Akarnaval 2014 - Gemilang 20 Tahun Anak Akar Indonesia. Akarnaval adalah aksi seni budaya yang diselenggarakan Sanggar Anak Akar dalam mewujudnyatakan visi menjadikan pendidikan sebagai bagian dari gerakan budaya yang menghormati hak dan kemanusiaan anak. Dalam pengertian itu, Akarnaval bukan sekedar acara atau proyek yang berdiri sendiri, melainkan suatu titik dari proses berkesinambungan model pendidikan yang diselenggarakan Sanggar Anak Akar. Dari satu sisi, Akarnaval merupakan pencapaian dari dinamika kegiatan sebelumnya. Di sisi lain, aksi budaya ini merupakan pihajan awal untuk melanjutkan gerak ke depan.

Bertepatan dengan ulang tahun Sanggar anak Akar yang kedua puluh, November 2014, Akarnaval keempat kali ini mengambil tema "Gemilang 20 Tahun Anak Akar Indonesia." Akarnaval kali ini tidak hanya berisi beragam aksi kreatif, tetapi juga diikuti banyak kelompok peserta dari berbagai negara.


Bunda : "Yah, Sanggar Akar bikin pementasan teater. Kita nonton, yuk!"
Ayah : "Kapan?"
Bunda : "Tanggal 25-26 November. Ada yang jam 3 sore atau jam 8 malam. Mau, kan? Pengalaman pertama buat anak-anak juga, nih, nonton teater. Lagian Sanggar Akar kan kata Ayah bagus."
Ayah : "Iya, memang, Tapi, coba nanti Aie ke sana dulu buat ngobrol-ngobrol."
Bunda : "Oke."


K'Aie memang dari dulu  sudah beberapa kali cerita tentang Sanggar Akar ke kami. Tapi, rencana untuk main ke Sanggar Akar, belom juga kesampaian sampe sekarang. Terakhir ngobrolin tentang Sanggar Akar itu belum terlalu lama. Waktu itu, salah seorang temen Chi mengajak nonton pertunjukkan Stomp. Katanya bagus banget pertunjukkan. Bisa jadi pelajaran untuk anak-anak untuk jadi kreatif. Temen Chi udah sekali ngajak anaknya nonton, dan pengen ngajak anaknya lagi nonton untuk kedua kalinya. Saking suka dan bagusnya katanya.


Stomp itu semacam musik jalanan yang merakyat. Dipopulerkan oleh dua seniman Inggris, yaitu Luke Cresswell dan Steve McNicholas sejak awal 1990. Alat musik yang digunakan itu beragam, seperti panci, drum, tiang, sapu, ember, aneka barang rongsokan, dan lain sebagainya. Pokoknya benda apapun bisa digunakan untuk bermain musik. Pertunjukkannya di kemas dalam bentuk teater musikal dan bisa berbalut komedi juga.

Chi sekeluarga belum pernah menonton pertunjukkan live Stomp, baru lewat youtube. Tapi, yakin kalau sampe bisa nonton pasti Keke dan Nai bakal suka. Pengen, siiiih, cuma harga tiketnya itu, lho. Paling murah Rp300.000,00 dan termahal Rp2.100.000,00. 1 tiket aja udah mahal, apalagi kalau kami yang nonton kan harus dikali 4 hehehe. Kapan-kapan ajaaaa kalau ada rejeki lebih dan mudah-mudahan bakal dateng lagi ke Jakarta :D

Ayah : "Nonton Sanggar Akar aja, lah kalau mau lihat pertunjukkan seperti itu."

Kata K'Aie waktu Chi cerita diajakin temen nonton Stomp. K'Aie memang pernah cerita bagaimana anak-anak di Sanggar Akar bermain musik. Pernah lihat juga di youtube. Mirip-mirip Stomp, lah. Waktu ngobrol-ngobrol itu kami berdua belom tau kalau bakal ada Akarnaval. Jadi, Chi kembali minta K'Aie untuk sesekali ajak anak-anak main ke Sanggar Akar. Eh, gak taunya gak lama kemudian ada Akarnaval.. Assiiikk!



Di Akarnaval 2014 ini ada beragam acara. Dari beragam acara tersebut, ada 2 acara yang bikin Chi tertarik, yaitu

  1. Festival Perkusi - pagelan musik perkusi yang dirancang dalam format festival dan diikuti lebih dari 100 perkusionis dari berbagai daerah baik yang bersifat tradisional maupun modern
  2. Pagelaran teater musikal "Sayap-Sayap Mimpi" - Mengangkat kisah nyata Sanggar Anak Akar

Sayangnya kedua acara yang pengen dilihat itu berlangsung di hari kerja. Yang festival perkusi, hari Jum'at. Pagelaran teater musikal hari Selasa dan Rabu. Kalau begini, Chi harus pilih salah satu. Gak mungkin K'Aie, Keke, dan Nai banyak izin gak masuk kantor dan sekolah. Pilihan pun jatoh ke pagelaran teater musikal.

Sebetulnya apa sih Sanggar Akar itu? Dan, kenapa Chi kepengen banget ngajak anak-anak nontong pertunjukkan Sanggar Akar?


