Bagaimana Mengetahui Potensi Anak? - Keke Naima

Minggu, 21 Januari 2018

Bagaimana Mengetahui Potensi Anak?

tips menemukan potensi anak

Passion sering menjadi topik bahasan antara Chi dan K'Aie. Chi pengen banget anak-anak memiliki passion tapi masih suka bingung.

Bagaimana mencarinya? Bagaimana mengembangkannya? Apakah passion selalu berkaitan dengan bakat? Trus tau anak berbakat dengan salah satu hal dari mana? Bagaimana mau mengembangkan kalau belum tau passionnya apa? Muter-muter aja terus dengan pertanyaan itu.
"Pekerjaan paling menyenangkan di dunia adalah hobi yang dibayar." - Ridwan Kamil
Chi setuju dengan quote di atas. Chi udah merasakan dan melihat sendiri beberapa orang yang menikmati pekerjaan karena hobinya. Salah satunya, ada kerabat yang sejak kecil bertekad untuk bekerja di bidang pariwisata, kemudian tercapai.

Contoh terdekat lainnya adalah K'Aie. Mamah mertua sering bercerita kalau K'Aie sejak kecil senang dengan kehidupan alam. Senang bercocok tanam seperti mamanya. Makanya Chi senang halaman rumah jadi hijau karena hobinya. Senang juga dengan binatang sejak kecil. Ular aja pernah dipelihara. Hmmm ... Kalau sekarang pelihara ular di rumah. Jitak! Hehehe. Sejak SMA ikut ekskul pencinta alam. Dan dilantik menjadi anggota Wanadri setelah lulus SMA.

[Silakan baca: Pendidikan Dasar Wanadri 2014]

Dulu Chi pernah beberapa kali bertanya ke K'Aie kenapa gak pernah melamar kerja di bank atau perkantoran lainnya. Ya pokoknya seperti kebanyakan orang-orang yang ngantor 8 to 5 gitu. Seringkali dijawab dengan nyengir aja, sih. Tapi Chi udah paham arti nyengirnya. Bukan di sana passionnya. Jadi dari dulu sampai sekarang pun kerjaannya berkaitan dengan alam.

Lain halnya dengan Chi. Sejak kecil selalu bilang pengen jadi arsitek. Tapi kalau dipikir lagi, Chi gak pernah tau alasan kenapa selalu ingin jadi arsitek. Begitu lulus SMA, malah bingung mau ke mana. Akhirnya dengan asal-asalan pilih jurusan fakultas ekonomi. Ambil jurusan perbankan pula yang mana sampai sekarang gak tertarik urusan perbankan. Untung di kampus ketemu K'Aie dan berjodoh hehehe.

Lulus kuliah, kerjanya bukan di bank atau yang berhubungan dengan keuangan lainnya. Gak tertarik sama sekali 😂. Singkat cerita, setelah sempat merasakan jadi orang kantoran, resign, trus jadi blogger barulah Chi mengerti nikmatnya memiliki passion.

Tapi seperti yang pernah Chi tulis dulu kalau awal menjadi blogger bukanlah untuk mendapatkan penghasilan. Awalnya hanya untuk menulis diary kemudian setelah sekian tahun baru tau kalau blog juga bisa menghasilkan. Intinya sih kalau udah passion meskipun tidak menghasilkan (baca: mendapatkan uang) pun tetap saja nikmat dijalaninnya. *Etapi mendapatkan penghasilan itu nikmaaaat hehehe

Nilai-nilai Chi saat masih sekolah hingga kuliah, alhamdulillah bagus. Tapi memang Chi akhirnya gak tau mau apa atau jadi apa. Selama ini taunya cuma dapat nilai bagus supaya orang tua senang.  Itulah kenapa Chi pengen banget anak-anak memiliki passion. Ya kalaupun bukan menjadi lahan pekerjaan mereka kelak tapi setidaknya ada kegiatan positif yang bisa dilakukan dengan senang hati. Apalagi zaman sekarang di mana pengaruh dari sana-sini. Harapan Chi kalau anak-anak punya passion yang positif bisa menghindarkan mereka dari berbagai hal yang gak baik.
Mendapatkan nilai bagus tentu penting, tapi memiliki passion juga gak kalah penting.
Bagaimana Mengembangkan Potensi Anak?

Setiap tahun di sekolah Nai rutin diadakan seminar parenting. Gak setiap tahun Chi datang ke seminar tersebut. Tergantung tema dan pembicaranya juga.

Tahun 2017 lalu (1/4) kembali diadakan seminar parenting dengan tema "Pah! Mah! Aku Punya Potensi, Lho." Pembicaranya ada 2 yaitu Prof. DR. H. Arief Rachman, M.Pd, dan Tika Bisono M.Psi.T. MC-nya adalah Farhan. Intinya sih seminar ini membahas tentang cara menemukan potensi anak. Harus ditemukan dulu sebelum dikembangkan ya, gak?

Temanya pas banget dengan apa yang Chi pikirkan selama ini. Tambahan lagi, minat dan kemampuan anak juga kadang berseberangan. Misalnya nih, ada anak yang berminat ingin jadi penyanyi tapi orang tuanya merasa suara si anak fals. Bagaimana orang tua menyikapi hal seperti ini?

Beberapa tahun sebelumnya pak Arief pernah jadi pembicara di seminar parenting sekolah Keke dan Nai. Sosoknya tegas tapi lucu saat membawakan materi. Terlihat juga sifat mengayomi dan kebapakan. Pantes aja, pak Arief termasuk idola saat masih menjadi kepsek di Lab School.

