Ketika beberapa teman blogger sedang aktif melakukan gerakan penyelamatan gumuk (Save Gumuk), Chi jadi teringat dengan pasar malam. Sekarang setiap kali lewat pasar malam dimanapun suka ada rasa sedih dan sedikit marah.

Dulu, di deket komplek perumahan tempat Chi tinggal, tepatnya di depan kelurahan dan di samping kiri-kanan lapangan sepakbola ada 2 SD negeri, ada sebuah lapangan sepakbola. Kalo lagi melintas di depan lapangan sepakbola itu, Chi suka melihat ada aja orang-orang yang bermain di sana. Kalau siang, biasanya di pakai anak-anak SD itu bermain atau kegiatan sekolah, karena SD itu gak punya halaman bermain di sekolahnya. Jadi tempat bermain mereka kelihatannya di lapangan sepakbola itu walaupun itu artinya mereka harus ke luar dari halaman sekolah. Kalau sore biasanya banyak warga perkampungan sekitar yang bermain sepakbola.

Keke dan Nai pernah beberapa kali main ke lapangan sepakbola itu. Mereka ke sana kalau pasar malam lagi di gelar. Biasanya Chi pinjem ART mamah untuk ngajak mereka main ke pasar malam. Berangkatnya sore hari dengan berjalan kaki karena memang dekat lokasinya. Beberapa anak-anak kecil dengan ART atau baby sitter masing-masing. Setiap kali pulang dari pasar malam, Keke dan Nai keliatan seneng banget dan selalu antusias bercerita. Akhirnya waktu ada pasar malam berikutnya Chi yang nganterin mereka.

Keke dan Nai bener-bener seneng selama di pasar malam. Sampe susah untuk diajak pulang. Berkali-kali mereka naik berbagai macam permainan yang ada di pasar malam. Jujur aja, sebetulnya ada rasa khawatir melihat berbagai wahana permainan di pasar malam.Jangan bayangkan permainan yang ada di pasar malam semodern dan sebagus permainan yang ada di mall. Bahkan permainannya pun terlihat kusam juga kotor.

Tapi kalo lihat anak-anak segitu senengnya, kayaknya gak tega juga ngelarang mereka untuk gak boleh ke pasar malam. Lagian biar sesekali tau pasar rakyat, jangan taunya mall aja. Ya udah lah gak apa-apa. Gak setiap hari juga. Karena pasar malam cuma ada setiap beberapa bulan sekali. Yang penting di wanti-wanti aja, seperti jangan masukin tangan ke mulut kalau belom cuci tangan. Jangan juga bermain di wahana yang terlalu mengkhawatirkan kondisinya. Seinget Chi dulu mereka gak Chi kasih main bianglala. Abis keliatannya ringkih, trus muternya kenceng banget. Kayaknya ngeri aja. Ya, kekurangannya pasar malam itu dalam hal perawatan.

Melihat Keke-Nai seneng banget di pasar malam, Chi pun berniat kalau ada pasar malam lagi bakal ngajak dan nemenin mereka lagi. Bahagia lihat mereka seneng selama di pasar malam. Trus pulangnya sambil jalan kaki mereka juga cerita-cerita serun. Tapi ternyata itu jadi pengalaman pertama dan terakhir kali Chi nemenin Keke-Nai ke pasar malam... Gak lama kemudian lapangan sepakbola itu ditutup dan kemudian didirikan beberapa ruko. Sementara lahan yang tersisa, ditutupi oleh aspal sebagai lahan parkir :(

Sedih rasanya .... Padahal buat Keke-Nai pasar malam itu berkesan banget, lho. Mereka masih suka bernostalgia tentang pengalaman mereka ke pasar malam. Apalagi kalo di jalan mereka lihat pasar malam. Sekarang kayaknya udah nyaris gak mungkin lagi kami ke pasar malam. Karena udah gak ada lagi lahan luas di dekat tempat kami tinggal yang bisa dipakai untuk pasar malam.

