Gizi Sebagai Refleksi Keadaan Masyarakat Suatu Bangsa
 
Gizi Sebagai Refleksi Keadaan Masyarakat Suatu Bangsa - Kekurangan atau kelebihan gizi bisa menjadi masalah. Dengan gizi pula, masalah tersebut bisa diperbaiki. Jum'at, 20 Maret 2015, bertempat di Ruang Mutiara 1, JW Marriot - Jakarta, #Nutritalk kembali digelar dengan tema "Sinergi Pengetahuan Lokal dan Keahlian Global bagi Perbaikan Gizi Anak Bangsa"

Acara yang yang dibuka oleh MC, mbak Arletta Danisworo, menghadirkan 2 narasumber, yaitu


  1. Dr. Martine Alles - Director Development Physiology & Nutrition at Danone Nutricia Early Life Nutrition, Netherland
  2. Prof. Dr. Ir. H. Hardiansyah, MS - Guru Besar FEMA IPB


Gizi Masyarakat Eropa, khususnya Belanda, dan Permasalahannya



Dr. Martine Alles, sebagai narasumber pertama, mengatakan bahwa perubahan sekuler tentang gizi bisa dikatakan positif apabila pertumbuhan tinggi badan rata-rata dari satu generasi ke generasi berikutnya semakin tinggi.

Pertumbuhan tinggi badan di masyarakat memang bisa menjadi refleksi atau cerminan keadaan suatu bangsa. Karena pertumbuhan tinggi badan berkaitan dengan gizi. Gizi yang baik biasanya karena perekonimian membaik. Jadi, bisa dikatakan apabila pertumbuhan tinggi badan rata-rata masyarakat di suatu negara itu baik, perekonomian negara tersebut biasanya membaik.

Belanda termasuk salah satu negara yang sangat memperhatikan gizi masyaratnya. Bahkan sejak tahun 1950, tinggi badan rata-rata dewasa muda Belanda termasuk yang paling tinggi di dunia. Salah satu langkah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah gencar mengenalkan susu ke sekolah-sekolah. Tidak hanya di Belanda, negara-negara di Eropa lainnya juga memberikan subsidi susu ke berbagai sekolah. Walopun, saat ini, subsidi susu sudah tidak ada lagi, tapi konsumsi susu di masyarakat sudah tinggi.

Data tentang pertumbuhan tinggi masyarakat Belanda dari tahun ke tahun yang ditunjukkin oleh Dr. Martine Alles termasuk komplit. Yang menarik adalah, saat ini pertumbuhan tinggi masyarakat Belanda sudah mulai melambat. Tapi, tidak bagi para imigran yang dari tahun ke tahun masih menunjukkan peningkatan. Hal ini membuktikan kalau pertumbuhan tinggi badan seseorang tidak mutlak karena gen semata. Gizi sangat berperan bagi pertumbuhan seseorang.

Gizi sudah harus diperhatikan sejak 1000 hari pertama kehidupan. Bahkan lebih bagus lagi kalau asupan gizi sudah diperhatikan sebelum perempuan dinyatakan hamil. Menurut Dr. Martine, perempuan hamil yang mengalami kelaparan, terutama di trimester pertama, akan beresiko mempunyai anak obesitas dan masalah metabolik. Hal ini dibuktikan dengan grafik, misalnya saat perekonomian Belanda kurang baik karena perang dunia, banyak terjadi kasus permasalahan gizi bagi ibu hamil. Pemberian ASI bisa meminimalkan anak terkena obesitas, lho.

Pertumbuhan badan sudah bagus, sebaiknya asupan vitamin D jangan diabaikan. Saat ini, kurangnya asupan vitamin D menjadi masalah bagi masyarakat dunia. Takut diculik, banyak polusi, takut kanker, kecanduan gadget, dan lainnya yang merupakan bentuk proteksi orang tua yang berlebihan terhadap anak , menyebabkan anak-anak zaman sekarang jarang sekali berada di luar ruangan. Sering berada di dalam ruangan, berlanjut hingga dewasa. Jam kerja yang panjang dan menuntut para karyawan berada di kantor, membuat para pekerja juga kekurangan asupan vitamin D.

