K'Aie : "Jadi ke masjid Demak, gak?"
Chi     : "Emang keburu?"
K'Aie : "Ya, paling lewat aja."
Chi     : "Terserah aja kalau emang keburu, sih."

Setelah ditimbang-timbang dengan melihat GPS juga, akhirnya kami memutuskan gak lewat Demak. Tapi lewat Purwodadi aja. Keliatannya jarak tempuhnya lebih pendek. Lagipula kami khawatir kayak perjalanan di hari pertama. Banyak buka-tutup, dan truk-truk besar yang bikin lambat.

Setelah kena macet dan sedikit salah jalan di Semarang, kami pun mulai menemui jalan lancar. Sayangnya cuma sementara.... Keliatannya kami salah pilih rute.

Kami lebih sering menemui jalan jelek dan berdebu. Sepanjang jalan badan rasanya pegel karena gujlak-gajluk. Jalanan yang di beberapa titik lumayan parah rusaknya, sempet bikin Chi khawatir kalau knalpot mobil bakal bermasalah lagi kayak waktu itu. Maksud hati menghindari truk-truk besar dan buka tutup-jalan ternyata tetep ketemu. Bahkan di salah satu desa, kami sempat berhenti cukup lama karena jalannya sedang ditutup dari 2 arah karena sedang diperbaiki.


Berhenti cukup lama di salah satu daerah. Banyak penjual tahu, seperti yang disamping mobil kami ini. Tapi tahunya gak ditutup, kalau dari dekat keliatan banget tahunya berdebu. Kalau dijual, kira-kira dicuci dulu gak, ya?


Awalnya, sih, kami menikmati aja rute salah jalan itu. Karena jalur yang kami tempuh itu bukan jalan utama. Masuk pedesaan. Melihat rumah-rumah kayu khas jawa, walaupun sudah banyak yang reyot tetep aja pemandangan yang menarik buat kami. Belum lagi jalanannya juga teduh karena banyak pohon. Trus di Cepu, dari kejauhan terlihat menara-menara ladang minyak dengan api yang berkobar diatasnya. Tapi sayangnya gak ada satupun rumah makan di sepanjang jalan!

Truk seperti ini juga menghambat perjalanan karena jalannya seoerti siput. Jalannya di tengah pula, susah buat disalip.1 truk bak terbuka yang sangat kelebihan beban. Ngeri liatnya.


Keke-Nai mulai rewel. Bisa dimaklumi, karena memang sudah waktunya makan siang. Mereka pun sudah berusaha menghilangkan lapar dengan tidur, tapi  begitu bangun belum juga ketemu rumah makan walopun rumah makan kecil sekalipun. Bahkan minimarket pun gak ada.

Berbagai camilan di mobil juga udah mulai habis. Sampe ganti provinsi dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, juga tetep belom ketemu rumah makan. Kata Mas Belalang di FB, salah sendiri kenapa juga lewat jalur tengah. :D Oiya, untung haid di hari kedua juga gak rewel. Gak panik walaupun belom ketemu pom bensin.

Selewat Cepu, kami pun akhirnya brenti di salah satu minimarket. Lupa minimarket mana, pokoknya kalau bukan yang A berarti yang I :p Di minimarket itu kami belanja cukup banyak. Roti, aneka camilan, sampai pop mie. Kalau melihat waktu yang udah mulai sore, kami memang gak berniat untuk cari rumah makan lagi. Jadi makan siang, kami lewati tanpa makan nasi :)

Sebetulnya Chi sempet janjian sama Pak Ies untuk kopdar hari itu di Bromo. Tapi karena prediksi kami lagi-lagi salah, jadi batal, deh kopdarnya. Pak Ies akhirnya menitipkan oleh-oleh ke resepsionis di hotel tempat kami menginap. Terima kasih banyak untuk oleh-oleh khas Blitar yang Pak Ies berikan ke kami, ya :)

Masuk provinsi Jawa Timur jalanan lebih banyak lancarnya. Baru macet lagi begitu masuk Surabaya. Mungkin karena sata itu jam pulang kantor. Jalan tolnya macet, sama aja kayak di Jakarta. Sama-sama ketemu macet.

Memasuki kawasan bromo (lupa nama daerahnya), jalanan mulai menanjak. K'Aie mulai mematikan AC mobil dan buka kaca. Malam itu langit terlihat terang. Katanya, sih karena super moon. Udara seger banget.

Banyak yang bilang kalau Bromo itu kan dingin banget, tapi Chi gak terlalu ngerasa dingin banget tuh. Merasa sejuk aja. Apa iya, Bromo gak sedingin yang dibayangkan? Tunggu aja postingan berikutnya. Yang jelas kami sampai penginapan pukul 11 malam. Dan lagi-lagi gak makan nasi. Pop mie lah penyelamat kami untuk malam itu :)

Cerita sebelumnya dalam perjalanan ini :


  1. Jalan-Jalan Setengah Nekat
  2. Gagal ke Masjid Demak
  3. Mencari Penginapan di Semarang, Susah-Susah Gampang