Cerita Tentang PJJ Saat Pandemi COVID-19 - Bagaimana kegiatan belajar dan mengajar selama pandemi COVID-19? Yup! Gak hanya tahun ajaran 2020/2021 ini aja PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) dimulai. Tetapi, sejak pandemi masuk ke Indonesia.

Kalau di Jakarta ya sekitar awal Maret. Berarti udah sekitar 4 bulanan kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR) berjalan. Tentunya libur kenaikan kelas gak dihitung, ya.

pengalaman pjj belajar dari rumah


Segudang Masalah Saat Pembelajaran Daring


Gak ada yang berharap pandemi datang. Tetapi, lebih gak berharap lagi kalau wabah COVID-19 ini.

Kedatangan pandemi yang tidak diundang ini menimbulkan segudang masalah di saat kegiatan belajar mengajar berubah jadi daring. Para ibu yang menadadak menjadi guru, kuota, sinyal internet, gaptek, dan masih banyak lagi.


Setiap orang memiliki masalah yang berbeda-beda. Sebagian bermasalah dengan kuota, sebagian lagi tidak. Begitu juga dengan masalah lainnya. Tidak hanya anak yang bersekolah formal. Mereka yang homeschooling kegiatan belajar pun kabarnya juga terkena imbas.


Chi berusaha berusaha berempati dengan masalah yang terjadi oleh orang lain. Tetapi, untuk masalah yang terjadi dengan kami, sebisa mungkin dinikmati. Ya abisnya siapa juga yang siap dengan pembelajaran daring? Semua terjadi tanpa persiapan. Sekalinya Chi ngomel paling tentang koneksi internet.

Untung aja selama pandemi ini baru 2x mengalami kejadian mati internet hingga berjam-jam. Malah yang pertama hampir 24 jam. Kalau yang pertama kejadian di saat hari itu Nai mau ujian bahasa Inggris di tempat kursus. Keke juga ada bimbel. Makanya Chi ngomel.

Kejadian kedua beberapa hari yang lalu. Memang sih kejadiannya di malam hari. Tapi, ketar-ketir juga kalau sampai 24 jam dan mengganggu kegiatan anak-anak belajar mengajar keesokan hari. Berarti harus isiin kuota mereka. Hadeuuuhh! Hari gini 'kan Chi lagi perhitungan banget hehehe.


Kelucuan di Saat PJJ Berlangsung


Memang kalau udah koneksi internet bermasalah, Chi suka kurang santai, deh. Apalagi di saat pandemi begini kebutuhan internet lagi tinggi-tingginya. Ditambah lagi biaya berlangganan paket dari provider yang satu ini termasuk yang lumayan. Makanya sewot aja gitu kalau koneksinya bermasalah hehehe.

Tetapi, untuk hal lain tentang PJJ masih bisa disikapi dengan tertawa-tawa. Bahkan ketika wali kelas Nai di kelas 9 ini mengatakan kalau kemungkinan besar targer kurikulum di masa pandemi ini hanya bisa tercapai 50%, juga Chi tanggapi biasa aja.

Malah memang sejak awal PJJ pun Chi sudah menurunkan ekspektasi pendidikan Keke dan Nai. Yang penting mereka tetap berusaha belajar udah bagus. Kesewotan Chi paling ketika urusan PPDB yang berubah jadi seleksi umur hahaha!

Chi sadar kalau perjalanan menghadapi pandemi ini bisa (sangat) panjang. Makanya mending mencoba mewaraskan diri dengan mencoba gak mudah baper. Dianggap lucu aja karena mungkin aja kelak hal seperti yang bakal bikin ketawa-tawa di saat pandemi sudah berlalu.


Ngebangunin Keke Setiap Pagi

Bukan bermaksud ngebanding-bandingin anak dalam artian jelek lho, ya. Tetapi, ngebangunin Keke setiap pagi di hari sekolah memang lebih banyak dramanya ketimbang Nai.

Kalau Nai justru tertib bangun sendiri. Beberapa kali, Chi baru bangun malah Nai udah di kamar mandi, pakai seragam, atau malah udah duduk manis di meja belajar.

Ngebangunin Keke gak cukup sekali. Bisa 2-3 kali. Di tahun ajaran lalu, para guru seringnya cuma kasih tugas. Itupun gak ada batasan waktu yang ketat. Tapi, tiap pagi semua anak harus isi daftar hadir. Nanti wali kelas akan kirim laporan ke WAG orang tua. Bakal ketahuan deh siapa aja yang terlambat.