[Silakan baca: Seminar Parenting Pendidikan Karakter Anak]

Sosok beliau sebagai kepsek idola bahkan terkenal hingga keluar Lab School. Chi bukan alumni sekolah itu tapi nama pak Arief udah sering didengar sejak lama. Keren, kan!

Chi juga mengidolakan Farhan sejak lama. Saat dia masih jadi penyiar radio. Kayaknya rame aja kalau Farhan udah siaran. Kalau untuk mbak Tika Bisono, Chi belum pernah melihat secara langsung sebelumnya. Tapi mengingat mbak Tika juga termasuk psikolog yang sudah dikenal lama, berarti reputasinya juga udah bagus, lah.

Eksplorasi Potensi Diri Menuju Sukses

Sadar dan Terencana

Pendidikan adalah sesuatu yang sadar dan terencana. Teman-teman pernah gak mendidik anak dengan cara mengomel? Begitupun para guru di sekolah. Ada juga kan yang memerintah sambil ngomel.

"Main aja terus, lupa belajar!"
"Nilai kamu jelek lagi, ya! Makanya belajar yang bener! Udah disekolahin mahal-mahal juga!"
"Ayo cepet baris. Cepaaaat!"
"Terlambat lagi? Makanya jangan tidur kemalaman!"

Para pendidik (orang tua / guru) yang seperti ini sadar kalau yang dilakukan adalah untuk mendidik tapi tidak terencana. Menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar sangatlah penting, lho.

Berkali-kali pak Arief menegaskan tentang pentingnya menciptakan suasana yang menyenangkan.  Kalau dibalikkan ke diri sendiri, tentu kita pun menjadi tidak suka saat menghadapi suasana yang tidak menyenangkan meskipun yang disampaikan adalah sesuatu yang benar.
"Ciptakan suasana yang menyenangkan pada saat pembelajaran maka potensi diri akan berkembang," ujar pak Arief.
Mengembangkan potensi diri gak hanya untuk anak-anak aja, lho. Pak Arief sedikit membahas tentang kehidupan rumah tangga. Banyak kejadian seseorang yang sudah berumah tangga, potensi dirinya tidak berkembang padahal latar belakang pendidikannya bagus. Bisa jadi penyebabnya adalah karena suasana yang tidak menyenangkan di rumah.

Mudahnya bayangin aja deh kalau suami udah cape kerja tapi dibikin serba salah melulu ma istri. Ngomong salah, diam pun salah. Tiap hari diomelin melulu ma istri. Begitu pun kalau memiliki suami yang otoriter. Istri seperti tidak dianggap. Rumah tangga seperti itu jelas gak sehat. Jadi bagaimana mau mengembangkan potensi diri?

Gadget juga bisa menjadi perusak suasana. Pak Arief bercerita kalau beliau pernah makan bersama istrinya di salah satu resto. Di sana ada satu keluarga tapi sama sekali tidak saling berkomunikasi. Semuanya, termasuk yang masih anak-anak, fokus dengan gadget. Kecuali seorang nenek yang tidak pegang gadget sama sekali.

Kemudian nenek tersebut memilih untuk duduk bersama pak Arief dan istrinya. Alasannya merasa sepi karena anak, menantu, dan cucu-cucunya tidak mengajaknya ngobrol. Bahkan keluarga tersebut juga seperti tidak sadar kalau sang nenek sudah berpindah tempat duduk. Perhatiannya udah pada ke gadget semua.

Pernah gak sih kita melihat suasana, atau bahkan merasakan sendiri kalau lebih dekat dengan asisten rumah tangga, teman, ayah/ibu tiri, atau pihak-pihak lainnya daripada dengan orang tua kandung? Kalau orang tua lagi gak ada di rumah justru merasa senang karena bebas merdeka. Begitu pun saat di sekolah. Saat guru pelajaran tertentu gak masuk, langsung pada sorak-sorak bergembira. Itu karena orang tua atau guru tersebut belum mampu menciptakan suasana yang menyenangkan.
"Tidak pernah ada orang tua yang 100% benar. Orang tua juga bisa membuat kesalahan. Dan kesalahan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk masuk ke dalam kesalahan itu."
Tuh berarti introspeksi dulu kalau merasa anak gak dekat ma kita. Jangan-jangan kitanya yang emang udah menjadi sosok tidak menyenangkan di mata anak. Jadi males aja gitu anak-anak buat dekat. Banyak mencari tahu sebelum berbicara juga dirasa penting menurut pak Arief.

Berbagai alasan bisa menjadi penyebab mengapa suasana menyenangkan bisa terjadi. Misalnya berbagai tekanan dalam dunia pendidikan saat anak akan menghadapi UN. Udah berasa banget kan tuh tegangnya bahkan paling tidak sejak 1 tahun ajaran sebelum UN dimulai. Setiap saat anak dicekoki dengan berbagai soal dan ikut try out di sana sini. Pokoknya hanya belajar dan belajar saja demi nilai UN yang baik.

Tidak hanya UN, sejak kecil anak-anak sudah akrab dengan berbagai ujian. Mau masuk SD aja ada tes calistung. Padahal TK katanya taman bermain dan tempatnya untuk mendidik karakter. Hal ini memang dilema bagi para orang tua dan pendidik. Inginnya memberikan pendidikan karakter tetapi di saat yang sama juga dihadapkan dengan anak yang sudah harus bisa calistung. Ujung-ujungnya anak yang ditekan oleh supaya bisa calistung.

