Menimbang Homeschooling di Masa Pandemi COVID-19

Pandemi COVID-19 sudah masuk ke Indonesia sekitar 3 bulan. Dan selama itu pula para pelajar dan guru, terutama yang berdomisili di DKI Jakarta, mulai melakukan kegiatan belajar mengajar di rumah. Kita sering menyebutnya School From Home atau Pembelajaran Jarak Jauh.

menimbang homeschooling selama pandemi

Menimbang Homeschooling di Masa Pandemi COVID-19




Bagaimana Rasanya School From Home di Masa Pandemi?


rasanya school from home selama pandemi

Reaksi orang tua beragam. Ada yang tenang hingga heboh. Tentu saja masing-masing memiliki alasan.  Chi sendiri sudah membuat satu artikel tentang sikap kami selama masa pembelajaran daring di rumah. 

Setiap rumah tangga memiliki kondisi yang berbeda. Tidak bisa kita langsung menganggap satu pilihan menjadi lebih baik dari pilihan lain.

Sebagai salah satu contoh, di salah WAG pernah terjadi pro-kontra tentang perlu atau tidaknya anak-anak kembali ke sekolah setelah masa PSBB selesai. Sempat ada yang mengatakan, menginginkan kembali ke sekolah di masa new normal adalah orang tua yang tidak peduli dengan anak.

Sebelum pro-kontra semakin memanas, untung saja ada salah seorang yang bersikap bijak. Bahwa ini semua tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi. Bagi kita, ibu rumah tangga yang sudah biasa menemani anak belajar, tentu tidak ragu lagi memilih tetap sekolah di rumah sampai kondisi benar-benar aman.

Tetapi, bagaimana dengan orang tua yang kemudian harus mulai masuk kantor di saat new normal? Ketika masa PSBB, di mana sebagaian besar dari masyarakat berada di rumah aja mungkin belum jadi masalah. Tetapi, ketika orang tua sudah harus mulai kerja lagi, tentu bisa timbul dilema. 

Efektif gak anak belajar sendiri di rumah, karena orang tua sudah harus ngantor? Saat ada orang tua aja bisa jadi ada beberapa drama. Tetapi, memilih opsi masuk sekolah juga bukan pilihan terbaik di saat pandemi masih ada.

Belum lagi kalau bahas tentang kebutuhan kuota yang meningkat berkali lipat serta permasalahan lainnya. Ya memang bisa beragam masalah yang timbul. Dan setiap rumah bisa memiliki cerita berbeda.

Back to Content ↑



Homeschooling Menjadi Pilihan Saat Pandemi


Semakin banyak yang membuat wacana tentang homeschooling. Tetapi, apakah menjadi pilihan yang tepat?

Chi mau mundur ke sekian belas tahun silam. Ketika Keke masuk TK juga belum. Berarti lebih dari 12 tahun yang lalu. Saat itu kami sempat kepikiran untuk homeschooling.

Kami berencana untuk meng-HS-kan anak-anak saat mereka masuk SD. Saking seriusnya niatan itu, kami mulai mencari banyak info dan mempelajarinya sejak beberapa tahun sebelumnya.

Kami memang gak pernah mendadak ketika membahas sekolah. Bahkan di saat HS sudah tidak ada lagi dalam rencana, kebiasaan ini tetap ada. Misalnya, saat ini Keke baru aja masuk SMA. Tetapi, bahasan kami sudah tentang kuliah. Minatnya ke fakultas apa? Mau kuliah di mana? Bahkan Nai yang masih SMP aja kadang-kadang suka diajak diskusi juga tentang kuliah.

Apalagi ketika mulai terpikir homeschooling. Sesuatu yang buat kami masih 'gelap banget' alias gak tau apa-apa. Saat itu masih banyak yang asing juga dengan homeschooling. Gak banyak yang melakukannya, terutama di Indonesia. Makanya kami mencarinya sejak beberapa tahun sebelum Keke masuk SD.

Kami beli beberapa buku tentang homeschooling. Chi udah lupa buku apa aja yang dibeli. Tapi, dulu lumayan susah beli buku dengan tema ini. Makanya begitu tau ada buku tentang HS, kami suka beli aja dulu.

Kami juga gabung dengan komunitas. Memang gak banyak. Itupun kami memilih silent reader karena benar-benar ingin menyimak seperti apa sih keseruannya yang sudah menjalankan HS. Jangan tanya kami gabung di komunitas apa aja, ya. Waktu itu group-groupnya ada di Yahoo Group. Belum kenal sama FB. Chi gak tau apakah group ini masih ada atau enggak.