Kita tahu kalau sinar matahari adalah penyumbang vitamin D terbaik. Anak yang kurang asupan vitamin D akan menyebabkan tulangnya lemah dan lunak (riket). Kasus kurangnya asupan vitamin D memang tidak hanya terjadi di masa sekarang saja. Pada sekitar abad 19, telah terjadi kasus penyakit riketsia di negara Eropa dan Amerika.

Mengkonsumsi minyak hati ikan kod, dipakai oleh para ahli kesehatan sejak abad 20 karena dianggap mampu memulihkan kekurangan asupan vitamin D. Dan sejak tahun 1961, produksi mentega juga diwajibkan fortifikasi vitamin D.

Menurut Dr. Martine, orang tua juga sesekali bisa mengajak anak-anaknya jalan-jalan ke alam terbuka. Ajak mereka camping atau kegiatan outdoor lainnya. Karena kegiatan outdoor membuat anak-anak bisa mendapatkan sinar matahari yang dibutuhkan oleh tubuh. Di akhir presentasi, Dr. Martine kembali menegaskan tentang pentingnya 1000 hari pertama kehidupan bagi anak.


Pertumbuhan dan Permasalahan Gizi di Indonesia



"Anak-anak sekarang tinggi-tinggi soalnya gizinya udah beda gak kayak zaman kita dulu."

Pernahkah kita mendengar kalimat di atas? Atau jangan-jangan, kita juga termasuk yang pernah mengucapkannya?

Yup! Pertumbuhan tinggi badan rata-rata masyarakat Indonesia pun kelihatannya membaik. Saat ini, menurut Prof Hardiansyah tinggi rata-rata anak muda Indonesia adalah 163cm. Masih jauh dibandingkan masyarakat Belanda yang tinggi badan rata-ratanya adalah 184cm. Kalau Belanda mempunya dokumentasi pertumbuhan masyarakatnya sejak tahun 1858. Sayangnya, di negara kita, pencatatannya masih belum seperti Belanda. Yang jelas, tinggi rata-rata 163cm bagi masyarakat Indonesia saat ini sama dengan tinggi masyarakat rata-rata masyarakat Belanda sekitar 1,5 abad yang lalu.

Grafik perekonomian Indonesia fluktuatif, tapi trennya dari tahun ke tahun adalah memiliki kecenderungan naik. Walopun demikian, sukses di bidang ekonomi ternyata gak berbanding lurus dengan sukses di dalam perbaikan gizi. Masyarakat Indonesia banyak mengalami defisiensi gizi seperti asam amin dan asam lemak esensial, karbohidrat berserat, zat besi, kalsium, zink, asam folat, dan vitamin D.

Banyak yang belum atau kurang paham tentang pentingnya asupan gizi membuat perbaikan gizi di Indonesia berjalan konstan. Sebagai contoh, masih banyak masyarakat Indonesia yang kurang sekali mengkonsumsi sayur dan buah. Sebetulnya, banyak masyarakat kita yang menyukai sayur. Tapi, umumnya sayur diolah dengan kuah yang banyak. Sayangnya, kuahnya tidak ikut dikonsumsi malah dibuang. Padahal kalau kuah dibuang, berarti banyak asam folat yang terbuang. Oleh karenanya perlu sekali membiasakan mengkonsumsi buah untuk menggantikan asam folat yang terbuang dari kuah sayur.

Asupan cairan yang cukup juga dibutuhkan. Untuk asupan cairan, tidak hanya harus dari air putih. Dari susu, kuah sayur, dna lainnya juga bisa memenuhi asupan cairan. Dr. Martine juga menambahkan kalau asupan cairan yang harus dikurangi adalah yang manis-manis seperti minuman bersoda.

Prof Hardiansyah juga menjelaskan tentang pentingnya asupan vitamin D. Menurutnya, apabila kita berjemur di pantai selama seminggu penuh, maka asupan vitamin D yang ada di dalam tubuh cukup untuk 4 bulan ke depan. Tapi, kecil kemungkinan kita bisa berjemur selama seminggu penuh. Oleh karenanya dengan terkena sinar matahari selama 15-20 menit selama 3-4 kali dalam seminggu itu sudah cukup. Untuk yang suka nge-gym di mall atau ruangan ber-AC lainnya, sesekali cobain juga berolahraga di alam terbuka. Agar tubuh tidak hanya bugar, tapi juga cukup mendapatkan asupan vitamin D.