Bila kondisi ini tidak bisa dihindarkan, pak Arief kembali menegaskan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan. Cobalah mengajarkan calistung dengan cara yang menarik. Bikin anak-anak senang. Caranya? Pak Arief menyerahkan semua caranya kepada orang tua dan guru. Silakan kreatif dengan cara masing-masing tapi poinnya anak harus tetap senang.

Pribadi yang Matang


Apakah kita termasuk orang yang gampang mengeluh atau bersyukur? Bayangkan kalau anak setiap harinya harus bertemu dengan orang tua, asisten rumah tangga, guru, teman-teman, dan lain sebagainya yang semuanya lebih banyak mengeluh. Mungkinkah anak tersebut kelak memiliki kepribadian yang matang?

Di sini pak Arief kembali menekankan tentang pentingnya menciptakan suasana yang menyenangkan. Contohnya ada seorang anak baru pulang sekolah langsung memeluk ayahnya. Bukannya dipeluk balik, ayahnya malah menegur dan menyuruh anaknya untuk ganti baju serta menyimpan tas terlebih dahulu.

"Tapi, aku kan kangen Ayah."
"Iya, Ayah juga kangen. Tapi sebaiknya kamu ganti baju serta taruh tas dan sepatu dulu baru nanti dipeluk."

Apa yang terjadi? Anaknya udah ilfil duluan. Padahal berpelukan tidak memerlukan waktu lama, kan? Pasti beda deh rasanya kalau orang tua membalas pelukan anak yang sedang kangen setelah itu baru diminta untuk ganti baju dan lain sebagainya.

Dalam hidup ini tidak ada yang pasti. Semua menjadi rahasia Allah. Tetapi ketidakpastian ini menjadi penyemangat karena sifat manusia yang selalu ingin kepastian. Sayangnya dalam banyak hal, kepastian diukur dalam nilai. Dalam dunia pendidikan, anak yang nilai-nilainya bagus lebih berpotensi untuk lebih dapat dilihat. Padahal mengembangkan potensi anak jangan hanya berbicara nilai tapi juga tentang semangat, keahlian, jujur, berani ambil resiko, bertanggung jawab, sportif, dan lain sebagainya.
"Seseorang yang selama hidup hanya mengejar materi dan nilai, tidak akan mencapai kepuasan. Itulah kenapa penting untuk menggali potensi diri."- Prof. DR. H. Arief Rachman, M.Pd -
Kompetensi Diri

Ilustrasi - Di satu kelas, banyak murid memutuskan untuk tidak mengerjakan beberapa soal latihan/ujian yang diberikan oleh gurunya dengan alasan karena belum diajarkan. Murid-murid tersebut berarti mengenal kompotensi diri, justru gurunya yang tidak. Sudah tau belum diajarkan, kenapa sudah dijadikan bahan ujian? Sudahkah paa guru mengenal kompetensi diri para muridnya?

Jangan pula suka mempermalukan anak, terlebih di depan umum. Masih banyak orang tua atau guru yang suka mempermalukan anak. Pak Arief mencontohkan, ada seorang anak pemalu yang suatu hari berani maju. Bukannya mendapatkan pujian tapi sama gurunya malah dicurigain terlebih dahulu. Kok, tumben berani maju? Kalau kayak gitu, si jadi merasa dipermalukan.

Sering-seringlah menganalisa diri sendiri. Apakah kita sudah jujur? Memiliki semangat belajar? Bertanggung jawab? Dan lain sebagainya. Atau ketika kita sudah menyampaikan sesuatu yang dirasa benar, tetapi merasa tidak didengarkan. Apakah penyampaiannya sudah baik? Sudah benar? Semuanya dianalisa.

Ada 5 potensi manusia yang bisa dikembangkan, yaitu:
  1. "Kuatkan iman ku"
  2. "Haluskan perasaan ku"
  3. "Cerdaskan akal ku"
  4. "Sehatkan badan ku"
  5. "Eratkan silaturahmi ku" 
Intinya sih menggali potensi anak tuh harus paket komplit dan seimbang. Tidak hanya tentang akal aja. Tapi iman, perasaan, badan yang sehat, serta silaturahmi juga harus diperhatikan. Insya Allah, kalau 5 aspek ini terpenuhi, anak pun akan mampu mengembangkan potensinya. Untuk mengembangkan 5 potensi di atas, ada juga 10S pembentuk karakter yang kuat yaitu Senyum, Salam, Sapa, Sabar, Syukur, Sehat, Sugih (Kaya), Semangat, Sukses, dan Surga. 10 S ini juga dapat dipakai untuk menciptakan suasana yang menyenangkan.
Sejatinya, mendidik haruslah menggema. Tetapi gema ada 2 macam yaitu baik dan buruk. Apakah pendidikan dari orang tua / guru akan menggema dengan baik pada diri anak? Atau justru akan membuat anak menjadi benci? Pendidikan yang terbaik tentunya yang akan menggema dengan baik di diri anak.
Sebelum lanjut ke pembicara berikutnya, ada sesi pertanyaan. Pertanyaan pertama berasal dari seorang guru yang bertanya tentang hubungan antara rasio jumlah murid dan guru per kelas serta hubungannya dengan tingkat stress guru. Menurut pak Arief, idealnya memang ada rasio jumlah murid dan guru. Tetapi praktek di lapangan banyak sekolah yang rasio jumlah murid dan guru tidaklah ideal. Dan rasio ini tentu saja bisa berhubungan dengan tingkat stress guru.