Dari pengamatan kami, menjalani HS bukanlah sesuatu yang mudah. Tetapi, bukan berarti pula gak akan berhasil. Menjalankan HS harus benar-benar konsisten, disiplin, dan mandiri. Bahkan harus kompak dengan pasangan.

Homeschooling tidak sama dengan School From Home yang sedang dijalani para siswa sekolah formal di masa pandemi COVID-19
 
Homeschooling itu namanya aja yang 'home'. Tetapi bukan berarti sekadar memindahkan sekolah ke rumah. Metode belajarnya gak selalu di rumah. Mereka yang HS justru lebih luwes dengan tempat, media, dan waktu belajar.

Itulah kenapa Chi katakan harus konsisten, disiplin, serta mandiri. Contoh sederhananya nih mungkin kadang-kadang (atau bahkan seringkali) kita mengeluh dengan berbagai peraturan sekolah. Padahal beberapa peraturan justru untuk membuat para siswa menjadi displin. Akhirnya ya banyak siswa yang 'terpaksa' untuk disiplin daripada kena hukuman.

Di dalam praktek HS, mungkin saja hukuman tidak ada. Tetapi, kalau kitanya gak bisa disiplin, malah jadinya merugikan diri sendiri.

Dulu, kami sempat mengumpulkan dan mempelajari beberapa materi pelajaran SD. Padahal Keke masuk TK aja belum. Kami memang ingin mengetahui seberapa mampu mengajarkan anak-anak. Apalagi materi pelajaran zaman sekarang 'kan katanya lebih sulit.

Kalau sampai HS, kami memang bertekad untuk tidak lepas tangan. Meskipun mungkin saja akan membutuhkan bantuan orang lain, tetap saja kami harus ikut ambil bagian.Ya terlepas ada bantuan pihak luar atau tidak, salah satu poin utama HS adalah tentang kemandirian.

Sampai sekarang kebiasaan ini masih berlanjut. Meskipun kami akhirnya memilih sekolah formal untuk Keke dan Nai. Tetap saja, kami terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar anak.
 
Homeschooling juga bukan berarti belajar seenaknya. Tetap aja harus pasang target. Bahkan banyak yang menyusun kurikulum. Dan yang namanya menyusun kurikulum itu ruweeeet!

Kami waktu itu belum sampai menyusun kurikulum. Barus sebatas mempelajari beberapa kurikulum, khususnya yang ada di Indonesia. Biar bagaimana pun kan tetap harus punya target. Apalagi kalau sampai gak cocok dengan HS, tentunya harus mempertimbangkan apakah tingkat kemampuan anak sudah sesuai atau belum.

Kalau kami perhatikan, mereka yang memutuskan HS itu biasanya satu keluarga ikut terjun dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM). Berbeda dengan pilihan sekolah formal. Tidak semua orang tua mau atau ikut turun dalam KBM karena merasa sudah menjadi tanggung jawab guru di sekolah untuk mengajarkan anak-anaknya.

Di HS tidak seperti itu. Dari mulai memutuskan untuk HS, membuat kurikulum, mengajarkan anak, mencari tempat untuk anak-anak bisa ikut ujian, dan lain sebagainya dilakukan sekeluarga. Makanya harus kompak.

Belum lagi kalau menghadapi pertanyaan orang lain atau keluarga besar. Waktu itu aja kami sudah mebayangkan harus siap bila ditanya atau bahkan ditentang oleh keluarga besar bila kami memutuskan HS. Hal-hal kayak gitu juga bisa bikin lelah lahir batin.

Dulu kami juga pernah bikin blog yang nantinya khusus diisi dengan konten catatan perjalanan homeschooling Keke dan Nai. Tetapi, karena memilih sekolah formal, blog tersebut kami 'matikan'.

Kalaupun kami akhirnya memilih sekolah formal memang karena sudah melalui banyak sekali pertimbangan. Itupun last minute banget. Di saat banyak sekolah swasta sudah mulai melakukan penutupan pendaftaran. Termasuk sekolah yang kami pilih untuk Keke dan Nai. Alhamdulillah mereka dapat SD yang bagus dan cocok.

Bukan berarti kami menganggap HS itu jelek, lho. Justru kami respek dengan para praktisi HS yang konsisten. Kami pun sampai sekarang masih suka terinspirasi dengan semangat mereka. Salah satunya ya dengan tetap ikut anak dalam kegiatan KBM anak.



Back to Content ↑


Kembali ke Sekolah di Masa New Normal


kembali ke sekolah di masa new normal

Apakah homeschooling menjadi pilihan terbaik saat pandemi?

Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Karena semuanya kembali ke kesiapan masing-masing orang tua.

Chi memang sudah lama tidak mengikuti perkembangan homeschooling. Bisa jadi apa yang dijabarkan di atas sudah ada perubahan. Praktisi homeschooling pastinya lebih tau tentang hal ini.

Banyaklah bertanya dan belajar dari para praktisi homeschooling sebelum membuat keputusan

Chi paham banget kok keresahan para orang tua bila harus menyekolahkan anaknya di saat wabah ini masih ada. Apalagi di Indonesia saat ini grafik positif  corona masih terus meningkat. Serta tingkat kesadaran dan kedisiplinan masyarakat akan menjalani protokol kesehatan yang ketat masih meragukan.

Chi juga merasakan keresahan yang sama. Tetapi, Chi juga gak mau terburu-buru memutuskan homeschooling atau tidak. Apalagi khususnya untuk Nai, tahun ajaran depan Insya Allah naik ke kelas 9.

Seandainya Keke dan Nai masih usia balita, mungkin kami bisa lebih cepat membuat keputusan. Mungkin kami akan memilih menunda sekolah aja. Paling gak selama setahun, deh. Kalau memungkinkan ya sampai vaksin corona ditemukan.

Tetapi, kalau udah pada remaja begini, opsi menunda atau cuti sekolah sepertinya gak mungkin. Mendikbud Nadiem Makarim di akun IG @masmenteri menginformasikan kalau tahun ajaran 2020/2021 tetap dimulai pada tanggal 13 Juli 2020.

jadwal tahun ajaran sekolah saat wabah corona

Tahun ajaran baru di saat pandemi berarti kegiatan belajar mengajarnya yang resmi dimulai. Sedangkan masuk sekolahnya menjadi wewenang pemda setiap provinsi dan gugus tugas. Bila zona di wilayah tersebut sudah aman berarti sudah bisa kembali ke sekolah. Bila belum, maka KBMnya tetap menggunakan metode pembelajaran jarak jauh.

Di DKI Jakarta, mulai 6 Juni 2020 sudah masuk fase PSBB transisi. Beberapa aktivitas mulai boleh dilaksanakan dengan memenuhi beberapa syarat.

Untuk kegiatan kembali ke sekolah itu masuk ke PSBB transisi fase 2. Fase pertama aja baru mau dilaksanakan bertahap. Itupun bila grafik corona kembali naik, maka harus kembali ke masa PSBB. Berarti fase kedua belum pasti kapan akan dilaksanakan.

Siap-siap aja deh kembali ke School From Home dulu. Saat ini, Keke dan Nai sedang PAT (Penilaian Akhir Tahun). Karena masih pandemi, ujian akhir ini dilakukan secara online.

Hingga saat ini, homeschooling masih jadi opsi terakhir. Kami lebih memilih untuk terus sounding tentang pentingnya protokol kesehatan ke anak-anak. Agar mereka tidak lalai bila suatu saat harus kembali ke sekolah.

Sounding tentang protokol kesehatan tidak hanya kami lakukan di saat wacana new normal mulai digulirkan. Kami sudah melakukannya sejak masa karantina. Meskipun selama kurang lebih 3 bulan ini anak-anak di rumah aja, tetap aja sounding dan diskusi tentang corona termasuk protokol kesehatan dilakukan.

Bukan kami tidak peduli dengan kesehatan anak-anak sehingga lebih memilih opsi kembali ke sekolah daripada homeschooling. Kesehatan jelas hal utama. Makanya, obrolan tentang ini sudah kami lakukan sejak pandemi masuk ke Indonesia. Kami pun sangat tegas dengan hal ini. Bersyukurnya lagi, Keke dan Nai juga tetap patuh untuk di rumah aja.


Keke dan Nai juga termasuk anak yang tertib. Kalau suatu saat harus kembali ke sekolah atau keluar rumah, rasanya mereka gak keberatan untuk terus menggunakan masker dan berbagai protokol kesehatan lainnya.

Malah Nai mah sebelum ada pandemi juga sudah terbiasa pakai masker. Apalagi kalau sedang batuk pilek. Gak perlu disuruh-suruh lagi, udah langsung kesadaran sendiri pakai masker. Dan rasanya untuk seumuran mereka udah gak mungkin ada cerita tuker-tukeran masker, ya hehehe. Paling agak khawatirnya kalau ada teman-temannya yang usil. Ya semoga aja pada gak menganggap remeh hal ini.

kembali ke sekolah di saat pandemi covid 19

Tetapi, seperti yang Chi katakan di atas kalau sebentar lagi Nai akan naik ke kelas 9. Kalau udah kelas 9 paling belajarnya hanya efektif di semester ganjil. Selebihnya dia akan fokus untuk menghadapi ujian. Meskipun kabarnya tahun ajaran depan sudah tidak ada UNBK. Tetapi, tetap aja akan ada penggantinya yang Chi sendiri belum tau bentuknya seperti apa.

