Budaya Membaca Hingga Tuntas 

Budaya Membaca Hingga Tuntas - Yang namanya pro-kontra sepertinya ada trendnya. Ya, mungkin ini cuma perasaan Chi aja. Tapi, akhir-akhir Chi mulai sering melihat pro-kontra tentang kegiatan calistung bagi anak balita.

Membahas tentang boleh atau tidak mengajarkan anak membaca, Chi punya 2 tips jitu. Setidaknya jitu bagi Keke dan Nai karena sudah membuktikan. Kalau teman-teman mau mencoba, silakan baca postingan Chi yang berjudul "2 Tips Jitu Mengajarkan Anak Membaca."

Oke, setiap orang tua punya pertimbangan sendiri tentang kapan anak boleh diajarkan membaca. Silakan aja. Kita gak bisa menerapkan standar yang sama untuk setiap keluarga. Tapi, membahas tentang membaca, sebetulnya akhir-akhir ini Chi lagi agak 'gerah'



Teman-teman pernah lihat poster di atas? Kabarnya, gak sampai 12 jam sudah banyak sekali yang share. Hingga artikel ini dibuat, sudah sekitar 1800-an yang share dan lebih dari 1.200 yang komen. Apa pendapat teman-teman ketika melihat poster di sebelah kiri itu? Jangan melihat status di sebelah kanannya karena itu sudah diedit total sama si pemilik status.

Aslinya, Dian Pratama (yang membuat status viral itu) menulis dengan sangat panjang dan tidak seperti yang terlihat di screenschot itu. Gambar yang Chi upload ini, statusnya sudah diedit semua sama dia. Tapi ada cara untuk melihat tulisan awalnya. Caranya, di pojok kanan atas yang ada panah ke bawa itu diklik. Lalu pilih opsi view history. Nah, kelihatan tulisan awalnya, deh.

Kalau teman-teman penasaran, silakan mampir ke akunnya. Tapi yang mau Chi bahas di sini adalah Chi setuju dengan pendapat Dian Pratama ini. Chi punya rasa keprihatinan yang sama dengan dia. Saat ini, rasanya semakin banyak saja warga social media yang menggampangkan share. Seringkali bikin lelah membaca karena selalu diiringi dengan caption yang emosi.

Oke ... oke ... Chi lebih sering gak menanggapi kalau yang seperti itu. Paling sesekali aja kalau udah gregetan sampe ke ubun-ubun hahaha.  Kalau share bisa sangat mudah, begitu halnya dengan hide. *tinggal klik doang* Biasanya Chi lebih memilih untuk hide post kalau melihat yang seperti itu.

Ya, share memang mudah. Tapi saking mudahnya sampai kita lupa untuk 'THINK'. Think before you share. Bahkan kata 'think' juga bisa berarti ...


T - is it True?
H - is it Helpful/Hurtful?
I - is it Inspiring/Illegal?
N - is it Necessary?
K - is it Kind?

THINK. Ya ... THINK ... Yuk, kita sama-sama renungkan lagi. 

Baru baca judul, udah langsung share. Padahal kita juga sadar kalau zaman sekarang makin banyak judul berita yang heboh tapi isi gak nyambung. Tapi entah gimana, tetep aja kita main share. Salah satu contoh adalah heboh tentang Loom Band. Beramai-ramai orang share tentang hal ini tanpa cek dan ricek terlebih dahulu. (Silakan baca: Biasakan Cek dan Ricek, Nak)

Budaya Membaca Hingga Tuntas

Gak cuma judul, sih. Seringkali cuma lihat foto atau gambar yang diupload juga kita langsung share. Lihat contoh foto yang Chi upload di atas. Rumah ibu yang kebanjiran itu juga sempat viral beberapa waktu lalu.  1 foto dipakai beramai-ramai berbagai media dengan berita yang berbeda. Jadi sebetulnya ibu itu rumahnya di mana?

