Belajar Menjadi Pembalap Motor di 43 Racing School - Keke Naima

Entri yang Diunggulkan

5 Aksesoris Handphone yang Bisa Membantu Meningkatkan Produktivitas

5 Aksesoris Handphone yang Bisa Membantu Meningkatkan Produktivitas Jika teman-teman membeli smartphone, sebaiknya jangan sekadar untuk...

Senin, 26 November 2018

Belajar Menjadi Pembalap Motor di 43 Racing School

belajar menjadi pembalap motor di 43 racing school

Belajar Menjadi Pembalap Motor di 43 Racing School


Bagaimana pendapat teman-teman ketika melihat anak di bawah umur sudah mengendarai motor? Kesel. marah, atau malah biasa aja?

Chi termasuk yang sering kesal. Apalagi di komplek tempat Chi tinggal waktu itu suka ada aja anak di bawah umur mengendarai motor dengan ngebut. Chi perkirakan mereka masih usia SD kalau lihat dari postur tubuh. Udahlah masih pada kecil, ngebut, dan gak pakai helm pula. Kadang-kadang 1 motor bisa bertiga, lho.

Waktu sedang mengendarai mobil di komplek, setelah menjemput Nai, Chi coba samperin anak yang sedang mengendarai motor. Tetapi, mereka malah kabur. Chi coba kejar, malah semakin ngebut. Akhirnya Chi berbalik arah.

Para bocah yang mengendarai motor itu Chi yakin kebanyakan kurang berhati-hati. Kalau mereka semakin ngebut karena dikejar, Chi khawatir nanti terjadi sesuatu yang gak diinginkan. Mana di komplek Chi itu masih banyak anak kecil yang bermain di luar rumah.

Sebetulnya anak-anak yang mengendarai motor seperti ini kebanyakan bukan warga komplek. Mereka datang dari perkampungan sekitar komplek. Biasanya untuk memotong jalan atau memang sengaja buat kebut-kebutan. Mungkin karena dianggap jalan komplek lebih sepi daripada jalan umum.

Gak taunya Keke malah diajarin mengendarai motor sama ayahnya sejak SMP ... 😓

[Silakan baca: Darah Muda]

Alasan Belajar Mengendarai Motor


latihan di sentul karting

Reaksi pertama Chi tentu aja ngomel. Chi aja suka kesel lihat anak kecil udah mengendarai motor.  Nah ini malah anak sendiri diajarin mengendarai motor sama ayahnya. Keke memang senang dengan dunia otomotif sejak kecil. Tapi, gak menyangka aja kalau belum cukup umur udah diajarin mengendarai motor.

Tetapi, K'Aie bilang mengizinkan karena sekadar belajar. Jadi masih dalam pengawasan orang tua. Keke juga gak dibebaskan mengendarai motor seenaknya. Dia masih pergi dan pulang sekolah naik ojek online. Kalau diminta tolong belanja ke minimarket, dia tetap harus naik sepeda.

Sekitar bulan September 2017, saat kami sedang ada di acara RRREC Fest in The Valley, K'Aie bilang kalau ada temannya yang seorang pembalap motor datang. Keke diajak sama ayahnya untuk kenalan. Sedangkan, Chi dan Nai memilih istirahat di tenda.

Setelah itu, Chi tanya ke Keke dan K'Aie ngobrolin apa aja. Udah diduga kalau obrolannya seputar motor. Temen K'Aie banyak nanya ke Keke. Intinya sih menurut teman K'Aie, Keke sudah cukup banyak mengerti tentang motor. Tetapi, memang darah mudanya bikin dia jadi masih suka pengen ngebut melulu. *Hmmm .... apa karena seorang pembalap, ya? Dari sekadar ngobrol aja udah bisa ambil kesimpulan. 😄

K'Aie juga cerita kalau Keke pengen menjadi pembalap motor. Temannya menyarankan untuk belajar di sekolah balap. Biar sekalian mengerti bagaimana teknik balapan yang benar. Menjadi pembalap memang bisa otodidak. Tetapi, menurut temen K'Aie, ketika nanti turun di arena balap akan kelihatan skill-nya mana yang pernah sekolah balap dan enggak.

Chi: "Ayah seriusan mau kasih izin Keke buat sekolah balap?"
K'Aie: "Ya kalau anaknya mau."
Chi: "Keke mah pasti mau. Tapi, kita juga udah siap, belum? Sekolah balap kan banyak persiapannya. Dari mulai biaya sampai mental. Jangan sampai udah menjanjikan ke anak, tapi gak bisa ditepatin."
K'Aie: "Siap, lah."

