Begini Cara Berkomunikasi dengan Remaja - Keke Naima

Rabu, 17 April 2019

Begini Cara Berkomunikasi dengan Remaja

Seberapa penting sebuah komunikasi? Menurut Chi sangat penting. Langgeng atau tidaknya sebuah hubungan bisa tergantung dari cara berkomunikasi. Coba aja bayangkan kalau komunikasi kita gak baik dengan orang tua, anak, teman, rekan kerja, dan lain sebagainya. Apa yang akan terjadi? Masing-masing ada cara berkomunikasinya. Begitupun cara berkomunikasi dengan remaja seperti yang Chi lakukan ke Keke dan Nai.

cara efektif berkomunikasi dengan anak remaja

Begini Cara Berkomunikasi dengan Remaja


"Sejajarkan posisi dan tatap mata anak ketika berkomunikasi dengan mereka."

Begitulah teori yang sering Chi dapat tentang cara berkomunikasi dengan anak. Apakah komunikasi dengan cara itu efektif? Iya, pada saat mereka masih kecil. Tetapi, ada beberapa perbedaan ketika berkomunikasi dengan remaja.

[Silakan baca: 3 Kunci Keberhasilan Pola Asuh]

3 Cara Berkomunikasi dengan Remaja secara Efektif


Beri Mereka Ruang

Di usia remaja ada yang namanya masa puber. Pada masa ini, sikap mereka bisa berubah-ubah. Kadang-kadang tanpa alasan yang jelas, mereka terlihat kesal. Beberapa kali Chi jadi terpancing emosi dengan sikap mereka yang begini. Tau-tau dicemberutin padahal gak salah. Diajak ngobrol jawabnya ketus. Siapa yang gak kesel kalau digituin? Tetapi, kadang-kadang mereka juga terlihat sangat manis.

Cara yang efektif itu dengan memberi mereka ruang. Bila mereka sedang terlihat kesal, biarkan sendiri dulu. Chi mulai menahan diri untuk gak langsung bertanya. Tidak seperti saat mereka masih kecil yang langsung mengajak ngobrol 4 mata bila anak terlihat sedih.

Kali ini, Chi berusaha untuk lebih tarik ulur. Memang sebagai ibu suka penasaran banget pengen cepet tau apa yang sedang mereka rasakan. Tetapi, Chi juga ingat kembali ketika masih remaja. Dulu pun kadang-kadang Chi pengen menyendiri tanpa alasan yang jelas. Bila mulai ditanya-tanya malah suka kesel. Jadi, untuk sejenak beri mereka ruang.

[Silakan baca: Masa Puber Bikin Baper]

Berusaha Menjadi Teman

Menjadi teman bagi anak bukan berarti menurunkan wibawa kita sebagai orang tua. Tetapi Chi kembali lagi ingat masa remaja. Kenapa saat itu lebih suka curhat dengan teman daripada sama orang tua? Salah satu alasannya adalah karena tidak ada teman yang bersikap menggurui.

Bukan berarti pula saran seorang teman selalu benar. Tetapi, sikap tidak mengguruinya yang memang cocok untuk remaja. Usia remaja kan lagi tinggi egonya. Darah muda mereka juga kadang-kadang bergejolak. Kalau sering digurui, bisa-bisa malah diabaikan.

Mereka lebih suka diajak diskusi. Didengarkan pendapatnya. Di usia segitu lagi banyak banget ide dan topik lain yang ingin mereka bahas. Belum lagi urusan pertemanan. Bahkan mungkin udah mulai naksir-naksiran dengan lawan jenis.

Itulah kenapa di awal Chi bilang berkomunikasi dengan cara mensejajarkan diri dan menatap mata itu efektif ketika mereka masih kecil. Bagaimana dengan remaja? Belum tentu. Coba aja perhatikan saat remaja ngobrol. Belum tentu mensejajarkan diri dan mata ketemu mata pada saat ngobrol. Mereka seringkali gak peduli itu selama teman ngobrolnya asik atau paling tidak bisa menjadi pendengar yang baik.

[Silakan baca: Jumpalitan dan Tips Menghadapi Anak Puber]

Jangan Kudet

Bukan berarti harus jadi orang tua yang sok gaul juga. Tetapi, paling enggak mau update apa yang terjadi dengan dunia remaja.

