Cerita Tentang PJJ Saat Pandemi COVID-19

Bagaimana kegiatan belajar dan mengajar selama pandemi COVID-19? Yup! Gak hanya tahun ajaran 2020/2021 ini aja PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) dimulai. Tetapi, sejak pandemi masuk ke Indonesia.

Kalau di Jakarta ya sekitar awal Maret. Berarti udah sekitar 4 bulanan kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR) berjalan. Tentunya libur kenaikan kelas gak dihitung, ya.

pengalaman pjj belajar dari rumah

Cerita Tentang PJJ Saat Pandemi COVID-19



Segudang Masalah Saat Pembelajaran Daring


Gak ada yang berharap pandemi datang. Tetapi, lebih gak berharap lagi kalau wabah COVID-19 ini.

Kedatangan pandemi yang tidak diundang ini menimbulkan segudang masalah di saat kegiatan belajar mengajar berubah jadi daring. Para ibu yang menadadak menjadi guru, kuota, sinyal internet, gaptek, dan masih banyak lagi.


Setiap orang memiliki masalah yang berbeda-beda. Sebagian bermasalah dengan kuota, sebagian lagi tidak. Begitu juga dengan masalah lainnya. Tidak hanya anak yang bersekolah formal. Mereka yang homeschooling kegiatan belajar pun kabarnya juga terkena imbas.


Chi berusaha berusaha berempati dengan masalah yang terjadi oleh orang lain. Tetapi, untuk masalah yang terjadi dengan kami, sebisa mungkin dinikmati. Ya abisnya siapa juga yang siap dengan pembelajaran daring? Semua terjadi tanpa persiapan. Sekalinya Chi ngomel paling tentang koneksi internet.

Untung aja selama pandemi ini baru 2x mengalami kejadian mati internet hingga berjam-jam. Malah yang pertama hampir 24 jam. Kalau yang pertama kejadian di saat hari itu Nai mau ujian bahasa Inggris di tempat kursus. Keke juga ada bimbel. Makanya Chi ngomel.

Kejadian kedua beberapa hari yang lalu. Memang sih kejadiannya di malam hari. Tapi, ketar-ketir juga kalau sampai 24 jam dan mengganggu kegiatan anak-anak belajar mengajar keesokan hari. Berarti harus isiin kuota mereka. Hadeuuuhh! Hari gini 'kan Chi lagi perhitungan banget hehehe.


Kelucuan di Saat PJJ Berlangsung


Memang kalau udah koneksi internet bermasalah, Chi suka kurang santai, deh. Apalagi di saat pandemi begini kebutuhan internet lagi tinggi-tingginya. Ditambah lagi biaya berlangganan paket dari provider yang satu ini termasuk yang lumayan. Makanya sewot aja gitu kalau koneksinya bermasalah hehehe.

Tetapi, untuk hal lain tentang PJJ masih bisa disikapi dengan tertawa-tawa. Bahkan ketika wali kelas Nai di kelas 9 ini mengatakan kalau kemungkinan besar targer kurikulum di masa pandemi ini hanya bisa tercapai 50%, juga Chi tanggapi biasa aja.

Malah memang sejak awal PJJ pun Chi sudah menurunkan ekspektasi pendidikan Keke dan Nai. Yang penting mereka tetap berusaha belajar udah bagus. Kesewotan Chi paling ketika urusan PPDB yang berubah jadi seleksi umur hahaha!

Chi sadar kalau perjalanan menghadapi pandemi ini bisa (sangat) panjang. Makanya mending mencoba mewaraskan diri dengan mencoba gak mudah baper. Dianggap lucu aja karena mungkin aja kelak hal seperti yang bakal bikin ketawa-tawa di saat pandemi sudah berlalu.


Ngebangunin Keke Setiap Pagi

Bukan bermaksud ngebanding-bandingin anak dalam artian jelek lho, ya. Tetapi, ngebangunin Keke setiap pagi di hari sekolah memang lebih banyak dramanya ketimbang Nai.

Kalau Nai justru tertib bangun sendiri. Beberapa kali, Chi baru bangun malah Nai udah di kamar mandi, pakai seragam, atau malah udah duduk manis di meja belajar.

