Benarkah gurumu galak? Yuk, coba pikirkan lagi. Suatu hari, salah seorang sepupu Chi yang masih SMP cerita *sambil tertawa-tawa* kalau dia dan beberapa temannya dipukul telapak tangannya oleh gurunya. Salah seorang temannya tidak terima. Dan dengan sedikit mengancam mengatakan akan memperkarakan masalah. Menurut sepupu Chi, gurunya langsung meminta maaf kepada murid-muridnya. Dan agak memohon supaya masalah tersebut gak diperpanjang. Dan, menurut cerita sepupu Chi sekarang gurunya jadi gak berani menghukum lagi.

Chi: "Memangnya gurumu keras sekali memukul telapak tangan kamu dan teman-teman?"
Sepupu: "Enggak juga, sih."

Oke, keras atau tidak memang relatif, ya. Tapi kalau Chi mencoba mengambil kesimpulan dari cara sepupu bercerita, sepertinya memang gurunya hanya memukul biasa aja.

Chi: "Emang, gara-garanya kenapa sampe dipukul?"
Sepupu: "Gara-garanya kita pada ngobrol di kelas pas guru lagi ngajarin."
Chi: "Ohh ... trus, kalian langsung dipukul."
Sepupu: "Enggak, sih. Pertamanya ditegur dulu, diminta jangan ngobrol saat jam pelajaran. Tapi, gak ada yang nurut. Jadi aja akhirnya yang ngobrol dipukul telapak tangannya."
Chi: "Kalau gitu menurut mu hukuman apa yang pas untuk siswa yang gak nurut sama guru? Kan, awalnya guru gak langsung mukul. Tapi menegur dulu cuma gak pada nurut, kan?"
Sepupu: "Hehehe ..."

Sepupu Chi hanya tertawa tapi gak kasih solusi, hukuman apa yang pantas kalau siswa gak nurut sama guru. Buat Chi ini menggelitik banget.

Di dunia maya, Chi beberapa kali melihat komik yang membandingkan gaya pendidikan sekarang dan dulu. Kalau dulu, gurulah yang paling di dengar. Anak dihukum guru, jangan coba-coba cerita ke orang tua kalau gak mau dikasih hukuman tambahan. Kalau zaman sekarang justru katanya kebalikan. Guru yang terlihat 'menciut' dihadapan orang tua bahkan murid.

Pernah juga, sih, beberapa kali dijadikan bahasan di berbagai grup. Kalau dulu, sih, dipukul pake penggaris aja, anak bisa diem. Berbeda dengan zaman sekarang. Lalu kemudian ada yang menyimpulkan kalau anak zaman dulu lebih tangguh. Ah, kalau soal ketangguhan Chi berada di tengah, deh. Setiap zaman punya tantangan sendiri. Jadi gak ada generasi yang lebih tangguh dibanding generasi lainnya.

Chi juga bukan orang yang setuju kalau anak harus selalu diberi kekerasan supaya menurut. Chi bahkan akan marah besar kalau kedapatan ada guru yang dengan mudah bermain fisik ke anak-anak. Menampar, menendang, dan hal-hal seperti itu sangat tidak boleh dilakukan. Tapi Chi juga sama gak setujunya ketika ada murid yang entah beneran mengancam atau sekedar menggertak gurunya ketika memberikan hukuman. Tapi murid tersebut juga gak nurut kalau dibilangin baik-baik.

Sepupu Chi merasa biasa aja dengan hukuman tersebut. Menurutnya, gurunya hanya menepuk pelan. Entah dengan temannya. Mungkin bagi temannya itu merupakan hukuman yang menyakitkan. Tapi bisa juga hanya sekadar berpura-pura dengan tujuan untuk membalikkan kesalahan. Supaya tetep bebas melakukan kesalahan yang sama.

Makanya Chi nanya balik ke sepupu tentang hukuman apa yang pantas supaya anak-anak menurut. Sayangnya dia gak bisa jawab, sih. Nah, kalau begini agak kasihan sama gurunya, kan? Beliau punya kewajiban mengajar, tapi kalau ada siswa yang berulah pasti suasana belajar mengajar jadi terganggu. Sedangkan beliau gak leluasa memberikan hukuman yang tepat.

Kalau Chi, sih, gak membabi-buta memberikan pembelaan ke anak-anak. Alhamdulillah belum ketemu guru atau wali kelas yang kasar. Tapi Chi juga sering bilang ke anak-anak, kalau mereka ada salah dan ditegur harus terima. Karena bunda gak akan mau belain yang salah kecuali kalau hukumannya keterlaluan. Atau bunda baru belain kalau ternyata anak-anak gak salah tapi tetap dapat hukuman. Biasanya Chi suka cross check dulu sebelum melakukan protes.

Menurut teman-teman, kira-kira bolehkah seorang guru menghukum anak muridnya kalau ditegur sudah tidak mempan? Tapi kalau sudah diperingatkan si murid gak nurut juga, apa yang harus dilakukan. Mungkin kalau di rumah, ceritanya akan seperti sikap orang tua kepada anak. Ketika orangtua mulai bersikap tegas, dianggapnya tega. Padahal tega demi kebaikan gak apa-apa, ya :)