Mari lanjutin perjalanan lagi :D

Balik dari melihat goa yang Chi gak tau namanya itu, kami pun istirahat di penginapan. Chi dan K'Aie duduk di teras. Chi masih gak yakin kalau hari itu kami akan bisa turun ke goa Jomblang. Sementara Keke dan Nai asik main gadget di dalam penginapan.

Gak lama kemudian, 2 orang mas-mas yang ada di Jomblang Resort saling berseru kalau sinar matahari kelihatannya mulai muncul. K'Aie pun kemudian mengatakan hal yang sama. Gak pake lama, kami pun bergegas. Untung belum ganti baju, jadi tinggal pake sepatu bot, harness, dan helm.


Siap-siap turun


Kami pun menuju ke lubang tempat kami turun. Gak jauh, kok, jaraknya dari penginapan. Paling cuma 5 menit jalan kaki. Dan walopun udah pernah lewatin sebelumnya, tetep aja liat lubang yang besaaaaaaarrrr banget (kira-kira berdiameter 50 meter) ada di deket kita itu bikin merinding! Untung Keke dan Nai bukan anak yang pecicilan. Ngeri juga kalau anaknya gak mau diem, lari sana-sini. Bisa-bisa suara Chi soak karena teriak-teriak atau Chi iket aja anaknya hahaha

Update status dulu sebelum turun :p
Kayaknya muka Chi keliatan tegang, ya :O


Setelah rundingan sebentar, diputusin K'Aie duluan yang turun, lalu Keke, trus Nai, terakhir Chi. Gimana rasanya turun ke kedalaman 60 meter, Sodara-sodara??? Pasraaaahhhh... Hehehe. Ya, abis mau gimana lagi.

 
K'Aie yang pertama
Keke yang kedua
Nai yang ketiga. Terakhir, Chi dan gak ada yang motoin :D


Sampe bawah, kami gak langsung masuk goa. Tapi yang kami jumpai adalah hutan purba. Menurut penjelasan Mas yang memandu kami, hutan ini dulunya ada di atas. Karena ada sesuatu hal (seingat Chi karena ada pusaran air di dalam tanah), mengakibatkan tanahnya rubuh dan membentuk lobang tempat kami turun itu.

Hutan purba


Walopun rubuh, tanaman-tanaman yang turun tetap tumbuh. Uniknya tanaman-tanaman tersebut sekarang sudah tidak ada lagi di atas. Padahal usianya sudah tua (makanya disebut hutan purba) Dan beberapa peneliti, termasuk yang dari mancanegara beberapa kali datang untuk meneliti tanaman-tanaman yang ada di hutan purba tersebut.

Kami agak lama ada di hutan purba, karena kemudian ada 2 orang perempuan yang ikut. Awalnya mereka cuma ingin lihat-lihat karena penasaran sama goa Jomblang yang sering mereka baca di internet. Tapi, begitu melihat kami turun, mereka pun langsung pengen ikutan.

Setelah semuanya turun dan mendapat penjelasan dari mas pemandu apa yang boleh dan tidak, kami melanjutkan perjalanan. Jalannya cukup licin. Jangan takut kotor kalau main-main ke sini, ya. Yang jelas dari kepala sampe ujung kaki penuh lumpur semua. Walopun ada mata air buat kami cuci tangan, tapi tetep aja sebentar lagi juga kotor lagi :D

Kami juga harus melewati jalan menurun. Mulut goanya gede banget! Lebih gede dari stadion sepakbola tingginya kayaknya. Sempet becanda sedikit, kayak tempat tinggalnya Flinstone hehehe


 
Nai jalan di depan bersama mas pemandu


Kata mas pemandu, dulu di goa ini dulunya banyak sekali kelelawar, tapi sekarang udah gak tau kemana sejak manusia mulai masuk. Goanya gelap sebetulnya, tapi kemudian mas Pemandu menyalakan lampu (yang jelas bukan lampu listrik). Katanya beberapa waktu lalu ada perusahaan rokok ternama yang syuting iklan di sana. Setelah selesai, peralatannya yang banyak itu (termasuk lampu) ditinggal di sana. Jadi, deh, sekarang suka dipake kalau ada yang masuk ke Goa Jomblang. Gak sampe terang benderang, hanya remang-remang, tapi lumayan membantu, lah.