Ngebangunin Keke gak cukup sekali. Bisa 2-3 kali. Di tahun ajaran lalu, para guru seringnya cuma kasih tugas. Itupun gak ada batasan waktu yang ketat. Tapi, tiap pagi semua anak harus isi daftar hadir. Nanti wali kelas akan kirim laporan ke WAG orang tua. Bakal ketahuan deh siapa aja yang terlambat.

Nah, biasanya Chi minta Keke untuk bangun dulu sekadar isi kehadiran. Setidaknya gak kelihatan telat, lah. Meskipun abis itu dia tidur lagi hahaha.

Pernah beberapa kali Chi bablas. Biasanya kalau lagi kecapean banget sampai suara alarm pun gak kedengeran. Udah gitu, Keke juga suka gak pasang alarm. Jadi kami sama-sama terlambat hehehe. Tetapi, lama-kelamaan Keke mulai pasang alarm.

Malah dia menulis di selembar kertas (foto paling atas) yang dia tempel di pintu kamarnya. Ya malah bagus, deh. Chi jadi gak ada tugas bangunin Keke. Meskipun setelah isi daftar hadir, teteuuupp Keke lanjut tidur dan bangun sekitar pukul 10 pagi hahaha!

Di tahun ajaran baru, kebiasaannya agak berubah. Chi kembali bangunin dia. Tetapi, kali ini belum ada cerita lanjut tidur karena udah mulai ada kegiatan belajar melalui zoom. Gak sekadar dibagiin tugas. Ya meskipun seringkali kamera dan speaker di-off sama Keke.

Kalau Nai sih gak ada perubahan. Dia masih tetap disiplin bangun dan menyiapkan segalanya sendiri.


Kamera dan Speaker Dimatikan

Bunda: "Dek, kameranya kok gak dinyalain? Itu temen-temen pada kelihatan wajahnya."
Nai: "Ayah sama Bunda ngapain dari tadi di belakang Ima? Makanya gak Ima nyalain kameranya."

Jadi ceritanya laptop Nai gak bisa dipakai untuk Google Meet. Dia pun pinjam komputer ayahnya. Karena hari itu pertama kalinya dia pakai komputer ayahnya, kami pun menemani. Gak sadar kalau kami terus ada di belakang Nai hehehe.

Ketika kamera dan speaker dimatikan, anak-anak bisa belajar sambil sarapan. Keke malah kadang-kadang sambil sambil gitaran. Beberapa kali juga sambil tiduran.

Dulu, Chi beberapa kali dapat laporan dari walas sejak dia TK sampai SMA. Seringkali Keke seperti tidak memperhatikan guru yang sedang mengajar. Sebetulnya, Keke bukan gak memperhatikan. Tetapi, gaya belajarnya memang auditori alias mengandalkan pendengaran. Jadi meskipun pandangan matanya seperti tidak fokus, yang penting dia mendengarkan.

Nah, di saat pandemi, ada keuntungannya juga buat Keke. Apalagi kalau gak ada kewajiban menyalakan kamera. Gak ketahuan kalau kan kalau dia belajar sambil melakukan hal lain hehehe.


Gaptek

Nah ini lumayan sering kejadian. Pernah waktu lagi rapat orang tua murid dan wali kelas, ada seorang ibu yang kedengeran marahin anaknya. Si ibu sepertinyagak sadar kalau speakernya belum off. Walas sebagai moderator pun gak mute speaker peserta.

Chi anggap memang kami semua gaptek aja. Chi juga gak kepikiran untuk mengingatkan walas karena memang jarang banget pakai zoom. Jadi gak keingetan fitur ini. Untungnya bukan marah yang kasar atau gimana, sih. Sekadar bawel ala emak-emak aja hehehe.


Tidak Ada Lagi Kirim Tugas Lewat WA

Walas Kelas Nai mengatakan kalau di tahun ajaran ini tidak ada lagi mengirim tugas lewat WA karena bikin smartphone guru kepenuhan. Seketika suasana di zoom ramai. Kaitannya sama gaptek. Beberapa orang tua udah pening duluan ketika dikasih tau tentang Zoho Form dan Google Meet. Katanya nanti serahkan ke anaknya aja, deh. Iya anak-anak sekarang memang biasanya lebih akrab dengan dunia digital daripada orang tuanya.

