baru dalam bentuk bahasa Inggris dari yayasan pusat yang materinya sesuai dengan kurikulum baru.
  20. UN dihapus masih jadi wacana. Jadi sekolah tetap melakukan persiapan UN untuk siswa-siswinya.

Kurang lebih seperti itu gambaran kurikulum 2013 yang baru. Sekarang plus-minusnya menurut pendapat pribadi Chi :

Plus :


  1. Tas jauh lebih ringan bebannya. Kalau hari Rabu-Kamis, Keke malah cuma bawa 1 buku untuk pelajaran tematik aja (Hari lain ada pelajaran agama, bahasa sunda, bahasa inggris, dan komputer. Tapi tetep ringan juga). Tas yang ringan ini untuk jangka panjang bagus buat kesehatan anak. Karena anak SD itu, kan, masih bertumbuh kembang. Kasihan kalau masih kecil harus bawa tas yang sangat berat. Tas trolley, Chi rasa juga gak terlalu membantu. Karena untuk anak yang kelasnya ada di lantai atas tetep aja harus digendong tasnya kalau naik ke atas. => Dan ngomongin tentang beban tas, Chi jadi kasian sama Nai karena dia baru ikut kurikulum baru 2 tahun lagi. Jadi selama 2 tahun ini dia tetap bawa tas yang sangat berat. Duh :(
  2. Mendidik anak dengan pendidikan karakter itu juga lebih bagus daripada pendidikan yang berbasis kompetensi seperti sebelumnya. Karena membuat manusia lebih manusiawi, tidak menjadikan mereka "robot". Makanya Chi suka dengat kurikulum yang sekarang.
  3. Pelajaran akademis juga Chi nilai lebih pas untuk anak SD. Gak kayak sebelumnya, dimana otak anak dibikin melintir => lagi-lagi kasihan sama Nai, dia masih berat kurikulumnya. Sabar, ya, Nak. Tapi setidaknya kalau untuk akademis mungkin beban Bunda juga lebih ringan jadi bisa fokus ngajari Nai untuk akademis :)
  4. Di poin nomor 9, menurut Chi bagusnya anak jadi dituntut untuk suka membaca. Ya, syukur-syukur ke depannya minat baca masyarakat Indonesia semakin meningkat.
  5. Siswa juga dilatih untuk aktif. Presentasi-presentasi di depan kelas atau diminta aktif untuk bertanya membuat siswa menjadi berani tentu cara presentasi dan bertanyanya harus tetap sopan. => Nai walaupun masih pakai kurikulum lama, tapi Chi udah ajarin untuk lebih berani lagi bicara di kelas. Biar nanti dia udah terbiasa.
 
Minus :

