Buat Apa Sekolah?
Nai: "Bunda, Ima cita-citanya gak mau jadi illustrator lagi, ah. Ima mau jadi ibu rumah tangga aja."
Bunda: "Kok, tiba-tiba berubah? Alasannya apa?"
Nai: "Ya, pengen ajah."
Bunda: "Gak mungkin dong cuma kepengen aja. Harus ada alasan."
Nai: "Gak ada, Bun. Ima cuma kepengen ajah."
Bunda: "Masa' sih? Atau Ima lagi bosen ngegambar, ya?"
Nai: "Enggak, Buuun... Enggak. Emang kenapa sih harus pake alasan segala?"
Bunda: "Ya, abis tiba-tiba aja berubah cita-citanya."
Nai: "Ya gak apa-apa, kan? Ima cuma pengen kayak Bunda aja. Kayaknya enak."
Bunda: "Ooohh.."

Sebetulnya, ketika ngobrol itu, di hati Chi lagi ada perperangan antara ego dan akal sehat. Makanya, Chi coba mengulur-mgulur pembicaraan aja sama Nai. Padahal sebetulnya pengen ngomel hehe.

Ego: "Kalau emang cita-citanya pengen jadi ibu rumah tangga, ngapain juga diniatin sekolah tinggi-tinggi. Belajar aja langsung sama Bunda. Belajar mengurus rumah, belajar masak."

Akal sehat: "Eh! Bukannya sendirinya juga seorang sarjana? Gak masalah kan seorang sarjana akhirnya menjadi full time mom? Malah kamu seringkali bilang ke diri sendiri kalau pentingnya berpendidikan tinggi itu salah satunya adalah membentuk pola berpikir kamu. Lagian, anak-anak kan memang mencontoh orang terdekat. Nai sekarang lagi 'berkaca' ke bundanya. Dia pengen kayak bundanya."

Chi memang akhirnya harus mengeplak diri sendiri. Berkali-kali Chi merasa bersyukur dan gak merasa sia-sia walopun seorang sarjana tapi menjadi ibu rumah tangga saja. Setidaknya pengalaman akademis, bisa membantu membentuk pola berpikir Chi seperti sekarang. Jadi, kenapa Chi malah berpikir untuk gak perlu nyekolahin Nai ke sekolah yang lebih tinggi kalau memang dia nantinya ingin jadi seperti Chi. Ah, anggap aja Chi saat itu lagi galau hehehe..

Sekarang Chi sih santai dan ambil positifnya aja..


  1. Terbukti kalau anak-anak itu memang masih suka mencontoh lingkungan terdekat. Kalau sekarang Nai lagi kepengen jadi ibu rumah berarti dia suka dengan apa yang bundanya lakukan
  2. Chi menikmati kehidupan yang sekarang. Nah, berarti gak ada alasan untuk galau kalau suatu saat pun Nai juga pengen seperti bundanya, kan? :)

Yang namanya ngomongin pendidikan memang selalu menarik dan suka 'panas'. Yang baru-baru ini kita semua tahu, dong. Tentang pro-kontra terpilihnya Menteri Perikanan dan Kelautan, ibu Susi Pudjiastuti. Bukan yang tentang merokoknya, tapi tentang pendidikan akademisnya yang katanya hanya lulusan SMP.

Dari beberapa pro-kontra yang Chi amati (paling tidak di timeline social media Chi), yang kontra ada kekhawatiran dari beberapa orang tua kalau anak-anak akan menjadikan sosok ibu Susi sebagai contoh dalam dunia pendidikan. "Buat apa sekolah? Gak sekolah tinggi aja bisa jadi menteri, kok?"

Menurut Chi, sedikit galau gak apa-apa. Tapi, rasanya gak perlu menyalahkan pihak lain, misalnya dengan mengatakan, "Ini gara-gara bu menteri itu, sih. Anak saya jadi males sekolah!" Di luar sana, banyak sosok terkenal yang sukses tapi secara akademis dianggap kurang berhasil. Sebut saja Mark Zuckerberg, Steve Jobs, Bill Gates, Albert Einstein, dan maish banyak lagi. Trus, kita mau nyalahin mereka semua karena anak malas sekolah? Sementara banyak hasil karya mereka yang kita nikmati?


Sekolah dan Pendidikan Itu Tidak Sama


Yang Chi tau, sekolah adalah salah satu TEMPAT mengenyam pendidikan. Chi sengaja mengcapslock kata tempat, untuk lebih menegaskan. Artinya, sekolah tidak menjadi satu-satunya tempat bagi seseorang untuk mendapatkan pendidikan.

Kita lihat para pelaku homeschooling. Mereka tidak bersekolah di sekolah seperti kebanyakan orang, tapi bukan berarti tidak mendapatkan pendidikan. Mereka terus berusaha menggali dan mendapatkan pendidikan. Ada juga kisah-kisah anak jalanan yang menjadi lebih baik hidupnya walopun secara akademis kurang sukses. Pendidikan tentang kehidupan yang membuat mereka menjaid lebih baik hidupnya.

Chi dan K'Aie juga dulu sempat berpikir untuk homeschooling aja buat anak-anak sebelum akhirnya memilih sekolah formal. Tapi, apapun yang kita pilih atau jalani, bukanlah tentang sekolah atau tidak, tapi apakah mendapat pendidikan atau tidak?


