3 Tips Bijak Mengelola Keuangan Rumah Tangga - Kalau bicara keuangan, Chi suka nyengir sendiri. Paling malas membahas keuangan. Bukan berarti Chi seenaknya menghabiskan uang, ya. Alhamdulillah sejak masih jadi anak sekolah hingga sekarang menjadi ibu rumah tangga, tetap ada yang bisa ditabung meskipun mungkin gak seberapa.

3 tips bijak mengelola keuangan rumah tangga

Kelemahan Chi adalah kalau suasana hati sedang jelek. Pengennya belanja terus. Ini beneran! Sekarang masih mending bisa ngerem. Waktu masih kerja, asalkan lagi bete pasti langsung ngacir ke mall. Beli sepatu bisa lebih dari 1 pasang, beli baju, beli ini-itu, pokoknya segala macam bisa dibeli hanya dalam sekali belanja. Ada rasa puas dan senang saat belanja. Semacam pelampiasan dari rasa kesal. Tetapi, begitu sampai rumah baru sadar dan menyesal. Keselnya malah jadi berlipat-lipat.

Setelah menikah, Chi yang mengelola keuangan rumah tangga. K'Aie setor gaji setiap bulan, kemudian Chi bagi jadi beberapa pos. Lha, ternyata pusing juga. Seringkali bikin Chi pengen tepok jidat sendiri. Pernah kuliah di jurusan Manajemen Keuangan dan Perbankan, tetapi bukannya andal malah malas mengurus keuangan.

Akhirnya urusan keuangan rumah tangga dikelola K'Aie. Chi hanya menerima transferan dengan nominal tertentu untuk uang belanja buat makan sehari-hari dan ongkos sekolah anak-anak. Chi lebih nyaman seperti ini. Diusahakan uang belanja yang dikasih selalu cukup. Tetapi, K'Aie juga bukan tipe suami yang bawel kalau Chi bilang uang belanja kurang. Ya, namanya harga-harga kadang-kadang suka naik, yakan.

[Silakan baca: Pendidikan Literasi Keuangan untuk Anak dengan Kurikulum Cha-Ching]


Laki-Laki Lebih Pintar Mengelola Keuangan Rumah Tangga



Apakah aneh kalau sebagai istri ternyata kurang bisa mengelola keuangan rumah tangga? Padahal di dalam rumah tangga, istri ibarat seorang manajer keuangan. Bahkan Chi pernah mendengar di salah satu televisi, ada seorang publik figur yang bilang kalau istri ibarat seorang menteri keuangan. Artinya di dalam rumah tangga, istrilah yang diharapkan akan mengelola keuangan dengan bijak.

Faktanya, menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hanya 25% perempuan yang mampu mengelola keuangan dengan baik. Persentase ini lebih rendah dari laki-laki. 33% laki-laki dianggap mampu mengelola keuangan dengan baik.

Salah satu penyebab rendahnya literasi keuangan adalah kurang disiplin. Apakah kita termasuk yang suka bikin daftar belanjaan, tetapi begitu masuk mall malah yang di luar daftar juga ikut dibeli? Hayo coba dipikir lagi.

Mungkin Chi belum termasuk yang 25% itu, tetapi bukan berarti berhenti atau cuek dengan urusan keuangan. Tetap aja harus memperkaya ilmu literasi keuangan. Gak ingin kan sampai kejadian baru gajian, tetapi gaji sudah habis dan bikin kita manyun? Atau kalau perempuan juga ingin memiliki bisnis sendiri, tentunya harus punya dasar pengetahuan tentang bagaimana mengatur keuangan.

[Silakan baca: 5 Tips Mengatur Keuangan Rumah Tangga Bagi Pasangan Muda]


3 Tahap Dasar Mengelola Keuangan yang Ideal Bersama Ibu Berbagi Bijak dan VISA


Kamis (30/8) di RPTRA Ciganjur Berseri diadakan workshop dengan tema "Bijak Mengelola Keuangan, Kunci Keluarga, dan Masa Depan Sejahtera". Kita semua pasti memiliki rencana dalam hidup, misalnya ingin traveling ke negara A, menyekolahkan anak di universitas B, Ingin punya bisnis C, dan lain sebagainya. Nah, semuanya itu tentunya butuh dana. Bagaimana caranya bisa mewujudkan semua rencana itu kalau untuk kebutuhan sehari-hari saja rasanya sudah berat?


"Mengelola Keuangan yang baik pangkal kaya."