Solusinya adalah berusaha fleksible. Guru harus belajar membuat manajemen kelas untuk meminimalkan resiko stress. Jangan semua aktivitas berpusat pada guru. Libatkan siswa untuk aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Buat kegiatan yang menyenangkan. Atau boleh saja sesekali membiarkan anak didik bermain sejenak di kelas asalkan tertib tetapi tetap diawasi oleh guru tersebut.

Ada lagi seorang guru yang bertanya tentang berbagai peraturan di sekolah tetapi kadang masih ada aja orang tua yang tidak paham. Bahkan ada yang begitu membela anaknya meskipun bertentangan dengan aturan sekolah. Pak Arief mengatakan bahwa yang harus dipahami terlebih dahulu adalah meskipun sudah ada aturan belum tentu semua paham. Tidak hanya di sekolah, kok. Di negara pun kita diatur dengan undang-undang tetapi kenyataannya tidak semua masyarakat paham, kan?

Adalah sesuatu hal yang alami kalau ada orang tua yang membela anak meskipun anaknya melakukan kesalahan. Dipahami saja terlebih dahulu dan jangan cepat mencari 'biang kerok'. Kecenderungan manusia ketika ada masalah memang terlebih dahulu mencari biang kerok bukan akar permasalahan.

"Oh, siswa A yang bikin gara-gara? Udah biasa."
"Ibu C mah biasa, deh. Protes melulu."
"Kalau guru B sih udah biasa ngeselin."

Setelah biang keroknya ditemukan dan ternyata pelakunya orang yang sama kemudian, kita pun mulai bersikap cuek. Akhirnya akar permasalahan sebenarnya gak diselesaikan karena merasa udah biasa. Pelakunya dia lagi, dia lagi. Solusinya agar semakin banyak yang memahami peraturan adalah dengan rutin mengadakan pertemuan selain membuat aturan tertulis.

Kegiatan belajar mengajar di sekolah tentunya memiliki target. Tapi pernah gak kita merasa target yang ditetapkan oleh sekolah itu ketinggian? Katakanlah anak kita masih terseok-seok di bab 1, tetapi di sekolah udah masuk bab 2.

Mungkin dan bahkan sering terjadi target sekolah gak klop ma target orang tua. Nah yang sering diabaikan adalah kita tidak melihat seberapa besar proses anak ketika berusaha mencapai target tersebut. Pokoknya melihatnya hanya hasil. Pilihannya cuma 2 yaitu berhasil atau gagal. Dalam pendidikan, proses mencapai target justru yang terpenting. Kan kita sedang mendidik seorang anak bukan membuat produk.

Pertanyaan terakhir datang dari orang tua tentang perlu atau tidaknya memberikan reward bagi anak. Masalahnya dia dan suaminya berbeda pendapat. Suami merasa tidak perlu kalau sedikit-sedikit dikasih reward nanti jadi kebiasaan. Sedangkan istrinya merasa reward itu perlu. Untuk yang satu ini, pak Arief tidak memberikan jawaban tentang perlu atau tidak memberikan reward. Kata beliau, kompakin dulu pemikiran antara suami dan istri. Jangan sampai, apa yang disampaikan pak Arief malah dijadikan amunisi untuk menegur pasangan. "Tuh kan kata pak Arief juga reward itu bla ... bla ... bla ..." Begitulah kira-kira 😁

Cerita Farhan Menemukan Potensi Diri Pada Bisma

Sebelum dilanjutkan ke sesi mbak Tika Bisono, Farhan bercerita tentang Bisma, putra bungsunya. Awalnya Bisma biasa saja, tetapi masuk kelas 2 SMP mulai tuh timbul berbagai masalah. Mulai banyak laporan dari guru-guru di sekolahnya.

Bisma pernah membully teman sekolahnya, malakin temannya, bahkan pernah mengambil uang gurunya sebesar Rp150.000,00. Dengan enteng, Bisma menjawab kalau dia lagi pengen jajan. Farhan dan istri sudah merasa jadi orang tua yang perhatian. Makanya bingung juga kenapa putranya jadi suka membuat masalah. Bisma juga bukan dari keluarga yang kekurangan secara ekonomi. "Padahal uang segitu tinggal minta ke orang tua," kata Farhan. Tapi kenapa juga Bisma masih malakin teman hingga mencuri uang gurunya?

Berkali-kali bermasalah di sekolah, membuat Farhan sudah pada level 'Terserah aja lah Bisma mau diapain.' Farhan udah gak tau lagi harus bagaimana menghadapi putranya. Hingga pada suatu hari, Farhan ditelpon oleh security sekolah kalau anaknya menghilang.

Menghilang di sekolah, rasanya seperti sesuatu yang gak mungkin terjadi. Sejak TK, Farhan selalu menyediakan mobil dan supir khusus untuk mengantar-jemput Bisma di sekolah. Keamanan di sekolah pun cukup. Jadi bagaimana mungkin Bisma bisa menghilang?

Setelah beberapa saat, putranya pun ditemukan. Berada di tembok belakang sekolah bersama sahabatnya sedang melakukan vandalisme. Gambar berukuran 2 x 3 m bertuliskan F*ck dan gambar tentang beberapa YouTuber yang menjadi idolanya saat itu.