Kalau kami memilih homeschooling akan lebih banyak sekali adaptasi yang harus kami lakukan. Iya kami, tidak hanya Nai. Tentu kami harus membuat kurikulum. Mencari informasi bila Nai akan ikut ujian persamaan. Pokoknya akan lebih banyak yang kami lakukan.

Belum lagi pelajaran zaman sekarang susah banget. Waktu anak-anak masih SD, Chi masih bisa mengajari mereka dengan mudah meskipun banyak yang bilang pelajaran anak SD sekarang tuh sulit. Bahkan Chi merasa anak-anak gak perlu bimbel. Cukup belajar di sekolah dan ditambah dengan belajar di rumah bersama bunda.

Tetapi, setelah mereka SMP dan SMA, Chi mulai puyeng sama pelajarannya. Apalagi kalau udah pelajaran hitung-hitungan kayak matematika dan fisika. Sampai sekarang Chi memang masih suka bantuin. Tetapi, udah jauh lebih lambat kecepatannya. Setiap kali ada tugas yang mereka gak mengerti, Chi selalu harus belajar lagi seluruh materi yang ditugaskan.

Karena mulai kesulitan, Keke mulai bimbel di kelas 9. Sekaligus persiapan UNBK. Kalau Nai rencananya baru mulai. Tetapi, dia pernah bilang gak mau. Alasannya enakan diajarin sama bunda. Hadeuuhhh ... bukannya Chi gak suka ngajarin anak. Hanya saja mendingan tetap bimbel juga hehehe.

Setidaknya dengah SFH masih bisa tanya ke guru sekolah. Kalau homeschooling kami harus belajar lebih mandiri lagi. Khawatirnya kami malah tidak sanggup dan keteteran. Seharusnya Nai sudah fokus belajar untuk masuk SMA, malah nanti jadi berantakan. Ujung-ujungnya kan yang kasihan dan jadi korban malah Nai.

Dulu, kami hanya menimbang berdua. Tetapi, karena anak-anak sudah remaja, udah bisa diajak diskusi tentang metode belajar yang pas buat mereka.

Metode school from home memang masih jauh dari kata sempurna. Kalau Chi sih menganggapnya ini metode dadakan. Ya gimana gak dadakan, begitu pandemi masuk ke Jakarta, dalam beberapa hari kemudian KBM di sekolah pun mulai diliburkan diganti pembelajaran jarak jauh.

Cuma tahu doang yang enak digoreng dadakan hahaha! Sedangkan metode belajar ya gak mungkin juga Chi berharap akan langsung berjalan dengan baik. Wajar banget kalau kemudian terjadi kekacauan.

Banyak yang masih pada gagap. Tidak hanya gagap dalam hal internetan karena mendadak harus mengenal zoom, Google Classroom, atau lainnya. Orang tua banyak yang masih gagap karena mendadak harus menjadi guru bagi anak. Begitupun dengan para guru. Pastinya beda banget lah mengajar di kelas dengan online. Makanya, Chi berusaha banyak maklum dulu aja lah dengan semua kegagapan ini. Namanya juga lagi dalam kondisi luar biasa dan di luar rencana.


Para praktisi homeschooling juga ikut terkena imbas dalam kegiatan belajar-mengajarnya. Bedanya adalah mereka sudah terbiasa untuk luwes menghadapi berbagai keadaan.

Selama pandemi ini, Chi sempat membaca beberapa tulisan dari para praktisi HS. Seperti yang Chi tulis di atas, homeschooling itu bukan berarti mereka hanya belajar di rumah aja. Justru belajarnya bisa di mana-mana. Makanya di saat pandemi ini pun termasuk yang kena imbas. Mau gak mau kan hanya belajar di rumah.

Tetapi, para praktisi HS ini terlihat lebih tenang meskipun juga harus mengalami berbagai penyesuaian KBM selama pandemi. Itu karena mereka sudah terbiasa luwes dengan kegiatan belajar. Makanya lebih cepat beradaptasi dalam keadaan apapun.

