"Bun, emangnya semua yang Ima omongin, semua yang Ima lakuin ditulis di blog Bunda, ya?"

Pertanyaan Nai, 2 hari yang lalu, berasa mak jleb buat Chi. Tapi sebelum Chi jelasin, mendingan lanjutin dialognya dulu.

Bunda : "Adek keberatan, ya?"
Nai     : "Keberatan itu apa, Bun?"
Bunda : "Hmmm ... apa, ya? Gak suka gitu, deh."
Nai     : Suka, kok."
Bunda : "Trus kenapa nanya kayak gitu."
Nai     : "Ya, nanya aja."

Obrolan terus berlanjut, tapi intinya Nai tetep suka dirinya diceritain di blog. Malah dia bilang, "Ditulis terus aja, Bun. Biar Ima inget kalo Ima pernah ngapa-ngapain aja." Mungkin maksudnya biar dia punya kenangan yang tertulis kali, ya.

Walaupun dikasih izin, Nai juga punya rambu-rambu yang harus Chi patuhi, yaitu :

  1. Gak boleh ceritain kejelekan Nai, misalnya lagi nangis, ngambek, dan lainnya.
  2. Gak boleh upload foto dirinya yang menurut Nai jelek
 
Di tempat yang berbeda, setelah ngobrol sama Nai, kali ini Chi ngajak Keke ngobrol dengan topik yang sama. Keke juga kasih rambu-rambu yang sama dengan rambu-rambunya Nai. Dia juga pesen supaya Chi tetep menulis tentang dia. Dan satu lagi pesen Keke, "Banyakin cerita celoteh Keke dan Nai, karena itu yang paling Keke suka. Bacanya juga cepet, tulisannya gak panjang" :p

Oke, deh. Izin udah didapat. Alhamdulillah. Sebetulnya bukan kali ini aja Chi ngajak mereka ngobrol tentang blog ini. Secara berkala Chi suka tanya ke Keke-Nai, apa mereka keberatan atau enggak kalau Chi tulis cerita mereka di blog. Selama ini, sih mereka selalu jawab gak keberatan. Malah mereka seneng dan minta Chi terus nulis. Malah mereka suka nanya, "Bun ada cerita baru lagi di blog, gak?"

Secara berkala Chi lakukan karena usia mereka terus bertambah. Biasanya semakin bertambah usia, cara berpikir suka berubah. Siapa tau setelah besar mereka malah jadi malu. Walaupun Chi gak berharap seperti itu, ya.

Trus kenapa Chi bilang kalo pertanyaan Nai itu berasa mak jleb karena ini untuk pertama kalinya anak-anak yang mulai duluan tanya. Biasanya Chi yang selalu tanya duluan ke mereka. Ya, walaupun sama topiknya tapi tetep aja rasanya beda kalau anak-anak yang mulai topiknya duluan.

Tentang rambu-rambu, Chi sama sekali gak keberatan. Rambu-rambu mereka sejalan, kok, sama rambu-rambu yang emang dari awal Chi ngeblog juga udah dibuat. Buat Chi menulis jangan cuma sekedar menulis tapi harus ada aturannya. Setidaknya aturan buat diri sendiri. Dan ini rambu-rambu yang Chi buat untuk diri sendiri, terutama untuk blog ini :

Tulis cerita buruk di atas pasir dan cerita baik ukir di atas batu, Chi tau kalimat ini dari seorang teman dan sepertinya dia suka banget sama kalimat tersebut. Untuk arti yang kurang lebih mirip, Chi pernah lihat salah seorang psikolog bilang, "Diary sebaiknya diisi dengan cerita yang baik-baik aja. Cerita yang kurang baik, seperti rasa marah dan sebagainya, sebaiknya ditulis di selembar kertas. Setelah puas sobek-sobek kertas tersebut."

Chi pikir bener juga 2 kalimat itu. Kadang kalau kita menulis cerita yang jelek (seperti lagi marah sama seseorang), ketika kita baca lagi tulisan tersebut rasa marah atau kesel suka timbul lagi. Padahal sebetulnya masalahnya udah selesai. Jadi mending cerita-cerita yang bikin perasaan Chi gak enak jangan ditulis di blog. Tulis aja di atas pasir atau di selembar kertas, biar setelah puas, tulisan akan tertiup angin, terhapus oleh air, atau berakhir di tempat sampah.

Makanya di blog ini pun rasanya Chi gak pernah nulis cerita tentang 'kejelekan Keke-Nai'. Bukannya supaya orang menganggap mereka anak yang sempurna. Tapi untuk hal-hal jelek, biar itu jadi cerita intern keluarga kami. Kalopun Chi beberapa kali pernah cerita kalo Keke-Nai pernah punya masalah ini-itu, biasanya Chi tulis setelah ada solusinya. Dengan tujuan ingin berbagi, ketika punya masalah seperti ini-itu solusi yang kami buat seperti yang tertulis. Semoga dengan berbagi bisa bermanfaat buat yang membaca. Insya Allah :)

Anak-anak (terutama Keke) juga udah mulai gak mau dilihat orang kalo lagi ngambek. Di rumah aja, kalo lagi ngambek terus Kakek-Neneknya lihat biasanya mereka langsung buru-buru hapus air mata atau kalau perlu masuk ke kamar supaya gak ada yang tau mereka ngambek, kecuali ayah-bundanya.

Nah, kalau sama keluarga sendiri aja, Keke-Nai udah mulai menutupi diri kalau lagi ngambek apalagi di depan orang lain. Kalau Chi tulis di blog berarti, kan, bakal ada orang lain yang tau. Nanti bisa-bisa Keke-Nai malu. Jadi, Chi coba menghargai privasi mereka juga sebetulnya dengan gak menceritakan semua hal ke dalam blog tanpa disaring dulu :)

Upload foto juga Chi usahakan sehati-hati mungkin supaya gak disalah gunakan orang lain. Gak semua foto diupload di blog walopun menurut Chi foto itu lucu. Apalagi Keke-Nai juga udah bisa berkomentar. Jadi mereka udah bisa protes seandainya ada foto yang kurang berkenan tapi Chi upload. Ya, semoga aja kehati-hatian kami gak akan disalah gunakan oleh orang lain.

Trus sampe kapan blog ini berlajut? Belom terlalu kepikiran sampe kapannya. Yang penting sekarang masih dikasih izin sama Keke-Nai, berarti Insya Allah, Chi masih tetap akan menulis tentang mereka :)