Dihukum? Tentu saja. Bisma dan sahabatnya disuruh ngecat tembok sekolah hingga bersih. Kemudian Farhan memiliki ide. Dia menyarankan Bisma dan sahabatnya untuk membuat poster tentang larangan melakukan vandalisme. Dengan semangat, Bisma pun mengerjakan posternya.

Untuk urusan belajar, Farhan juga mengatakan sangat berbeda dengan putranya. Sejak SD, Farhan mengaku rajin belajar. Berbading terbalik dengan Bisma yang kalau belajar harus selalu diingatkan. Itupun pakai nanya, "Harus, ya?" dengan ekspresi yang gak ada semangat.

Tetapi sejak kasus vandalisme, Farhan mulai melihat kalau putranya memiliki ketertarikan dalam bidang seni rupa. Lulus SMP, Bisma masuk ke salah satu SMK seni rupa. Sejak itu perubahan mulai terjadi.

Berada di lingkungan dengan passion yang sama, membuat Bisma betah di SMK. Farhan pun merasa bersyukur dan beruntung karena berbagai masalah yang pernah terjadi mulai lenyap saat Bisma mulai menemukan passionnya.

Menangkap Sinyal Potensi Anak 

Mbak Tika mengawali sesi kedua dengan mengatakan kalau Bisma adalah anak yang cool. Alasannya adalah anak seperti Bisma itu sebetulnya sudah tau apa yang dia mau. Sudah ada dorongan dari diri si anak untuk menjadi dirinya sendiri. Tapi seringkali banyak orang tua gagal menangkap sinyal apa yang diinginkan dan diminati anak.

Melabeli Anak

Orang tua maupun pengajar biasanya lebih mudah menilai sesuatu yang bersifat normatif. Makanya dengan mudah memberi label anak seperti Bisma adalah anak yang bermasalah. Semuanya dinilai dari sisi negatif. Tidak melihat potensi si anak yang sebenarnya dari balik segala tingkah lakunya.
Seringkali anak memberikan pesan melalui perilakunya. Tetapi orang tua atau pengajar gagal menangkap sinyal tersebut. Intinya orang tua dituntut untuk peka terhadap setiap pesan yang disampaikan anak termasuk dari perilakunya.
"Adek namanya siapa?" Mbak Tika menyapa anak kecil yang ikut di seminar tersebut. Si anak tidak menjawab, malah semakin mendekat ke ibunya.

Sering terjadi ketika anak tidak mau menjawab, orang tua akan memaksa. "Adek ayo dijawab. Namanya siapa?" Malah kadang ada orang tua yang sampai kelihatan menekan anak untuk menjawab. Kadang ada juga kan yang pake agak-agak melotot ke anak supaya anak mau jawab.

Menurut mbak Tika hal itu tidak perlu. Setiap anak berbeda-beda. Bisa jadi anak tidak mau menjawab karena sedang membaca situasi dan mengenal dirinya. Tapi orang tua suka khawatir dianggap gak bisa mendidik anak oleh orang lain. Khawatir anaknya dianggap gak punya etika. Jadinya anaknya dipaksa menjawab.

Terkadang biarkan anak menemukan jati dirinya sendiri. Tetapi ketika sedang mencari jati diri dan kemudian berbenturan dengan aturan, sayangnya banyak orang tua yang lebih mudah langsung memberikan label. Anak nakal, gak nurut, bandel, aneh, dan lain sebagainya. Masih banyak orang tua yang belum peka. Banyak kejadian di mana setiap anaknya bermasalah, orang tua bukan berusaha memahami dan menyelesaikan terlebih dahulu. Malah langsung aja semua dikasih ke psikolog.
"Berhati-hati melabeli anak. Orang tua harus bisa melihat anak dalam dimensi yang berwarna," ujar mbak Tika.
Melihat Anak dalam Dimensi yang Berwarna

Sudah berapa persenkah kita mampu melihat anak dalam dimensi yang berwarna? Semakin tinggi persentasenya berarti semakin tinggi kemampuan orang tua untuk menerima anak dalam kondisi apapun. Segala tuntutan terhadap anak akan semakin berkurang.

Semakin banyak tuntutan terhadap anak, maka semakin dianggap belum siap memiliki anak. Anak jadi seperti dicetak menjadi begini begitu. Segala label diberikan bila tidak sesuai dengan apa yang diinginkan orang tua. Orang tua tidak siap melihat anak dalam dimensi berwarna. Sebagai contoh, Farhan dianggap orang tua yang sudah 100% mampu melihat anak dalam dimensi yang berwarna. Dengan perjalanan panjang, akhirnya bisa melihat potensi anak.
"Tidak ada orang tua yang sempurna, begitupun dengan anak. Tetapi masalahnya ketika anak terlihat tidak sempurna, orang tua menjadi kecewa. Sudah siapkah orang tua memiliki anak yang tidak sempurna?"
Racun Kasih Sayang

Ada juga orang tua yang tidak pernah melabeli dan memarahi anak tetapi tetap dianggap salah memberikan kasih sayang. Salah satunya yaitu sikap selalu menyuapi.

Anak harus diajarkan dan dilatih untuk menghadapi kehidupan. Dan yang namanya kehidupan tidak ada yang pasti. Kita gak pernah tau kan apa yang akan terjadi di masa depan? Tetapi ada orang tua yang saking merasa sayangnya selalu memberikan kepastian kepada anak. Apapun yang terjadi, anak selalu disuapi. Gak pernah dilatih untuk siap menghadapi kehidupannya sendiri.