Chi pun ikut terinspirasi dengan hal ini. Berusaha membuat kegiatan belajar jarak jauh ini tetap nyaman bagi anak-anak. Termasuk menyamankan diri sendiri untuk berusaha beradaptasi dengan metode belajar seperti ini meskipun masih banyak kekurangan.

Dan mungkin karena merasa nyaman pula makanya Keke dan Nai malah gak pengen balik ke sekolah. Kata mereka, kembali ke sekolah hanyak untuk ketemu teman-teman dan ekskul. Belajarnya tetap di rumah aja hahaha!

Sekarang anak-anak sedang PAT. Sebentar lagi libur sekolah. Biarin deh anak-anak menikmati masa liburannya di rumah aja. Sesekali aja dilibatkan diskusi tentang kegiatan sekolah berikutnya.

[Silakan baca: Berusaha Melupakan PAT]

Sedangkan bagi kita para orang tua, harus banyak pertimbangan sebelum memutuskan. Mungkin setiap orang tua bisa memiliki keputusan berbeda. Yakin deh alasannya pasti untuk kebaikan anak-anak dan keluarga.

Bagi kami, sebisa mungkin anak harus senang ketika belajar. Memang gak mungkin 100% senang, pasti ada lah kesel-keselnya. Tetapi, mau itu sekolah formal atau homeschooling. Setiap keluarga level stressnya bisa berbeda-beda. Yang berhasil di sekolah formal, belum tentu bisa homeschoolingm begitupun sebaliknya.

Jadi pastikan jangan terburu-buru mengambil keputusannya, ya. Fokus saja dengan pilihan masing-masing. Jangan membandingkan pilihan orang lain. Insya Allah, apapun itu akan ada pilihan yang terbaik bagi masing-masing. Aamiin.
libur sekolah di rumah aja saat wabah corona
Anak-anak menikmati liburan sekolah dulu aja setelah selesai PAT. Tetapi, tetap di rumah aja. Gak liburan kemana-mana.

Back to Content ↑

74 Comments

  1. Aku ikutan webinar tentang RumahInspirasi beberapa waktu lalu.
    Blow my mind banget sih Mba, karena memang HS tidak sesimpel itu yhaaaa
    Baca artikel mba Chi ini juga makin bikin keder dgn HS yg "asli" :D
    Walhasil, anakku sekarang sekolah di HS Kak Seto aja dah heheheheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau HS Kak Seto semacam semi HS, ya. Saya pernah ke sana waktu anak-anak kecil. Tetapi, memang semua udah disiapkan seperti kita kalau sekolah

      Hapus
  2. aku merasa sekali bedanya perkembangan belajar Darell anakku saat belajar dari rumah, rasanya lebih baik dan bagus hasilnya ketimbang belajar di sekolah. jadi sempat ada pertimbangan untuk melakukan home schooling deh, hanya suamiku gak setuju

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu, Mbak. Harus ada kesepakatan bersama, minimal sama pasangan

      Hapus
  3. Bener teh segala sesuatu ada plus minusnya begitu juga tentang home schooling ini. Sebenernta secara konsep aku lebih suka home schooling jadi anak bisa belajar sesuai keunikan mereka, kebutuhan mereka dan minat ama bakat mereka. Wong anaknya ga sebanyak di sekolah jadi bisa lebih fokus ke anaknya. Cuma masalahnya aku blum siap dengan konsekuensi home schooling ini teh ortu jadi penanggungjawab penuh pada pendidikan anaknya, ga dibantu ama pihak sekolah hahaha. Blum sanggup aku, tkut kehilangan me time dan aktualisasi diri aku wkwkwk 😂. Tapi anak aku yang kecil memang stimaulasi ama aku di rumah. Rencananya langsung masuk SD aja atau nti sekolahnya TKB aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun sempat berpikir begitu hehehe. Ya memang harus banyak pertimbangan, deh. soalnya bisa mempengaruhi masa depan juga

      Hapus
  4. Anak sekolah di mana - mana belum berangkat, ya?

    BalasHapus
  5. Kalau saya coba bikin sekolah versi rumah, jadi wpagi hari dan malam tetap digunakan untuk belajar, tapi itu pun semampu saya dan disesuaikan dengan kondisi anak-anak. Terpenting, target-target mereka mempelajari sesuatu terpenuhi. Hal yang sulit itu saya cering gagap dan cari cara menerangkan yang tepat biar mereka enjoy dan mudah menyerap palajarannya, hahaaa!. pusing bangeeeet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk toss dulu, deh. Memang ngajarin anak tuh suka bikin jumpalitan

      Hapus
  6. Hai Mbak Chi, awal rencana sekolah dibuka juga aku berusaha untuk paham. Soalnya ibuku mengeluh selama adekku school from home yang ngabisin kuota internet dan sebagainya. Tapi ya gimana keadaan juga belum memungkinkan untuk kembali ke sekolah karena pandemi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Setiap keputusan pasti ada plus minusnya. Apalagi saat pandemi begini kayaknya bukan keputusan yang mudah

      Hapus
  7. Betul, masalah setiap rumah tangga itu beda-beda, jadi ya tidak bisa menghakimi pilihan masing-masing.

