Minggu, 17 Januari 2021

Sudah Divaksinasi COVID-19, Tetapi Kok Masih Harus Pakai Masker?

Sudah Divaksinasi, Tetapi Kok Masih Harus Pakai Masker - Beberapa hari lalu jagat medsos, terutama Twitter dan IG diramaikan oleh pro-kontra tentang Raffi Ahmad. Baru divaksinasi, tetapi malamnya sudah party

sudah divaksinasi tetapi masih harus pakai masker
 
Chi termasuk yang ikut gregetan dengan kejadian tersebut. Tetapi, kalau ikutan pro-kontra di medsos malah bahasannya jadi ke mana-mana. Errrghhh makin gregetan 😓.


Kurangnya Edukasi Terkait Pandemi COVID-19


alasan pakai masker setelah divaksinasi
 
Rasa gregetan Chi itu gak ada hubungan dengan ngefans atau enggak dengan sosok tertentu. Termasuk, yang ramai tentang vaksin ini.

Udah beberapa minggu terakhir ini, Chi suka curhat ke K'Aie. Hampir setahun pandemi ada di Indonesia, berasa aja edukasinya masih kurang. Pemerintah masih kurang memuaskan menangani COVID-19. Masyarakat juga masih banyak yang mengabaikan banget. 
 
[Silakan baca: Imunisasi Hepatitis A]

Di saat pandemi memang sebaiknya tetap di rumah aja. Tetapi, kemudian timbul berbagai pertanyaan. 
 
Apakah di rumah aja menjamin 100% aman?
Protokol seperti apa yang harus dilakukan bila keluar rumah?

Di rumah aja gak menjamin 100% aman. Katakanlah kita bener-bener gak keluar rumah sama sekali. Belanja segala kebutuhan dilakukan online. Nah, bagaimana protokolnya untuk memastikan barang yang dikirim itu bebas dari virus COVID-19?

Gak semua masyarakat bisa bekerja full dari rumah. Ada yang tetap harus keluar rumah. Bahkan ada juga yang harus keluar rumah karena alasan lain.

K'Aie termasuk yang masih harus ke kantor sesekali. Tante Chi ada yang survivor kanker. Secara berkala masih harus periksa ke rumah sakit. Tentu butuh banget informasi tentang beraktivitas di luar rumah yang aman selama pandemi.

Nah ini yang kadang-kadang dirasa masih kurang. Jangan hanya lihat dari medsos karena gak semua masyarakat punya akun di media sosial. Di dunia nyata juga masih ada yang kurang informasi.

Ketika new normal mulai diberlakukan, sebagian masyarakat hanya 'menangkap' kata normal. Akhirnya keluar rumah udah kayak euforia. Kepadatan di mana-mana, seolah-olah pandemi sudah gak ada. Apa 3 bulan masih kurang untuk memahami tentang pandemi dan protokol kesehatannya? 
 


Alasan Tetap Harus Mematuhi Protokol Kesehatan Setelah Divaksinasi Corona
 
Meskipun masih belum bisa merasa puas dengan penanganan pandemi di Indonesia, adanya vaksin seperti memberikan sebuah harapan baru. Tetapi, (lagi-lagi) Chi merasa edukasinya masih kurang.

edukasi vaksin covid

Berita yang paling sering didapat adalah tentang kedatangan vaksin, efikasinya, bahkan hukuman bila masyarakat menolak. Bukan berarti info-info tersebut gak bagus. Bagus kok dan dukung juga tentang hukuman. Tetapi, Chi sependapat dengan tweet @ProfesorZubairi. Kalau masyarakat udah teredukasi akan dengan kesadaran sendiri mau divaksinasi. Jadi bukan terpaksa karena takut dihukum.

Di hari yang sama pula, Chi nyetatus supaya jangan 'hore-hore' dulu setelah divaksinasi. Itu status pagi hari saat Indonesia mulai melakukan vaksinasi perdana. Pada saat itu, Chi sebetulnya gak tau kalau ada artis yang ikut divaksinasi. Kirain gelombang pertama hanya untuk tenaga kesehatan. 

Chi nyetatus seperti itu, karena dari beberapa hari sebelumnya sempat baca pertanyaan pertanyaan dari netizen tentang keharusan pakai masker setelah divaksinasi. Ada yang memang bener-bener bertanya karena gak tau. Tetapi, ada juga yang ngeyel.