Menyuapi di sini maksudnya gak secara harfiah, ya. Tapi berkaitan dengan kemandirian dalam segala hal. Artinya anak jangan selalu terus dibantu. Biar gimana kan anak harus juga belajar mandiri karena kelak akan menghadapi kehidupan sendiri.

Selalu menyuapi anak hanyalah 1 dari banyak sekali cara salah orang tua memberikan kasih sayang. Kenyataannya ada banyak kesalahan yang dilakukan orang tua atas nama kasih sayang. Mbak Tika menganggap pemberian kasih sayang yang salah malah bisa menjadi racun bagi anak.

Critical Thinking

Penting bagi anak memiliki critical thinking. Bisa dilihat dari aktivitas sehari-hari, kok. Misalnya nih, ketika akhir pekan tiba-tiba orang tua mengajak anak-anak berkunjung ke rumah nenek. Trus si anak protes karena lagi ingin di rumah saja.

"Kenapa sih ngajaknya mendadak? Aku kan lagi pengen di rumah."
"Emang aku harus ikut, ya? Mamah kenapa sih kalau ngajak kemana-mana seringnya mendadak? Udah gitu maksa!"

Biasanya orang tua suka kesel kan kalau anaknya udah protes gitu? *Hayo ngaku 😂* Ujung-ujungnya si anak diomelin karena dianggap gak menurut. Kemudian apapun caranya dilakukan supaya si anak berhenti protes dan tetap wajib ikut.

Hal seperti itu kalau terus-terusan terjadi akan tertanam di pikiran anak. Nanti bisa aja suatu saat si anak diajak temannya untuk berbuat hal yang gak baik, dia langsung aja ikut. Gak pake nanya lagi karena critical thinking-nya sudah hilang. Padahal harusnya kan nanya ke temannya apa dia harus ikut, tujuannya apa, dan lain sebagainya.

Selalu Membantu atau Mengatur Anak

Suka bantuin PR anak? Bantuin di sini maksudnya orang tua yang ngerjain atau mengatur anak tentang PRnya. Misalnya si anak dapat PR mewarnai, trus orang tuanya mengatur warna apa aja yang harus diberikan anak. Atau malah orang tuanya yang akhirnya ngerjain. Mendingan kebiasaan kayak gitu dihentikan.

Ikhtiar

Anak juga harus diajarkan untuk selalu berikhtar. Apabila anak jatuh, jangan dilihat jatuhnya tapi bagaimana prosesnya untuk bangun. Jatuh lagi? Ya gak apa-apa selama anak masih terus berusaha untuk bangun. Dalam berproses seringkali kita dihadapkan harus jatuh berkali-kali. Supaya anak memiliki sifat ini, tentu orang tuanya dulu yang harus mencontohkan.

Istilahnya jangan kalah sebelum perang. Sejak lahir aja kita sudah diberikan banyak anugerah dari Allah SWT. Diantaranya adalah akal, keyakinan, hati, kemampuan, perasaan, kekuatan jasmani, dan lain sebagainya. Banyak sekali nikmat yang diberikan Allah SWT sejak kita lahir dan bisa dimanfaatkan untuk berikhtiar. Tetapi manusianya aja yang suka merasa gak dikasih apa-apa.
"Good parenting adalah segala sesuatu yang dilakukan kepada diri sendiri terlebih dahulu sebelum diterapkan ke anak."
Proaktif vs Reaktif

Mbak Tika kembali memberi contoh tentang Bisma. Meskipun berkali-kali orang tua dipanggil oleh sekolah karena ulahnya, tidak membuat Bisma takut untuk bertanggung jawab. Segala hukuman dia jalani dengan besar hati. Dia juga tidak gentar dengan segala label negatif yang diberikan kepadanya.

Itu tandanya Bisma memiliki sifat proaktif. Apapun yang terjadi padanya, dia memiliki prinsip dan bersedia bertanggung jawab atas segala yang dilakukan.

Kebalikan dari proaktif adalah reaktif. Contoh sederhananya adalah mudah sekali marah ketika menghadapi sesuatu yang dirasa gak mengenakkan baginya. *Hmmm ... Menjelang pemilihan ini itu sepertinya banyak yang bersifat reaktif, night! Piss, ah! Hehehe* Mudah sekali bereaksi tetapi salah memilih respons adalah ciri dari manusia yang reaktif.

Merespons Ekspresi Anak

"Ibuuuu! Tadi di sekolah, nilai pelajaran matematika aku paling tinggi! Kata bu guru akan pinter!"
"Oh ya udah. Jangan lupa bersyukur." *Ibunya merespons dengan wajah dan intonasi yang datar.

Memang salah ya anak disuruh bersyukur? Ya enggak lah. Tetapi bayangkan ketika si anak berekspresi dengan wajah dan nada yang ceria, bahkan sedikit menggebu-gebu saking senangnya, trus ibunya cuma datar gitu tanggapannya. Bagaimana ekspresi dan perasaan anak kemudian? Kalau Chi yang jadi anaknya mungkin akan baper.

Memberikan reward misalnya kasih hadiah setiap kali anak memperoleh keberhasilan juga gak perlu. Tapi setidaknya berusahalah untuk memberikan ekspresi yang sama. "Yeeeaaay! Anak ibu hebat! Trus gimana tadi si sekolah. Pada bagus-bagus juga gak nilainya?"

Gak salah menjadi orang tua yang bangga dengan keberhasilan anak. Jangan cepat berpikir kalau anak dipuji nanti kebiasaan trus minta yang berlebihan.