Keke kesenengan banget begitu tau tugas gak dikumpulin lagi lewat WA. Soalnya kalau WA bikin guru jadi tau nomor hp dia. Kalau terlambat ngumpulin tugas, bakal dikejar terus lewat WA. Duh Kekeeee! 😂


Absen 100 Anak

Selama PJJ, model jadwal pelajaran di sekolah Keke ada yang berbeda. Kali ini satu angkatan di jurusan yang sama mendapat jadwal yang juga sama.

Biasanya setiap jam pelajaran dimulai, para diminta mengisi daftar kehadiran melalui Zoho Form. Tetapi, pas pelajaran Geografi, gurunya memilih mengabsen semua anak. Sekitar 100 anak (gabungan dari 3 kelas IPS) dipanggil satu per satu. Kaka Keke, "udah setengah jam sendiri buat absen, Bun!"


Gurunya Menghilang

Bunda: "Lho, kok udah keluar kamar, Dek? Udah selesai belajarnya?"
Nai: "Gurunya menghilang, Bun."

Jadi, pas lagi belajar melalui Google Meet, tau-tau gurunya menghilang dari kelas. Ya mungkin masalah signal atau apalah. Tetapi, ini pasti hanya akan terjadi selama pandemi. Kalau tatap muka kan gak mungkin tiba-tiba bisa menghilang hehehe


Tidur Lebih Nyenyak

Bunda: "Keke kok jam segini udah tidur lagi? Keke banguuuun! Ini masih jam sekolah."

Beberapa hari lalu, Chi ke kamar Keke sekitar pukul 10.30 wib. Lha, dia lagi tidur nyenyak! Ketika Chi bangunin, dia bilang gurunya gak masuk.

Apa yang biasanya teman-teman lakukan di sekolah ketika guru gak masuk?

Kalau Keke seringnya memilih tidur lagi dibandingkan mengobrol sama teman-temannya. Di saat pelajaran daring begini, kalau gak ada guru juga memilih tidur. Malah kelihatannya lebih nyenyak. Karena sekarang kan tidurnya di kamar sendiri. Ada bantal, guling, dan kasur yang nyaman. Kalau tidur di kelas kan paling di lantai atau sambil duduk di kursi hehehe.


Seragam Cukup Pakai Atasnya

Selama PJJ, udah gak pernah lagi pakai seragam bagian bawah. Paling pakai atasannya aja. Itupun seringkali cuma untuk foto. Kalaupun harus ikut zoom atau Google Meet juga jarang dinyalakan kameranya. Kalau kameranya disetting on aja baru dipakai seragamnya.

Suka lupa disetrika juga. Untungya pelajaran online. Gak ketahuan kalau bajunya lecek hihihi


Keriuhan Saat PJJ

persiapan traveling agar perjalanan aman dan menyenangkan
Sumber: IG @sheilasplayground
Jangankan SD, Nai yang udah kelas 9 aja masih ada keriuhan seperti ini hehehe

Ternyata belajar online pun bisa ada riuhnya. Chi pernah intip kelas Nai saat sedang belajar di Google Meet.

Ada yang sambil meluk guling. Ada yang tau-tau berdiri, eh ternyata bawahannya pakai celana pendek. Ada yang sambil lihat Tik Tok. Trus, tau-tau kedengeran lagu, 'cintaku bukan di atas kertas ....' Berbagai macam keriuhan lainnya bikin para siswa sesekali ngakak dan suasana kelas menjadi ramai.


Berulang Kali Bikin Video

"Bundaaa, Keke lagi bikin videooo!"

Beberapa kali Keke gagal bikin video karena tiba-tiba bunda atau ayahnya manggil. Gak sengaja sebetulnya. Kami gak tau kalau Keke lagi bikin video. Kalau Nai jarang gagal karena dia selalu bikin di kamar. Beda ma Keke yang memang sesukanya dia mau bikin video di ruangan manapun.


Lupa Kirim Tugas

Bunda: "Lagi apa, Ke?"
Keke: "Main PUBG."

Dalam hati, 'Eyaampuuun! Keke nyantai banget ngomongnya. Coba kalau Chi dulu kayak gitu ngomong ke orang tua. Bisa diomelin seharian hehehe.'

Bunda: "Memangnya udah selesai belajarnya? Kan masih jam sekolah?"
Keke: "Cuma disuruh bikin biografi salah satu orang tua aja."
Bunda: "Keke menulis tentang siapa?"
Keke: "Ayah."
Bunda: "Kenapa milih ayah? Kenapa bukan Bunda?"
Keke: "Bunda terlalu rumit buat diceritain."