Lucu memang melihat gambarnya. Chi pun sempat ngakak. Tapi ngakak miris begitu, deh. Dan foto hoax seperti itu sering terjadi. Salah satu yang sempat bikin Chi gregetan adalah tentang seorang calon ibu muda yang wafat karena pre-eklamsia. Tapi kemudian diberitakan oleh salah satu media kalau calon ibu itu wafat karena memakai pemutih wajah sembarangan. Dan kalau ditelusuri, semua berawal dari salah satu komentar yang sok yakin banget kalau almarhumah wafat karena pakai pemutih wajah sembarangan hanya karena melihat foto yang diupload suami almarhumah saat sedang koma di rumah sakit. Hadeeeuuuhh ... -_-


Padahal ngecek foto itu gampang, lho. Segampang kita telusuri berita dengan memasukkan kata kunci. Lihat gambar di atas? Klik ikon kamera lalu upload foto yang mau dicek. Atau paste URLnya juga gak apa-apa. Nanti bisa dilihat, kok, apa foto di berita itu benar atau hoax. Pokoknya Google itu termasuk gudang informasi. Tapi harus hati-hati, gak semua informasi langsung dipercaya. Biasakan untuk memfilter, lah.

Seperti beberapa waktu lalu saat kejadian kebakaran hutan di Sumatera. Okelah kita sama-sama prihatin. Seharusnya ada yang bertanggung jawab dan jangan sampai kebakaran hutan terus terjadi. Tapi juga jangan sampai percaya dengan berita hoax. Chi pernah cek salah satu foto, gak taunya itu foto kebakaran hutan di negara lain yang sudah terjadi sekian tahun silam. Sekarang ini pun semakin banyak netizen yang utak-atik foto seolah-olah kejadian tersebut benar-benar terjadi. Hati-hati, ya, jangan langsung percaya.

Susah juga menduga-duga apa tujuan dari berita yang dishare setengah-setengah atau malah hoax. Dian Pratama, jelas mengakui kalau dia sedang melakukan social eksperiment. Dan, memang terbukti, kan? Banyak netizen yang cuma sekadar lihat gambar atau baca sepotong tapi langsung share bahkan sambil mencak-mencak. Atau malah ada juga kita yang secara sadar/tidak membuat caption yang gak sesuai dengan berita. Hanya karena kita gak suka aja dengan berita tersebut. Kalau kayak begini termasuk pembohongan publik juga kayaknya walaupun kesannya sepele. Ayolah, kita gak perlu melakukan itu hanya supaya orang lain sependapat dengan kita.

Memang ada juga membuat berita heboh dengan tujuan tertentu. Contohnya kalau ada fanpage selalu bikin berbagai status viral yang mengundang emosi. Kabarnya, setelah fanpage tersebut jadi banyak yang like dan comment, fungsinya langsung berubah. Bisa jadi toko online atau fanpage artis pendatang baru. Entah benar atau tidak, tapi sesuatu yang berpotensi memancing emosi manusia memang paling cepat menyebar, deh. Paling mengundang perhatian.

Dan jangan lupakan, ketika ada 2 pihak yang berpro-kontra, biasanya suka ada pihak ketiga yang ingin mengompori suasana. Biasanya sadar atau tidak yang gampang share secara emosi adalah yang paling dimanfaatkan ;)

Hati boleh panas, Chi pun masih suka begitu kalau baca berita yang gak disuka. Tapi, berusaha untuk gak share atau beropini saat masih emosi tinggi. Mungkin ada kalanya ini jari-jari harus diplester. Pengalaman pribadi Chi yang beberapa kali tangannya alergi. Ketika diplester, mau internetan di hape susah, uy! Hehehe ... Atau cukuplah kita minum kopi dulu sejenak buat menenangkan pikiran. Atau terserah aja mau ngapain yang penting jangan ngegampangin share. Ada kalanya perlu sedikit ribet karena menelusuri satu per satu asal berita. Tapi daripada salah? Ketauan banget, kan, jadinya kalau kita termasuk orang yang gampang terpengaruh. Akan ada banyak mata yang menilai dirimu. Seperti apa teman-teman mau dikenal oleh lingkungan sekitar? :)

Ketika masih kecil, orang tua ingin anak-anak bisa membaca. Terlepas dari berbagai pendapat kapan tepatnya anak sudah boleh diajarkan membaca. Tapi dengan apa yang terjadi sekarang, rasanya bisa membaca saja belum cukup.

Yakin kalau anak sudah paham dengan isi buku cerita yang dibaca? Jangan-jangan hanya sekadar membaca. Sepertinya membaca hingga tuntas harus dibiasakan. Dan seringkali pula Chi membahas buku yang sedang atau sudah dibaca oleh Keke dan Nai. Biar tau bagaimana pendapat mereka tentang buku yang dibaca. Apalagi Keke dan Nai, kan, anak generasi digital. Chi sedikitpun gak berharap mereka akan menjadi anak-anak yang ngegampangin share tanpa dibaca. Semoga itu gak terjadi. Aamiin.