Awalnya kirim pertanyaan. Tetapi, setelah dijelasin malah kitanya yang diledek. Lelah yaaaa menghadapi yang begini hehehe.

Kita memang bisa aja cari sendiri semua infonya lewat Google. Tapi, Chi juga berharap ada edukasi yang gencar banget tentang vaksin dari pihak yang berwenang. Supaya semakin masyarakat yang paham dan mau divaksinasi.


Carilah Info Sebanyak-Banyaknya Sebelum Bersedia Divaksinasi

imunisasi anak
Nai kecil seneng banget pakai plester meskipun gak ada luka. Dia merasa keren. Makanya dia suka semangat kalau diimunisasi karena setelahnya akan dikasih plester hehehe/

 

Bila generasi Z seperti Keke dan Nai yang bertanya tentang keharusan tetap patuh protokol kesehatan, rasanya Chi bisa paham. Mereka memang komplit vaksinnya karena selalu tertib dengan jadwal vaksinasi. Ketika divaksinasi kan masih bayi dan anak-anak. Wajar aja kalau gak paham manfaatnya karena menurut aja sama orang tua.  


Tetapi, kalau ada orang tua yang masih bertanya tentang manfaat vaksinasi secara general. Juga belum paham cara kerja vaksin, sempat bikin Chi heran juga. Apalagi kalau mengaku anak-anaknya juga divaksinasi. Memangnya ketika anaknya divaksinasi gak bertanya ke dokter tujuannya untuk apa?

Setiap kali Keke dan Nai diimunisasi, Chi dan K'Aie selalu banyak tanya. Bukan berarti nantinya kami akan menolak. Tetaplah bakal setuju divaksinasi juga. Tetapi, kami merasa berhak untuk tau tujuan dan lain sebagainya. 
 
Setidaknya kalau ada yang nanya-nanya, kami bisa jelasin sedikit. Gak sekadar menjawab, "Menurut aja lah apa kata dokter." Bersyukurnya dokter anak langganan kami gak merasa ribet dapat banyak pertanyaan. Malah selalu bilang kalau ada yang mau ditanya mending langsung ke beliau, jangan telan mentah-mentah informasi. Apalagi yang sekadar 'katanya-katanya'.

Kenapa sih harus pakai Sinovac?
Kenapa harus tetap pakai masker setelah divaksinasi?
Apa efeknya setelah divaksinasi?

Berbagai pertanyaan (gak hanya 3 itu) sebetulnya wajar banget, kok. Apalagi kayaknya belum pernah ada 1 manusia pun di bumi yang pernah divaksinasi untuk COVID-19 sebelum terjadi pandemi. Malah bagus banyak bertanya. Karena kita juga perlu tau apa aja yang akan masuk ke tubuh, termasuk vaksin. Tetapi, jangan sampai menjadikan kita antivaks, ya. 
 
[Silakan baca: Nai dan Plester]


Manfaat Vaksin untuk Pencegahan, Bukan Pengobatan

 perjalanan wabah dan vaksinnya
 
Sebelum terjadi pandemi COVID-19, sebetulnya di pertengahan tahun 2019 itu sedang diramaikan berita tentang penyakit campak yang mulai mewabah di US. Padahal ya sejak awal tahun 2000, pemerintah US pernah mengklaim kalau wabah campak ini sudah hilang di sana. 
 
Sebetulnya gak hanya di US saja. Menurut WHO, di 3 bulan pertama tahun 2019 terjadi lonjakan sebanyak 3x lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan bisa jadi jumlahnya lebih besar. Karena menurut WHO hanya 1 dari 10 kejadian yang dilaporkan.
 
Beberapa negara maju yang sebetulnya sudah bebas dari penyakit campak, mulai mengalami peningkatan. Gerakan kelompok antivaksin yang semakin masif diduga menjadi penyebab penyakit campak kembali merebak di sejumlah negara. 

Chi ingat banget kalau kejadian ini sempat menghebohkan jagat medsos. Tetapi, entah apakah sampai saat ini campak masih merebak atau tidak. Karena hanya dalam kurun waktu beberapa bulan, cerita hebohnya sudah berganti menjadi pandemi COVID-19.

Bila melihat infografis tentang perjalanan wabah dan vaksinnya, penyakit-penyakit yang tertulis di sana memang pernah menakutkan. Kemudian bisa 'ditaklukan' ketika vaksin mulai ditemukan. Tetapi, bukan berarti penyakitnya menjadi hilang total.
 