Persiapan belajar di 43 Racing School


Singkat cerita, sekitar awal Desember, Keke bilang kalau ada 2 sekolah balap yang lagi buka pendaftaran. Salah satunya adalah 43 Racing School. Chi lupa yang satunya lagi apa. Tetapi, kami gak memilih yang satunya karena salah satu syaratnya adalah harus punya Kawasaki Klx.

Kami punya motor Kawasaki Klx. Biasanya dipakai K'Aie ke kantor. Keke pun belajar mengendarai motor menggunakan Klx. Tetapi, kalau harus dipakai buat latihan balap, kami juga mikir-mikir dulu.

Belajar di 43 Racing School, tidak perlu membawa motor. Ada 3 motor yang disediakan yaitu Honda Blade, CBR 250, dan GP Mono Moriwaki. Semua peserta bisa menggunakan ketiganya sesuai dengan level latihan.

Karena baru tau infonya di awal bulan Desember, kami hanya punya waktu sedikit untuk persiapan. K'Aie segera menghubungi temannya. Alhamdulillah dibantuin banget mencari info berbagai perlengkapan buat latihan. Gak semua perlengkapannya barang baru. Wearpack dan helm beli barang second. Untuk 2 barang second aja udah hampir 10 juta biayanya. Gimana kalau beli baru? 😄

Foto milik 43 Racing School

Walaupun barang second, tetapi dicariin kualitas yang bagus sama temen K'Aie. Kalau lihat wearpack Keke ada tulisan Honda, itu karena wearpacknya memang bekas pembalap Honda. Kami gak sempat copotin merknya, hanya copotin nama pembalapnya aja. Waktunya udah mepet banget.

Saat beli wearpack juga gak bisa langsung dipake. Bagian pahanya kesempitan! Jadi harus sedikit dirombak dan dikasih tambahan kain. Begitupun ketika membeli sepatu. Agak susah mendapatkan ukuran yang pas. Pokoknya last minute banget, deh! Sehari sebelum masuk sekolah aja cari berbagai perlengkapan. Huff!

Sehari sebelum masuk sekolah balap, Keke dan ayahnya diajakin buat ngumpul di salah satu tempat. Chi lupa nama tempatnya. Ya pokoknya saat itu juga ada beberapa pembalap motor yang ikut. Meskipun mereka berdua pulang ke rumah nyaris tengah malam, setidaknya dari hasil ngumpul ada berbagai info yang bisa Keke dapat.

[Silakan baca: Ketika Keke Bercita-cita Menjadi Pembalap Motor Profesional]

2 Minggu Belajar di Sekolah Balap


43 Racing School memiliki 2 paket di setiap batch yaitu paket A (10 hari) dan paket B (5 hari). Awalnya Keke ditawarin ambil paket B sama ayahnya. Ya siapa tau Keke gak betah. Apalagi ini juga akan jadi pengalaman pertamanya menginap lumayan lama tanpa orang tua. Kalau betah kan tinggal naikin paket.

Tetapi, Keke gak mau. Pengennya langsung ambil paket A. Dia juga janji bakal betah. Nah, giliran bundanya yang agak mewek karena bakal jauhan ma Keke selama beberapa hari hehehe. Para siswa yang belajar di 43 Racing School memang harus tinggal di mess. Lokasi messnya dekat dengan rumah M. Fadli Imammudin, owner 43 Racing School

Selain sebagai pemilik 43 Racing School, M. Fadli Imammudin juga dikenal sebagai atlet Para-cycling Indonesia. Prestasi dari olahraga ini sudah banyak termasuk pada saat Asian Para Games 2018. Dulu, Fadli adalah seorang pembalap motor yang berprestasi di tingkat Asia. Tetapi, arena suatu insiden, sekarang menjadi atlet para-cycling.

Keke belajar selama 10 hari dari hari Senin s/d Jum'at.  Akhir pekan sekolah libur. Para siswa dibolehkan pulang atau tetap menginap di mess. Karena Sentul gak terlalu jauh dari rumah, kami memilih menjemput Keke setiap akhir pekan.

Setiap batch dibuka maksimum untuk 7 siswa. Tetapi, waktu itu ada 8 siswa karena mungkin berbarengan dengan musim liburan sekolah (Desember 2017). Usia minimal belajar di sini adalah 10 tahun. Tentu aja di usia segitu sudah harus bisa mengendarai motor.