Nah, biasanya Chi minta Keke untuk bangun dulu sekadar isi kehadiran. Setidaknya gak kelihatan telat, lah. Meskipun abis itu dia tidur lagi hahaha.

Pernah beberapa kali Chi bablas. Biasanya kalau lagi kecapean banget sampai suara alarm pun gak kedengeran. Udah gitu, Keke juga suka gak pasang alarm. Jadi kami sama-sama terlambat hehehe. Tetapi, lama-kelamaan Keke mulai pasang alarm.

Malah dia menulis di selembar kertas (foto paling atas) yang dia tempel di pintu kamarnya. Ya malah bagus, deh. Chi jadi gak ada tugas bangunin Keke. Meskipun setelah isi daftar hadir, teteuuupp Keke lanjut tidur dan bangun sekitar pukul 10 pagi hahaha!

Di tahun ajaran baru, kebiasaannya agak berubah. Chi kembali bangunin dia. Tetapi, kali ini belum ada cerita lanjut tidur karena udah mulai ada kegiatan belajar melalui zoom. Gak sekadar dibagiin tugas. Ya meskipun seringkali kamera dan speaker di-off sama Keke.

Kalau Nai sih gak ada perubahan. Dia masih tetap disiplin bangun dan menyiapkan segalanya sendiri.


Kamera dan Speaker Dimatikan

Bunda: "Dek, kameranya kok gak dinyalain? Itu temen-temen pada kelihatan wajahnya."
Nai: "Ayah sama Bunda ngapain dari tadi di belakang Ima? Makanya gak Ima nyalain kameranya."

Jadi ceritanya laptop Nai gak bisa dipakai untuk Google Meet. Dia pun pinjam komputer ayahnya. Karena hari itu pertama kalinya dia pakai komputer ayahnya, kami pun menemani. Gak sadar kalau kami terus ada di belakang Nai hehehe.

Ketika kamera dan speaker dimatikan, anak-anak bisa belajar sambil sarapan. Keke malah kadang-kadang sambil sambil gitaran. Beberapa kali juga sambil tiduran.

Dulu, Chi beberapa kali dapat laporan dari walas sejak dia TK sampai SMA. Seringkali Keke seperti tidak memperhatikan guru yang sedang mengajar. Sebetulnya, Keke bukan gak memperhatikan. Tetapi, gaya belajarnya memang auditori alias mengandalkan pendengaran. Jadi meskipun pandangan matanya seperti tidak fokus, yang penting dia mendengarkan.

Nah, di saat pandemi, ada keuntungannya juga buat Keke. Apalagi kalau gak ada kewajiban menyalakan kamera. Gak ketahuan kalau kan kalau dia belajar sambil melakukan hal lain hehehe.


Gaptek

Nah ini lumayan sering kejadian. Pernah waktu lagi rapat orang tua murid dan wali kelas, ada seorang ibu yang kedengeran marahin anaknya. Si ibu sepertinyagak sadar kalau speakernya belum off. Walas sebagai moderator pun gak mute speaker peserta.

Chi anggap memang kami semua gaptek aja. Chi juga gak kepikiran untuk mengingatkan walas karena memang jarang banget pakai zoom. Jadi gak keingetan fitur ini. Untungnya bukan marah yang kasar atau gimana, sih. Sekadar bawel ala emak-emak aja hehehe.


Tidak Ada Lagi Kirim Tugas Lewat WA

Walas Kelas Nai mengatakan kalau di tahun ajaran ini tidak ada lagi mengirim tugas lewat WA karena bikin smartphone guru kepenuhan. Seketika suasana di zoom ramai. Kaitannya sama gaptek. Beberapa orang tua udah pening duluan ketika dikasih tau tentang Zoho Form dan Google Meet. Katanya nanti serahkan ke anaknya aja, deh. Iya anak-anak sekarang memang biasanya lebih akrab dengan dunia digital daripada orang tuanya.

Keke kesenengan banget begitu tau tugas gak dikumpulin lagi lewat WA. Soalnya kalau WA bikin guru jadi tau nomor hp dia. Kalau terlambat ngumpulin tugas, bakal dikejar terus lewat WA. Duh Kekeeee! ๐Ÿ˜‚


Daftar Kehadiran 100 Anak

Selama PJJ, model jadwal pelajaran di sekolah Keke ada yang berbeda. Kali ini satu angkatan di jurusan yang sama mendapat jadwal yang juga sama.