    Bagi saya sendiri, homeschooling itu beraaaat sekali, meski sampai sekarang saya tetap menjalankannya untuk anak-anak. Butuh suntikan semangat setiap saat supaya tetap berjalan untuk bisa meraih target yang telah kami tetapkan bersama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap semangat ya, Mbak. Insya Allah akan dilancarkan dan sukses

      Hapus
  8. Rasanya sungguh complicated, padahal anakku baru tk doang tapi berasa banget waktu kemarin itu kegiatannya lebih banyak DIY dan sudah mulai belajar persiapan SD jadi emang ibunya harus ekstra sabar. Hahahahaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mulai stok sabar dari sekarang hihihi

      Hapus
    2. Hehe.. Semangat Mbak, ternyata jadi guru di rumah sulit ya

      Hapus
    3. Lumayan drama bagi beberapa orang tua :)

      Hapus
  9. Anakku yg SMA sudah selesai PAT nya, terima raport nanti tgl 20 secara online. Tapi tgl 16 harus ke sekolah mengembalikan buku perpus dan buku2 paket. Duh deg-degan juga nih jadinya kalau anak2 harus ke sekolah, apalagi sudah lama gak ketemu teman-temannya, pasti kangen. Takutnya malah berlama-lama di sekolah hiks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Harus benar-benar dikasih tau dan diingatkan

      Hapus
  10. even aku blm punya istri apalagi anak. mungkin kalo aku ada diposisi seperti org tua skrg mungkin akan mempertimbangkan HS sih sementara ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saat ini banyak yang mempertimbangkan HS

      Hapus
  11. Denger kata Home Schooling dari jaman sekolah dulu, ada beberapa temen ku yang akhirnya justru ngambil Home Schooling, alesannya karena jadwal diluar sekolah formal yang padat merayap hehe. Tapi apapun itu HS atau sekolah formal, semuanya sama2 bikin cerdas anak bangsa hehe ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sebetulnya semua pilihan bagus. Tinggal bagaimana menjalaninya

      Hapus
  12. Tentang HS ini lagi hits banget jadi bahan pembicaraan juga diskusi para orangtua khususnya para ibu yah Mbak. Ngga bisa dibilang juga HS baik/buruk krn beda keluarga beda kebutuhan beda kesanggupan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, semua kembali ke kondisi masing-masing

      Hapus
  13. AKu juga sempat kepikiran nih untuk home schooling tapi belum banyak tanya jadi ilmunya masih kurang. Harus siap ya dengan konsekuensinya apapun pilihannya.
    Orang tua yang anaknya home schooling walaupun ada perbedaan bener banget mereka lebih luwes tinggal menyesuaikan aja ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu. Apapun pilihannya harus siap juga dengan segala konsekuensi

      Hapus
  14. Kutak sanggup anak2 homeschooling chi... hahahha, ada kerabatku yg homeschooling...dan aku takjub sm disiplin yg mrk jalani. Ya ibu, ayah ya anak2nya. Aku tetap sekolah formal ajalah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun begitu. Kalau udha pada gede begini, saya memilih mereka sekolah formal aja :D

      Hapus
  15. Aku tetap membayangkan kalo sekolah mulai masuk dengan aturan baru. Iya sih anak kita mungkin tetap pakai masker, aturan sekolah pasti mewajibkan ini. Tapi masa iya mereka bisa patuh physicall distancing? Biasanya anak-anak tuh suka bercanda sampai tangan megang pundak atau pura-pura mukul gitu, mba.