Hahaha! Apakah bunda serumit itu, Ke? 😂😂

Singkat cerita, menjelang makan siang, Keke heboh manggil bundanya. Katanya dia udah bikin tugas dari gurunya. Dia menunjukkan tugasnya. Tetapi, lupa klik sent. Makanya ditagih sama gurunya.

Chi pun langsung ngoceh. Ngomel karena gregetan. Ya mungkin itu juga jadi salah satu alasan kenapa Keke menganggap bundanya rumit hehehe.

Di antara mereka berdua memang yang paling bikin gregetan tuh Keke. Dia mah memang lebih gak mau diem. Kalau di sekolah pun begitu. Makanya Chi udah gak heran hehehe.

Apakah Chi pernah marah ke mereka saat pembelajaran daring?

Tentu aja pernah. Chi marah kalau mereka menyepelekan. Memang harus santai, tetapi tetap harus serius. Boleh aja ngedengerin pelajaran sambil gitaran atau lainnya. Tetapi, tetap harus ada yang masuk. Dan semua tugas dikumpulkan dengan tepat waktu. Kecuali kalau ada suatu kejadian seperti Nai waktu sakit. Makanya gak bisa mengumpulkan tugas tepat waktu. Ya kalau seperti ini harus dimaklumi, lah.


PJJ Akan Jadi Permanen?


Masih banyak keseruan lainnya selama belajar dari rumah. Alhamdulillah Chi masih bisa ketawa-tawa. Ini juga supaya anak-anak santai. Karena di rumah terus kan juga kadang-kadang bikin gak nyaman. Biar bagaimana kangen juga kan ketemu teman-teman.

Di tahun ajaran baru ini, Chi lihat baik sekolah Keke dan Nai sudah mulai lebih siap. Sudah ada jadwal pelajaran yang menyesuaikan dengan masa pandemi. Kegaptekan mulai berkurang. Meskipun memang masih banyak penyesuaian. Misalnya kayak di sekolah Keke kan juga tadinya pakai Google Meet. Tetapi, ternyata mayoritas murid dan guru lebih suka Zoom. Jadi kelas pun berpindah ke Zoom.

Kemudian terlihat wacana PJJ akan dibuat permanen oleh Kemendikbud Nadiem Makarim. Meskipun setelahnya mas menteri mengatakan bahwa banyak yang salah mengartikan tentang PJJ permanen.

Kalau menurut Chi, kecepetan kalau sudah membahas tentang PJJ permanen. Tetapi, Chi juga gak tau kapan waktu yang tepat untuk dilaksanakan. Mengingat saat ini juga sudah era digital. Hanya saja di Indonesia permasalahan mendasarnya juga masih jadi PR banget.

Ya gak usahlah bicara yang daerah 3T dulu. Di Jakarta dan sekitarnya aja masih ada wilayah yang akses internetnya sulit. Kalau pun mudah, belum tentu semuanya punya biaya untuk kuota atau berlangganan paket internet.


Untuk saat ini memang masih bisa dimaklumi kalau pun ada kesan pemaksaan. Ya serba salah juga. Mau melepas anak untuk sekolah offline, tetapi wabah masih mengintai. Opsi belajar dari rumah memang jadi pilihan meskipun mungkin gak populer bagi sebagian orang tua karena menimbulkan berbagai permasalahan baru. Tetapi, keselamatan tentu menjadi pertimbangan utama.

Jangan sampai nanti kesannya semua terkesan dipaksakan. Belajar dari program-program lainnya. Seperti Ujian Nasional yang berubah menjadi UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Memang bagus, tapi gak semua sekolah punya lab komputer. Kalaupun punya jumlahnya gak mencukupi. Akhirnya setiap tahun ada permasalah berulang terkait ketersediaan komputer. Belum lagi yang tiba-tiba sinyal gak ada di saat ujian atau malah mati listrik. Menambah ketegangan baru bagi anak yang sedang ujian.

Begitupun dengan PPDB. Sistem seleksinya bagus, kok. Tetapi, tidak diikuti dengan ketersediaan sekolah yang cukup. Padahal sekarang wajib belajar udah sampai 12 tahun. Kalau jumlah sekolahnya aja gak cukup, gak heran kalau akan ada kisruh. Gak semua juga mampu masuk sekolah swasta.