Sifat vaksin itu mencegah, bukan mengobati. Belum ada vaksin mana pun yang efikasinya sampai 100%. Berarti yang sudah divaksin juga tetap bisa terkena penyakit tersebut. Misalnya, anak yang sudah divaksinasi campak, bukan berarti gak akan terkena penyakit ini. Tetap aja masih bisa kena. Hanya saja risikonya menjadi lebih kecil.


Menciptakan Herd Immunity untuk Menekan Laju Pandemi COVID-19 

konsep kerja herd immunity kekebalan populasi
 
Sejak adanya pandemi, kita jadi lebih akrab dengan istilah 'Herd Immunity' yang dianggap bisa menekan jumlah penyebaran. Kekebalan kelompok atau herd immunity ini bukan istilah baru di dunia media. 
 
Menurut Wikipedia, istilah "kekebalan kelompok" pertama kali digunakan pada tahun 1923. Kekebalan kelompok diakui sebagai fenomena yang terjadi secara alami pada 1930-an, ketika diamati bahwa setelah sejumlah besar anak menjadi kebal terhadap campak, jumlah infeksi baru ternyata menurun untuk sementara waktu, termasuk di antara anak-anak yang rentan. Sejak saat itu, vaksinasi massal umum dilakukan untuk memicu timbulnya kekebalan kelompok dan terbukti berhasil mencegah penyebaran banyak penyakit menular. Penolakan terhadap vaksinasi menghambat timbulnya kekebalan kelompok dan memungkinkan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah tetap ada atau kembali muncul pada masyarakat yang memiliki tingkat vaksinasi yang tidak memadai.
 
Herd immunity bisa didapat dengan 2 cara yaitu alami atau vaksin. Keduanya sama-sama membutuhkan jumlah masyarakat yang banyak untuk terciptanya kekebalan populasi. Tetapi, cara alami dinilai lebih berisiko.

Dengan cara alami, sejumlah besar masyarakat harus terinfeksi dan sembuh dulu. Tetapi, semakin banyak yang terinfeksi, jumlah kematian juga bisa semakin tinggi. Makanya kemudian diperkecil risikonya dengan cara vaksin.

Yup! Divaksinasi memang tubuh diberi kekebalan. Tetapi, menangkapnya jangan setengah-setengah. Kan, namanya 'kekebalan kelompok' artinya butuh sejumlah besar masyarakat yang sudah divaksinasi baru tercipta herd immunity.

Itulah alasan kita masih harus patuh protokol kesehatan, termasuk menggunakan masker, meskipun sudah divaksinasi. Baru sedikit jumlah masyarakat yang divaksinasi. Perjalanan masih panjang untuk bisa mengatakan bebas dari pandemi COVID-19. Rajin di-swab juga gak bisa jadi alasan untuk mengabaikan protokol kesehatan.
 
Lagipula tubuh memerlukan waktu berproses untuk membentuk antibodi. Gak tiba-tiba tubuh jadi langsung kebal. Bahkan bisa juga timbul efek samping. Makanya disarankan untuk tidak langsung meninggalkan lokasi sekitar 30 menit setelah divaksinasi.

[Silakan baca: Imunisasi Influenza]
 
Baidewei, produsen vaksin kan banyak. Ada Sinovac, Pfizer, Moderna, dan lain sebagainya. Vaksin mana yang terbaik?

Hmmm ... sebetulnya postingan ini untuk menuliskan kegregetan Chi tentang pendapat beberapa netizen yang merasa percuma aja udah divaksinasi, tetapi masih harus pakai masker.

Tetapi, gak apa-apa lah diulas sedikit. Kalau dari hasil googling, setiap vaksin ada plus minusnya. Jangankan vaksin Corona, vaksin-vaksin penyakit lainnya aja ada berbagai macam. Misalnya vaksin DPT kan ada yang menimbulkan demam dan tidak. Keduanya sama-sama baik. Silakan aja mau pilih yang mana.
 
Bersikap kritis dan hati-hati tentu penting banget. Apalagi vaksin Corona kan termasuk baru banget. Vaksinnya sendiri masih butuh banyak penyempurnaan, meskipun WHO sudah mengizinkan untuk penyuntikan massal karena kondisi darurat.
 