Mbak Tika juga menyinggung tentang banyaknya piala yang biasanya berjejer di banyak sekolah. Tujuannya apa, sih? Memperlihatkan kalau sekolah tersebut banyak prestasinya? Bisa jadi begitu. Tetapi berikan juga apresiasi kepada siswa yang berprestasi kan yang bertanding siswa. Tulis di raport tentang prestasinya. Kalau pialanya harus disimpan di sekolah, beri piala duplikasi kepada siswa. Tetapi jangan orang tua yang dibebankan biaya untuk membuat duplikasi . *Alhamdulillah sekolah Nai termasuk yang gak begitu. Siswa berprestasi mendapatkan apresiasi. 😊

Diplomatis

Sebagai contoh, ada satu keluarga yang turun-temurun semuanya berprofesi sebagai dokter. Kemudian ada salah seorang anak di keluarga tersebut yang mengatakan ingin berkarir di bidang broadcast. Reaksi orang tuanya langsung menganggap remeh hingga melarang cita-cita anak. Dalam pikiran orang tua sudah tercetak tentang apa yang harus terjadi pada anak. Pokoknya suka atau tidak, si anak harus jadi dokter juga.

Sikap seperti ini bisa mematikan semangat anak. Memang tidak mudah menjadi orang tua yang diplomatis. Ajarkan anak untuk mengenali dirinya. Bangga akan kelebihannya dan menghormati kekurangan yang ada pada dirinya.

Bersinergi

Bedakan sinergi dengan memberikan instruksi. Misalnya dalam hal bekerjasama membersihkan rumah di akhir pekan. Kalau instruksi, orang tua sudah menentukan tugas masing-masing. Kalau anak gak menurut, maka orang tua akan marah. Sedangkan bersinergi adalah mengajak anak untuk saling memberikan pendapat dulu sebelum akhirnya sama-sama sepakat tentang tugas masing-masing.

Latihan Terus-Menerus

Menjadi orang tua artinya harus terus berlatih. Menghadapi anak usia TK berbeda dengan remaja. Berbagai PR yang akan didapat orang tua akan berbeda setiap saat. Jadi jangan berhenti untuk terus berlatih

Me Time

Me itu penting. Sepakati dengan pasangan kapan diperbolehkan me time. Mbak Tika mengatakan kalau dia setahun sekali harus naik gunung. Jadi ketika ingin me time, mbak Tika tidak lagi bertanya boleh atau tidak. Langsung saja bilang ke suaminya akan pergi me time sambil menyebutkan gunung mana yang akan dituju dan berapa lama.

Setelah itu, sama-sama mencari tau apakah di tanggal tersebut anak-anak membutuhkan orang tuanya atau tidak. Maksudnya siapa tau ada kegiatan anak yang orang tua harus hadir, sudah janji dengan anak, atau hal lainnya. Ya walaupun me time adalah hal yang penting, anak tetaplah menjadi prioritas yang utama.

Dari acara seminar parenting yang lumayan panjang itu, ternyata untuk menggali potensi anak prosesnya panjang. Tidak sekadar bertanya tentang cita-cita kepada anak. Bahkan hubungan suami istri yang harmonis pun bisa ikut andil dalam mengembangkan potensi anak.

Cerita Farhan tentang putranya juga awalnya cukup mengagetkan buat Chi. Ya biasanya banyak orang tua yang justru ingin anaknya hanya terlihat bagus di mata orang lain. Farhan malah cerita tentang berbagai masalah yang pernah dilakukan putranya. Tentu tujuannya bukan untuk menjelekkan anak, tetapi ingin memberikan gambaran bahwa anak yang terlihat bermasalah belum tentu gagal. Bisa jadi penyebabnya karena orang tua yang pada saat itu belum bisa menangkap sinyal dari anak.

Dari penjabaran panjang pak Arief dan mbak Tika, Chi mendapatkan banyak ilmu. Sedangkan dari cerita Farhan, Chi jadi mendapatkan inspirasi dan semangat baru. Kurang lebih apa yang pernah dialami Farhan juga sedang dialami ma Chi dan K'Aie. Mulai pusing ketika Keke masuk SMP dan beberapa kali berurusan ma sekolah. Memang apa yang dilakukan oleh Keke belum seheboh Bisma. Tetapi segitu aja udah bikin Chi pusing 😅

Apa yang diceritakan Farhan juga membuka sudut pandang baru bagi Chi. Hmmm ... sebetulnya K'Aie juga dari dulu sering mengingatkan, menyabarkan, dan lebih optimis, sih.  Tapi Chi aja kayaknya yang kadang masih suka reaktif. Keke pun termasuk anak yang tidak takut bertanggung jawab, berbesar hati menerima segala hukuman, serta tidak gentar dengan berbagai label. Ya mudah-mudahan seperti yang mbak Tika katakanya. Semoga Keke termasuk anak yang proaktif dan tinggal kami (Chi dan K'Aie) yang bisa menangkap sinyal dari Keke. *Semangaaatt! 💪

Sepertinya sinyal tersebut mulai bisa kami tangkap. Sudah mulai terlihat ada perubahan yang ke arah lebih baik. Tapi di postingan berikutnya aja ya Chi ceritain tentang sinyal yang dimaksud 😊

37 komentar:

  1. suka tulisan2 mba Myra tentang parenting, bookmark banget nih tulisannya. saya suka bingung menghadapi anak, ingin mereka sukses dunia akhirat tp apa yg harus saya lakukan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. semua orang tua juga pasti ingin anaknya sukses dunia akhirat ya, Mbak. Makanya saya pun coba update ilmu sana-sini, deh :)

      Hapus
  2. Aku pun blm bisa meraba passion anak2 ku kemana mba. Yang gede udah kls 5..bntr lagi abg, usia rawan..