Kendaraan memang disediakan oleh 43 Racing school. Tetapi, untuk semua perlengkapan harus menyediakan sendiri. Tidak ada sewa perlengkapan di sana. Total biaya yang kami habiskan untuk sekolah selama 10 hari itu sekitar Rp28 juta. Sudah termasuk biaya sekolah yaitu Rp12,5 juta. Tetapi, belum termasuk biaya makan Keke selama di sana, ongkos jalan, serta jajan kami bertiga saat mengunjungi Keke, ya.

Tips: Kalau ingin ikutan sekolah balap memang sebaiknya persiapannya paling enggak 3 bulanan. Jangan mepet kayak kami. Untungnya ada teman-teman K'Aie yang bantuin cari perlengkapan dengan kualitas bagus.

delivery rumah makan padang sederhana
Pembalap yang paling dirindukan saat makan siang 😂

Biaya makan pagi dan malam memang sendiri. Hanya makan siang saja yang ditanggung oleh sekolah. Setiap hari makan siangnya disupport oleh RM Sederhana. Memang enak menu dari rumah makan ini. Tetapi, ketika selama 2 minggu berturut-turut makan makanan padang melulu, jadi bikin Keke berhenti sementara waktu dari menu ini. Katanya bosaaaan 😂

Untuk sarapan, kami sediakan susu, roti, dan pisang. Ada kulkas juga di mess buat menyimpan susu. Sedangkan untuk makan malam, di sekitar mess ada yang jual makanan. Gak sulit mencari makan di sana.

sepatu balap
Ayo mana sepatu Keke? 😄

Jadi kurang lebih perlengkapan yang harus dibawa selama tinggal di mess adalah sebagai berikut:

  1. Wearpack
  2. Helm
  3. Sarung tangan balap
  4. Inner suit
  5. Sepatu balap
  6. Sepatu olahraga
  7. Sepatu olahraga
  8. Sandal
  9. Kaos Kaki
  10. Baju olahraga
  11. Pakaian sehari-hari
  12. Pakaian dalam
  13. Perlengkapan mandi
  14. Alat sholat
  15. Buku dan peralatan menulis
  16. Makanan untuk sarapan

Inner suit harus dipakai sebelum menggunakan wearpack. Pastinya selesai latihan, inner suit akan basah oleh keringat. Sebaiknya bawa beberapa pasang. 2-3 pasang juga cukup. Semua pakaian peserta juga ada yang cuciin. Jadi bawa secukupnya aja

Para Pelatih di 43 Racing School


mengobrol dengan ahmad marta

M. Fadli tidak mengajar sendirian. Ada Ahmad Marta yang juga mengajarkan balap motor dan Gandung Darmoko sebagai pelatih fisik. Ada juga beberapa crew di tim mekanik. Bahkan fotografer pun disediakan. Setelah selesai sekolah, para siswa juga akan mendapatkan foto-foto selama latihan.

"Om Marta gak segalak om Fadli, Bun. Kalau om Fadli suka marah kalau sampai jatuh. Pokoknya gak boleh salah. Tapi, kalau om Marta justru gak apa-apa. Katanya biar belajar."

Chi ketawa kecil ketika Keke cerita seperti itu. Dari sebelum mulai latihan juga kami sudah berdiskusi kalau yang namanya pelatih bisa berbagai macam karakternya. Tetapi, asalkan tujuannya memang baik, terima saja meskipun cara melatihnya keras.

Contohnya seperti Fadli yang kata Keke paling galak. Tetapi, Keke juga paham maksud dari pelatihnya. Pada saat balapan yang sesungguhnya tentu jatuh sangat tidak diinginkan. Kesusul pembalap lain aja bisa sulit mengejarnya, apalagi kalau sampai jatuh.

Lalu kenapa Marta membolehkan jatuh pada saat latihan? Karena risiko seperti itu akan ada. Seorang pembalap juga harus merasakan bagaimana rasanya jatuh. Keke pernah beberapa kali jatuh saat latihan. Teman senagkatannya malah ada yang sampai terpental. Itulah kenapa penting banget memiliki perlengkapan balap yang aman.

Tahapan Latihan Balap Motor


Setiap siswa yang berlatih di sini tentunya sudah harus memiliki basic mengendarai motor. Kalau usia minimum yang diterima adalah 10 tahun, berarti sudah belajar motor sejak umur di bawah itu. Ada 3 tahapan saat latihan di sini yaitu basic (Honda Blade 125), intermediate (Honda CBR250R), dan expert (GP Mono).

