Wali kelas: "Mama Keke, kalau saya perhatiin sekarang keberanian Keke agak berubah. Dulu waktu kelas 2, kalau disuruh maju ke depan untuk adzan dia selalu mau. Sekarang menolak. Saya bujukin tapi dia tetap menolak."

Itu laporan wali kelas Keke waktu kelas 4 pas lagi terima rapor (lupa semester ganjil atau genap). Wali kelasnya wkatu kelas 4 memang pernah menjadi wali kelas Keke pas kelas 2. Jadi, sudah cukup hapal dengan karakter Keke.

Sampe rumah, Chi langsung tanya ke Keke kenapa pernah menolak pas diminta untuk adzan. Awalnya, Keke cuma bilang "Gak mau ajah." Tapi, setelah tarik-ulur pembicaraan, Keke pun mulai mengaku.

Keke: "Keke malu, Bunda."
Chi: "Malu kenapa?"
Keke: "Keke kalau ngomong R kan kayak gini."

Keke bisa ngomong R, tapi memang agak unik. Banyak yang bilang seperti bule kalau lagi ngomong R. Atau coba kita ngomong kata yang mengandung huruf R tapi lidahnya agak ke dalam. Tetap jelas kedengeran Rnya tapi terasa unik aja.

Selama ini, Keke terlihat cuek aja dengan keunikannya ini. Baru kali itu Chi denger dia merasa malu karena pengucapan R.

Chi: "Kok, malu? Kan, dari dulu memang Keke seperti itu."
Keke: "Abis suka diledekkin."
Chi: "Sama siapa? Sama temen-temen Keke?"
Keke: "Enggak, sih. Cuma sama Nina (bukan nama sebenernya)."
Chi: "Diledekkinnya gimana? Dikata-katain?"
Keke: "Enggak, cuma tiap kali Keke ngomong, Nina suka bilang 'Iiihh, Keke lucu deh kalau ngomong R.' Keke kan jadi malu, Bun."
Chi: "Ooohh... Begituuu... Menurut Bunda, Nina itu gak ngeledekkin. Mungkin dia suka lihat Keke ngomong R. Ngegemesin. Lagian, Keke kan sahabatan sama Nina. Jadi, maksud Nina pasti becanda."

Saat itu, Keke dan Nina memang lagi deket banget. Setiap hari chattingan. Dan, Chi tau semua obrolan mereka. Jadi, Chi rasa Nina memang cuma pengen becanda. Cuma mungkin Keke udah ada rasa malu. Entah karena dia suka sama Nina, atau memang sekedar malu aja.


Kelas Lima

Beberapa waktu lalu, sekolah Keke dan Nai mengadakan audisi untuk perlombaan Spelling Bee antar sekolah. Nai kelihatan agak kecewa karena tidak terpilih. sedangkan Keke justru mengaku jawabannya sengaja disalah-salahkan supaya gak terpilih.

Bunda: "Kok, begitu sih, Ke?"
Keke: "Keke males ikutan lomba, Bun. Malu."
Bunda: "Kenapa malu? Biasanya Keke berani."
Keke: "Gak ah. Malu ajah."

Kemaren, sekolah Keke dan Nai mengadakan berbagai lomba untuk menyambut Muharram. Keke ikut lomba membaca Al-Qur'an

Chi: "Gimana tadi lombanya, Ke?"
Keke: "Keke grogi, Bun."
Chi: "Grogi kenapa?"
Keke: "Malu."
Chi: "Kok, bisa? Ini kan bukannya pertama kali Keke ikut lomba di sekolah. Trus tadi baca Al-Qurannya banyak salah, dong?"
Keke: "Enggak, sih. Cuma tetep aja grogi."
Chi: "Penyebabnya?"
Keke: "Banyak yang nyorakinnya Keke. Masa' begitu nama Keke dipanggil untuk lomba, banyak banget yang teriak 'Yeeeaaayy, Keke!!' Keke kan jaid malu, Bun."
Chi: "Peserta lain juga begitu kali. Banyak yang nyorakin."
Keke: "Perasaan enggak, deh. Ada yang namanya dipanggil, gak disorakin. Ada juga yang disorakin, tapi kayaknya gak seheboh pas nyorakin Keke, deh."
Chi: "Ya itu artinya banyak yang mendukung Keke. Harusnya Keke semakin pede kalau banyak yang dukung begitu."

Chi gak melihat pertandingannya. Jadi, gak tau persis, apa memang benar gak semua anak disorakin dengan heboh seperti yang Keke ceritain. Atau hanya perasaan Keke aja saking groginya. Tapi, persamaan dengan kejadian waktu kelas 4 adalah Keke sudah mulai punya rasa malu dan grogi.

Lalu, apa yang harus Chi lakukan?


Merasa malu itu wajar

Malu dan grogi itu perasaan yang wajar. Artinya, Keke itu manusia yang punya perasaan. Sekarang tinggal bagaimana mengajarkan Keke untuk mengelola rasa itu. Pokoknya jangan sampai berlebihan. Terlalu pede atau terlalu grogi, sama gak bagusnya.


Cari tahu penyebabnya

Di usia Keke sepertinya mulai ada rasa malu ketika melakukan sesuatu. Malu karena disorakin (padahal sebetulnya mendukung), malu karena seseorang yang disukai ngegodain, malu karena alasan lain. Rasanya cepat atau lambat semua itu bisa terjadi sama Keke. Bahkan mungkin ke Nai, suatu saat nanti. Cari tau penyebabnya.


Tarik-ulur kayak main layangan

Kadang anak suka gak mau langsung ngaku apa penyebab. Mungkin malu, mungkin takut, mungkin penyebab lainnya. Tarik-ulur aja. Lihat situasi hati dan keadaan.


Jangan menghakimi

Kalau sudah tau apa penyebabnya, coba jangan menghakimi. Besarkan hatinya, kalau dia pasti bisa. 'Suntikan' lagi rasa percaya diri kepadanya.


Chi juga grogian, trus..?

Sebetulnya, Chi juga grogian kalau disuruh ngomong di depan umum. Bisa keringet dingin dan gemeteran.  Lebih baik Chi nulis panjang lebar di blog hehehe. Tapi, bukan berarti trus Chi bisa langsung membiarkan begitu aja kalau sampe Keke dan Nai grogian juga, kan? Chi akan terus berusaha keras supaya Keke dan Nai gak ngikutin jejak Chi. Chi rasa bisa. Selama ini mereka termasuk anak-anak yang berani mengutarakan pendapatnya di kelas. Berani presentasi juga. Jadi, kalau sesekali merasa malu dan grogi mungkin karena ada penyebabnya. Tapi, berarti mereka bisa kembali menjadi anak yang berani lagi.

Keke cerita kalau sekarang dia udah mau lagi kalau disuruh adzan. Keke juga berjanji untuk mencoba menghilangkan rasa malu dan groginya itu. Semoga aja. Hal-hal seperti ini memang harus terus diasah dengan latihan.Semangat lagi, Nak! :)