Ketika Keke Bercita-Cita Menjadi Pembalap Motor Profesional - Keke Naima

Selasa, 20 Februari 2018

Ketika Keke Bercita-Cita Menjadi Pembalap Motor Profesional

Cita-cita anak menjadi pembalap nasional

Catatan: Saat ini Keke berusia 13 tahun. Sebelum menghakimi kenapa kami membolehkan Keke belajar mengendarai motor, lebih baik baca dulu artikel ini hingga tuntas ya 😊

Anak di bawah umur udah belajar mengendarai motor? Awalnya Chi gak setuju banget, apapun alasannya. Apalagi di komplek tempat kami tinggal ini sering bersliweran anak-anak kecil udah pada mengendarai motor. Tidak pernah memakai helm dan kebut-kebutan pula. Kalau diingetin kayak yang ngeledek. Makin kesel kan ngelihatnya. Pernah coba dikejar tapi mereka malah makin ngebut sambil ketawa-tawa. Akhirnya Chi berhenti mengejar karena di komplek juga banyak anak kecil main di luar. Bahaya banget kalau bocah-bocah yang udah mengendarai motor itu makin gak fokus bawa kendaraan.

Pernah juga di depan sekolah anak-anak terjadi tabrakan antara 2 motor yang semuanya dikendarai anak-anak. Saat kejadian tabrakan, mereka cuma saling planga-plongo. Gak ada yang terluka tapi akhirnya butuh orang dewasa juga yang membantu. Bahkan sekadar naik ke motor aja harus diangkat orang dewasa. Kaki mereka belum napak ketika mengendarai motor! Eeerrggh!

Cita-cita anak menjadi pembalap nasional

Ketika Keke mulai menunjukkan minat ingin belajar mengendarai motor, Chi langsung menolak. Saat itu Keke masih kelas 7, usianya 12 tahun. Masih jauh lah untuk belajar mengendarai motor. Sepedahan aja dulu seperti yang selama ini dia lakukan. Tapi Keke bersikeras dengan alasan mau jadi pembalap. Dan Chi tetap bersikeras menolak.

Hampir tiap hari obrolannya hanya tentang motor. Ya kalau untuk yang satu ini, Chi memang gak aneh. Sejak kecil, Keke udah tertarik banget sama dunia otomotif. Mungkin kalau anak-anak lain  beli berbagai macam mainan, Keke gak begitu. Mainan yang ingin dan selalu dibeli cuma diecast mobil dan biasanya yang bentuknya seperti mobil beneran. Keke gak suka diecast mobil-mobilan yang fantasi. Dari dulu pun dia lebih semangat dibeliin majalah otomotif daripada buku cerita anak. Bisa sampai keriting itu berbagai majalah otomotif karena dibaca terus. Bisa berjam-jam pula ngomongin otomotif kalau diladenin.

Chi selalu berbeda pendapat untuk hal ini dengan K'Aie. Keke malah diizinin belajar mengendarai motor sama ayahnya. Makanya Chi suka agak ngomel saat Keke diajarin mengendarai motor. Masih kecil gitu, lho! Tapi K'Aie mengatakan mengajari Keke naik motor bukan berarti nanti dia bebas naik motor sesukanya. Atau bikin kami jadi mudah menyuruh Keke untuk belanja di minimarket. Kalau itu sih Keke biasa naik sepeda. Memang gak sesepele itu juga alasan Keke diajarin mengendarai motor.

Singkat cerita, sekitar bulan September lalu kami ke Tanakita untuk hadir di acara RRREC Fest In The Valley. K'Aie bilang kalau ada temannya - seorang pembalap motocross nasional -, yang juga hadir di acara ini. Keke pun dikenalin sama temen ayahnya.

Chi gak ikut saat mereka kenalan. Chi memilih untuk keliling Tanakita melihat festival. Kalau denger dari cerita K'Aie, temennya ini berpendapat Keke sudah mengerti teknik bermotor tapi jiwanya masih pengen ngebut melulu. Pembalap profesional mah tau aja meskipun cuma dari hasil ngobrol 😄 Keke disaranin untuk ikut sekolah balap dulu kalau ingin terjun ke dunia balap profesional.