Gak hanya teknik mengendarai motor aja. Menurut Chi, sebaiknya juga mulai tau tentang mesin, khususnya motor, sedikit demi sedikit. Ya, memang ada teknisi yang menangani. Tetapi, kan, pembalap juga yang akan pakai motornya. Pada saat balapan harus tau apakah motornya nyaman atau enggak. Gak sekadar bisa pakai.

Keke sudah beberapa kali melakukannya. Saat sedang menyelesaikan putaran di sirkuit, dia memilih berhenti karena merasa ada yang salah dengan motornya. Memang seharusnya begitu. Mau lagi seru kayak apapun saat balapan, harus melipir kalau motor mulai dirasa bermasalah. Hubungannya kan dengan keamanan juga.

Level basic menggunakan Honda Blade
foto milik 43 Racing School

Keke belum pernah latihan balap sebelumnya. Jadi, mulai dari level basic. Buat yang sudah pernah ikut balap, level basic ini boleh dilewatkan dan langsung naik ke level selanjutnya. Setelah beberapa hari, Keke naik ke level intermediate. Di 1-2 hari terakhir, Keke sempat ditawarin coba latihan pakai GP Mono. Tetapi, Keke menolak tawaran tersebut.

Level intermediate mengendarai CBR250R

Wearpack yang Keke pakai saat itu agak ngepas ke badannya. Wearpack masih cukup nyaman saat mengendarai Honda Blade. Tetapi, ketika mengendarai CBR 250R, seringkali Keke merasa kesakitan. Posisi badan saat mengendarai CBR katanya lebih menunduk daripada Blade. Kalau pakai wearpack yang ngepas ke badan, lama-lama bikin sakit.

gp mono 43 racing school
Waktu itu, Keke belum berani mengendarai motor ini

Saat latihan menggunakan CBR 250R, Keke beberapa kali gak menyelesaikan putarannya karena badannya kesakitan. Makanya, dia menolak belajar mengendarai GP Mono. Mengendarai GP Mono akan bikin badannya semakin sakit kalau wearpacknya gak pas. Selain itu, Keke juga merasa baru banget belajar balap. Katanya, GP Mono kenceng banget larinya. Jadi nanti aja kalau udah lancar sama motor lain.

wearpack pembalap motor
Saat para siswa latihan fisik, wearpack digantung dulu.

helm dan sarung tangan untuk balap motor
Tempat helm dan sarung tangan

Setiap pagi, para siswa dijemput menggunakan mobil menuju Sirkuit Karting Sentul. Segala perlengkapan dibawa oleh team menggunakan truk. Kemudian oleh team perlengkapan tersebut ditata di tempatnya masing-masing.

olahraga pembalap motor
Latihan fisik dulu sebelum balapan. Salah satunya keliling sirkuit sebanyak beberapa putaran.

Selama latihan, peserta gak terus-terusan mengendarai motor. Pagi-pagi sekitar pukul 7, peserta sudah berkumpul di Sirkuit Karting Sentul untuk latihan fisik. Setelah pemanasan, para siswa berlari mengelilingi sirkuit untuk beberapa putaran.

pelatihan materi, diskusi, evaluasi 43 racing school
Sesi pemberian materi, diskusi, dan evaluasi

Tentu ada juga pelatihan materi. Makanya juga harus bawa buku dan peralatan menulis. Setiap latihan juga para siswa dikasih tau apa yang harus diperbaiki dan bagaimana progressnya. Di awal latihan, Keke sering dikritik karena kurang menunduk saat mengendarai motor. Basic Keke latihan di rumah kan pakai Klx, jadi dia terbiasa tegak saat mengendarai motor. Tetapi, lama-lama dia juga mulai belajar. Progress Keke selama latihan pun cukup baik. Menurut pelatihnya, Keke termasuk anak yang aktif bertanya.

Apakah Keke akan Menjadi Seorang Pembalap?


Kalau bertanya ke Keke, pasti dia akan menjawab mau banget. Tetapi, sejujurnya Chi masih galau. Bukan berarti gak mendukung minatnya ini, lho.

Menjadi seorang pembalap profesional, tentu butuh totalitas. Bahkan pernah ada seseorang yang mengatakan kalau menjadi atlet, kadang-kadang harus bisa mengorbankan hal lain. Urusan pendidikan juga mungkin bisa ikut dikorbankan.