Selama ini kita tahunya sinar matahari yang terbaik bagi tubuh adalah pukul 07.00 s/d 09.00. Ternyata, sinar matahari yang terbaik justru dimulai pukul 09.00 s/d 13.00. Hanya saja, karena pada jam tersebut, biasanya polusi pun sudah mulai banyak. Jadi, gak apa-apa untuk mendapatkan sinar matahari sebelum pukul 09.00.

Penanganan masalah gizi buruk memang seharusnya menjadi masalah bersama. Dalam keluarga, jangan hanya ibu yang peduli terhadap gizi dirinya sendiri dan juga anak. Para suami pun harus ikut berpartisipasi dalam hal gizi. Dari mulai merencanakan kehamilan, istri melahirkan, ibu menyusui, dan kebutuhan anak. Menjaga agar istri tidak stress selama hamil dan menyusui bisa dilakukan oleh suami sebagai salah satu langkah upaya memperbaiki gizi. Karena istri yang hatinya sennag juga bisa mempengaruhi pola makannya.

Dari dulu sudah ada yang namanya posyandu, tapi sebaiknya di zaman sekarang ini juga didukung oleh pihak lain. Terlebih, komunitas perempuan saat ini semakin menjamur. Ada baiknya saling bahu-membahu dengan berbagai cara.

Dr. Martine Alles menambahkan kalau di Belanda sosialisasi tentang gizi sudah masuk ke ranah sosial media. Tujuannya untuk 'merangkul' para orang tua muda generasi digital agar melek gizi.


Pemenuhan Gizi Tidak Hanya Bersumber Dari Satu Jenis Makanan



Pada sesi tanya jawab, ada salah seorang yang bertanya tentang seberapa besar kemungkinan konsumsi susu di Indonesia bisa tinggi seperti di Eropa. Menurut Dr. Martine Alles, untuk menyamakan seperti di Eropa kemungkinannya sangat sulit karena budaya minum susu juga bukan budaya Indonesia. Selain itu, kebiasaan mengkonsumsi susu di Eropa tinggi juga karena masyarakat mengkonsumsinya tidak cuma dengan cara diminum. Banyak makanan eropa yang menggunakan susu atau produk dari susu, seperti keju, yoghurt, dan lainnya.

Pemenuhan gizi memang bisa dari banyak sumber. Vegetarian tentu konsumsinya tidak sama dengan yang non-vegetarian. Tapi, bukan berarti salah satunya akan kekurangan gizi. Karena sumber gizi bisa didapat dari banyak sumber.

Prof Hardiansyah juga menambahkan kalau pada tahun 80-an, pernah ada sebuah penelitian dimana anak yang pertumbuhannya normal dan anak yang pertumbuhannya termasuk pendek diberi konsumsi susu dengan jumlah yang sama. Hasilnya, anak yang pertumbuhannya normal cenderung lebih cerdas.

Tapi, saat ini hasil penelitian tersebut tidak digunakan lagi. Hasil penelitian yang terbaru adalah anak dengan gizi baik ditambah stimulai yang tepat akan meningkatkan kecerdasannya. Dibandingkan dengan anak yang dibiarkan tumbuh kembang begitu saja. Atau anak yang hanya sekedar makan untuk kenyang tanpa diperhatikan asupan gizinya.


Lingkaran Setan Malnutrisi


Gizi memang sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan. Bahkan gizi bisa dijadikan sebagai cerminan dari suatu bangsa. Lihat video di bawah ini, yuk!


Dari video tersebut diperlihatkan kalau malnutrisi masih merupakan permasalahan bagi bangsa Indonesia. Malnutrisi bagaikan lingkaran setan apabila pemahaman tentang gizi tidak segera ditingkatkan. Lingkaran setan yang tidak terputus, pada akhirnya akan membuat masalah bangsa semakin besar. Karena gizi yang dikonsumsi ibu dan anak saat ini, berkaitan erat dengan masa depan generasi berikutnya. Kasus gizi serta langkah-langkah perbaikan yang sudah dilakukan oleh negara Eropa bisa dijadikan pelajaran oleh bangsa Indonesia.

Ayo Melek Gizi! *Izinkan saya menggunakan tagline Nutrisi untuk Bangsa, supaya kita semua semakin semangat untuk terus mengupdate info dan peduli dengan gizi*