Keke-Nai mungkin masih beruntung. Setidaknya sampai saat ini mereka masih bisa main ke tempat-tempat bermain, indoor ataupun outdoor, kalaupun harus merogoh kocek yang cukup lumayan. Tapi gimana, ya, dengan nasib anak-anak SD itu? Setidaknya sekarang lahan mereka untuk bermain menjadi sangat terbatas. Belum lagi warga perkampungan sekitar yang sering bermain sepakbola di sore hari. Memang, di deket rumah sekarang berdiri lapangan futsal. Tapi lapangan futsal, kan lebih kecil areanya. Dan harus bayar pula! Itupun waktunya terbatas. Beda, dengan lapangan sepakbola yang mereka bisa bebas bermain sampe jam berapapun tanpa ada biaya.

Belum lagi permainan lain. Chi sekarang beberapa kali lihat anak-anak bermain layang-layang, di lahan parkir ruko. Ngeri juga karena dekat sekali sama jalan raya. Coba kalau lapangan sepakbola itu masih ada, mereka pasti bebas berlarian dengan aman. Trus belom lagi fungsi sebagai lahan resapan air jadi hilang karena semuanya udah tertutup rapat sama aspal :(

Setelah dibangun ruko, area tersebut sempat ditutup lagi. Katanya lahan kosong yang tersisa mau dibikin apartemen. Warga sekitar, termasuk warga komplek akhirnya mulai protes. Tepatnya melakukan demo.

Chi juga gak ngerti. Yang namanya apartment itu harusnya ada di tengah kota. Fungsi didirikan apartment itu untuk memudahkan para penghuninya ketika ke pusat bisnis (untuk kerja) atau ke pusat perbelanjaan. Bagi penghuni apartment, gak masalah mereka gak punya lahan yang penting kemana-mana deket. Lagipula biasanya di apartment sendiri udah ada berbagai macam fasilitas dari tempat bermain, pusat kebugaran, malah kalau perlu 'menempel' dengan mall. Setidaknya seperti itu pengertian apartment buat Chi.

Makanya Chi gak ngerti kalau ada yang mau mendirikan apartment yang lahannnya cuma segede lapangan bola, itupun sebagian udah dibangun ruko. Plus lokasinya di pinggiran kota pula! Aneh rasanya kalo dibangun apartement.

Apa segitu banyaknya permintaan pasar untuk tempat tinggal? Setau Chi tempat tinggal sekarang trend modelnya aja yang minimalis, harganya sih melambung terus. Syukur, deh, kalau memang banyak yang beli. Berarti banyak yang sukses, yaaaa. Tapi kan kasian juga, banyak orang-orang yang kehilangan lahan untuk bermain dan beraktifitas hanya karena kepentingan orang-orang tertentu. Lahan untuk resapan air juga hilang.

Baru-baru ini, Chi denger kabar katanya dengan pertimbangan Amdal (Analisis Dampak Lingkungan), akhirnya pembangunan apartment dibatalkan. Hmmm ... Chi sempet berpikir, kenapa baru sekarang? Kenapa sejak pembangunan ruko itu dimulai. Tapi, ya sudahlah ... kembali berpikir positif. Mungkin kalau dibikin apartmen kerusakan lingkungan dan pengaruhnya kepada masyarakat akan lebih parah.

Chi bisa ngerti dan ngerasain, gimana khawatir dan sedihnya teman-teman yang merasa keberadaan gumuk di daerahnya terancam. Chi yang 'kehilangan' lapangan sepakbola aja merasa sedih, kok. Apalagi kehilangan gumuk? Chi belum pernah melihat bentuk gumuk, tapi Chi selalu yakin ciptaan Allah itu gak hanya indah tapi juga pasti gak ada yang sia-sia. Pembangunan yang dilakukan oleh manusia seharusnya bisa bersahabat dengan alam, bukan dengan cara merusaknya.

Semoga sukses perjuangannya, ya, temans!