  1. Setiap hari ada pelajaran tematik, kalo sekali ketinggalan bisa seharian anak belajar gak pake buku. Tapi kalau sampe ketinggalan bukan salah Diknas juga. Nanti jadi serba salah. Dikasih pelajaran banyak, bilangnya beban. Dikasih sedikit juga salah. Karena sebenarnya itu kewajiban kita untuk cek-ricek lagi sama buku pelajaran yang mau dibawa.
  2. Objektifitas bisa dipertanyakan. Walaupun pendidikan karakter itu sangat bagus tapi mendidik dan menilai karakter itu sebetulnya lebih sulit daripada menilai akademis. Kalau akademis. guru tinggal kasih soal setelah itu menilai. Nanti tinggal dilihat aja apakah siswanya itu nilainya bagus-bagus atau jelek-jelek? Tinggal tentuin siapa aja yang naik kelas berdasarkan nilai-nilai itu. Sementara menilai karakter itu lebih sulit. Chi aja yang 'cuma ' dikaruniai 2 anak, mendidik dan menilai karakter Keke dan Nai itu butuh proses panjang bahkan sampai sekarang dan nanti. Nah, kebayang gak seorang guru harus mendidik dan menilai karakter anak hanya dari awal tahun pelajaran trus berlangsung cuma 1 tahun aja? Dan yang harus mereka didik gak cuma 1-2 anak tapi puluhan, dengan setiap anak punya karakter masing-masing. Di sini Chi bersyukur, sekolah cuma memaksimalkan 26 anak untuk tiap kelas. Bagaimana dengan sekolah lain yang katanya bisa sampe 40 anak per kelas? Bisakah guru menilai secara objektif? Chi, sih, berpikiran positif dan berharap semoga banyak guru-guru yang bisa objektif. :)
  3. Masa transisi dan kurikulum yang benar-benar baru pula. Kurikulum sekarang bener-bener baru yang gak cuma sekedar ganti nama. Apalagi ini masa transisi, yang Chi tau dimanapun itu masa transisi gak pernah mudah. Kalau kata Chi, sih, kuncinya sabar. Semua pihak harus sabar :)
  4. Masih ada kebingungan dari guru-guru untuk mengisi penilaian. Karena selama ini, kan, guru-guru terbiasa mengisi dengan nilai, sementara sekarang harus berupa narasi. Menurut Chi, sih, itu karena belum terbiasa aja. Mungkin harus sering-sering bertanya sama guru TK gimana cara mengisi raport dalam bentuk narasi.
  5. Pilpres 2014. Umumnya saat pertemuan 2 hari lalu, orang tua murid suka dengan kurikulum baru tapi yang jadi kekhwatiran adalah adanya pilpres dimana kalau ganti presiden kemungkinan ganti menteri dan khawatir dengan adanya ganti menteri akan ganti kebijakan. Bisa-bisa kembali ke yang lama lagi kurikulumnya. Kalo Chi gak salah denger. kurikulum yang baru ini berlaku sampai 2016. Ya, semoga aja gak akan berganti lagi ke model kurikulum sebelumnya, ya. Tetep aja kurikulum yang berpendidikan karakter, kalopun ada kekurangannya diperbaiki.
 
Nah sekarang pertanyaannya.... kurikulum 2013, siapkah kita? Karena seperti dibagian minus poin nomor 2, Chi rasa untuk urusan karakter gak bisa sepenuhnya diserahkan ke sekolah. Orang tua - sekolah - murid harus semakin sering berkomunikasi. Selesai pertemuan itu, Chi malah langsung bilang ke wali kelas Keke, semoga gak keberatan kalau Chi sering-sering tanya tentang sikap Keke di sekolah. Alhamdulillah wali kelas gak keberatan, katanya malah seneng jadi bisa saling membantu pendidikan karakter anak. Nah, sekarang siapkah kita seperti itu? :)

Akhir-akhir ini Chi sering baca status yang di share beberapa teman di FB. Katanya di Australia, Guru SD lebih mengutamakan mengajarkan mengantri daripada matematika. Karena membutuhkan waktu hingga 12 tahun untuk anak bisa mendapat nilai-nilai positif dari mengantri, sedang untuk bisa matematika anak hanya butuh belajar intensif selama 3 bulan saja.


Nah, sekarang model pendidikan kita sedang mengarah ke sana. Tentu aja belum bisa langsung sebagus negara-negara yang udah dulu mengutamakan pendidikan karakter. Itu semua butuh proses yang panjang. Dan tentang segala kekurangan, Chi pikir sambil jalan aja perbaikinnya. Kalopun dianggap belum siap, trus siapnya kapan? Bisa-bisa gak jalan-jalan. Chi gak mau berpikir juga, mungkin karena mau pemilu jadi bikin kurikulum yang bisa memikat hati rakyat? Chi gak mau ribet-ribet kesana. Pokoknya jalanin aja dulu, yang penting udah ada perubahan seperti yang kita inginkan dan bersama-sama kita perbaiki. Semoga memang kurikulum 2013 ini lebih baik. Semangat, ah, buat semuanya :)