Dulu, Chi ngefans sama group band Gigi. Sampai sekarang juga masih ngefans, ding. Tetapi, papah dan mamah suka sebel banget kalau lihat Gigi lagi manggung di tv. Katanya nyanyi kok gak jelas, terlalu lincah gitu. 😂

Mamah dan papah memang gak pernah melarang Chi menonton Gigi. Tetapi, kan gak enak hati juga ketika mendengar komentar gitu. Sedangkan hati kira sebetulnya seneng banget bisa nonton band idola meskipun cuma lewat tv hehehe.

Anak remaja memang kelihatannya gak terlalu suka kalau sering dikritik. Tentu aja orang tua harus mengajarkan mereka untuk mau menerima kritikan. Tetapi, di sisi lain kita pun harus belajar memahami juga ego usia remaja.

Alasan lain kenapa jangan kudet adalah arus yang sangat cepat di era digital ini. Anak-anak sekarang banyak yang lebih akrab dengan dunia digital dibandingkan orang tua. Tetapi, coba lihat trend yang terjadi di media sosial. Bisa berubah dengan (sangat) cepat. Anak-anak lebih mudah pula terseret arus daripada orang tua.

Kalau tidak ingin mereka dengan mudah terbawa arus adalah dengan dengan berusaha mencari tau apa yang sedang trend. Kemudian diskusikan dengan mereka. Sekadar melarang buat Chi jadi kurang efektif. Kemungkinan mereka akan terang-terangan melawan. Tetapi, lebih khawatir lagi kalau di depan kita kelihatan menurut, padahal di belakang melawan.

Salah satu diskusi yang kami lakukan baru-baru ini adalah tentang Audrey. Tau kan yang kasus bullying itu? Sebelum Chi mulai diskusi, ternyata mereka udah tau terlebih dahulu. Ada enaknya juga karena Chi gak perlu menjelaskan lagi kasusnya seperti apa. Bisa langsung mulai berdiskusi. Tetapi, juga harus menjadi catatan. Seandainya tidak ada diskusi, Chi jadi gak tau seperti apa pendapat mereka tentang kasus ini.

Bukan berarti komunikasi Chi dengan Keke dan Nai selalu lancar. Chi pernah marah sama mereka. Bahkan pernah bertengkar hebat hingga beberapa hari gak saling bicara. Tetapi, secara keseluruhan komunikasi kami termasuk baik. Chi merasa bonding dengan anak masih cukup kuat.

Dari pengalaman pribadi, 3 cara itu memang yang paking efektif ketika berkomunikasi dengan anak remaja seusia Keke dan Nai. Tetapi, tetap harus dilihat dari karakter masing-masing anak juga. Jadi, meskipun secara teori ada kesamaan. Tetap aja prakteknya menyesuaikan dengan karakter masing-masing anak.

Teman-teman ada cara lain berkomunikasi dengan remaja? Yuk cerita di sini 😊

[Silakan baca: Peranan Orangtua dalam Pendidikan Seksualitas pada Anak Usia Baligh dan Remaja bersama Ibu Elly Risman]

4 komentar:

  1. Kurleb mirip cara komunikasi Chi dengan yang aku terapkan di rumah. Kalo boleh nambahin, kita juga perlu mempelajari karakter anak mengingat manusia adalah pribadi yang unik. Belum lagi faktor anak perempuan atau laki-laki. Percaya or ngga; urutan kelahiran anak ternyata ikut memberikan pengaruh. Kalau ini mungkin ada faktor dari ortu juga ya? Harus kuakui, waktu punya anak kedua lebih santai karena sudah punyai referensi dari kakaknya, hehehe.
    Pendeknya, jadi ortu ternyata harus belajar terus, benahi diri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di paragraf terakhir sudah saya singgung juga tentang karakter anak. Tetapi, memang hanya seuprit. Terima kasih banyak sudah melengkapi tulisan ini, Mbak :)

      Hapus
  2. Harus banyak belajar gaya remaja masa kini, generasinya beda-beda hahaha,,, moga gak ribut mulu ama bocah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu salah satu tujuan mengetahui cara berkomunikasi dengan remaja, Bang. Biar suasana rumah adem ayem hehehe

      Hapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^