Nah, di bagian ini masih berat buat Chi. Memang beberapa kali terjadi bentrok. Keke pun gak bisa sering latihan, kecuali saat libur. Itupun harus dilihat dulu apakah ada PR atau ulangan. Keke pernah bilang mau ikut beberapa kejuaran termasuk di luar kota. Tetapi, Chi masih melarang kalau di luar kota. Pastinya akan banyak izin. Mana dia sekarang udah kelas 9. Jadi bisa dibilang belum sepenuhnya Chi membebaskan Keke beraktivitas balapan. Padahal Chi pengen banget kasih dia dukungan penuh. Dilema banget, uy!

Pertama kali ikut pertandingan, masih menggunakan wearpack pinjaman. Wearpack punya dia belum jadi

Kalau di dalam kota, Keke pernah ikutan. Memang belum pernah menang, tetapi setidaknya dia mencari pengalaman. Dia sekarang bergabung dengan salah satu bengkel khusus racing gitu. Detil kerjasama dan bayar-bayarannya sebetulnya K'Aie yang lebih paham.

Tapi, setidaknya dengan gabung di bengkel ada beberapa keuntungan yang didapat Keke. Kalau sebelumnya dia hanya latihan berdua dengan ayahnya, sejak gabung di bengkel jadi punya tim mulai dari mekanik hingga pelatih. Gabung di sini juga direkomendasikan sama teman K'Aie yang pembalap itu. Ada beberapa pembalap juga yang gabung. Kalau begini, keuntungan lainnya adalah pergaulan Keke dengan orang-orang yang memiliki passion yang sama juga semakin luas.

Ketika Chi ingatkan kalau dia udah kelas 9, malah dijawab, "Bun, mumpung ada yang bantuin. Motor ada, wearpack ada. Kesempatan, Bun!" Chi pun akhirnya hanya pasrah hehehe. Ya tetap diwanti-wanti jangan sampai ketinggalan urusan sekolah. Setidaknya semua tugas sekolah beres.

Selama ikut pertandingan balap, Keke dikasih pinjam wearpack. Punya Keke mulai sempit karena dia bertambah tingginya. Lagipula wearpack dia yang lama kan ada brandnya seperti yang Chi ceritain di atas. Sekarang ini, Keke lagi bikin wearpack baru. Bukan pakai second lagi dan disesuaikan dengan ukuran tubuhnya. Butuh waktu sekitar 2-3 minggu untuk proses pembuatan wearpack.

Untuk urusan dukung-mendukung, kakek dan nenek (orang tua Chi) agak keberatan kalau Keke menjadi pembalap. Mereka gak pernah mau diajak nonton Keke latihan. Alasannya ngeri, takut Keke kenapa-napa.

Tetapi, orang tua Chi gak melarang. Lagipula Chi cukup memaklumi. Papah dan mamah kayaknya memang agak ngeri sama motor. Kalau sama anak perempuannya malah dilarang banget belajar mengendarai motor.

Dulu, waktu SMA, Chi pernah beberapa kali merengek minta dibeliin motor. Gak pernah dikabulkan permintaannya. Menurut papah dan mamah lebih baik mengendarai mobil. Eh, bener aja. Begitu Chi minta mobil malah langsung dibeliin 😂

Chi juga beberapa kali ditanya, apa gak ngeri kalau Keke sampai jatuh? Ngeri lah pasti. Ketika anak-anak bertanding taekwondo aja Chi suka ngeri sendiri melihat pada saling tendang begitu. Kadang-kadang suka merasa jadi orang tua yang tega.

Tetapi, Chi belum pernah lihat sendiri kalau Keke jatuh dari motor. Beberapa kali dia jatuh saat latihan, Chi lagi gak ada di lokasi. Hanya mendengar ceritanya dan melihat sepatu serta wearpacknya yang tergores. Terakhir kali jatuh saat latihan di Sirkuit Sentul Besar. Sampai ada bagian di helm yang copot dan gores, perlengkapan lain juga rusak, bahkan motornya pun sampai gak bisa dikendarai. Harus dibenerin dulu, deh. Kalau gak salah dia berhenti latihan sampai hampir 2 bulan karena motor rusak. Itulah kenapa penting banget memakai perlengkapan yang tidak hanya nyaman, tetapi juga harus aman.

Perlengkapan Balapan dan Diet


harga perlengkapan balap motor

"Bun, Keke butuh sepatu balap baru, tuh." Chi cuma diam saat K'Aie ngomong gitu. Beberapa hari lalu, Keke bilang sliding padnya udah habis. Sarung tangan juga udah harus ganti baru. Sekarang ngomongin sepatu balap. Usianya belum pada genap setahun 😅

Ada juga yang bertanya, bagaimana balapan motor kalau pakai kacamata? Bisa, kok. Asalkan pakai kacamata yang pas aja. Kalau kata Keke, kacamata yang enak buat balapan itu yang gagang di bagian telinganya bengkok. Kalau yang bentuknya lurus, gak nyaman karena mudah bergerak.