[Silakan baca: Piknik Lagi di RRREC Fest In The Valley - Hari Kedua]

Tentang Mencari dan Menggali Potensi Anak(Lagi)

Beberapa waktu lalu Chi pernah menulis postingan tentang bagaimana mengetahui potensi anak. Postingan sebelumnya adalah hasil seminar parenting di sekolah Nai. Pembicaranya adalah Prof. DR. H. Arief Rachman, M.Pd, dan Tika Bisono M.Psi.T. Jauh sebelum ada seminar parenting itu, tema potensi anak sudah sering menjadi bahasan antara Chi dan K'Aie. Setelah seminar, jadi menambah bekal ilmu ketika kami kembali mendiskusikan potensi anak. Termasuk tentang minat Keke untuk menjadi seorang pembalap.

[Silakan baca: Bagaimana Mengetahui Potensi Anak?]
   
Tidak Selalu Mengabulkan Apa yang Anak Mau

Cita-cita anak menjadi pembalap nasional

Saat kelas 5 SD, Keke pernah suka dengan yang namanya beatbox. Keke pernah beberapa kali minta dimasukin ke sekolah beatbox.

Ketertarikannya untuk belajar musik jugs bukan hal baru. Saat TK hingga kelas 2 SD, Keke memang pernah privat drum di rumah. Dia berhenti privat karena aktivitas di sekolah dan privat mulai bentrok hingga akhirnya gak menemukan solusi. Tapi untuk beatbox, kami masih ragu untuk menyekolahkannya. Kami minta ke Keke untuk konsisten dulu belajar secara otodidak dan itu dilakukannya. Setiap hari mulutnya gak pernah berhenti ngoceh ala beatbox. Dia belajar teknik beatbox dari YouTube.

Terkejut sekaligus terharu saat acara wisuda dan perpisahan sekolah, Keke perform ngebeatbox. Chi jadi inget lagi saat wisuda playgroup di mana Keke jadi satu-satunya anak yang naik ke panggung didampingi bundanya. Itupun dengan wajah memerah karena menangis. Ketika pensi pun masih harus dibujuk dulu supaya gak nangis.

Ketika TK, Keke sudah gak nangis lagi tapi masih gak pede kalau harus tampil menonjol. Saat SD malah pernah kebagian peran jadi pohon aja dia udah senang. Pokoknya gak mau jadi pusat perhatian. Makanya saat lihat Keke solo perform ngebeatbox atas kemauan sendiri, Chi antara deg-degan hingga terharu.  😂

Tidak Semua Bisa Otodidak

Ternyata konsistennya Keke ngebeatbox hanya sampai kelas 6 SD. Begitu masuk SMP, dia kembali menggemari dunia otomotif.

Selain saran dari teman K'Aie, kegemarannya terhadap otomotf sejak kecil juga menjadi pertimbangan kami untuk menyekolahkan Keke ke sekolah balap motor. Keke dan ayahnya pun sempat diajak ke salah satu tempat di mana para pembalap suka berkumpul. Dan semuanya berpendapat kalau mau jadi pembalap memang sebaiknya sekolah dulu. Alasannya pada saat perlombaan biasanya akan kelihatan teknik para pembalap yang pernah sekolah balap sama yang otodidak. Yup! Balapan kan gak hanya sekadar bisa cepat tapi juga ada teniknya.

Mantapkan Hati dan Mulai Mendukung

Bagaimana kalau cita-cita anak bertentangan dengan keinginan orang tua? Chi mulai mengalami perasaan itu. Antara setuju dan tidak mengizinkan Keke ikut sekolah balap.

Hati Chi masih galau antara mendukung anak untuk menjadi pembalap dan prinsip kalau anak kecil gak boleh mengendarai motor. Belum lagi kalau mikirin risiko balapan. Bener-bener udah kayak berantem di hati dan pikiran.