Cikal bakal Sanggar Anak akar adalah program open house untuk anak-anak pingiran yang dikembangkan oleh sebuah organisasi non pemerintah pada tahun 1989. Anak pinggiran yang dimaksud adalah anak-anak jalanan, anak pemulung sampah, anak-anak urban pekerja kota, dan anak-anak pengasong yang tinggal di pemukimanyang tidak kondusif untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

Kenyataan hidup anak-anak menggerakkan niat kami untuk mengembangkan open house menjadi program ruang aman dan nyaman bagi anak-anak.Gagasan pun diwujudkan dengan mendirikan Sanggar Anak Akar pada November tahun1994. Tujuannya saat itu adalah menciptakan rasa aman dan nyaman supayaanak-anak dari berbagai kelompok saling berinteraksi dan setiap anak berani mengekspresikan gagasan dan kemampuannya.


Sumber: http://www.sanggaranakakar.org/index.php?go=sejarah

Alasan Chi untuk mengajak Keke dan Nai adalah ingin supaya mereka melihat kalau anak-anak yang (katakanlah) kurang beruntung hidupnya pun bisa mempunyai karya nyata yang sangat positif dan berprestasi.  Chi juga pengen Keke dan Nai belajar lebih bersyukur lagi dan semakin berkaca dengan melihat perjuangan dan karya anak-anak Sanggar Akar.

"Kenapa, sih, gak boleh? Temen-temen aja boleh. Kan, gampang tinggal ambil ATM?" Seperti itu salah satu rengekan dan menggampangkan sesuatu ala Keke dan Nai.

Ya, mungkin seperti itulah gambaran sikap anak-anak pada umumnya. Keke dan Nai kadang paham kalau diajak bicara tentang bagaimana mencari uang itu harus bekerja keras. Tapi, ketika mereka sedang sangat menginginkan sesuatu kadang mereka jadi lupa. Aneka rengekan pun keluar, permintaan harus dikabulkan sesegera mungkin. Dikiranya tinggal ambil di ATM atau gesek credit card, semua permintaan akan terpenuhi. Apalagi kalau pas mereka lagi merengek minta sesuatu, trus Chi atau K'Aie bilang lagi gak ada uang. Tapi, kemudian mereka melihat orang tuanya beli gorengan atau belanja lainnya. Wesss, tambah kenceng rengekannya. Plus protes, "Katanya gak puang, buktinya itu beli gorengan!". Mereka kadang suka lupa kalau beli gorengan sama permintaan mereka itu harganya udah jauh berbeda hehehe.

Ya, namanya juga anak-anak. Apalagi ditambah dengan lingkungan mereka yang umumnya menengah ke atas. Bahkan ada beberapa yang tergolong sangat mampu. Trus, kalau denger cerita Keke dan Nai atau mengamati pergaulan mereka, ada beberapa yang terkesan menggampangkan permintan. Pokoknya kepengen ini-itu, tinggal minta, dan beres. Plus beraneka cerita 'wah' lainnya. Tentunya Chi semakin harus mengingatkan serta menjaga Keke dan Nai, agar jangan terbiasa selalu melihat 'ke atas'. Atau menjadi anak yang minderan karena permintaannya belum dikabulkan.

Caranya adalah dengan memberi nasehat, mengajak mereka berdiskusi, atau melihat pemandangan lain seperti mengenalkan mereka dengan Sanggar Akar ini. Keke dan Nai memang harus juga belajar melihat 'ke bawah'. Alhamdulillah, pada dasarnya mereka berdua masih anak-anak yang baik. Masih mau bersyukur, mau nurut, dan juga berprestasi. Kalaupun sesekali ada rengekan atau ngambek karena permintaannya gak langsung dituruti, anggap aja itu wajar. Mereka masih anak-anak dan artinya mereka masih punya emosi. Siapa sih yang suka ditolak? Hehehe. Yang penting terus diarahkan aja. Jangan sampe berlebihan ngambeknya.

Hari yang dinanti pun tiba. Kemaren sore, kami menonton pertunjukkan Sanggar Akar. Yipppiee! Bagus bangeeeettt! Gak sia-sia dan gak menyesal Keke dan Nai sampe bela-belain gak sekolah hehehe. Kami sekeluarga puas banget nontonnya.

Cerita komplitnya dilanjut di postingan berikutnya, ya. Nanti Chi akan cerita tentang hal-hal di bawah ini


  1. Deg-degan karena jalanan yang macet banget (wadoooww! Jakarta gak pernah brenti macet, ya! Hehe)
  2. Sempet ada sedikit 'salah paham' tentang harga tiket. Bikin deg-degan juga hehe
  3. Makan di kantin mahasiswa IKJ
  4. Pertunjukkan sanggar akar yang sangat bagus
  5. Ngobrol-ngobrol sama beberapa orang Sanggar Akar, termasuk sama sutradara "Sayap-Sayap Mimpi" setelah pertunjukkan selesai *pengalaman plus yang gak Chi duga sebelumnya hehehe
  6. Kunci mobil sempet hilang. Untungnya ketemu. Kalau enggak, gimana kami pulaaanngg??

Oiya, ini juga pengalaman pertama buat Keke dan Nai untuk nonton teater. Alhamdulillah, selain suka, Keke dan Nai juga sudah bisa tenang selama pertunjukkan walaupun tanpa popcorn dan minuman. Ya iya, lah. Emangnya nonton bioskop hehe. Ya, pokoknya di postingan selanjutnya, ya. ;)