Siap berusaha lebih keras?


"Saya menyekolahkan anak-anak saya ke sekolah terbaik. Sekolah itu penting. Yang gak tamat sekolahnya seperti saya harus bekerja tiga kali lebih keras untuk bertahan hidup," kata Sri Pudjiastuti.

Chi punya buku tentang kisah hidup orang-orang sukses walopun secara akdemis kurang berhasil. Tapi, karena males cari bukunya yang menumpuk di rak, jadi Chi copas aja komen ibu Susi yang banyak beredar di berbagai portal berita. Lebih mudah dicarinya hehe.

Kalau memang sekolah itu gak penting, kenapa bu Susi yang jelas cuma tamat SMP tapi justru tetap menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah terbaik? Kenapa gak justru menyarankan untuk mengikuti jejak ibunya saja? Apalagi bu Susi kan seorang pengusaha sukses, bisa jadi mudah baginya untuk menurunkan perusahaannya nanti kepada anak-anaknya. Dan, anak-anaknya tinggal belajar saja dari ibunya tentang bagaimana caranya berbisnis.

Kurang lebih sama kayak yang Chi ceritain di awal. Kalau Nai memang cuma pengen jadi ibu rumah tangga, ya mending belajar langsung aja dari Chi. Ngapain ribet-ribet sekolah? Ah, untung aja Chi bisa segera menyingkirkan ego itu, ya. Alhamdulillah :)

Oiya, selain ibu Susi, tokoh-tokoh terkenal yang 'kurang' akademisnya juga kesuksesan mereka gak jatuh dari langit. Chi rasa seperti ibu Susi, kerja keras mereka bisa jadi tiga kali lipat dibandingkan kita yang berprestasi akademisnya. Kita siap untuk itu? Kembalikan kepada diri sendiri jawabannya, ya



Attitude Lebih Penting dari Akademis



Mungkin kita juga pernah mendengar komentar, "Ngapain sekolah tinggi-tinggi? Yang penting attitude. Banyak yang sekolah tinggi tapi attitudenya memalukan." Iya, memang bener banyak yang berpendidikan tinggi tapi sayang attitudenya tidak layak untuk dicontoh. Tapi, kalau itu jadi alasan untuk kita gak sekolah tinggi, coba baca tulisan yang ada di gambar atas, deh.

Chi salin di sini, ya. Kali aja gak kebaca tulisannya. Itu tulisan di salah satu halaman novel "Sabtu Bersama Bapak." Novel yang belum juga Chi tulis reviewnya. Padahal itu novel bagus banget :)


"Dalam hidup kalian mungkin akan datang beberapa orang berkata, "Prestasi akademis itu gak penting, yang penting attitude."

Dia terdiam.

"Kemudian mereka akan berkata, "Yang penting dalam membangun karir adalah perilaku kita. Kemampuan berbicara, berinteraksi, bla bla, bla."

Dia terdiam lagi.

"Mereka benar bahwa semua ini tidak ada sekolahnya.

Tapi yang mereka salah adalah bilang bahwa prestasi akademis itu gak penting.

Attitude baik kalian tidak akan terlihat oleh perusahaan karena mereka sudah akan membuang lamaran kerja kalian jika prestasi buruk.

Prestasi akademis yang baik bukan segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain.

Kalian masih kelas 2 SMA. Kalian punya waktu untuk banyak hal. Asah soft kill kalian. Belajar juga demi akhlak yang baik.

Kalau disambungin ke kalimat bu Susi diatas sebetulnya nyambung, ya. Yang gak tamat sekolah harus bekerja tiga kali lebih keras untuk bertahan hidup. Sedangkan menurut novel tersebut, prestasi akademis itu penting karena membukakan banyak pintu. Tinggal setelah itu kitanya mau memperlihatkan prestasi kita yang lain atau enggak?


Pemikiran Anak Gak Salah


Chi beberapa kali bilang kalau anak akan meniru lingkungan terdekat. Tapi, bukan berarti tidak mungkin menjadikan sosok lain sebagai contoh. Nah, sekarang giliran kita gimana menyikapinya. Kalau anak menjadi malas sekolah dan menjadikan para tokoh tersebut sebagai alasan, sebaiknya orang tua jangan langsung uring-uringan. Pemikiran anak seringkali masih sangat sederhana banget. Mereka cuma melihat sosok tersebut gak sekolah tapi berhasil hidupnya. Sesederhana itu.

Tugas kita yang seharusnya menjelaskan. Tentu aja disesuaikan dengan usianya. Jangan usia masih seumuran Nai tapi dipaksa membaca kisah sukses para tokoh yang ukuran bukunya aja udah berat dan isinya tulisna melulu. Belom apa-apa bisa pusing duluan dia. Mendingan diajak diskusi. Kalaupun mau dikasih buku, sekarang kan banyak buku tentang tokoh-tokoh tapi dikemas untuk usia anak.

Jadi, masih ingin menyalahkan? Menurut Chi mending kita berusaha yang terbaik bagi diri sendiri ataupun keluarga, ya. Sesungguhnya mereka yang berhasil adalah mereka yang berusaha. Apapun bentuk pendidikannya :)