puber, remaja, masa puber

Masa Puber Bikin Baper - Nai: "Ima lagi kesel sama Nina (bukan nama sebenarnya)!"
Bunda: "Kesel kenapa? Adek berantem?"
Nai: "Enggak, sih! Tapi, dianya marah-marah terus. Gitu, deh, kalau lagi mens!"

Dialog di atas atas adalah kejadian sekitar 1 tahun yang lalu. Saat Nai masih kelas 5. Chi senyum-senyum mendengar ceritanya. Hingga saat ini, Nai belum haid. Tapi, beberapa temannya ada yang sudah haid. Jadi, sepertinya dari situ dia tau kalau perempuan sedang haid emosinya cenderung tinggi.

Chi sendiri haid sejak kelas 5 SD. Entah kapan Nai akan mendapatkan haid pertama. Tetapi, kalau melihat dari pertumbuhan fisiknya sepertinya mulai memasuki masa puber. Dan, ternyata masa puber Nai ini bikin Chi sering jadi baper.

Sekitar 3 tahun yang lalu, ketika Keke lagi puber, Nai yang sedih. Saat itu, Keke cenderung jadi pendiam dan menyendiri. Kadang-kadang ada ketusnya. Makanya Nai jadi sedih karena sehari-hari, kan, main bersama. Nai sampai sering menangis karena menganggap kakaknya udah gak mau main lagi ma dia.

Dulu, Chi suka menegur Keke supaya jangan begitu ke adeknya. Tapi, Keke cuek aja. Teguran Chi kayak gak didengerin ma dia. Nai juga susah dibujukin. Chi ajak ke berbagai tempat bermain, dia gak mau kalau gak sama Keke. Sedangkan Keke gak mau diajak jalan-jalan. Jadi seperti dapat masalah ganda pada saat itu.

Dulu, Chi belum paham kalau yang terjadi saat itu adalah proses masa puber. Sekarang, Keke udah biasa lagi. Udah usil, ceria, dan bermain lagi ma adeknya. Udah suka curhat dan manja lagi ke ayah bundanya. Pokoknya udah kayak Keke yang selama ini kami kenal. Bedanya suara dan fisiknya udah ada perubahan aja. Udah mulai remaja.

Sekarang Nai mulai memasuki fase yang sama...

Persis seperti apa yang pernah terjadi sama Keke. Sekarang Nai jadi suka menyendiri dan pendiam. Chi tau, mungkin dia sedang memasuki masa puber. Tapi, Chi jadinya baper karena merasa kehilangan.

Kangen dengan celotehan Nai yang ceplas-ceplos. Dengan ekspresi wajahnya yang selalu bikin ketawa. Dan yang bikin Chi baper lagi, berarti udah gak punya anak kecil di rumah. Hiks!

Ada satu lagi perubahan Nai. Saat ini, dia lagi sebel banget sama anak kecil. Dia suka kelihatan sebel kalau Chi lagi main sama keponakan yang masih kecil. Jangan pula coba-coba bilang mau punya adek lagi, bisa marah dia sambil bilang, "Anak kecil itu annoying!"

Cukup mengagetkan ketika Nai bilang begitu. Tapi, Chi coba memaklumi kalau Nai seperti itu mungkin karena lagi puber. Sebelumnya Nai gak begitu, tapi tetap Chi nasehati supaya jangan kebablasan. Ya, sama kayak waktu Keke lagi puber. Menjadi pendiam, tapi suka ketus juga kalau diajak ngobrol.

Salah satu moment yang bikin Chi sedih adalah saat jalan berdua ma Nai, akhir Maret lalu. Sebelumnya Chi udah beberapa kali jalan berdua sama anak. Apalagi sama Nai. Nge-date kayak gini, tuh, banyak manfaatnya.


Masa puber memang bikin baper. Satu lagi fase yang dilalui oleh anak dna bikin orang tua menjadi baper.

Nah, Chi pikir bisa ajak Nai ngobrol dari hati ke hati saat kami lagi makan siang di The People's Cafe. Chi pikir, Nai akan menjadi ceria seperti biasa. Ternyata usaha Chi gagal. Nai tetap aja asik dengan hapenya. Kalau ditanya agak ketus jawabannya. Dia seperti gak tertarik ngobrol ma Chi. Ugh! Sedih banget saat itu. Seriusan kalau gak inget malu, rasanya Chi pengen nangis saat itu juga. 😒

Dia baru terlihat tersenyum saat kami beli cheese cake. Ketika Chi singgung tentang passion baking-nya dan bilang akan mendukung semaksimal mungkin, matanya terlihat berbinar-binar. Mulai ada sedikit tanggapan tentang topik baking.

Chi: "Yah, tadi waktu di GI, Bunda sedih banget. Bunda pikir Nai bakal lebih banyak bicara kalau lagi jalan berdua. Setidaknya dia bisa lebih curhat kenapa sekarang jadi pendiam. Eh, ternyata enggak. Bahkan ketika Bunda singgung tentang hal ini, dia tetap aja cuek."
K'Aie: "Sabar, Bun. Memang lagi masanya."
Chi: "Iya, sih. Tapi, tetap aja Bunda sedih. Nah, waktu beli cheese cake, baru kelihatan tersenyum. Pas Bunda ajak ngobrol tentang baking juga kelihatan lumayan ceria. Apa anak yang lagi puber juga mulai pilih-pilih topik pembicaraan, ya?"
Ayah: "Mungkin begitu."