Cita-cita anak menjadi pembalap nasional
Salah seorang pembalap cilik yang kami temui di sana. Dia bukan murid 43 Racing School. Chi lupa namanya, usia 11 tahun, sudah beberapa kali ikut balapan. Ayahnya memiliki bengkel motor.  Ayah dan kakaknya yang menjadi mekaniknya

Chi lalu teringat pernah sedikit menulis profil Sheva Anela Ardiansyah - crosser perempuan cilik -, yang usianya 2 tahun lebih muda dari Keke tapi sejak tahun 2012 sudah menuai banyak prestasi. Chi juga mencari berbagai info tentang para pembalap dunia seperti Valentino Rossi hingga Marc Marquez. Ternyata mereka semua mulai belajar motor di usia yang masih sangat muda. Bahkan di usia yang seperti Keke saat ini mereka sudah mulai berprestasi. Sedangkan Keke malah baru mulai belajar.

Dari membaca profil beberapa pembalap, Chi mulai mantap kalau gak apa-apa mengajarkan anak untuk mengendarai motor sejak kecil asalkan ada tujuannya yang jelas. Seperti yang Chi tulis di awal, kalau ngajarin mengendarai motor bukan sekadar supaya si anak bisa disuruh belanja ke minimarket atau ke sekolah pakai motor, apalagi untuk kebut-kebutan gak jelas. Dan yang terpenting juga dari beberapa profil yang Chi baca, semuanya mendapatkan dukungan penuh dan diarahkan oleh orang tua.

Dukungan orang tua memang Chi kasih garis merah. Sebagai orang tua, tentu pengen anaknya berprestasi. Tapi bicara prestasi tentu sebuah perjalanan panjang. Ada atau tanpa prestasi setidaknya si anak sudah menemukan passionnya. Ya daripada nanti beraktivitas yang gak jelas. Apalagi zaman sekarang, banyak godaannya. Makanya Chi harus memantapkan hati untuk mendukung dulu.

Ketika Mulai Serius

"Ini seriusan Keke dibolehin jadi pembalap? Gak main-main persiapannya lho, Yah."

Menjadi seorang pembalap modalnya gak hanya bisa mengendarai motor. Butuh fisik yang prima, mental yang kuat, pengetahuan tentang otomotif, dan biaya yang tidak sedikit.

Alhamdulillah sejak masuk sekolah balap, Keke jadi semakin rajin berolahraga. Biasanya dia olahraga cuma saat Taekwondo dan ekskul bulutangkis aja. Sama pas pelajaran sekolah, ding. Kalau sekarang, tiap hari dia lari atau sepedaan dengan jarak yang lumayan jauh.

Pola makan Keke sejak dulu termasuk teratur dan gak picky eater. Sekarang makin teratur lagi. Konsumsi berasnya sudah diganti jadi beras merah. Semakin peduli dengan healthy food. Kelihatan banget tekadnya kuat untuk menjadi pembalap.

Mental juga udah pasti harus disiapkan. Keke pernah beberapa kali jatuh saat latihan. Kalau dari ceritanya kelihatan nyalinya sempat agak ciut. Gimana enggak, balap motor kan termasuk olahraga keras. Kalau di sirkuit, motor kelihatan cepat banget trus tau-tau jatuh. Untung pelatihnya bisa memotivasi supaya berani lagi.

Cita-cita anak menjadi pembalap nasional

Chi pun setiap kali lihat Keke latihan, rasanya deg-degan. Chi belum pernah lihat dia jatuh. Tapi mendengar ceritanya kalau dia abis jatuh aja udah bikin deg-degan. Bahkan temannya sampai ada yang terpelanting. Makanya  harus benar-benar aman segala perlengkapannya.

Pembalap sebaiknya jangan hanya tau mengendarai motor tapi juga belajar mesin meskipun ada mekanik yang menangani. Di 43 Racing School memang ada beberapa mekanik andal. Tapi pada saat balapan kan pembalap harus punya feel terhadap motor yang dikendarainya.

