Lunch bag yang setiap hari dibawa Keke dan Nai ke sekolah


Sejak anak-anak mulai sekolah, Chi bertekad kalau anak-anak harus bawa bekal ke sekolah. Lebih higienis tentu jadi alasan utama. Tapi, enggak cuma itu, sih. Waktu anak-anak masih TK, memang gak ada kantin di sekolah. Di sekeliling pun gak ada tukang jualan. Jadi, memang harus bawa bekal. Kecuali di hari Jum'at. Karena setiap Jum'at, sekolah yang menyediakan makanan bagi semua murid.

Ketika masuk SD, kebiasaan bawa bekal pun berlanjut. Di sekolah memang ada kantin, tapi makanan berat yang dijual cuma 1 macam, yaitu baso. Masa' setiap hari Keke dan Nai makan baso.  Bosen, dong. Ada, sih, yang nawarin catering di sekolah. Cuma, setelah dihitung-hitung, jatohnya jadi mahal. Jauh lebih irit bawa bekal sendiri.

Lagipula, anak-anak lebih suka dengan bekal buatan bundanya. Beberapa kali mereka diajak tukeran bekal atau saling berbagi bekal dengan teman. Menurut Keke dan Nai, mereka lebih suka makanan buatan bunda. Alhamdulillah.

Setiap hari mereka bawa 2 bekal ke sekolah. 1 bekal makanan berat (nasi, lauk-pauk, sayur/buah), trus 1 lagi isinya camilan. Tentunya gak dimakan sekaligus. 2 bekal itu untuk 2x istirahat. Biasanya makanan berat, mereka makan di jam pertama.

Semua bekal ditaruh dilunch bag, biar gak berantakan di tas. Pernah Chi taro di tas kain biasa, tapi namanya anak-anak, naronya kan gerabak-gerubuk. Jadi, berantakan di tas. Kalau ditaro di lunch bag jadi rapih. Udah gitu, lunch bag bisa dijinjing. Kalau tas mereka lagi penuh, lunch bag ditenteng aja.

Lunch bag yang mereka punya berwarna hitam polos. Yang penting, kualitasnya bagus. Tertutup rapat, gak mudah sobek, dan tahan air. Tapi, waktu TK, anak-anak rada milih-milih. Pengen lunch bag yang ada gambar tokoh kartun kesukaan mereka. Kayak Keke, waktu TK memilih lunch bag yang ada karakter kartun Thomas.

Oiya, bagaimana dengan uang jajan? Berarti, mereka gak jajan, ya? Mereka tetep dapet uang jajan, kok. Tapi, cuma seminggu sekali. Itupun nominalnya cuma cukup buat 1x jajan aja. Jadi, kalaupun mereka dikasih uang jajan, tetep bawa bekal. Hari dikasih uang jajan disepakati bersama. Itupun, Chi suka tanya mau jajan atau enggak? Kalau jajan, dibawain bekalnya 1 aja. Kalau enggak, dibawain 2 seperti biasa, tapi tetep dikasih uang jajan buat disimpan.

Sebetulnya, Chi seneng aja kalau hari uang jajan tiba karena bisa lebih santai pagi harinya hehehe. Tapi, kalau jajan terus, pengeluaran bulanan bisa lebih bengkak. Bukan prinsip emak-emak itu namanya. Ya, mending sedikit repot di pagi hari buat nyiapin bekal, deh :)

Uang jajan sengaja dikasih, supaya mereka belajar bertransaksi, sih. Sejak TK, mereka udah diajarin bertransaksi. Tapi, maish ditemenin. Setelah SD, mereka belajar bertransaksi sendiri. Kadang, yang kayak gitu butuh keberanian juga. Untungnya, kantin ada di dalam sekolah. Di luar area sekolah, gak ada tukan jualan sama sekali. Jadi, terukurlah lah mereka kira-kira akan jajan apa. Dan, insya Allah lebih higienis dibanding jajan gak jelas.

Sampe kapan mereka bawa bekal? Pengennya, sih, sampe mereka besar. Tapi, lihat nanti, deh. Paling enggak, sampe mereka tamat SD, Chi maunya masih membawa bekal. Uang jajannya seminggu sekali aja.

Bagaimana dengan teman-teman? Bawa bekal, uang jajan, atau memilih layanan catering di sekolah?