Seperti yang Chi tulis di atas. Mencari info sebanyak-banyaknya bukan hal yang salah, kok. Tetapi, jangan abaikan pendapat yang dari pihak-pihak yang kompeten. WHO sudah mengizinkan vaksin, BPOM sudah mengeluarkan pernyataan, begitu juga dengan MUI.

kejadian ikutan pasca imunisasi
Info daftar rumah sakit rujukan yang menangani KIPI di DKI Jakarta ada di IG @dkijakarta

 

Jangan sebatas mencari tau tentang kewajiban menggunakan masker setelah divaksinasi aja, ya. Cari tau sebanyak-banyaknya. Kelompok mana aja yang boleh/tidak divaksinasi. Sependek pengetahuan Chi, setiap produsen vaksin punya aturan berbeda. Apa efek setelah divaksin dan bagaimana tindakannya. Pokoknya cari tau sebanyak-banyaknya.

Tujuannya bukan untuk menolak vaksin. Tetapi, agar pilihan kita semakin mantap. Kembali ke cara kerja vaksin dan terbentuknya herd immunity. Bisa dilihat dari infografis di atas. Konsep kerja vaksin adalah saling melindungi. Semakin banyak yang diimunisasi, semakin terlindungi. 
 
Nah kalau nanti banyak yang menolak, bisa semakin lama terbentuk kekebalan populasinya. Padahal katanya udah bosen pakai masker. Pengen cepet-cepet bisa dalam kondisi normal lagi seperti sebelum pandemi.
  
swiss cheese model covid 19

Selama pandemi belum dinyatakan tuntas, keamanan berlapis terus diberlakukan. Ibaratnya seperti 'Swiss Cheese Model'. Belum ada satupun cara yang menjamin 100% aman. 
 
Cara proteksi yang pertama adalah protokol kesehatan 3M yaitu Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak aman. Semakin banyak layernya, semakin aman. Salah satu layernya ya vaksin.

Jadi, jangan sampai mengabaikan protokol kesehatan, ya. Ikhtiar semaksimal mungkin. Insya Allah, pandemi akan berlalu juga. Aamiin Allahumma Aamiin.

Sumber:

  1. https://www.liputan6.com/news/read/4330770/infografis-perjalanan-wabah-dan-vaksinnya
  2. https://www.mlive.com/news/2014/12/how_do_vaccinations_work_the_s.html
  3. https://www.bbc.com/indonesia/dunia-47943955
  4. https://womantalk.com/health/articles/akibat-tren-anti-vaksin-wabah-campak-merebak-di-amerika-serikat-D51WB
  5. https://tirto.id/apa-itu-kekebalan-kelompok-atau-herd-immunity-dan-vaksinasi-f619
  6. https://www.ayojakarta.com/read/2021/01/15/29649/vaksinasi-covid-19-pemprov-dki-tunjuk-21-rs-rujukan-jika-muncul-efek-samping-ini-daftarnya
Keke Naima
Keke Naima

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

64 komentar:

  1. Nah, EDUKASI seperti artikel Chi ini yg kudu digencarkan, ya
    Terutama untuk para ortu.
    Soalnya, ortu kan juga meneruskan pesan penting ini ke anak2 mereka
    Jadi, kudu dapat asupan informasi yg valid

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! Ortu harusnya menjadi salah satu gerbang informasi untuk anak-anaknya, ya. Makanya harus hati-hati dulu ketika mencari info

      Hapus
  2. Udah jelas banget penjelasan di atas, semoga masyarakat penuh kesadaran memahaminya yaa. Jangan mentang2 ada vaksin lalu mengabaikan 3M. Tetep mengikuti aturan kalo mau Indonesia bebas dari kopit.
    Kalo aku gemes sama anggota dewan yang perempuan itutu yang menolak vaksin mentah2, mendingan bayar denda aja dari pada keluarganya di vaksin. Bhuaaa keren, tajiir hahaaa.
    Tapi menyayangkan, ga menjadi contoh yang baik buat rakyat Ind.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tah eta juga nyebelin bangeeet. Narasi 'mendingan bayar'-nya itu yang bikin kesel. Berpotensi bikin masyarakat salah kaprah. Padahal mah harusnya terus ajak masyarakat supaya mau divaksin. Kalau pun masih berhati-hati dengan vaksin yang ada, kasih kritik dan saran dengan tepat

      Hapus
  3. 3M harus tetap diaplikasikan setiap hari secara disiplin, meski mungkin sudah divaksin. Hal ini karena pandemi belum tuntas tas tas... masih berlangsung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Perjalanan masih panjang sampai bisa menyatakan bebas dari pandemi COVID-19

      Hapus
    2. Kalau yang ditangkap infonya di media, memang jadi sangat rancu dan bikin gak nyaman, kak Chie.
      Soalnya Ibuku kalo telp ngobrolin vaksin ini, sangat menentang.

