Anak Muda Memangnya Tahu Apa, Sih?

Anak Muda Memangnya Tahu Apa, Sih? Beberapa hari terakhir ini, Chi membaca komen beberapa netizen yang kurang lebih seperti ini, "Anak STM tau apa sih tentang Omnibus Law? Pake ikutan demo segala!" Atau ada juga yang komen kira-kira begini, "Tau-tauan banget masih sekolah ikutan ngebahas UU. Tau apa sih anak umur segitu!"

anak muda memangnya tahu apa
 
Sebelum Chi lanjutkan, harus diketahui dulu kalau tulis ini TIDAK MEMBAHAS pro-kontra Omnibus Law. Tetapi, Chi merasa tergelitik dan gregetan banget dengan kata-kata 'tau apa, sih?' Kebetulan Chi sering menemukan pernyataan ini melalui topik yang panas dibicarakan banyak orang.


Pertarungan Klasik Generasi Tua vs Muda


Ketika sedang menulis postingan ini, Chi menemukan artikel di situs Tirto yang sangat menarik. Judulnya "Mengapa Orang Tua Kerap Menganggap Anak Muda Bodoh?"
 
Ternyata anggapan ini gak baru terjadi sekarang aja. Bahkan menurut artikel tersebut sudah terjadi sejak zaman sebelum masehi. Salah satu contoh sehari-hari yang entah disadari atau tidak, orang tua suka ada yang mengucap, "anak zaman sekarang tuh pada malas. Abis terbiasa segala serba instan."

Bisa jadi pendapat tersebut ada benarnya. Tetapi, disayangkan kalau sekadar nyinyir dan tanpa memberi saran yang membangun, apalagi mengeneralisir seolah-olah semua anak muda seperti itu. Ya gak heran kalau kemudian anak muda juga jadi malas ngomong sama yang lebih tua. Memilih masa bodoh aja dengan semua anggapan tersebut.


Rasa Ingin Tahu Anak yang Sangat Besar


akibat membungkam rasa ingin tahu anak

Ketika Keke dan Nai masih kecil, mereka banyak sekali bertanya. Dari satu pertanyaan bisa nyambung ke pertanyaan lain. Ada aja yang ditanyakan. Sampai rasanya rangkaian pertanyaannya lebih panjang dari gerbong kereta hehehe.

Chi rasa pada umumnya semua anak kecil memang seperti itu. Rasa ingin tahunya sangat besar. Sehingga segala yang dilihat dan dirasakan selalu ditanyakan.

Memang ada kalanya kita lelah menjawab semua pertanyaan anak. Wajar banget kok merasa begitu. Tetapi, sebagai orang tua juga selalu berusaha menstimulasi supaya anak mau bertanya. Karena itu anak yang berani bertanya dan mengeluarkan pendapat tandanya kritis dan cerdas.

Makanya, Chi suka heran aja ketika ada anak yang berani mengungkapkan pendapat malah dibilang sok tau, diremehkan pendapatkan, dan lain sebagainya. Bukankah ketika mereka masih kecil, kita juga sebagai orang tua yang ingin punya anak cerdas?
 
 
Saat ini sudah era digital. Gak heran lagi deh kalau anak-anak zaman sekarang lebih cepat paham dengan yang serba digital. Bahkan untuk anak kecil sekalipun. Beda dengan angkatan yang jauh di atasnya. Masih banyak yang gaptek.
 
Zaman dulu, informasi yang kita dapat paling dari keluarga dan kerabat. Sedangkan media bisa dari koran/majalah, radio, atau televisi. Itupun gak sebanyak sekarang jumlahnya.

Kalau sekarang, bisa unlimited informasinya. Cukup buka internet aja, informasi udah bisa dapat banyak banget. Memang jadinya seperti 2 mata pisau. Ada sisi positif dan negatif. Tetapi, dengan banyaknya akses informasi, gak menutup kemungkinan anak jadi lebih tau daripada orang tuanya. Terlepas dari apakah yang diketahuinya itu benar atau salah.


