Jangan Memarahi Anak Di Tempat Ini.

Jangan Memarahi Anak Di Tempat Ini. Yup, ada satu tempat di mana Chi berusaha keras untuk gak memarahi anak-anak yaitu di tempat umum. Bahkan ketika di rumah, sebisa mungkin menegur atau memarahinya di dalam kamar saja.

Sebelum, Chi kasih tau alasannya, pastinya kita pernah dong merasa kesal sama anak ketika lagi di luar rumah. Entah anak yang ngerengek minta ini-itu, pecicilan kesana-kemari, dan lain sebagainya. Pokoknya bikin kita jaid kesel. Rasanya pengen ngomelin mereka saat itu juga. Tapi Chi berusaha menghindari itu.

Anak yang dimarahi di depan umum akan merasa malu. Kalau udah malu, akan timbul emosi. Emosinya bisa dikeluarkan dengan cara menangis, ngamuk, atau bahkan diam. Tapi yang pasti kalau sudah emosi akan sulit menerima penjelasan apapun, walopun mungkin dalam hatinya mengakui kalau dirinya salah.

Jangankan di tempat umum, ketika di rumah pun harus lihat-lihat tempat. Chi, kan, masih tinggal sama orang tua. Beberapa kali Chi perhatiin kalau lagi marahin Keke dan dia menangis, ekspresinya langsung berubah jadi cool kalau kakek atau neneknya lewat. Biasanya dia langsung buru-buru usap air mata atau kadang masuk kamar. Chi yakin dia gak suka ditegur atau dimarahi di depan orang lain walaupun itu di depan kakek atau neneknya. Sama, lah, Chi pun juga begitu. Gak suka kalau ditegur di depan orang lain.

Alhamdulillah, Keke dan Nai sebetulnya termasuk yang jarang berulah kalau di tempat umum. Kalau pun iya, paling biasanya mereka pengen sesuatu misalnya mainan anak tapi Chi melarang karena belum waktunya beli yang baru. Kadang mereka langsung mengerti, tapi kadang juga suka agak merengek.

Kalau udah merengek, biasanya Chi mencolek mereka. Begitu mereka lihat muka bundanya, Chi langsung kasih ekspresi yang mereka mengerti *semacam kode hahaha* Kalau gak ngerti juga, Chi biasanya ajak mereka menyingkir sejenak. Caranya dengan rangkul mereka trus ajak ngobrol. Atau duduk di salah satu tempat sambil pesan minum juga gak apa-apa. Nah, disitu pelan-pelan dikasih tau kenapa sebagai orang tua gak suka mereka begitu. Pernah juga gagal dan mereka tetap dibeliin mainan, tapi ada konsekuensinya. Entah itu gak ada jatah mainan untuk berikutnya atau hal lain.

Ekspresi wajah sama intonasi suara tetap harus dijaga kalau menegur mereka di depan umum. Ya, sebetulnya gak cuma di depan umum aja, sih. Cuma kadang Chi masih suka kebawa emosi kalau lagi gak di tempat umum. Suka buru-buru menumpahkan kekesalan dengan cerewet hehehe. *Maafin Bunda, ya, Nak :)* Tapi biasanya diakhiri dengan diskusi, sih. Kapan-kapan Chi bahas tentang diskusinya.

Ngomong-ngomong tentang menegur di depan umum juga Chi suka jelasin di depan anak. Chi wanti-wanti supaya sebaiknya sangat berhati-hati ketika ingin menegur orang. Apalagi menegurnya di depan umum. Jangan sampe orang tersebut malah tersinggung akhirnya menolak mengakui kebenaran.

Terutama di dunia maya harus lebih berhati-hati lagi. Kalau dulu ada peribahasa "lidah tidak bertulang" untuk menggambarkan betapa mudahnya lisan ini mengeluarkan kata-kata yang bahkan seringkali tanpa berpikir. Zaman sekarang udah mengalami pergeseran. Jari-jari walopun bertulang tapi bisa lebih parah dari lidah dan bisa lebih tajam jadi silet. Parahnya banyak yang merasa santai aja ngomong bebas di dunia maya. Mungkin karena tidak ada kontak mata, sehingga merasa tidak ada yang mengawasi.

Seringkali melihat seseorang mencoba menegur orang lain melalui dunia maya. Yang ditegur bukannya menerima tapi malah marah. Ya, mungkin yang ditegur memang punya salah tapi kalau tegurannya dilakukan di dunia maya itu sama aja dengan mempermalukannya. Kalau udah malu, biasanya akan timbul marah, kan?

Berbicara di dunia maya, termasuk social media memang tidak memerlukan kontak mata. Tapi Chi, sih, selalu membayangkan ketika berbicara di social media ibarat berbicara di depan sebuah ruangan penuh orang yang bahkan kita gak tau berapa banyak orang yang akan memperhatikan kita. Justru karena gak tau, kita harus hati-hati.

Mengungkapkan kekesalan tanpa menyebutkan orang yang dimaksud *mungkin untuk menjaga nama baik* juga gak apa-apa. Tapi tetep harus hati-hati. Salah-salah seseorang yang kita maksud malah gak merasa apa-apa, tapi justru ada orang lain yang berprasangka. Menganggap status yang dimaksud adalah sindiran untuknya.

Chi juga masih sangat belajar. Tapi gak apa-apa juga tetap mengingatkan anak-anak. Kalau bisa ketika mau menegur seseorang untuk kesalahannya jangan di depan umum, deh. Di dunia maya ada berbagai ruang pribadi, kan? Email, inbox, direct message, dan lain sebagainya. Kalau di dunia nyata, kita bisa memilih tempat yang dianggap pribadi untuk berbicara tanpa mengundang orang lain yang gak berkepentingan untuk tau masalahnya :)

5 Comments

  1. Betul, anak2 juga punya harga diri. Ngomelinnya ntar aja dirumah wkwkwkk

    BalasHapus
  2. Iya bener, bahkan di rumah anak2ku juga nggak suka dimarahi di depan saudara2nya

    BalasHapus
  3. Setuju Mak.
    Dulu pernah pas naik kereta, ada ibu bawa anak2 yg masih kecil. Yg besar sktr 5 thn. Tiba2 si besar ini muntah. Sepertinya masuk angin. Begitu tahu anaknya muntah gt. lgsg dimarahi. Padahl kereta lagi penuh. Kasian liat anaknya yg nahan sakit itu :((

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^