Untuk biaya, selama latihan 2 minggu itu kami mengeluarkan dana hampir 30 juta. Rinciannya untuk biaya sekolah dan segala perlengkapan balap. Gak termasuk bolak-balik nyamperin Keke kemudian pulangnya nge-mall ya hehehe. Apalagi biaya beli motor. Sampai sekarang Keke belum punya motor pribadi makanya belum ikut balapan. *Insya Allah di postingan berikutnya Chi akan menulis tentang 43 Racing School, sekolah balap motor yang dimiliki oleh M. Fadli, seorang pembalap motor nasional.

Cita-cita anak menjadi pembalap nasional
Foto milik 43 Racing School

Hal positif lain yang Chi rasakan adalah sifat Keke yang mulai bikin tenang. Sejak masuk masa puber, emosinya suka bikin Chi deg-degan. Tau lah ya gimana anak-anak yang sedang puber. Sepertinya ada aja yang bikin Chi sakit kepala dengan beberapa pemberontakannya. Tapi sejak masuk sekolah balap, Chi melihat Keke lebih tenang. Ngeyelnya jauh berkurang dan semakin ceria.

[Silakan baca: Jumpalitan dan Tips Menghadapi Anak Puber]

Berimbas juga ke pelajaran sekolahnya. Dia jadi lebih rajin belajar tanpa Chi harus suruh-suruh. Sekarang mau berangkat sekolah aja pakai cium pipi bundanya dulu. Sesuatu yang udah agak lama Chi kangenin karena sejak SMP, Keke agak sering kelihatan murung setiap kali berangkat sekolah. Baru mulai ceria lagi saat pulang atau lagi libur.

Kalau ingat lagi tentang seminar parenting yang tentang potensi diri anak, Chi jadi mikir apa ini karena Keke merasa senang akhirnya potensinya dilihat dan didukung penuh oleh orang tuanya, ya? Semoga aja begitu. Pokoknya akhir-akhir Chi lagi sering bersyukur dengan perubahan sifat Keke. Alhamdulillah.

Cita-cita anak menjadi pembalap nasional
Foto milik 43 Racing School

86 komentar:

  1. Kalau diarahkan ke hal yang bermanfaat itu harus, daripada di jalanan mending di ikutkan sekolah balap. Lanjutkan nak... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak, ya. Semoga Keke selalu semangat :)

      Hapus
  2. Wa,so sweet banget keke ya mak. Cium pipi bundanya sebelum sekolah ^^

    BalasHapus
  3. Ah... Mamak yang keren.
    Memang betul, saat anak merasa suaranya/keinginannya/mimpinya dihargai oleh ortu.
    Dia juga akan belajar menghargai ortu.

    Dulu, Suami saya juga bercita2 jadi pembalap dan suka ngoprek motor.

    Namun, karena ortu masih kolot, takut ini/itu. Akhirnya segala yg berbau motor ga didukung.
    Termasuk saat dia pengen buka bengkel motor.

    Sampe sekarang, dia bekerja tanpa passion di bidang yg dia ga suka.
    Ngenes liatnya.

    Udah coba di ajak, untuk menggapai mimpinya yg tertunda. Tapi blm mau.

    Separah itu, efek dr ortu yg ga ngerti anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga dulu selalu dilarang mengendarai motor. Katanya mending nyetir mobil. Bawa motor lebih berbahaya. Mungkin karena terus dilarang, saya pun jadi gak bisa bawa motor sampai sekarang :)

      Hapus
  4. aq lebih setuju seperti ini mbak, daripada anak bawah umur bawa2 motor di jalanan mending di arena balap jelas tujuannya.. tapi aq juga baru tahu yah kalo jadi pembalap itu sudah bisa yah dari umur 13 tahun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahkan di bawah usia 13 pun boleh, Mbak. Karena ada juga balap motor untuk usia anak-anak

      Hapus
  5. Aku setuju mbak, minat anak memng hrs didukung apalagi keke keknya suka otomotif dr pd di jalan ngak jelas mending diarahkan agar berprestasi.