Anak Muda dengan Darah Mudanya


cara mengajarkan anak berpikir dan mengemukakan pendapat

"Tapi, kan ada juga anak muda yang asal bicara. Mereka gak cek dan ricek dulu, tapi langsung percaya hoax."

Iya ada. Banyak kok yang begitu. Jangankan anak muda, yang sudah berumur aja ada yang seperti itu.

Tetapi, kita semua pernah muda, kan? Mungkin pernah merasakan jadi anak muda yang semangatnya masih tinggi. Darah muda masih suka bergejolak. Memang akhirnya ada yang grasa-grusu.

Kalau pun mereka melakukan kesalahan silakan aja dikritik. Sebagai orang tua biasanya lebih punya banyak pengalaman bagaimana bersosialisasi dan mengeluarkan pendapat. Beri nasihat bagaimana menyatakan pendapat dengan benar. Bagusnya lagi beri mereka ruang untuk berdiskusi. Pokoknya, jangan 'dimatikan' semangatnya dengan mengatakan 'anak muda tau apa, sih?'  atau semacamnya.

Usia muda itu masa-masanya berekspresi. Banyak pendapat dan ide yang menarik dari anak muda. Kadang-kadang Chi gak selalu nimbrung. Cuma perhatiin Keke atau Nai lagi ngobrol ma teman-temannya aja udah menarik,
 
Makanya, suka gregetan deh Chi kalau ada yang meremehkan kayak gitu. Karena Chi juga pernah remaja. Sebel aja kalau digituin. Biasanya kalau ada yang menganggap sok tau, Chi gak akan melawan. Tetapi, memilih untuk melipir dan diam. Gak mau lagi diskusi atau ngobrol sama yang suka meremehkan hihihi.

Sekarang, Chi punya 2 anak remaja. Berdasarkan pengalaman jadinya gak mau memperlakukan mereka seperti itu. Biar mereka merasa nyaman berdiskusi dengan orang tuanya. Chi juga senang kalau mereka mau terbuka.


Di Balik Sikap Keke yang Terlihat Santai


buku intelligent investor

Beberapa kali Chi menulis status di FB tentang Keke yang santuy banget. Suka ketiduran saat lagi belajar di sekolah maupun PJJ. Nilai akademisnya juga beragam. Dari yang jelek sampai bagus. Komplit! Memang kalau sekadar tau dari status, terkesan Keke itu anak yang terlalu santai, masa bodoh, bahkan mungkin senang bermalas-malasan.

Padahal sebetulnya gak begitu juga. Keke sejak dulu berani mengeluarkan pendapat. Salah seorang gurunya di TK pernah bilang kalau Keke dikasih kesempatan untuk presentasi di depan kelas bisa gak berhenti. Dia lebih suka ngomong daripada menulis hehehe.

Kalau di sekolah ada kegiatan debat, Keke suka meminta teman-temannya yang bikin materi. Nanti dia yang maju untuk debat. Keke juga pernah ikut demontrasi tentang lingkungan hidup.
 
Ada sedikit cerita lucu ketika Keke baru masuk SMP. Wali kelasnya bilang kalau Keke terlalu kritis. Menurutnya anak-anak yang pintar berbahasa Inggris memang lebih berani mengungkapkan pendapat. 

Sebetulnya kami heran, apa hubungannya pintar berbahasa Inggris dengan berani mengeluarkan pendapat. Kami katakan ke walasnya kalau di keluarga kami memang komunikasinya terbuka. Anak bebas mengemukan pendapat apapun asalkan masih dalam batas kesopanan. 
 
Begitupun ketika Keke duduk di bangku SD. Para guru justru senang dengan anak yang aktif mengemukakan pendapat. Ya kebetulan juga SDnya bilingual. Jadi anak-anak juga dibiasakan berkomunikasi dengan bahasa Inggris. 

Meskipun demikian, kami minta maaf juga kalau Keke dianggap terlalu berani mengemukan pendapat. Akan kami evaluasi lagi. Awalnya Keke sempat uring-uringan. Tetapi, perlahan dia belajar bagaimana menghadapi orang lain atau lingkungan yang ternyata berbeda-beda. Belajar untuk menjadi lebih luwes tanpa harus membungkam pendapatnya.

