Beberapa waktu lalu sempat rame banget yang ngobrolin tentang childfree. Awalnya Chi gak paham asal mulanya sampai rame banget. Setelah ditelurusi ternyata berawal dari salah seorang influencer. Hmmm ... pantesan aja Chi gak tau. Gak follow influencer tersebut, jadi harus cari info sana-sini hehehe.

ngobroling tentang childfree

Childfree adalah sebuah pilihan hidup di mana seseorang memilih untuk tidak memiliki anak. Childfree merupakan pilihan personal sehingga alasannya bisa beragam.
 
Apakah Chi setuju dengan childfree? 

Tentu tidak. Buktinya ada Keke dan Nai. Chi sangat bahagia dikaruniai mereka. Alhamdulillah.

Tetapi, Chi tidak mengeluarkan opini pro dan kontra tentang childfree di medsos. Alasan pertama adalah memilih menyimak dulu. Alasan lainnya, Chi lebih memilih berdiskusi bersama anak terlebih dahulu. Keke dan Nai memang masih remaja, tetapi kami suka berdiskusi banyak topik. 
 
Childfree merupakan topik yang sensitif. Chi memang suka agak malas membuat opini yang sensi begini, kecuali jelas lawan bicaranya. Selain itu, gak mau juga kalau sudah beropini gak setuju, gak taunya anak sendiri malah berpendapat sebaliknya. Nah, makanya makin yakin banget deh buat ngobrolin ma anak sendiri dulu.

Jarang sekali menyiapkan waktu khusus untuk berdiskusi. Seringkali saat lagi punya kegiatan bersama. Misalnya, Chi dan Keke sering membuat makan siang bersama. Saat kami berdua nguprek di dapur, biasanya ngobrol segala macam.
 

Bunda: "Ke, tau gak tentang childfree yang lagi rame dibahas di medsos?"
Keke: "Iya tau."
Bunda: "Gimana menurut Keke?"
Keke: "Hmmm ... Keke setuju. Karena kalau nanti udah nikah juga Keke gak mau punya anak dulu."

Huuufff! Tarik napas panjaaaang dan jangan sampai ngomel hihihi.

Chi memang agak sedikit kaget dengan jawaban Keke. Ya biarpun anak-anak masih remaja, tetapi terkadang Chi suka mengkhayal jauh ke depan. Ngebayangin Keke dan Nai kalau udah berkeluarga dan punya anak 😂.

Tapi, ya sebatas gitu aja. Gak menuntut harus begini-begitu. Malah semakin menarik pengen tau banget alasannya.


Memilih Childfree Karena Alasan Kondisi Finansial


memilih childfree karena alasan kondisi finansial

Keke: "Keke belum mau punya anak kalau tabungan Keke belum sampai sekian milyar!"

Lalu dia menjelaskan kalau hidup butuh biaya. Dia juga pengen kalau nanti punya anak, tetap punya bujet untuk menyenangkan diri sendiri. Makanya, dia merasa harus bekerja keras mengumpulkan uang lebih banyak dulu. Supaya bisa menafkahi keluarga sekaligus menyenangkan dirinya sendiri.

Bunda: "Keke kepikiran seperti itu, apa karena kondisi ekonomi kita sekarang lagi kena imbas pandemi? Jadinya merasa perlu punya uang banyak dulu?
Keke: "Ya salah satunya. Tetapi, sebelum pandemi juga Keke udah mulai mikir gitu, kok. Hidup butuh biaya."
 

Chi memang sengaja gak mengajak dia membahas lebih detil tentang keuangan keluarga. Cukup tau dulu seperti apa caranya berpikir.

Wajar lah kalau di usia Keke segala sesuatu masih dilihat dari kacamata yang idealis. Punya sekian milyar berarti dianggap aman.

Kemudian Chi sedikit ngebelokin ke bahasan tentang cinta. Biasanya suka jadi lebih asik ya kalau ada bahasan percintaan hehehe.

Bunda: "Ke, berkeluarga itu kan melibatkan pendapat pasangan. Gimana kalau istri Keke nanti justru pengen banget punya anak?"
Keke: "Ya, Keke akan cari pasangan yang sependapat, lah."
Bunda: "Iya, sih. Tapi, Cinta terkadang gak bisa diatur. Gimana kalau Keke jatuh cinta banget dengan seseorang, tetapi pandangannya tentang childfree bertolak belakang? Tetap pilih pasangan yang setuju menunda anak atau Keke memilih mengalah? Ini penekanannya di jatuh cinta, lho."
Keke: "Hmmmm ... apa, ya? Iya juga, ya. Ya gitu lah pokoknya, Bun. Keke belum kepikiran juga kalau kayak gitu."

Mulai galau dia hahaha!