    BalasHapus
  6. Mbak Myra jempolan sekali dalam mengikuti perkembangan KeNai, saya sudah kebayang betapa dag dig dug nya seorang ibu saat si anak pengen jadi pembalap, duhh. Adem panas kalau saya. Tapi, sekedar sharing nih, murid saya dulu malahan usia 9 tahun, Mbak. Dia belajar motor sejak usia 7 tahun. Berkali-kali nyabet juara, kalau latihan harus ke Solo karena barengan sama timnya. Jadi doi ini setiap Jumat sore pulang sekolah langsung ke Solo. Syukur alhamdulillah kemampuan akademis dan agamanya tetap oke. Semoga ikhtiar yang dilakukan Mbak Myra dan suami juga berbuah indah. Setidaknya sudah mengusahakan dan mendukung potensi anak. TOP banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga deg-degan, tapi anaknya yang minat ke sana hehehe. Iya, Mbak semoga apa yang dilakukan ini juga bermanfaat baik untuk Keke :)

      Hapus
  7. Tugas ortu jeli melihat potensi anak dan mampu memfasilitasinya y mba wow juga loh mb 2 minggu sekolah dan perlengkapan sampe 30juta semoga mba dan suami selalu diberikan kelancaran rezeki agar bisa trus support Keke..

    btw aku ngekek bagian Keke waktu jadi pohon aja udah seneng saking ga mau jadi pusat perhatian :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.

      Iya, dia tadinya paling gak mau kalau disuruh tampil. Padahal tadinya udah dapat peran yang lumayan bikin dia eksis. Tapi tukeran ma temannya hahahaha

      Hapus
  8. Wah inspiring banget ya, mudah-mudahan nanti aku juga bisa memberikan yang terbaik buat mewujudkan impian anak-anak.

    BalasHapus
  9. Keren, mbak anaknya sudah menunjukkan ketertarikan pada 1 bidang. Semoga keke nanti sukses jadi pembalap nasional ya.

    BalasHapus
  10. Kalau aku pasti sudah menolak. Tapi kembali kepada anak. Bukankah dengan mengenali potensi, anak menjadi lebih bahagia melewatkan masa mudahnya. Tugas orang tua mengarahkan dan memfasilitasi. Semoga terwujud cita-cita anaknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menolaknya karena apa, Mbak?

      Aamiin. Terima kasih ya, Mbak :)

      Hapus
  11. Seneng ih denger/baca cerita Keke. Sudah tahu minat dan potensi diri di usia belia.

    BalasHapus
  12. Memang lebih baik diarahkan begini ya mbak. Dari pada malah lepas kontrol lalu kebut2an di jalan raya. Btw sekolah balap mahal juga ya😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak daripada kebut-kebutan gak jelas. Paling mahal biaya perlengkapannya, Mbak :D

      Hapus
  13. Jd inget buku menggali potensi anaknya Ayah Edy, memang hrs sejak dinindi dukung klo sdh keliatan bakat dan minatnya agar saat usia dewasa udah profesional . Tp pasti bikin degdegan ya pembalap ..

    BalasHapus
  14. Keke keren nih udah punya minat dan bakat. Ortunya juga keren, mendukung anaknya. Top

    BalasHapus
  15. Wah luar biasa tulisan ini. Keren mbak. Semoga besok aku bs fasilitasi dan mendukung setiap minat dan bakat anakku, semampu yg kami bs. Lanjutkan jadi pembalap, mas :D

    BalasHapus
  16. Syukurlah mba..klo jadi ke arah lebih baik setelah bakat+keinginan Keke diikuti.

    Aku ngerti juga sih rasanya..klo tiba2 anak minta terjun ke olahraga yang berbahaya gitu.