Makanya, Chi sejak awal sebetulnya males-malesan mengikuti wacana PJJ permanen. Lagi capek hati dengan segala peraturan yang permasalahan mendasarnya aja masih jadi PR banget.

Apakah media memang salah persepsi atau hanya mengutip sebagian? Gak tau juga, sih. Kalaupun memang begitu, menurut Chi bagusnya dari Kemendikbud sendiri membuat artikel tentang wacana ini di situs resminya secara lengkap sebelum media memberitakan. Harapannya mengurangi keriuhan pro-kontra masyarakat juga karena di situs resminya sudah ditulis lengkap penjelasannya. Atau mendingan jangan dilempar dulu ke masyarakat lah kalau baru sebatas wacana.

Ya udah lah balik ke cerita keseruan tentang PJJ lagi. Teman-teman punya cerita seru apa aja selama belajar dari rumah?

Posting Komentar

78 Komentar

  1. Haha aku langsung ngakak pas liat gambar paling atas. Emang ada plus minus sih ya PJJ ini. Gak enak ya gitu, jadwal belajar anakku jadi kacau nih 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih nempel itu di pintu kamarnya. Kelak bisa jadi kenang-kenangan hahaha

      Hapus
  2. Nah kalo KK Olip baru mulai PJJ tahun ajaran baru, besok nih 21 Juli, hari ini baru pengenalan guru2.

    Nah sebelumnya Pas pandemic kemaren kan lagi PKL, jd cuma tugas2 aja. Btw akutu suka miris bnget sama buibu yg kadang mengeluh kuota dengan keterbatasannya, ato gaptek ga bisa ngapa2in, padahal anak2 jaman now pada pinter2 yak.

    Semoga dilancarkan PJJ ini yaa, tetep semangat buat anak2 kit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang sebaiknya jadi orang tua jangan gaptek banget. Biar bagaimana ini udha zaman digital. Anak-anak lebih cepat mengikuti perkembangan ini. Tetapi, setidaknya orang tua bisa belajar memahami, lah. Biar kalau ada apa-apa bis akasih tau.

      Sedangkan kalau tentang kuota memang sepertinya lumayan memberatkan. Kalau saya pribadi menggunakan WiFi. Jadi gak berasa ada perubahan di tagihan. Hanya memang penggunaanya jadi lebih banyak.

      Berarti yang pakai kuota kemungkinan tagihannya juga akan berlipat. Kasihan juga kalau ekonominya pas-pasan. Mungkin mengeluh menjadi salah satu cara untuk melepaskan kegalauan

      Hapus
  3. rumit sih disaat sistem internet di indonesia blm optimal dan cepat. kendalanya yg sering trjdi,,enak2 online eh frezee atau susah masuk room...atau kasian sm ortu2 yg sulit memfasilitasi anak dlm pjj krn terbentur minimnya fasilitas....oh semogaa ad solusi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya suka miris kalau mendengar/membaca yang seperti ini. Bikin dilema juga, ya. Di satu sisi belum siap membiarkan anak ke sekolah. Tetapi, di sisi lain PJJ juga punya masalah sendiri

      Hapus
  4. Sepertinya, cerita ttg PJJ memang gak ada habisnya ya..masing2 kelg / anak punya cerita unik sendiri2 hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selama PJJ masih berlangsung, maka akan terus ada cerita. Saya ambil yang recehnya aja untuk dikenang hehehe

      Hapus
  5. Selama pandemic ini kegiatan belajar dan mengajar rasanya emang sedikit beda dan menantang yaa, hubby ku pengajar juga masih via online samapai saat ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang kebanyakan masih lewat online, ya

      Hapus
  6. Banyak cerita dibalik pjj darling. Ini kisah kejadian dalam cerita harus dinikmati aja. Akan tetapi hikmah yang penting teknologi dan kedisiplinan semua pihak memang diperlukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk hal-hal receh saya menikmatinya, Mpo. Tetapi, memang banyak kendala juga saat PJJ

      Hapus
  7. ternyata ada enak engga nya yaa.. kegiatan belajar kayak gini bakal jadi cerita bersejarah untuk anak cucu nanti.. hehe..

    untung jaman dulu sekolah gak gini yaa.. pusiinggg..