Gak lama kemudian (paling sekitar 15 menitan jalannya), kami pun tiba di goa Grubug. Iyessss, 'cahaya surga' atau juga dikenal sebagai ray of light yang dinantikan pun menyambut kami. Lihat dulu foto-foto di bawah ini untuk melihat keindahannya, ya *walopun di foto dari kamera seadanya hehe



Bromo memang menakjubkan, Semeru itu megah, tapi Ray of Light Goa Grubug ini bikin Chi SPEECHLESS! Gimana gak speechless, berada di kedalaman 100 meter dengan sinar matahari hanya sesekali terlihat rasanya udah gak bisa berkata-kata lagi.

Ray of light sebetulnya ada di goa grubug, tapi karena kami turunnya dari goa jomblang makanya banyak yang mengenalnya goa jomblang. Sebetulnya bisa aja turun langsung ke goa grubug melalui lobang tempat cahaya masuk itu. Tapi, mas pemandunya bilang kalau sekarang sebaiknya udah jangan ada lagi yang turun melalui goa grubug. Khawatir merusak kelestarian dan goanya.

Goa grubuk berada di kedalaman 100 meter. Jadi dari hutan purba tadi bisa dibilang pelan-pelan kami turun lagi sebanyak 40 meter. Dinamakan goa grubug karena ada aliran sungai di dalam goa tersebut, dan bunyinya terdengar 'grubug... grubug...' karena derasnya. Sebetulnya kami bisa turun ke sungai dan bermain air, tapi karena baru aja hujan, sungai biasanya deras dan kotor airnya. Cukup berbahaya kalau turun saat musim hujan.

Di dalam goa grubug juga ada batu yang dinamakan batu gordam. Batunya besar sekali dan cantik Cantik, karena di sekelilingnya penuh lumpur, batu gordam terlihat putih seperti kapur. Apalagi kalau sinar matahari lagi masuk. Keren!

Batu gordam ini dijaga banget kecantikannya. Kalau kita mau foto-foto di dekatnya apalagi sampe naik ke atas batu, sebaiknya copot sepatu bot dan kaos kaki yang penuh lumpur itu. Pokoknya jangan sampe batu gordam yang putih itu ternoda sama lumpur. Trus kalau baju kita yang penuh lumpur gimana? Nah, ini lagi uniknya. Di sekitar area batu gordam itu basah. Air terus mengucur dari langit-langit goa. Kita jadi basah kuyup seperti mandi hujan kalau dekat batu itu. Jadi lumaya, lah, bisa menghilangkan lumpur-lumpur dipakaian.

Kalau K'Aie sebetulnya melarang kami naik ke batu gordam. Cukup dekat-dekat aja. Karena menurut K'Aie, batu itu terus bertumbuh. Sayang kalau sampe diinjek-injek terus.


Batu Gordam yang terkena sinar matahari
Batu Gordamnya keliatan cantik, kan? :)


Ray of light hanya terlihat dari pukul 10.00 pagi hingga pukul 13.00 aja. Tapi gak terus-terusan kelihatan bersinar. Hanya sesekali aja. Kalau lagi bersinar, goa terang-benderang. Tapi kalau lagi ngumpet mataharinya, lumayan gelap juga. Itupun dengan catatan kalau cuaca cerah. Makanya Chi tadi sempet gelisah kalau matahari sampe gak muncul. Karena yang ditunggu-tunggu, kan, ray of light nya itu.

Setelah puas menikmati 'cahaya surga' (sebetulnya belum puas, sih), kami pun makan siang di dalam goa. Makan siang yang dibawakan sama mas pemandu di ranselnya. Merasakan sensasi juga, nih, makan di dalam goa hehhehe. Tapi inget, ya, sampah jangan dibuang sembarangan. Masukin lagi ke dalam tas. Dibuangnya nanti kalau ketemu tempat sampah.


Makan siang dengan bantuan senter. Menunya sama kayak menu sarapan pagi.


Kami kembali ke rute semla, yaitu ke goa Jomblang. Kembali satu per satu dari kami harus naik. Nai, sempet ngambek di sini. Gara-garanya, mas pemandu minta Nai untuk tandem. Terserah mau tandem sama ayaah atau bundanya. Atau tandem bertiga juga boleh. Tapi, Nai gak mau. Malah dia sampe nangis trus bilang mendingan ditinggalin di hutan ajah! :D

Mulut Goa Jomblang. Perasaan pas turun biasa ajah. Giliran naik, ngos-ngosan


Nai disarankan untuk tandem karena mas pemandu khawatir badan Nai terlalu muter saat ditarik ke atas. Jadi, kira-kira seperti gini... pernah nyobain nimba air di sumur? Kalau kita angkat ember yang penuh air sama ember yang kosong pasti beda rasanya. Tentu aja yang kosong terasa lebih ringan. Tapi, karena kosong jadinya itu ember kegoyang dikit aja bisa muter-muter selama ditarik, kan. Beda sama ember yang berat, posisinya akan lebih stabil.