Chi pun mulai memasukkan nasihat di sini. Chi setuju dengan pendapat Keke tentang perlunya kesiapan keuangan sebelum memiliki anak. Itu artinya dia mulai paham literasi keuangan. Persiapan memang jangan sekadar dilandasi nafsu. Apalagi berlomba-lomba cepat kawin, cepat punya anak, dan lain sebagainya.

Tetapi, Chi juga meminta Keke jangan sampai lepas dari agama. Memiliki persiapan matang, temasuk dalam hal keuangan, pastinya bagus banget. Tetapi, jangan sampai menunda punya anak karena khawatir gak punya rezeki. Allah sudah mengatur kalau tentang rezeki. Tugas manusia berdoa, berikhtar, dan tawakal.

Manusia memang sebaiknya memiliki kemampuan literasi keuangan yang baik. Tetapi, jangan sampai mengabaikan 'matematika Allah."
 
Manusia berencana, Tuhan menentukan. Memang kalimat klasik banget yang mungkin udah ribuan kali didengar. Tetapi, bila kemudian Allah berkehendak di luar yang direncanakan oleh manusia, ya jangan sampai ditolak. Kalau Allah memberi karunia anak, jangan sampai digugurkan. Naudzubillah min dzalik.
 
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)." - QS. Hud ayat 6
 

 

Memilih Childfree Karena Memiliki Luka Batin Masa Kecil


memilih childfree karena memiliki luka batin masa kecil

Bunda: "Keke bahagia gak jadi anak Bunda?"
Keke: "Iya, lah. Bunda nanyanya suka aneh, nih!"

Senang lah pastinya mendengar jawaban Keke. Tetapi, Chi juga jelasin maksud dari pertanyaan tersebut.

Chi merasa suka agak keras ke Keke dan Nai. Apalagi kalau udah debat ma Keke. Ayahnya aja sampai bilang kalau kami sedang berebda pendapat udah kayak Tom n Jerry. Tetapi, kalau lagi akur juga deket banget.

Terkadang Chi suka agak khawatir ada kata-kata yang tanpa disadari menyakiti hati mereka. Meskipun merasa apa yang Chi lakukan sudah tepat. Tetapi, bisa aja kan tanpa sadar ada khilaf. Makanya setiap kali selesai berdebat, menegur, atau marah ke anak-anak, Chi juga tetap minta maaf. Ya kali aja terlontar kata-kata yang menyakitkan meskipun tujuannya baik.

Bukan saat itu aja Chi bertanya tentang perasaan anak-anak. Lumayan sering dan anggap aja jadi ajang saling introspeksi. Karena kami sekeluarga memang cukup terbuka untuk saling memberi masukan dan kritikan. 
 

Dari beberapa artikel yang Chi baca, inner child yang belum selesai bisa menjadi salah satu alasan seseorang memutuskan untuk tidak memiliki anak. Makanya memang caranya harus berdamai dengan diri sendiri dulu. Sebelum merembet ke hal lainnya atau malah jadi membesar di kemudian hari.

Masih banyak alasan lain yang melatarbelakangi seseorang memutuskan childfree. Tentu ada rasa sedih bila semakin banyak yang berprinsip seperti ini. Tetapi, bila ada yang berpikir seperti itu di lingkungan kita, sebaiknya lakukan pendekatan dulu. Langsung dihakimi malah bikin seseorang semakin keras dengan pilihannya. Bisa-bisa malah ribut.
 
Apalagi kalau ternyata anak sendiri yang berpikir begini. Tarik napas panjang dulu aja. Inhale exhale. Jangan langsung merepet. Bisa-bisa kita sendiri yang tertampar kalau ternyata alasannya punya rasa sakit hati sama orang tua. Berarti harus introspeksi dan membantu anak untuk menyembuhkan luka batinnya dulu.

Memiliki anak bagi Chi adalah salah satu berkah yang luar biasa. Tetapi, memang penting untuk berpikir matang. Karena yang akan kita asuh dan didik adalah seorang manusia. Jadi jangan sekadar pengen punya anak, tetapi kemudian gak siap menjadi orangtua. Meksipun bisa aja seiring dengan berjalannya waktu juga bisa membaik.

Tetapi, banyak juga pakar yang menyarankan untuk menyelesaikan permasalahan di masa lalu sebelum masuk gerbang pernikahan. Karena khawatir akan terbawa. Apalagi bila sampai punya anak. Pernikahan yang sehat kayak ya gak cukup hanya berlandaskan cinta.
 
Keke memang masih remaja. Baru juga berusia 17 tahun. Masih jauh buat Chi meminta mantu. Halah! 😂 


Bahasan tentang childfree selesai setelah makan siang yang kami buat sudah matang. Chi lupa waktu itu kami masak apaan hehehehe. Pastinya aktivitas memasak bareng sambil ngobrol ngalor-ngidul memang asik banget.