    Seandainya anakku yang minta..aku nggak ngerti mba, tak bolehin apa nggak.. Takut aku bayangin jatuh dr motor gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya saya coba untuk gak ngebayangin, Mbak. :D

      Hapus
  17. Beruntung Keke mempunyai ortu yg mau mendukung minatnya, jdnya emosinya bisa stabil. Semangat trs ya Keke semoga konsisten hingga Moto 2 😁😁

    BalasHapus
  18. Sejak dini keke nya sudah tahu hobby dan menyalurkannya dgn cara yg tepat trus di dukung emaknua 😁😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga memang ini sesuatu yang baik untuk Keke, ya :)

      Hapus
  19. Alhamdulillah anak sudah memiliki apa yang ia inginkan ya, mba. Anakku juga sempat mengalami seperti itu, mba. Jadi ketika dia putuskan untuk sekolah atlet di Surabaya ya mau tak mau kami dukung. Walaupun saya harus bolak balik Jakarta-Surabaya untuk ngecek. Tapi alhamdulillah skarang semua proses itu telah telalui dengan baik. Semangat ya Keke. Smoga keinginannya tercapai ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih, Mbak. Semua dilakukan yang terbaik demi anak ya, Mbak :)

      Hapus
  20. Keke masih 13 tahun ternyata, sudah seperti anak SMA, gagah. Seneng kalo lihat anak sehat dan bersemangat seperti ini.
    Kebayang kalo anakku yg pengin jadi pembalap, mungkin aku tidak siap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Aslinya, Keke masih anak-anak tapi badannya aja yang bongsor :D

      Hapus
  21. saya merinding nih mak, ibunya harus berjiwa besar ya. anak-anakku sih masih kecil kadang berubah keinginannya tp tetap harus bersiap dengan apa yg akan mereka cita2kan anantinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Setelah melewati banyak pertimbangan. :)

      Hapus
  22. Orang tua hanya bisa mngarahkan, mendukung, dan ngedoain ya mbak? Beruntung Keke difasilitasi. Moga tercapai ya cita2nya :D

    Jd kepikiran pengen tau mint dan bakat anak2 apa :D

    BalasHapus
  23. Orangtua yang mendukung, anak jadi bersemangat.
    Semangat ya Keke, sukses terus aamiin.

    BalasHapus
  24. Subhanalloh saya bacanya merinding mba, semoga kelak saya juga bisa membersamai dan mewujudkan passionnya. Apapun itu. Yangbpenting tidak dilarang oleh agama, itu cukup. Makasih sharingnya ya mbaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Semangat juga ya, Mbak. Terima kasih :)

      Hapus
  25. betul, butuh modal besar, bahkan rio hariyanto saja sampai galang dana kemana mana untuk bisa ikut balapan. selain dana tapi resiko fisik juga ada sih mba...
    Semoga sukses anandanya dalam menempuh hobi atau cita citanya

    BalasHapus
  26. Kalau gini tujuannya jelas, buat jd pembalap. Di kampung saya anak kecil naik motor dan agak ugal2 lan. Yg liat ngeri

    Semoga Keke tetap semangat ya, Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga gak mau kalau Keke sampai kebut-kebutan gak jelas, Mbak. Di sini juga suka ada aja anak kecil yang begitu.

      Aamiin

      Hapus
  27. Udah lama gak berkunjung kesini, ternyata Keke udah udah gede ya. Semoga sehat selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Per hari ini, udah 14 tahun :)

      Hapus
  28. Bersyukur sekali, akhirnya bakat Keke disalurkan dan terfasilitasi
    SEemoga Kak Keke bisa sukses dan trwujud harapannya menjadi pembalap,
    Chi,,, keren 😍😍😍

    BalasHapus
  29. Aku tertarik dengan kursus drum di rumah itu, berasa aku belum memaksimalkan potensi anak2ku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu itu memang dapat pelatih yang buka privat. Tapi salah satu ruangan jadi harus dibuat kedap suara. Kalau enggak, bisa diprotes tetangga hahaha

      Hapus
  30. Anakku ada juga yang pengen jadi pembalap, tapi udah ganti lagi cita-citanya hehe...jadi ikuti aja dulu deh gimana perkembangannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbk. Kadang-kadang, cita-cita anak masih berubah-ubah :)

      Hapus
  31. mba menurut aku malah lebih bagus kalo semua ortu seperti mba, tahu bahwa ada potensi di anaknya lalu didukung berkarya di jalur yang bener. salam untuk anak-anak mba, sukses selalu. mereka sangat beruntung punya orangtua yang suportif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebaiknya memang begitu. Tapi memang harus terus dicari. Saya pun masih terus mencari :)

      Hapus
  32. cita2 yang sangat bagus. Semoga bisa tercapai.