Nah, itu yang dikawatirin kalau Nai gak mau tandem. Takutnya Nai pusing karena terlalu muter-muter badannya. Tapi, karena Nai ngotot gak mau tandem jadi ya terpaksa deh diturutin permintaannya. Eh, gak taunya Nai malah kesenengan. Gak pusing sama sekali katanya. Malah Keke dan Nai ketagihan pengen turun lagi. Hihihi, kapan-kapan lagi, ya, Nak.


K'Aie kembali jadi orang pertama yang naik, dilanjut Keke, Nai, Chi, terakhir 2 orang perempuan itu.
Beginilah cara kami naik. Pakai tenaga manusia :)


Setelah semua sampe di atas, kami pun kembali ke penginapan. Saatnya mandi-mandi sebelum beberes. Tapi gak taunya... lupa bawa peralatan mandi hehehe. Ketinggalan di mobil. Ya, udah kami bebersih aja pake air, deh. Yang penting udah gak ada lagi yang namanya lumpur-lumpur. Setelah beres, saatnya jalan-jalan ke Jogjaaaaa!!

 
Yang gak nginep di Jomblang Resort tetep bisa caving Goa Jomblang. Nanti mandinya di sini. Bersih dan modern, kok
 Sepatu bot yang penuh lumpur. Sebetulnya gak cuma sepatu, sih, sampe ke baju dan jilbab juga penuh lumpur :D

Oiya, Chi sempet rada gak semangat nulis postingan ini. Karena rekaman video selama kami di sana gak tau kemana. Huaaaaa....

Tips untuk caving goa Jomblang :


  1. Pake baju yang simpel aja. Kaos dan celana kain (usahakan jangan jeans, deh).
  2. Yang berjilbab, pake yang simpel juga. Gak usah yang dibentuk-bentuk. Yang instan lebih enak
  3. Kaos kaki dan sepatu itu harus. Sebetulnya dipinjemin sepatu bot. Tapi waktu itu untuk Nai gak ada ukurannya, jadi dia pake sepatu sekolah
  4. Jangan buang sampah sembarangan, jangan merusak kelestarian, dan jaga sikap, ya :) 
  5. Yang bawa gadget juga hati-hati, deh. Jangan sampe rusak karena kena air. Malah Chi pernah baca di salah satu blog, ada yang kameranya jatuh dari ketinggian 60 meter karena ingin memotret pas lagi turun. DSLR pula. Beuuuggghhh.... Mendingan pake tali pengaman kameranya kalau tetep mau dipake.

Berapa harga menginap di Jomblang Resort dan caving di goa Jomblang? Chi gak tau. K'Aie pas Chi tanya cuma senyum-senyum aja. Bisa jadi artinya harga temen atau malah digratisin sama temennya hehehe. Tapi kalau info yang Chi baca di internet, untuk caving-nya aja itu Rp.450.000,- per orang (sudah termasuk makan siang). Gak tau, deh, kalau sama menginapnya jadi berapa.

Oke, deh, thanks banget buat Cahyo untuk tempatnya. Eits, termasuk sama tempat menginapnya di Jogja juga. Karena di Jogja kami menginap di rumah temen K'Aie ini. Lumayaaann, irit biaya penginapan hehehe. Tapi nanti aja, deh, cerita tentang Jogjanya. Bersambung, ya :)

Untuk yang berminat silakan menghubungi Cahyo Alkantana di 0811117010

Cerita sebelumnya tentang perjalanan ini :

  1. Liburan Setengah Nekat
  2. Gagal ke Masjid Demak
  3. Mencari Penginapan di Semarang, Susah-Susah Gampang
  4. Perjalanan Menuju Bromo
  5. Lava View Lodge - Bromo
  6. Bromo yang Menakjubkan 
  7. Kemegahan Semeru Dari Ranu Pane 
  8. Semalam di Blitar 
  9. Sang Fajar Suite 
  10. Menuju Jomblang
  11. Impian Yang (Terlalu Cepat) Menjadi Nyata  
  12. Jomblang Resort