Teman-teman pasti pernah mendengar ungkapan hemat pangkal kaya. Menurut mbak Prita Ghozie, Financial Educator, hemat aja belum tentu bisa kaya. Malah kadang-kadang suka bikin pusing kalau mikirin hemat terus. Menurut mbak Prita yang tepat adalah 'Mengelola keuangan yang baik pangkal kaya.'

Agar bijak mengelola keuangan rumah tangga, mbak Prita Ghozie memberikan 3 tahap mengelola keuangan ideal yaitu:


Financial Check Up

Financial check up adalah proses menimbang dan mengukur keuangan kita. Mbak Prita mengibaratkan seperti orang tua yang mempunyai anak, sejak lahir anak akan rutin dibawa ke puskesmas atau dokter untuk dicatat tumbuh kembangnya dan diperiksa kesehatannya. Begitupun dengan kondisi finansial seharus rutin dicatat untuk mengetahui apakah kondisinya sehat atau sakit. Mbak Prita bahkan menyarankan kita semua memiliki buku catatan keuangan seperti buku catatan medis.


Mengelola Keuangan

Orang yang sehat akan berbeda dengan orang yang sakit. Begitupun dengan kondisi keuangan. Itulah kenapa melakukan financial check up sebelum mengelola dianggap sangat penting. Jawabannya adalah karena mengelola keuangan yang sehat berbeda dengan yang sakit.


Rencana Keuangan

Tahap berikutnya adalah melakukan rencana keuangan. Perencanaan ini nantinya akan membuat pos-pos keuangan terhadap pendapatan yang diterima.


Sehatkah Kondisi Keuangan Saya?


Hutang

Apakah kita memiliki hutang? Kalau iya. Apakah hutang tersebut berupa cicilan rumah atau cicilan barang konsumtif seperti pakaian? Tau sendiri kan ya sekarang ibu-ibu kalau bikin acara suka pakai dress code hehehe. Kalau cicilannya untuk rumah, maka keuangan kita bisa dikategorikan agak sehat. Tetapi, hutang tidak boleh di atas 30% dari penghasilan.


Gaya Hidup

Berapa besar gaya hidup dan penghasilan? Mana yang lebih besar? Jangan-jangan seperti peribahasa 'Lebih besar pasak daripada tiang.' Seharusnya biaya hidup itu maksimal 1/2 dari penghasilan.


Dana Darurat atau Dana Tidak Terduga

Apakah memiliki dana darurat? Di masyarakat juga ada salah kaprah tentang dana tidak terduga. contohnya pada saat bulan Ramadan. Banyak ibu yang menganggap pengeluaran ta'jil sebagai biaya tak terduga. Padahal itu sebetulnya biaya yang terduka karena setiap Ramadan biasanya ada konsumsi ta'jil.

Dana darurat atau dana tak terduga misalnya untuk biaya kesehatan. Sakit kadang-kadang datang tanpa diduga. Anggaran untuk biaya tak terduga adalah 3x biaya hidup. Misalnya biaya hidup kita 1 juta per bulan, maka dana darurat atau tak terduga sebesar 3 juta per bulan. Tetapi, memang faktanya memiliki dana darurat sebesar itu memang sulit. Apalagi kalau biaya hidup juga besar.


Tabungan dan Investasi

Apakah kita memiliki tabungan? Fungsi tabungan adalah untuk mewujudkan rencana yang diinginkan. Tabungan berbeda dengan investasi. Rencana untuk mudik saat hari raya bisa diwujudkan dengan cara menabung. Sedangkan investasi sifatnya lebih jangka panjang, misalnya untuk hari tua.


Alokasi Pos-Pos Keuangan


3 Tips Bijak Mengelola Keuangan Rumah Tangga

Bukan tentang seberapa besar penghasilan yang dimiliki, tetapi tentang bagaimana mengelolanya.

Mbak Prita mengatakan bahwa gaji kecil atau besar tidak memberi jaminan cukup untuk hidup. Semua tergantung dari bagaimana kita mengelola. Dikasih penghasilan berapapun kalau selalu merasa kurang, maka tidak akan pernah merasa cukup.

Saran lain dari mbak Prita adalah untuk tidak banyak memegang uang tunai. Bila diberi gaji dalam bentuk tunai, maka segera pergi ke bank untuk disetor. Biasanya berapapun uang yang kita miliki akan segera habis bila dalam bentuk tunai.

Alokasi pengeluaran terhadap penghasilan secara persentase adalah sebagai berikut:


  1. 5% untuk sosial, seperti zakat dan lainnya
  2. 10% untuk dana darurat dan asuransi
  3. 60% untuk biaya hidup dan cicilan
  4. 15% untuk investasi
  5. 10% untuk gaya hidup

Biaya hidup dan cicilan dijadikan 1 posnya. Artinya, semakin kecil cicilan yang dimiliki maka biaya hidup semakin besar. Tetapi, tetap persentase cicilan tidak boleh lebh dari 30%. Dan bila cicilan kita sebesar 30%, maka biaya hidupnya adalah 30%.