    BalasHapus
  33. Nahh kalo begini aku setuju.. Anak dimasukkan ke sekolah balap, belajar tekniknya dan memang tujuannya melatih skill plus olahraga. Bukan cm utk jagoan di jalanan :( .. Semoga keke nantinya beneran bisa jd pembalap yg bikin bangga Indonesia Di kancah international :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Disaranin sekolah balap juga begitu. Biar tau bagaimana tekniknya.

      Aamiin

      Hapus
  34. Biaya kursusnya mahal banget...., pasti selalu deg-degan krn termasuk ekstrim

    BalasHapus
    Balasan
    1. Segitu gak cuma biaya kursus, Mbak. Tapi juga peralatan :)

      Hapus
  35. Wah ini mah bakalan jadi pembalap hebat nantinya. Kita doain deh semoga yang dicita-citakan itu tercapai dan Indonesia punya pembalap kelas MotoGp. Bravo untuk Keke :-)

    BalasHapus
  36. Dr kecil keke udh nunjukin tanda-tanda tertarik sm otomotif ya mbk chii... kerennn.. salut sm dikau mbk sm suami jg yg allout support keke. Sukses sllu bwt keke amiinn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Dia selalu lebih semangat kalau ngebahas otomotif

      Hapus
  37. Wah, Keke udah tinggi banget yaaaah..

    Emang sih aku rasain banget mendukung anak itu bener2 butuh ketulusan dan keikhlasan dari kita sebagai orang tua. Kalo ngikutin kata hati mah pengennya anak teh udah jangan yang bahaya2 kalo bisa dikekep aja di rumah terus bhahahaha *emak posesip lagi kumat*

    Tapi kalo kita beneran sayang ama anak emang gak bisa gitu sih, harus banyak mengerti dan melepaskan walo dengan berbagai syarat dan ketentuan sih....
    *ujar seorang emak yang anaknya main keluar komplek aja langsung galau dan ditelfon mulu tiap 10 menit bhahahaha*

    Semangat terus yah Kekeeeee!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun termausk emak yang posesif hahaha. Begitulah, harus belajar ikhlas juga :D

      Hapus
  38. Naahh!! Kalau didik dari kecil untuk jadi pembalap pasti berhasil dan sukses... Semoga terlaksana yaa!! Amiinn.

    BalasHapus
  39. Aku malah salut anak umur 13 tahun udah tahu apa yang dia mau, mbak. Keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu saya umur 13 tahun masih ngacir kesana-kemari hehehe

      Hapus
  40. Alo Keke..... senang sekali membaca postingan Jeng Chi mendukung bakat Keke dengan aneka persiapan. Iya Jeng, bawaan emak agak2 khawatir, dengan pendampingan ahlinya lebih tenang ya. Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Cari sekolahnya juga yang reputasinya bagus :)

      Hapus
  41. Seth banget ya mba masih remmaja udah jadi pembalap. Cita2 papa rayyan banget nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga Rayyan juga bisa jadi pembalap, ya :)

      Hapus
  42. Semoga bisa jadi crosser yang membawa bendera merah putih dikancah international ya bun.
    Semangat terus.....!!!!

    BalasHapus
  43. Kalau memang kita sudah tahu minatnya anak, tentunya dukungan dan support sangat dia butuhkan ya Mbak. Gpp belajar motor dan balap-balapan asal pada tempatnya, dan memang inilah sekolahnya. Jadi bukan balapan liar. Semangat ya Keke.

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^