Foto yang paling atas itu 2 buku milik Keke. Meskipun terlihat santai, dia senang membaca buku-buku dengan tema yang berat versi bahasa Inggris ataupun Indonesia.

"Keke hanya tertarik membaca dan mencari tau apa yang Keke mau."

Itu jawaban Keke ketika Chi tanya kenapa suka baca buku dengan tema berat, tetapi nilai akademisnya beragam. Chi setuju dan bisa memahami jawabannya. Tetapi, juga sedikit menasehati supaya jangan terlalu memilih. Harus mau mempelajari juga hal lain meskipun terlihat kurang menarik. Ya setidaknya jangan terlalu bersikap gak mau tau.

Contohnya kayak belajar sejarah. Buku sejarah Iwo Jima versi bahasa Inggris menjadi buku yang terakhir tuntas dia baca. Kemudian lanjut ke buku The Intelligent Investor. Tetapi, nilai sejarah Keke di raport sekolah termasuk yang paling kurang. Ya itu karena dia masih memilih-milih sejarah mana yang dia suka. Dan ada beberapa faktor lain misalnya cara mengajar guru dan sebagainya.
 

Rasa ingin tau Keke juga beragam. Gak hanya tentang sejarah dan ekonomi. Tetapi, kalau dia lagi penasaran dengan sesuatu ya bakal terus dicari tau. Gak apa-apa, lah. Namanya cari ilmu kan gak hanya di bangku sekolah. Biar juga dia belajar mencari apa yang akan menjadi minatnya. Apalagi sebentar lagi kan mau kuliah.

Insya Allah, beberapa bulan lagi Keke berusia 17 tahun. Tidak hanya akan memiliki KTP. Tetapi, dia juga sudah bisa ikut memilih.

Walaupun baru beberapa bulan lagi, bahasan tentang politik juga sudah kami lakukan di 1-2 tahun terakhir. Menurut kami, memang bagusnya jangan menunggu anak berusia 17 tahun dulu baru diajarin supaya melek politik. Kadang-kadang kami gak sepaham. Tetapi, rasanya gak pernah sampai meruncing apalagi sampai mengeluarkan julukan-julukan yang selama ini terjadi di medsos.

Asik-asik aja ma Keke. Chi dan K'Aie juga rasanya gak pernah meremehkan pendapat anak. Jadi mungkin hal ini juga yang bikin anak menjadi nyaman.

Jadi, anak muda memangnya tahu apa?

Tahu banyak banget! Coba aja ajak mereka ngobrol. Pendapat anak muda kadang-kadang suka out of the box. Bahkan bisa jadi kita juga akan banyak belajar dari mereka.
 
[Silakan baca: "Bun, Boleh Ikut Demo?"]

Posting Komentar

46 Komentar

  1. Jaman now ya...anak-anakku masih usia SD juga kadang nanya2 seputar politik..Berat euy hahha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya, kan. Tadi juga saya nonton CNN, pengamat politik di US cerita kalau anaknya yang usia 5 tahun aja udah suka nanya-nanya tentang pilpres :D

      Hapus
  2. Iya mbk bener banget, termasuk orang tua saya juga sering bilang "kamu tau apa sih dengan urusan orang tua". Kayaknya emang sudah menjadi pemikiran orang tua deh. Padahal anak muda itu kan punya semangat untuk tau dan untuk maju.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Kalimat-kalimat seperti itu bisa 'mematikan' semangat untuk berpendapat

      Hapus
  3. Bener. Anak muda sekarang kepo an, kadang jd sotoy, tapi pikiran dan argumen mereka bikin kita menganga krn gak biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena sumber info yang mereka dapat juga jauh lebih banyak.