Menambah Penghasilan Rumah Tangga dengan Berwirausaha


Bila penghasilan suami setiap bulannya masih dirasa belum cukup, istri bisa melakukan salah satu dari 3 hal ini yaitu

  1. Bekerja secara aktif
  2. Menjadi investor, misalnya membeli saham atau lainnya
  3. Berwirausaha


Tips Menjadi Womenpreuner

Hal pertama yang harus digali adalah tentang yang disukai atau passion. Berwirausaha berdasarkan passion biasanya akan berjalan lebih lama. Tidak suka memasak, sebaiknya tidak membuat usaha di bidang makanan.

Setelah mengetahui usaha apa yang akan dibangun berdasarkan apa yang disuka, langkah selanjutnya adalah mengetahui pasar. Apakah usaha yang kita bangun ini ada pasarnya atau tidak. Contohnya adalah bila mendirikan usaha baju renang di perumahan bisa jadi tidak ada atau minim pembeli. Jualan baju renang akan lebih laku bila dijual di area kolam renang atau pantai.

Berwirausaha bukan berarti waktu kita jadi lebih banyak daripada menjadi karyawan. Usaha yang sesungguhnya justru jauh lebih berat daripada karyawan. Menjadi karyawan jam kerjanya lebih jelas daripada pemilik usaha. Sebagai pemilik usaha juga harus terus berpikir bagaimana bisa menggaji karyawan setiap bulan, memberi THR, dan lain sebagainya.

Sangat penting untuk memisahkan antara keuangan pribadi dan usaha. Catatan arus kas juga harus dimiliki. Modal dalam wirausaha terbagi 2 yaitu biaya dan investasi. Ketika berwirausaha harus memahami dan disiplin dalam pengelolaan uang agar tau apakah usaha yang dijalankan itu untung atau rugi.

Modal usaha sebaiknya tidak berasal dari hutang. Kecuali akan melakukan ekspansi atau pengembangan usaha. Laba bersih yang didapatkan dari usaha bisa ditarik untuk dimasukkan ke dalam penghasilan pribadi.

Membahas tentang womenpreneur, di acara ini juga menghadirkan Gladies Rahman, pengusaha kuliner brownies. Usahanya sudah berjalan sekitar 5 tahun. Passionnya terhadap dunia baking membuat Gladies menjalankan usaha ini.

Awalnya Gladies menjalankan usahanya sendiri. Dari mulai membeli bahan, membuat brownies, hingga memasarkan semua dilakukan sendiri. Di masa-masa awal membuka usaha, Gladies bahkan sampai tidak bisa ke mana-mana selain fokus mengerjakan bisnisnya. Semakin berkembang usahanya, maka Gladies mulai mencari karyawan dan mendapatkan partner. Beberapa tips tentang wirausaha yang dipaparkan mbak Prita juga dilakukan oleh Gladies.

Alasan Gladies mencari partner adalah tidak mungkin dia terus menjalankan usahanya sendiri. Suatu saat dia juga ingin travelling atau mungkin sedang sakit. Harus ada partner yang bisa dipercaya menghandle usahanya, terutama disaat kondisi tertentu.

Tips lain dari Gladies adalah tetap mempertahankan kualitas. Brownies yang dijual Gladies berkualitas premium. Bila harga bahan baku meningkat, Gladies lebih memiliki menaikkan harga jual dan menjelaskan ke pelanggan, daripada harus mengurangi ukuran brownies atau menurunkan kualitas bahan.

Jadi, bagaimana? Masih pusing mempelajari keuangan? Semoga enggak, ya. Kuncinya memang harus disiplin. Kalaupun tetap diurus oleh suami, setidaknya sebagai istri udah paham kalau mengurus keuangan memang harus disiplin. Jadi gak ada cerita manyun-manyu lagi ya, Buibu! ๐Ÿ˜‚

Mbak Prita juga mengatakan kalau mempelajari literasi keuangan sebaiknya sejak kecil. Dari mulai anak mengenal uang jajan. Tujuannya agak ketika anak mulai berpenghasilan sudah terbiasa mengelola keuangannya dengan bijak.

Bila teman-teman masih ingin terus belajar mengelola keuangan dengan baik, bisa juga melihat Instagram @ibuberbagibijak. Di sana banyak tips sederhana, tetapi bermanfaat. Yuk, kita sama-sama belajar literasi keuangan.