Gak harus mahal juga, tetapi yang penting nyaman. Kacamata yang biasa Keke pakai saat balapan motor bukan kacamata yang sehari-hari dipakai. Harganya juga jauh lebih murah daripada yang biasa dia pakai. Tetapi, memang nyaman kalau buat balapan.

Kalau kacamata memang masih bisa pakai yang murah. Tetapi, untuk perlengkapan balap harganya termasuk lumayan. Memang di pasaran harganya bervariasi, tetapi sebaiknya jangan yang murah meriah juga harganya. Bukannya apa-apa , balap motor kan termasuk olahraga dengan risiko tinggi. Cari perlengkapan yang bener-bener aman untuk meminimalkan risiko.

Cari barang second pun gak masalah. Asalkan masih bagus kualitasnya. Kayak wearpack dan helm pertama Keke semuanya second. Tetapi, semuanya masih bagus kualitasnya. Wearpack pertama Keke itu kan bekas pembalap Honda. Jadi meskipun second, kualitasnya bagus. Untuk wearpack second waktu itu harganya Rp5,5 juta. Sedangkan helm Arai second harganya Rp4 juta.

berat badan pembalap motor
Di sini, Keke masih dianggap gemuk. Harus menurunkan berat badan 12-15 kg

Saat mulai fokus latihan balap, berat badan Keke turun hingga 12 kg. Bukan karena kecapekan, tetapi memang diharuskan. Berat badan Keke sebetulnya ideal, tetapi menurut pelatihnya itu berat badan seorang pembalap sebaiknya kurus. Keke disarankan menurunkan berat badan 12-15 kg. Di saat yang hampir berdekatan, Keke juga sedang persiapan untuk pertandingan Taekwondo. Ternyata, sama sabeum juga dianjurkan untuk menurunkan berat badan antara 12-15 kg

[Silakan baca: Taekwondo Tournament]

Keke semakin rutin olahraga lari. Bersepeda dan lari memang paling dianjurkan. Masih juga ditambah dengan latihan taekwondo. Pola makannya juga semakin dikontrol. Tidak sekadar makan sehat, tetapi porsinya juga diperhatikan. Nasinya diganti dengan nasi merah. Cuma, sejak pindah rumah aja belum makan nasi merah lagi. 😄

batch 10 43 racing school

Btw, akhir-akhir ini Keke minta didaftarin lagi ke 43 Racing School. Apalagi sekarang sekolah ini punya materi baru yang belum ada saat Keke belajar di sana. Tetapi, nanti dulu, ya. Sekarang bener-bener fokus untuk UNBK aja dulu. Lagipula ikut beberapa lomba aja dulu buat memperbanyak pengalaman 😁

Di bawah ini video angkatan Keke (batch 10). Dokumentasi milik 43 Racing School. Setiap batch kayaknya bakal dibikinin video juga. Bila teman-teman tertarik untuk belajar balap di sini atau ingin mencari info lebih lanjut, silakan follow akun Instagram @43racingschool

 

36 komentar:

  1. Mantap. semoga menjadi pembalap profesional

    BalasHapus
  2. Haduuuh anak cowok itu full adrenalin ya. Hati2 ya Keke, biar lambat asal selamat. Loh?! Anakku aja (cewek sih) udah kuliah masih aku antar jemput, padahal udah aku beliin motor. Kalau nggak bisa jemput, tak suruh naik gojek. Dulu dia ikut Taekwondo. Kalau pas pertandingan nggak ada bapaknya, aku yg antar dan akutu nggak mau masuk ke arenanya, cuma nungguin di luar. Kalau ada bapaknya, aku nggak mau ikut ngantar. Alhamdulillah sekarang udah nggak taekwondo lagi. Laaaah kok malah alhamdulillah?

    BalasHapus
  3. belajar dg ahlinya ya, jd diajar cara yang benar ya dan diawasi

    BalasHapus
  4. Seneng banget baca artikelnya, orangtua yang mendukung penuh minat anak. Semoga saya juga bisa seperti ayah ibunya Keke, hehe.
    Semoga Keke jadi pembalap profesional, ya!