    semoga covid cepet pergi biar bisa sekolah normal lagi ya.. Amiiinn.. semangat juga buat mamah2 yang kudu dampingin anak belajar setiap hari.. 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap masih jauh lebih enak sekolah formal dengan tatap muka. Harapan saya juga pandemi segera berlalu. Aamiin

      Hapus
  8. Seru dan heboh banget ya pembelajaran jarak jauh. Jadi bayangin kalau punya anak diusia nai, chi dan keke

    BalasHapus
  9. Ahahaha, ngakak aku liat ilustrasi pertama, udah absen, ga usah dibangunin. Banyak cerita ya memang, anak-anak sekarang jadi lebih aware sama dunia digital karena PJJ ini, banyak tantangannya juga buat guru dan ortu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya abis isi daftar hadir, dia lanjutin tidur :D

      Hapus
  10. Agak sebelnya sama kemendikbud yang ngasih instruktur semua sekolah kudu pjj tapi ga dikasih SOP nya kayak apa. Jadi diserahin ke masing-masing sekolah aja. Padahal ga semua sekolah dan juga daerah siap

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu lah, Mbak. Apalagi sempat ada klaim dari mas menteri kalau PJJ dianggap berhasil. Buat saya masih kejauhan untuk mengklaim berhasil

      Hapus
  11. beneer mbaaa.. aku juga pusing nih pas PJJ hehehe. Dan sambil kerja begini jadi beban tambahan yaaa hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, Mbak Indah ibu yang kerja kantoran. Tentunya ada drama sendiri saat anak-anak PJJ, ya :)

      Hapus
  12. Ahahahaha beneran deh mbak aku jd kerasa pusing banget pas anak udah SD, tp untung saat les bimba udah terlatih pakai aplikasi2nya jd anak2 jg lbh mudah menyesuaikan. Tp tiap pagi emang dramanya ada aja, baik dr internal maupun dr WAG kelas hahahaaha, au ah gelap, aku pengen liburan Ya Allah wkwkwkwwkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. nanti kita puas-puasin liburan setelah pandemi berakhir, Pril hahaha

      Hapus
  13. Anakku yang pertama baru masuk TK dan ikutan PJJ juga. Tapi ga tiap hari sih, cuma seminggu 2 kali dan itupun skitar 30 menitan aja. Pas PJJ kan lewatnya Zoom, auto ramai deh itu. Namanya juga balita hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya jadi ngebayangin bocah-bocah pada nge-zoom hahaha

      Hapus
  14. Hahaha memang gitu ya mbak, pada belajar di rumah atasan mesti rapi kalau bawahan bisa apa aja. Semangat selalu ya nak untuk belajar dari rumah.

    BalasHapus
  15. Anakku masih TK Mbak, jadi belum berasa banget, hihihih. Paling dampingi doang sih.
    Anak cowok ama cewek emang beda ya Mbak, kelihatan dari ceritanya, Keke santuy banget hadapi PJJ ini, Nai serius dan disiplin jalan terus :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Memang tiap anak beda-beda karakternya :)

      Hapus
  16. Aku masih cari ritmenya nih supaya lebih santai lagi selama PJJ. Masalah daftar hadir juga ada ortu yang kesulitan karena gak ngerti. Nah kalau di SD Alvin udah ditentukan pakai aplikasi A, B atau C. Yg susah itu di SMP Pascal yg heterogen soalnya gak semua punya aplikasi itu dan lain-lain masalahnya.
    Berarti Keke sama Pascal sama nih agak susah dibangunin lagi, dia agak santai gak harus isi daftar hadir tiap pagi, kalau Alvin harus pakai seragam segala :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pascal sekolah negeri kan, ya? Itu lah masalahnya pun sama. Enak ya Pascal gak harus pakai seragam hehehe

      Hapus
  17. Bunda terlalu rumit buat diceritain, hahaha. Keponakanku sekolah dan info masih by WA. Belum bisa lah kalau video dan harus on saat belajar. Jadi harus nyesuaiin kondisi ortu murid

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener. Semua menyesuaikan dengan keadaan

      Hapus
  18. Anak2ku juga susah bangun pagi. Apa karena kelamaan di rumah waktu itu ga ada tugas setelah wisuda online? hihihihi iya lah masa ada tugas lagi wkwkwkw. Bangunin mereka tuh kudu teriak2 segala. Lucunya nih anakku yg bungsu pakai seragam putih atasannya tapi bawahnya kolor doang hahaha. trus yg cewek pakai jilbab tapi abwahnya celana piyama..tiap mereka zoom dan google meeting :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak-anak saya juga cuma pakai atasan aja selama online hehhee

      Hapus
  19. Pengen ngakak di bagian ini hihi

    "Ayah sama Bunda ngapain dari tadi di belakang Ima? Makanya gak Ima nyalain kameranya."