Tentang topik pembicaraan, Nai juga sepertinya gak bermasalah dengan Keke. Kalau sama kakaknya, Nai tetap ceria. Mereka berdua tetap aja suka becanda. Rame banget, deh, kalau mereka udah becanda. Sedihnya giliran sama bundanya, Nai jadi pendiam. Padahal perasaan Chi udah berusaha jadi orang tua yang seperti teman. Dalam artian gak mau selalu menggurui. Makanya Chi jadi suka cemburu dengan kebersamaan Nai dan kakaknya.

Ke ayahnya pun Nai juga sama. Jadi pendiam juga. Tapi, karena Chi yang di rumah jadi paling merasakan perubahan Nai. Makanya jadi paling baper. Pokoknya Chi jadi sering nangis akhir-akhir ini. Apalagi kalau Chi juga lagi PMS, bapernya makin menjadi. Kalau K'Aie paling cuma bilang sabar mungkin lagi masanya.

Akhir-akhir ini agak lumayan. Tiba-tiba dia memperlihatkan ekspresi lucunya atau nyeletuk apa gitu bikin Chi jadi ngakak. Ada kalanya kami di dapur bareng bikin camilan atau minuman. Seperti hari Minggu lalu kami bikin dragon fruit smoothie bareng.

Contoh lainnya kayak foto yang paling atas itu. Dia pakai sweater kakaknya, trus mukanya ditutupin pakai boneka Winnie The Pooh. Dia joget-joget di mobil sambil ketawa. Difoto pun gak keberatan asalkan mukanya tetap ditutup boneka. Tadi pun saat di mobil dengan ceria cerita tentang kegiatannya seharian itu di sekolah. Tapi, bisa saja dalam seketika moodnya berubah lagi. Mood swing banget, deh.

Tidak hanya baper, tapi juga bikin khawatir. Seingat Chi, Keke mulai masuk fase ini saat kelas 5 SD. Setahun kemudian, dia sudah kembali seperti sedia kala. Sehingga saat menghadapi UN, emosi Keke udah cukup stabil. Sedangkan Nai justru baru masuk fase ini saat kelas 6.

Seharusnya saat ini dia fokus untuk Ujian Nasional. Tapi, karena lagi mood swing, pengaruh banget ke kegiatan belajarnya termasuk nilai-nilainya. Dari dulu Nai selalu tekun belajar. Nilai-nilainya juga bagus terus. Sekarang nilainya turun naik udah kayak roller coaster saking sering berubah-ubah. Kadang-kadang bagus banget, kadang-kadang jelek banget. Nai sebetulnya mengerti dengan pelajarannya, tapi saat ada latihan atau ulangan hasilnya jadi sering gak terduga. Tergantung mood pada saat itu.

Wali kelas juga sempat bingung dengan perubahan Nai. Apalagi kalau lihat prestasi akademisnya selama ini, gak pernah seperti itu. Bahkan ketika pernah Nai dapat nilai jelek di salah satu mata pelajaran, wali kelasnya sampai berkali-kali tanya ke guru yang mengajar. Yakali aja gurunya salah memberi nilai. Sampai ditanya berkali-kali karena Nai memang gak pernah dapat nilai jelek selama ini.

Nai juga sangat pendiam di sekolah sampai wali kelasnya berpikir jangan-jangan dia gak suka ma wali kelasnya. Lebih sering terlihat menyendiri. Tapi, masih terlihat aktif bertanya kalau ada pelajaran yang gak dimengerti. Chi lalu menjelaskan sekaligus berdiskusi dengan wali kelas kalau kemungkinan saat ini Nai memang sedang puber. Keke juga dulu begitu. Dan Chi juga berdiskusi dengan wali kelas Keke saat itu.

Mungkin berikutnya Chi akan menulis tips bagaimana menghadapi anak yang sedang puber. Harapan Chi sekarang, semoga saat UN yang tinggal menghitung hari lagi, mood Nai sedang baik. Dari evaluasi belakangan ini memang kelihatan banget mood bisa sangat berpengaruh. Sama semoga Chi bisa lebih berkurang bapernya πŸ˜‚

Tapi, setiap saat ada aja momen baper orang tua terhadap anak. Contohnya ketika menyapih. Gak cuma berat untuk anak, tetapi buat bundanya juga. Rasanya seperti ada satu masa bonding yang (terpaksa) harus dilepas. Udah pernah sukses menyapih saat anak pertama, gak menjamin bakal cuek saat menyapih anak kedua. Tetap aja ada masa bapernya, meskipun udah melakukan dengan cinta alias weaning with love. 😁

Masa puber memang bikin baper. Ya udahlah nikmatin aja. Biasanya cuma sementara, kok. Mungkin akan ada lagi masa baper lainnya. Ketika anak lulus sekolah, anak dapat kerja, anak menikah, dll. Kejauhan, ya, mikirnya? Hihihi. Enggak juga, sih. πŸ˜‚