Biasanya setiap jam pelajaran dimulai, para diminta mengisi daftar kehadiran melalui Zoho Form. Tetapi, pas pelajaran Geografi, gurunya memilih mengabsen semua anak. Sekitar 100 anak (gabungan dari 3 kelas IPS) dipanggil satu per satu. Kaka Keke, "udah setengah jam sendiri absenin anak-anak, Bun!"


Gurunya Menghilang

Bunda: "Lho, kok udah keluar kamar, Dek? Udah selesai belajarnya?"
Nai: "Gurunya menghilang, Bun."

Jadi, pas lagi belajar melalui Google Meet, tau-tau gurunya menghilang dari kelas. Ya mungkin masalah signal atau apalah. Tetapi, ini pasti hanya akan terjadi selama pandemi. Kalau tatap muka kan gak mungkin tiba-tiba bisa menghilang hehehe


Tidur Lebih Nyenyak

Bunda: "Keke kok jam segini udah tidur lagi? Keke banguuuun! Ini masih jam sekolah."

Beberapa hari lalu, Chi ke kamar Keke sekitar pukul 10.30 wib. Lha, dia lagi tidur nyenyak! Ketika Chi bangunin, dia bilang gurunya gak masuk.

Apa yang biasanya teman-teman lakukan di sekolah ketika guru gak masuk?

Kalau Keke seringnya memilih tidur lagi dibandingkan mengobrol sama teman-temannya. Di saat pelajaran daring begini, kalau gak ada guru juga memilih tidur. Malah kelihatannya lebih nyenyak. Karena sekarang kan tidurnya di kamar sendiri. Ada bantal, guling, dan kasur yang nyaman. Kalau tidur di kelas kan paling di lantai atau sambil duduk di kursi hehehe.


Seragam Cukup Pakai Atasnya

Selama PJJ, udah gak pernah lagi pakai seragam bagian bawah. Paling pakai atasannya aja. Itupun seringkali cuma untuk foto. Kalaupun harus ikut zoom atau Google Meet juga jarang dinyalakan kameranya. Kalau kameranya disetting on aja baru dipakai seragamnya.

Suka lupa disetrika juga. Untungya pelajaran online. Gak ketahuan kalau bajunya lecek hihihi


Keriuhan Saat PJJ

persiapan traveling agar perjalanan aman dan menyenangkan
Sumber: IG @sheilasplayground
Jangankan SD, Nai yang udah kelas 9 aja masih ada keriuhan seperti ini hehehe


Ternyata belajar online pun bisa ada riuhnya. Chi pernah intip kelas Nai saat sedang belajar di Google Meet.

Ada yang sambil meluk guling. Ada yang tau-tau berdiri, eh ternyata bawahannya pakai celana pendek. Ada yang sambil lihat Tik Tok. Trus, tau-tau kedengeran lagu, 'cintaku bukan di atas kertas ....' Berbagai macam keriuhan lainnya bikin para siswa sesekali ngakak dan suasana kelas menjadi ramai.


Berulang Kali Bikin Video

"Bundaaa, Keke lagi bikin videooo!"

Beberapa kali Keke gagal bikin video karena tiba-tiba bunda atau ayahnya manggil. Gak sengaja sebetulnya. Kami gak tau kalau Keke lagi bikin video. Kalau Nai jarang gagal karena dia selalu bikin di kamar. Beda ma Keke yang memang sesukanya dia mau bikin video di ruangan manapun.


Lupa Kirim Tugas

Bunda: "Lagi apa, Ke?"
Keke: "Main PUBG."

Dalam hati, 'Eyaampuuun! Keke nyantai banget ngomongnya. Coba kalau Chi dulu kayak gitu ngomong ke orang tua. Bisa diomelin seharian hehehe.'

Bunda: "Memangnya udah selesai belajarnya? Kan masih jam sekolah?"
Keke: "Cuma disuruh bikin biografi salah satu orang tua aja."
Bunda: "Keke menulis tentang siapa?"
Keke: "Ayah."
Bunda: "Kenapa milih ayah? Kenapa bukan Bunda?"
Keke: "Bunda terlalu rumit buat diceritain."

Hahaha! Apakah bunda serumit itu, Ke? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Singkat cerita, menjelang makan siang, Keke heboh manggil bundanya. Katanya dia udah bikin tugas dari gurunya. Dia menunjukkan tugasnya. Tetapi, lupa klik sent. Makanya ditagih sama gurunya.

Chi pun langsung ngoceh. Ngomel karena gregetan. Ya mungkin itu juga jadi salah satu alasan kenapa Keke menganggap bundanya rumit hehehe.

Di antara mereka berdua memang yang paling bikin gregetan tuh Keke. Dia mah memang lebih gak mau diem. Kalau di sekolah pun begitu. Makanya Chi udah gak heran hehehe.