    Aku yang anak udah kuliah aja ragu melepas ke kampus misalkan udah mulai kuliah tatap muka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya makanya semua pilihan memang ada plus minusnya, Mbak. Homeschooling juga belum tentu jadi solusi terbaik. Kembali ke kemampuan masing-masing mau pilih yang mana

      Hapus
  16. Sama nih Mba, aku jugaa mulai nyusun rencana untuk HS, tapi sementara ini sih masih njajal sistem home education yg simpel, jd kubagi proyek besar untuk 2 anak. ..Target yg satu bisa baca tulis, yg satu lagi kukasih peer2 bacaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa begitu juga, Mbak. Ya memang enaknya dimulai dari hal simple

      Hapus
  17. Homeschooling emang bisa jadi pilihan saat pandemi begini. IMO, menurutku HS ini jauh lebih rempong ketimbang belajar formal di sekolah, ditambah mungkin akan kurang bersosialisasi dengan teman-teman sebaya. Pilihan tetep balik lagi ke ortu masing-masing sih. Hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau tentang bersosialisasi, menurut saya kembali ke karakter anaknya. Ada anak-anak yang bersekolah formal, tetapi sosialisasinya kurang. Mungkin pendiam atau ada alasan lainnya.

      Di sisi lain, anak HS bisa juga malah lebih luas sosialisasinya. Mengingat cara belajarnya kan fleksible dan tidak hanya di rumah. Jadi bisa lebih banyak ketemu orang dari berbagai kalangan

      Hapus
  18. Meskipun anaku belum sekolah tapi kok jadi merasakan apa yg dialami peserta didik, ortu dan guru... Semoga semua kembali normal dan bumi lebih baik lagi ya kak 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saat gak ada pandemi aja, memilih sekolah yang cocok itu ruwet. Apalagi saat pandemi :D

      Hapus
  19. Home schooling and school from home is in this two different things. For us it will be a bit complicated to have a full homeschooling because we work and I believe my kids are so accustomed to have an enabling environment to help them study properly

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Mbak. Meskipun saya di rumah aja sehari-harinya, juga tetap merasa kalau full HS rasanya belum sanggup di saat anak-anak udah remaja begini. Kalau dulu mungkin iya

      Hapus
  20. Aku sempat kepikiran, kalo per Juli nanti anak2 harus belajar di sekolah seperti biasa, Maira mau HS aja. Tapi setelah diskusi panjang sama ayahnya, jadi mikir juga, siap gak kami orangtuanya kalo full HS. Apalagi anaknya gak mau jg di rumah terus. Semoga keadaan kembali baik2 aja ya. Huhu sedih banget kalo bahas2 begini nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sedih banget. Apalago sekarang Nai naik ke kelas 9

      Hapus
  21. Homeschooling ternyata ada kurikulumnya ya kan Mbak? Saya malah dulu mengira kalau orang tua bisa mengajarkan hal apa saja kepada anak saat ikut homeschooling.

    BalasHapus
  22. Saya pribadi merasa belum sanggup, kak..
    Bukan karena mata pelajarannya, tapi mengatur waktunya masih belum sip.
    Kalau ada bantuan dari Ustadzah di sekolah dan semangat dari teman-temannya, anak-anak jadi bangkit kembali.

    Rasa itu siih..yang belum bisa aku tumbuhkan ketika HS.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Time management juga salah satu yang harus dipertimbangkan.

      Hapus
  23. Setuju Mbak, kondisi setiap rumah tangga itu berbeda-beda, tidak bisa disamakan. Keputusan untuk homeschooling juga butuh pertimbangan masing-masing.
    Saya sendiri juga belum berpikir menyekolahkan anak di rumah tapi juga belum siap melepas anak belajar ke sekolah, hehehe

    BalasHapus
  24. Selama masa School From Home ini, daku sudah memastikan kalau enggak bisa ngajarin anak-anak dengan baik (padahal cuma satu juga yang benar-benar didampingi belajarnya, hehehe).
    Suram hidup kalau tanpa guru yang telaten mengajari anak-anak.
    Buat kami, walau aku nggak banyak aktivitas di luar rumah, HS bukan pilihan. Bukan orangtua yang telaten cari metoda belajar yang tepat buat anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toss, Mbak. Nanti kita jadi gak bisa nongkrong lagi di medsos. Eh gimana? hahaha

      Hapus
  25. Ini kepikiran juga sama aku MakChi. Aku kepengen anak-anakku HS Aja. Tapi saat dikasih gambaran gimana aku nsnti kudu telaten, rajin, dan sabar. Aku jadi menciut. Butuh banyak hal deh mau HS ini. Dan aku sepertinya nyerah. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya perhatikan beberapa praktisi HS yang sukses memang biasanya lebih telaten, rajin, dan sabar. :D

      Hapus
  26. Pasti banyak yang masih berat Mak kalo anaknya masuk sekolah di kala pandmei belum benar-benar pergi swperti sekarang ini. Di salah satu WAG saya juga para emak yang anaknya sudah pada sekolah ya pada galau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi, beberapa waktu lalu mendikbud sudah buat keputusan. Sepertinya lumayan meringankan pikiran para emak :D

      Hapus
  27. Bener mb, setiap keluarga punya problem sendiri-sendiri. Ibaratnya, meskipum badainya sama, tapi kapalnya beda. Sehingga penanganan untuk bisa bertahan juga sudah pasti beda. Mau sekolah formal atau HS asal semua dilakukan sepenuh hati, pasti hasilnya maksimal. Selalu ada jalan bagi yang sungguh-sungguh mencari. Semoga pandemi segera usai..aamiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.