      Hapus
  4. anak - anak muda memang naturenya begitu ya mba.. penasaran, ingin tau, semngat mengeksplorasi dan memang mencari 'bentuk' mau jadi apa dia nantinya.. kalau aku yang penting komunikasi berjaan lancar. Bo et Obi juga suka banyak pertanyaan dan kerap sibuk dengan tugas dan dunianya, but we keep them on the ground

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena kita juga pernah muda ya, Mbak. Jadi harus dijadikan pelajaran supaya jangan meremehkan anak muda hihihi

      Hapus
  5. Bener buangeeettt ini, Mak!
    Ya ampuun, I feel you, karena anakku kan ABG juga.
    Beneran gimana yhaa, sering bikin emaknya terkaget2 :D
    Ternyata kita memang belajar banyak dari anak ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Saya juga banyak banget belajar dari anak. Gak selalu anak yang belajar dari orang tua

      Hapus
  6. AKu tuh suka takjub sama anak2 muda zaman now. Lihat anak2ku sendiri aja, mereka yang kelas 7 dan 10, masa lebih paham penggunaan HP kamera dengan pro, tau cara pake power point tanpa diajari. Mereka ternyata belajar sendiri melalui Youtube. Berarti orangtua ga boleh menyepelakan keingintahuan aanak2 yang begitu besar. Main gadget ga melulu nge-game. Merek eksplorasi. Sama halnya dengan adik2 mahasiwsa yang mungkin lebih tau isu2 politik dibandingan dengan orangtua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia, Mbak. Justru kita yang harus bisa bersikap terbuka dengan sikap mereka, ya

      Hapus
  7. Yaampun keren banget anaknya mbak, bacaannya berat begitu hehehe.. Kata orang, kepribadian kita terlihat salah satunya dari jenis bacaan. Keren, keren, Kak Keke. Salam dari anakku yang masih balita.Hehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dia santai, tetapi suka bacaan yang berat juga. Seimbang, lah hehehe

      Hapus
  8. aku banyak belajar mba dari anakku, meski usianya masih muda banget justru membuatku banyak belajar ilmu sabar, ikhlas, dan menyayangi dengan tulus

    BalasHapus
  9. Di keluarga saya juga berkomunikasi secara terbuka. Serupa dengan pendapat Mbak Chi, kalau pendapat anak itu mesti didengarkan. Supaya mereka belajar mengeluarkan pendapat. Dan yang pasti bisa lebih terbuka kepada orang tuanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak juga jadi nyaman kalau komunikasinya dihargai, ya

      Hapus
  10. Setuju banget, Mbak Chi.
    Saya pernah nyimak tausiyah sessorang. Pas dia dan orang tua lain (yang notabene seusia saya)bilang, "Anak sekarang serba instan, mau enaknya saja, malas blablabla." ..... Langsung deh kuputuskan gak mau ikut tausiyahnya lagi. Rupanya cara pandanngnya belum bijak. Sebel.juga saya waktu itu. 😪

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk sering juga saya dengar pendapat begitu. Padahal generasi instan bukan berarti jadi pemalas kan, ya

      Hapus
  11. meski santuy ternyata keke sebenarnya punya banyak keingintahuan yg tinggi ya mbak...
    memang gaya belajar anak beda beda ya mbak, meski santuy bukan berarti g bljr

    BalasHapus
  12. Hahahaa ya bener mba. Anak anak bahkan lebih tau apa yang kita ketahui. Ini penting. dan memang ga banyak anak yang berani mengemukakan pendapatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak berani mengemukakan pendapat bisa jadi karena takut atau merasa gak nyaman

      Hapus
  13. Tapi justru skearang banyang orangtua yang belajar teknologi lewat anak ya, jadi gak selamanya tuh anggapan anak muda lebih bodoh dari orangtua.
    Bener banget stok pertanyaan anak kayanya gak ada habisnya apa aja ditanyakan. Bacaannya Keke berat juga nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itulah kenapa aneh aja kalau masih meremehkan anak muda

      Hapus
  14. GA bisa diremehkan anak muda jaman now tuh, kadangn aku pun banyak belajar dari anak dan mentemen yang muda dan berdarah muda. Sungguh keren, wawasan luas dan kritis yaaa.
    Jadi aku percayaa juga Chi bahwa anak muda tau segalanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Anak muda banyak yang keren wawasannya