Apakah Chi pernah marah ke mereka saat pembelajaran daring?

Tentu aja pernah. Chi marah kalau mereka menyepelekan. Memang harus santai, tetapi tetap harus serius. Boleh aja ngedengerin pelajaran sambil gitaran atau lainnya. Tetapi, tetap harus ada yang masuk. Dan semua tugas dikumpulkan dengan tepat waktu. Kecuali kalau ada suatu kejadian seperti Nai waktu sakit. Makanya gak bisa mengumpulkan tugas tepat waktu. Ya kalau seperti ini harus dimaklumi, lah.


PJJ Akan Jadi Permanen?


Masih banyak keseruan lainnya selama belajar dari rumah. Alhamdulillah Chi masih bisa ketawa-tawa. Ini juga supaya anak-anak santai. Karena di rumah terus kan juga kadang-kadang bikin gak nyaman. Biar bagaimana kangen juga kan ketemu teman-teman.

Di tahun ajaran baru ini, Chi lihat baik sekolah Keke dan Nai sudah mulai lebih siap. Sudah ada jadwal pelajaran yang menyesuaikan dengan masa pandemi. Kegaptekan mulai berkurang. Meskipun memang masih banyak penyesuaian. Misalnya kayak di sekolah Keke kan juga tadinya pakai Google Meet. Tetapi, ternyata mayoritas murid dan guru lebih suka Zoom. Jadi kelas pun berpindah ke Zoom.

Kemudian terlihat wacana PJJ akan dibuat permanen oleh Kemendikbud Nadiem Makarim. Meskipun setelahnya mas menteri mengatakan bahwa banyak yang salah mengartikan tentang PJJ permanen.

Kalau menurut Chi, kecepetan kalau sudah membahas tentang PJJ permanen. Tetapi, Chi juga gak tau kapan waktu yang tepat untuk dilaksanakan. Mengingat saat ini juga sudah era digital. Hanya saja di Indonesia permasalahan mendasarnya juga masih jadi PR banget.

Ya gak usahlah bicara yang daerah 3T dulu. Di Jakarta dan sekitarnya aja masih ada wilayah yang akses internetnya sulit. Kalau pun mudah, belum tentu semuanya punya biaya untuk kuota atau berlangganan paket internet.


Untuk saat ini memang masih bisa dimaklumi kalau pun ada kesan pemaksaan. Ya serba salah juga. Mau melepas anak untuk sekolah offline, tetapi wabah masih mengintai. Opsi belajar dari rumah memang jadi pilihan meskipun mungkin gak populer bagi sebagian orang tua karena menimbulkan berbagai permasalahan baru. Tetapi, keselamatan tentu menjadi pertimbangan utama.

Jangan sampai nanti kesannya semua terkesan dipaksakan. Belajar dari program-program lainnya. Seperti Ujian Nasional yang berubah menjadi UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer). Memang bagus, tapi gak semua sekolah punya lab komputer. Kalaupun punya jumlahnya gak mencukupi. Akhirnya setiap tahun ada permasalah berulang terkait ketersediaan komputer. Belum lagi yang tiba-tiba sinyal gak ada di saat ujian atau malah mati listrik. Menambah ketegangan baru bagi anak yang sedang ujian.

Begitupun dengan PPDB. Sistem seleksinya bagus, kok. Tetapi, tidak diikuti dengan ketersediaan sekolah yang cukup. Padahal sekarang wajib belajar udah sampai 12 tahun. Kalau jumlah sekolahnya aja gak cukup, gak heran kalau akan ada kisruh. Gak semua juga mampu masuk sekolah swasta.


Makanya, Chi sejak awal sebetulnya males-malesan mengikuti wacana PJJ permanen. Lagi capek hati dengan segala peraturan yang permasalahan mendasarnya aja masih jadi PR banget.

Apakah media memang salah persepsi atau hanya mengutip sebagian? Gak tau juga, sih. Kalaupun memang begitu, menurut Chi bagusnya dari Kemendikbud sendiri membuat artikel tentang wacana ini di situs resminya secara lengkap sebelum media memberitakan. Harapannya mengurangi keriuhan pro-kontra masyarakat juga karena di situs resminya sudah ditulis lengkap penjelasannya. Atau mendingan jangan dilempar dulu ke masyarakat lah kalau baru sebatas wacana.

Ya udah lah balik ke cerita keseruan tentang PJJ lagi. Teman-teman punya cerita seru apa aja selama belajar dari rumah?