    Ya ampunn Bundaaa wkwkwk.

    Btw memang sih kita perlu menurunkan ekspektasi saat PJJ ya, kalau nggak bisa pusing sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sekolah Nai udah bilang kemungkinan target yang tercapai hanya 50%. Ya udahlah

      Hapus
  20. hehehe... Emang wanita itu terlalu rumit untuk diceritakan ya Ke, makanya milih nuliskan tentang Ayah aja.

    BalasHapus
  21. Wahahaha seruu ya cerita2 PJJ :)))
    Tapi gimanapun juga, paling assoy belajar tatap muka.
    Semoga pandemi segera selesai.
    Buibu yg sabaaarrr yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang gak tergantikan kalau tatap muka

      Hapus
  22. Nah anak anakku juga beberapa kali ga nyalain kamera pas online. Aku tanya kenapa, Katanya banyak ga nyalain. Tapi akhirnya ya mau sih nyalain kamera

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin karena kalau gak nyalain jaid bebas, ya :D

      Hapus
  23. Hahaha yg di lakuin ima kayanya di lakuin anakku dan aku juga. Kalo ada meeting ortu atau wrbinar, kamera aku matikan kalo aku ngemil makan2 atau ke wc hihihi

    BalasHapus
  24. Kak Chii...
    Sama banget ih..anakku yang kedua kalau uda bosen awalnya cuma corat-coret di kertas (gambar), tapi karena tau trik matikan kamera sama speaker, dia matiin terus pakai rollerblade, keliling-keliling rumah.

    Kalau ditanya, "Kok malah main?"
    "Im sorry, Ma...im so boriiiing."

    Huufff~

    Kalau yang adiknya, bobok cantik.
    Haaaa...dua-duanya meuni ga betah sekolah online.

    BalasHapus
  25. Ngikik-ngikik bacanya Mbak, memang seru-seru heboh ya PJJ inuli menemani dua anakku belajar juga seru..sampai pukul 12 rasanya cape mamaknya hihihi...semoga bisa sekolah tatap muka lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya lah tetap lebih asik tatap muka. Meskipun ya ada serunya juga PJJ

      Hapus
  26. Hahaha,drama PJJ memang seru dan gemes. Ya kurang lebihnya sama dengan saya. Kalau saya adik2 yang tiap hari ada dramanya. Yang SMP ada grup WA per mapel, jadi dia suka ngeluh HPnya lemot.

    Terus pas pakai zoom, ya gitu, gurunya kadang-kadang tiba-tiba hilang.

    Terus temen saya yang jadi guru, tapi masih muda. Dia dimarahin ibunya "pagi-pagi udah mulai HP an, gak mau bantuin apa-apa,"

    Dan itu terdengar sama murid2nya. Ya udah, langsung dimatiin itu zoom, jelasin ke ibunya dulu.

    Gregetan emang ini sekolah jarak jauh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngakak banget yang diomelin ibunya hahaha

      Hapus
  27. Kalau di sekolah anak saya cuma mengandalkan WhatsApp untuk kirim tugas. Boro-boro mau pake e-conference macam Zoom atau Google Meet, ini saja WhatsApp masih banyak orangtua murid yang gaptek. Kasihan sih jadinya, belajarnya jadi ga optimal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya memang semuanya jadi gak optimal. Tetapi, belajar offline juga masih berisiko tinggi

      Hapus
  28. Koq seru banget sih baca cerita PJJ Keke & Nai, anak-anak itu selalu seru ya. Ekspresif wkwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mencoba ambil keseruannya. Meskipun tetap lebih aasik belajar tatap muka hehe

      Hapus
  29. Memang pernah denger soal PJJ permanen. Sebenarnya harus dipersiapkan lebih matang lagi. Terutama untuk penyediaan internet gratis dari pemerintah ya..hihihi

    Any way anak-anak saya lebih memilih sekolah biasa, secara offline. Biar bisa main dengan teman-temannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! Menjadi permanen masih butuh perjalanan panjang

      Hapus
  30. Baru mau mulai baca postingannya, udah langsung dibikin ketawa sama tulisan di kertas putih itu. Wkwkwkw.