    Tapi dr kasusnya bisma..bisa jd bahan beljar mba



    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Saya pun mendapatkan pelajaran dari sana :)

      Hapus
  3. Ikutan belajar parenting pengenalan passion anak di postingan Jeng Chi. Keke dan Nai sedang eksplorasi pengenalan potensi diri ya Jeng. Kalau passion cinta alam kelg Jeng Chi wah nyetrum banget ke hati pembaca. Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe terima kasih banyak kalau sampe nyetrum, Mbak :)

      Hapus
  4. mba itu serius pernah memelihara ular hahahaha takjub banget. Aku juga ada point penting nih kalo ortu nggak boleh membanding-bandingkan anak dengan yang lainnya karena waktu kecil aku pernah dibandingin jadi ingatnya sampai sekarang loh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata almarhumah mamahnya begitu hehehe

      Apalagi kalau membandingkan trus menjatuhkan. Tujuannya bukan untuk memotivasi. Sedih rasanya

      Hapus
  5. Mbak Myra aku betah banget bacanya, suka dan sangat informatif. Sharingnya lengkap dan sangat mencerahkan. Makasih banget Mbak :)

    BalasHapus
  6. Aku masih trus nyuapin anak maksudnya sih biar makan cepet selese,salah yaaa nt coba diajak makan sendiri deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya menyuapi di sini, gak tentang makanan, Mbak. Tapi tidak membiarkan anak untuk belajar mandiri

      Hapus
  7. Bagus banget nich materinya. Yang menjadi satu hal PR buat saya 5 potensi yang utama dulu tuuuh. Iman, perasaan, akal, sehat badan dan silaturahmi. Maksih chi sharingnya

    BalasHapus
  8. Padet bgt ini ilmunya... Makasih udah sharing ya...

    BalasHapus
  9. Wow panjangnyaaa postinganya, tapi emang topiknya menarik banget Mba. Lengkap! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadi mau dibagi jadi 2 bagian, tapi saya males hahaha

      Hapus
  10. Memang paling menyenangkan menjalani suatu hobi plus dpt bayaran :D

    Belum punya anak jadi blm begitu memahami utk membaca keinginan/cita2 dari karakter seorg anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. Kalau ada passion rasanya lebih menyenangkan

      Hapus
  11. Keren dan suka banget tulisannya mbak, bookmark pastinya. Salam kenal saya Dewi mbak.

    BalasHapus
  12. pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang di bayar sepakattt.

    bisa jadi saya termasuk ya, ngeblog (dapat reward juga), blognya di isi pekerjaan yang juga sangat saya senangi. Traveling dan pekerjaan di kantor. Terimakasih nanti di baca lagi sampai abiss. sepertinya bagus buat perkembangan anak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. beruntung kalau pekerjaan dan hobi menyatu ya :)

      Hapus
  13. makasih sharingnya, lengkap. sejak dini kita mendidik dg hal yang baik tentunya hasilnya bisa terlihat setelah anak besar ya

    BalasHapus
  14. Kereeen banget ini mba, padat berisi ilmunya.. :D Noted banget soal yang menciptakan suasana menyenangkan ya mba.. Aku baru tau cerita anaknya Farhan.. Tertekan karena ada di tempat yang dia suka bikin dia bermasalah ya.. Passion jadi penyelamat.. Penting banget nih buat anak-anak untuk Tau apa yang mereka suka dan didukung sama ortunya juga..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Smeoga bermanfaat, ya :)

      Hapus
  15. Sharingnya padat dan berisi, nambah ilmu & belajar dari para pakar pendidikan dan psikolog berpengalaman

    BalasHapus
  16. lagi butuh banget nih tentang mengembangkan potensi anak. Tapi masih belum menemukan cara yg efektif dlm memotivasinya. makasih sharing nya mak... :)

    BalasHapus
  17. Itu PR ortu smp anak besar ya makchi. Kadang meraba-rana terus. Sulungku sudah ketauan banget arahnya kemana. Si bungsu nih yg masih bingung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Sampai anak-anak besar pun kita masih berusaha membantu anak menemukan apa yang diinginkan

      Hapus
  18. Racun kasih sayang itu.... saya masih suka melakukannya. Kadang karena saking sayangnya sama anak ya... sampai2 tdk sadar bahwa itu justru menjerumuskan mereka dlm ketidak mandirian

    BalasHapus
  19. Saya baca tulisan ini cuma separuh aja, karena di sisa tulisannya mata saya sudah basah..

    Mbak, orang tua yang suka melabeli anak itu orang tua jaman dulu. Ada nggak sih kakek nenek yang datang ke seminar ini? Kayaknya seminar ini lebih cocok didengerin sama orang-orang yang sudah jadk kakek nenek deh. Mereka tuh yang suka melabeli anak-anak sebagai anak nakal, anak nggak sopan, dan istilah-istilah jadul lainnya..

    BalasHapus
  20. Alhamdulillah mampir ke sini. Lengkap banget! Pembicaranya top deh di bidang pendidikan, ada Pak Arief dan Mbak Tika. Memang betul semua penjabaran di atas. Orang tua jangan cuma menuntut atau melabeli anak, berkaca dulu apakah selama ini sudah tepat bersikap.

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^