      Hapus
  15. Najwa udah mulai kayak gitu Mbak. Umurnya 9 tahun dan beneran dia hanya belajar yang dia suka. Misal sejarah, dia sangat semangat belajar sejarah bangsa lain, bukan bangsa sendiri, huaaaa, pas ditanya sejarah negaranya dia ng-blank, padahal ibunya nge-fans sama Bung Hatta, haha. Kalau menurutku anak sekarang itu memang penuh kejutan tapi memang gak boleh lepas pantauan. Soalnya mereka itu banjir info, jadi harus dibantu memilih info yg bermanfaat buat mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget. Kita memantau dan menjaga aja. Banjir info kan efeknya bikin ngeri kalau gak bisa difilter. Tetapi, jangan sampai meremehkan mereka

      Hapus
  16. Bacaannya berat Ke hahaha
    Aku malah sekarang bacanya dongeng anak2 wkwkwkw
    Tapi emang pas msh sekolah dulu aku juga baca buku2 kek gtu juga sekadar pengetahuan. Mumpung beban hidup belum berat amat pas jd dewasa ya mbak hahaha
    Kalau anak cowok tu cenderung emang santai gak sih?
    Kyknya temen2 cowokku dulu jg gtu, eh pas gede mereka ngegas pol dlm karir dll, sementara aku yg keliatannya dulu rajin kek gini2 aja #malahcurcol wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi, dia suka ketiduran saat lagi belajar wkwkwk. Saya juga setelah punya anak jadi ganti buku bacaan. Lebih banyak baca buku cerita anak

      Bisa iya, bisa juga enggak. Nai juga termasuk nyantai. Meskipun kadang-kadang ada ambisiusnya

      Hapus
  17. Anak muda sekarang makin kece dan kreatif malah. Aku pernah tuh dibilangin gitu, anak muda memang tahu apa? Akhirnya yang bilangin gitu sekarang minta ngajarin anaknya juga hehe.

    BalasHapus
  18. Wuih Keke keren. Berat bangeeet bacaanya. Aku aja gak sanggup deh baca buku begitu. Keke ini, tipe-tipe cowok idaman cewek-cewek deh ih. Di balik kalemnya, banyak kejutan. Lanjutkan Keke. Sukses ya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Mbak. Saya juga gak sanggup baca buku begini :D

      Hapus
  19. Senangnya...
    Orangtua senantiasa belajar untuk menjadi teman, sahabat dan pendengar yang baik bagi anak-anak. Apalagi ketika mereka mulai bertumbuh menjadi pribadi yang mature.

    BalasHapus
  20. Persiapan nih buat saya pas besokbesok si sulung masuk usia remaja, jadi anak muda. Sekarang aja rasanya sering dibuat takjub sama pemikirannya. Gimana besokbesok kalau udah jadi remaja yaa~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah anak akan tumbuh kembang dengan baik. Bila orang tuanya mau belajar memahami

      Hapus
  21. Anak muda justru harus distimulasi keberanian untuk mengemukakan pendapat. Yang perlu untuk ditanamkan agar imbang, adalah kesantunan dalam menyampaikan pendapat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget, Mbak. Tugas orang tua untuk mengajarkan anak supaya seimbang. Bukan malah meremehkan mereka

      Hapus
  22. Setuju mb, anak muda itu motor penggerak perubahan. Bahkan negara kita merdeka pun ada peran pemuda di sana. Sehingga proklamasi terselenggara. Memang tidak bisa digeneralisir kalimat itu. Karena ada juga anak muda yang kadang sok tahu dan ga mau tau. Yang sudah berumur ada juga yg gitu..hihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah iya sebetulnya dalam sejarah pun anak muda punya peran yang gak remeh. Tetapi, di sisi lain juga ada pertarungan klasik itu

      Hapus
  23. Rasanya Nano-nano kayanya ya Mba, kebayang bagaimana Keke deh dari gambaran postingan ini. Sersan lah anaknya tapi masih punya visi dan misi. Kereen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, setiap anak memang punya keunikan masing-masing

      Hapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^