      Jadi siapkan yang terbaik berdasarkan pilihan masing-masing

      Hapus
  28. serba repot mbak memang mbak.
    bagaaimanapun pendidikan anak anak juga harus dipikirkan
    dan HS ini adalah salah satu solusinya
    dan kalau masalah sosialisasi. ini kembali ke anak dan keluarganya
    tidak harus di sekolah formal mereka masih bisa melakukannya dengan baik asal tebiasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mas. Solusinya memang kembali ke kondisi masing-masing. Tentang sosialisasi pun mau sekolah formal atau HS bisa sama baiknya

      Hapus
  29. Sama banget nih pemikirannya mbak Myyra dengan aku. Dulu udah siap lahir batin HS eh tapi karena ortu tidak mendukung akhirnya kami mengalah. Eh sekarang malah jadi SFH. Setuju banget kita jangan keburu nge-judge para ortu yang memilih anaknya kembali ke sekolah (we never know what the reason is).

    Saat ini aku masih menunggu keputusan dari sekolah anak-anak, berharapnya sih sekolah tetap menjalankan SFH paling tidak sampai tahun depan biar aman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya ini. Kalau ada di keluarga yang gak setuju pun bisa bikin lelah lahir batin. Kemungkinan bisa ditentang terus

      Hapus
  30. Wah ternyata nggak semudah yang dibayangkan yaah kak HS itu, ada banyak yang harus dipersiapkan dan dipikirkan tentunya. Aku aja semenjak pandemi ngajarin keponakan pusing hahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. KAlau HS harus lebih banyak stok sabarnya kelihatannya hahaha

      Hapus
  31. Salut banget dengan orang tua yang mampu mengelola home schooling dengan baik dan benar sesuai kurikulum. Kayaknya kalau saya sudah nyerah duluan, selain ilmu nggak cukup, stok sabar juga nggak cukup. 😅

    BalasHapus
  32. Aku sama suami sempat diskusi juga soal ini. Soalnya dengan karakter anak kedua yang memang berbeda dari kakaknya, kepikiran buat homescholing. Cuma belum tanya-tanya juga. Semoga nanti deh diskusi lagi sama suami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penting banget bisa kompak dengan pasakan kalau memutuskan HS

      Hapus
  33. Homeschooling sangat penting dilakukan ketika pandemi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum tentu juga. Sekolah formal pun bisa sama pentingnya. Sekarang tinggal bagaimana kondisi dna kesiapan masing-masing aja

      Hapus
  34. Iya bener, Mba. Kelemahan saya kalau HS itu tidak bs disiplin. Karena kadang terabaikan kalau saya sendiri pas lagi ada kerjaan. Sama satu lagi persis kayak Mba Myra, agak keteteran kalau soal MAT. Kutaksanggup. Hiks skrg cuma bs berdoa semoga wabah cepat berlalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi semakin tinggi tingkatannya, pelajarannya semakin susah, termasuk math. :D

      Hapus
  35. Dulu aku pernah mau HS in anak mba. Tp setelah dipikir2 amat sangat dalam , sepertinya tidak jadi dilanjutin :D. Tau diri banget aku dan suami ga bakal mungkin bisa konsisten begitu. Apalagi sampe menyiapkan kurikulum dan lainnya.

    Sudahlah, serahkan ke ahlinya kalo keputusan ku :D.

    Anaknya bos ku 2-2 nya HS. Dan salut mereka bisa sukses banget skr sebagai pengusaha bakery. Pgn sih tanya lebih detil ke si bos, tapi kok yaa tetep ngerasa itu bukan cara yg bisa aku lakuin di rumah. Walopun skr mau balikin anak ke sekolah kok ya berat juga :(. Lagi kepikiran apa aku bayar guru tetep aja utk DTG ngajarin anak2 :D. Msh mnding begitu sih kalo aku...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Memang harus dipikirkan panjang untuk memutuskan homeschooling hehehe

      Hapus
  36. I should thinking about that too Mba for Annasya but I am need more
    stronger references and support

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^