    Anak saya baru mulai PJJ senin nanti, duh..semoga lancar deh prosesnya.

    BalasHapus
  31. I think so during the pandemic in PJJ procedure can get so many problem. But should we can do tha every condition now have problem. So we must support each other

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya seharusnya memang begitu. Makanya saya menulis yang serunya aja

      Hapus
  32. Seru ya pjj ini, bakal jadi kenang2an tak terlupakan...
    Soal orang tua gaptek pernah ngalamin pas psikotes ortu, kedengeran ibunya nanya-nanya ke anaknya gimana matiin suara dan video di zoom, hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk kalau dikenang lagi bisa bikin ketawa, deh

      Hapus
  33. Serba salah juga sih ya mba. Aku sendiri masih sedikit enjoy menjalaninya. Tapi yg kasian itu anak aku. Apalagi dia jenis ekstrovert. Udah kangen betul sm teman2nya. Heu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, Mbak. Tapi, mau gimana lagi. Di luar belum aman

      Hapus
  34. Jadi tetep ada keseruan yang dirasakan ya Mbak selama proses PJJ itu. Meskipun banyak juga cerita yang bikin baper. Semogaa ilmunya semua menjadi semakin berkah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap berusaha mencari keseruannya. Supaya tetap waras, Mbak :)

      Hapus
  35. Hahaha baca tulisannya langsung ngakak: Sudah absen jangan dibangunin lagi! Berarti habis absen langsung tidur lagi ya?

    Emang deh kebayang gimana repotnya orang tua yang punya anak usia sekolah pada masa pandemi ini. Biasanya guru di sekolah yang mengawasi pelajaran mereka, sekarang tugas guru harus diambil alih orang tua. Tabah ya Mbak Myr. Seperti juga badai, pandemi akan segera berlalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Lanjut tidur lagi setelah absen hehehe

      Hapus
  36. Suer aku ngakak dan salut sama perjuangan anak anak ya guru ya orang tua. Sama-sama untuk terus bisa belajar meskipun kita sedang diuji coba ya Mbak. MasyaAllah semoga dimudahkan dalam segalanya

    BalasHapus
  37. Hahahahha kayaknya anak2 besar sama aja kerempongannya selama PJJ yaa mba :D.

    Ga tau ini berkah ato musibah, tapi anakku yg pertama kan sekolahnya negri Deket rumah. Naaah, jujurnya masih banyak murid yg ortunya ga terlalu mampu. Jangankan belajar pake laptop dan zoom, lah hp dan kuota aja blm tentu ada :(

    Makanya selama PJJ sekolah Fylly ga mungkin untuk belajar melalui zoom. Makanya wali kelasnya memberikan tugas belajar tiap hari ya melalui wa. Itupun kdg ga semua mampu Krn masalah kuota td ato Krn kamera hp burem yg bikin foto tugas jd ga jelas. Sedih sih memang

    Tapi setidaknya aku sih berusaha apa yg diminta Bu gurunya selalu dikerjain Ama Fylly dan aku kirim tepat waktu.

    Semoga sih pandemi ini cepet berakhir. Akupun udah capek sbnrnya ngajarin anak2 ini, apalagi aku bukan tipe sabar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.

      Di sekolah negeri memang siswanya lebih heterogen. Anak-anak saya juga di negeri. Makanya kalau mikir ke situnya sih memang sedih

      Hapus
  38. Serba - serbi PJJ ya heheh, tapi ya dinikmati saja ya mak biar ada cerita dan sejarah berbeda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain buat dikenang juga untuk menghilangkan stress :D

      Hapus
  39. Perjuangan banget yah mak PJJ tuh. Sebagai yang udah WFH 4 bulan ini, rasanya frustasi banget kalo jarang ketemu temen2 langsung. Anak sekolah pun pasti juga ngerasa demikian. Hiiikkkksss semangaaatttt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena manusia memang senang bersosialisasi :)

      Hapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^