    BalasHapus
  5. Buka list BW, postingan ini yg kubaca pertama. Aku tertariiiik banget sama Keke sejak pertama dirimu post di FB (kalau ga salah sekitar tahun lalu ya?) tentang Keke sekolah balap. Dan walaupun ini postingan panjaaaang sekali, aku baca sampai selesai! Keke yang semangat ya sekolah formalnya, biar bisa ikutan sekolah balap lagi!

    BalasHapus
  6. Waah. Ada sekolahnya juga. Tapi, memang, sih, salah satu cara mengenal bakat/minat.

    BalasHapus
  7. Allhamdulillah udah cape2 latihan balap dikasih makanan yang enak RM Sederhana :-D tadi aku lihat fotonya lgs ketawa kirian mau ikutan balapan juga.
    Semangat Keke latihannya biar jadi pembalap jagoan

    BalasHapus
  8. Aduhh mbaaa, saya belajar banyak banget di blog ini.
    Belom bisa bayangin kalau anak saya juga ingin bercita2 jadi pembalap.
    Sereemmm mba hihihi.

    Tapi emang kalau udah minatnya, sebaiknya didukung ya, biar lebih positif ga asal balap2 liar aja :)

    Sukses yaaa kakak Keke

    BalasHapus
  9. Wah ternyata ada ya racing school. Baru tau mba hehe semoga minat dan passion Nai dan Keke bs terbangun dan mengukir prestasi yaa

    BalasHapus
  10. Sungguh lengkap informasi yang mbak tulis di atas. First, aku mau bilang kalau baca tulisan ini semacam membaca cerpen juga mbak. mengalir. Nama anak-nya lucu-lucu ya mbak. Sukses terus untuk sekolah balapnya.

    BalasHapus
  11. Wah-wah aku baru tahu lho mba soa 43 racing scholl ini. Bagus juga buat anak-anak yang bercita-cita memang jadi pembalap atau memberi ruang belajar untuk anak siapa tahu punya bakat jadi pembalap. Tapi memang harus siapin mental ortunya juga ya hihihi dan mempersiapkan psikologis anak kalau balapnya cuma untuk di sekolah itu aja bukan ditempat lain

    BalasHapus
  12. Saya termasuk yang kesel kalau lihat anak di bawah umur mengendarai motor, dan kebut-kebutan di jalanan kompleks, dan memang mesti didukung oleh kegiatan seperti ini sehingga mengendarai motornya pun berfaedah, salut dengan Chi yang bisa mendukung dan mengakomodir hobinya Keke

    BalasHapus
  13. Sama mba saya juga gak suka lihat anak-anak naik motor dan kebut-kebutan. Tapi kalau disalurkannya seperti keke sih saya setuju Mba, daripada ngebut di jalan raya bahaya, lebih baik sekolah balap bisa tersalurkan dan bermanfaat.

    BalasHapus
  14. Duh kalo anakku yang ikut sekolah balap,mungkin emaknya bakal teriak-teriak senam jantung tiap lihat dia latihan. Keren ya sebenarnya melatih keberanian anak.

    BalasHapus
  15. Duh mak cie nyalimu kuat juga ya dgn memberikan ijin si kaka utk jd pembalap. Hebat, smoga si kaka bs ikutan Moto GP suatu hari nanti 😍

    BalasHapus
  16. Daku baca artikel ini kek lagi baca buku biografinya valentine Rossi, karena dia juga dari kecil belajar racing-nya

    BalasHapus
  17. Waaa Keke hebat banget, sudah ketemu hobby yang menyenangkan.
    Emang sih untuk jadi pembalap harus totalitas ya Mbak Myr. Terkadang kalau akan ada pertandingan sekolah juga harus dikorbankan. Kalau aku membayangkan seperti Mbak Myra, pastinya juga akan terpojok di pilihan yang sulit :)

    BalasHapus
  18. Keke kok keren banget sih, mainannya laki banget dong! Balapan. Semoga nanti bisa jadi pembalap handal yaa.. sabar-sanar Mbak Myra. Pulang-pulang Keke dah jadi pembalap. Hihi

    BalasHapus
  19. Mending diarahkan begini ya. Jadi setidaknya nanti kalau dewasa, tahu bagaimana harusnya bermotor itudan tidak penasaran rasa kebut2an

    BalasHapus
  20. Semangat ya Keke semoga menjadi pembalap yang handal. Eh salut juga sama mamanya, support terus anaknya.

    BalasHapus
  21. Aaak samaaa. Aku jg sebel banget liat anak kecil2 bawa motor di jalan. Pengen jitakin emak bapaknya yg kasih izin sungguh. Mending diarahin ke sekolah gini sekalian yak kl emang suka. Drpd ga jelas di jalan

    BalasHapus
  22. waini namanya kebut-kebutan yang terarah dan pada tempatnya, hehehe. aku juga suka kesel mb sama nak alay yang bawa motor kebut kebutan di jalan kampung. mending sekalian belajar gini deh, ada manfaatnya.

    BalasHapus
  23. Ya Allah lengkap banget Mbak ulasannya. Keke meuni gagah pisan ih pake wearpacknya. Emang gitu ya, Mbak, antara passion anak dan pendidikan sama-sama penting. Aku juga akan dilema kalau jadi Mbak Myra, hehehe.

    BalasHapus
  24. aku termasuk kesel mba apalagi anak2 cimit yg deket rumahku ini goncengan 4 duh masih pada SD-lah suka kesel itu ortunya biarin aja nah klo emang diarahin kyk Keke kan enak ditempatnya, ada pelatihnya safetyna juga terjamin lah klo ugal2an dijalan mah duh...
    btw ini jadi pertimbangan aku ntar jagoanku pengen jd apa yah ehhee

    BalasHapus
  25. Wah, kalah tinggi Chi dama Keke. Keren lho minat Keke mau jd pembalap nih. Salut.

    BalasHapus
  26. Minat Keke jd pembalap terarah betul nih, beruntungnya keke
    Orang tuanya juga jadi aman Keke gak turun ke asal jalan raya

    BalasHapus
  27. Sebagai ortu pasti dilema ya mba, satu sisi menyalurkan bakat hobby anak, satu sisi lain pendidikan juga penting ....Anaknya semoga menjadi pembalap profesional ya

    BalasHapus
  28. Ini baru kereen, ada wadah bagi anak-anak yang suka balapan, gak harus balap liat yang mengganggu ketertiban.
    Mudah2an keke bisa jadi the next pembalap andalan Indonesia yah kak 🙏

    BalasHapus
  29. Wah 10 hari sekitar 28 juta. Luar biasa. Buat kami di kampung 28 juga itu gaji suami 2 tahun setengah. Luar biasa ya perbandingan kota dan desa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua tulisan saya baik di blog ini maupun di blog traveling, selalu saya usahakan menulis dengan komplit termasuk harga atau biayanya. Biar pembaca juga mendapatkan informasi yang komplit seandainya membutuhkannya. Karena ada juga pembaca yang enggan untuk bertanya dengan berbagai alasan.

      Di tulisan apapun, saya gak pernah membuka tentang gaji suami. Itu rahasia yang gak boleh siapapun tau selain istri. Saya juga enggan membandingkan kota dan desa. Semua memiliki kesempatan yang sama asalkan ada jalannya. Lagipula tulisan ini untuk menceritakan pendapat saya dan suami mendukung passion anak. Serta memberikan informasi tentang salah satu sekolah balap.

      Pernah juga ada yang bilang kalau menjadi pembalap hanya untuk keluarga kaya. Saya menepis anggapan itu. Saya berharap semua kalangan akan dimampukan jalannya. Kalaupun bukan menjadi pembalap, insya Allah bisa menjadi apapun yang berguna :)

      Hapus
  30. Kalo udah passion anaknya pasti anaknya akan hepi ya menjalani latihan walaupun kita sebagai ortunya anggap berat. Semangat Keke

    BalasHapus
  31. Salut dengan supporting systemnya,Mbak. Sukses ya,dek. Semoga tercapai cita-citamu ya :)

    BalasHapus
  32. Berat badan si keke bisa turun 12kg kalau itu apa mba rahasianya hihi. Semoga keke bisa mewujudkan impiannya ya di sekolah balap ini.

    BalasHapus
  33. Aku masih parno kalo anak mau belajar naik motor. Apalagi jadi pembalap. Kayaknya nanti aja saat mereka sudah lulus SMA, baru boleh belajar naik motor.

    BalasHapus
  34. subhanallah seneng banget liat mom dukung anak sesuai dengan passionnya. Salut saya sama keke, begitu gigihnya belajar. baru tau juga loh mom aku soal sekolah pembalap ini.

    BalasHapus
  35. Duuuuh, kadang sebagai emak kitanya deg-degan ya Mbaak, sama pilihan hobi anak. Tapi semoga dengan dukungan kita, hobi mereka jadi positif dan meminimalisasi hal-hal yang negatif ya Mbak Myr....

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^