      Aku jadi berpikir, ini sosialisasinya gak satu suara siih..
      Jadi carut marut info mengenai vaksin sehingga menimbulkan ketakutan. Plus digoreng dengan tambahan bumbu politik, dkk nya.

      Makin sedap sampai ke telinga masyarakat.

      Hapus
    3. Nah itu dia. 'Gorengan' juga menambah buruk informasi. Padahal mah seharusnya gorengan enak, ya hahaha

      Hapus
  4. Aku sempet baca twitannya Sherina nih waktu itu soal Raffi yang habis vaksin covid, ramai juga ya ternyata sampai trending topik. Kalau dengan kesadaran sendiri kan aenak ya bukan karena takut dihukum. Yang penting untuk kebaikan & kesehatan diri & semua aja harusnya ya. Walaupun senang ada vaksinnya, tapi tetap harus sadar dengan protokol kesahatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ramai dan melebar ke mana-mana. Padahal kan pesan intinya adalah ettap patuh prokes meskipun udah divaksin

      Hapus
  5. Karena aku gak pinter-pinter amat soal vaksin, ya kudu tahu search apa dan fungsinya. Terus yang penting juga tahu KIPI-nya kaya kemarin Keponakan yang bayi itu imunisasi. Dia nangis-nangis seharian karena emang sakit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Saya pun bukan ahli tentang ini. Makanya harus disaring banget setiap informasi. Dan jangan sekadar nurut aja

      Hapus
  6. Nah KIPI ini nih menurutku penting infonya dan bener banget Mbak, mengetahui KIPI ini bukan untuk menolak vaksinasi tapi justru supaya bisa menyiapkan diri. Kalo KIPI yang biasanya kan demam atau pegel-pegel pada sekitar bagian anggota tubuh yang disuntik. Tentu solusinya cukup parasetamol atau asam mefenamat. Kalo selain demam & pegel kan, nanti bisa disiapkan solusinya apa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, supaya persiapannya lebih matang. Jadi semakin mantap untuk divaksinasi

      Hapus
  7. Nah masih banyak yang mikir aman seratus persen kalo sudah divaksin padahal tindakan pencegahan bukan berarti sama sekali tanpa risiko. Virusnya masih ada jadi masih harus tetap 3M.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahkan beberapa penyakit yang dinyatakan sudah aman pun masih berpotensi mewabah lagi bila vaksinasi dikendorkan

      Hapus
  8. Lagi pula proses vaksinasi utk Covid 19 ini kan ada 2 tahap ya. Maksudnya 2 kali suntik, ya pastinya juga ga langsung efektif makanya prokes ttp wajib dijalankan juga. btw nai kecil uculll banget siiik pake plester gt

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, 1 orang 2x suntikan. Dan harus banyak masyarakat yang divaksinasi. Makanya harus sabar dengan semua tahapannya

      Hapus
  9. Mengenai vaksin ini memang perlu sosialisasi terutama ke daerah2, mohon maaf di daerah2 itu gampang sekali terprovokasi oleh hoax.. menerapkan protokol saja sudah susah karena nggak percaya corona, kemudian mau divaksin nggak setuju karena buatan c*na katanya, trus nanti tenaga medis banyak yg tumbang dan diganti dr luar. Pusing mamake. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hoax dan segala informasi yang salah memang menghambat banget

      Hapus
  10. Iya mamaku tuh mbak, ragu banget dengan vaksinil ini itu aku bilang sudah ada persetujuan BPOM dan ulama kita bismillah saja ikhtiar semoga dengan vaksin pandemi ini bisa berakhir aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berhati-hati tentu penting. Tentu termasuk berhati-hati saat menerima informasi. Harus cek ricek ya

      Hapus
  11. artikelnya edukatif banget mbak
    meski sudah ada vaksinnya tetap nggak boleh abai terhadap protokol kesehatan
    tetap harus disiplin 3M

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak. Perjalanan untuk bebas pandemi memang gak otomatis begitu vaksin ada

      Hapus
  12. Ulasan yang lengkap. Aku enggak ngerti sama pola pikir orang yang teteup enggak ngeh kalau sudah divaksin mesti kudu taat prokes. Wong vaksin bukan obat, sifatnya melindungi bukan mengobati ...Dan kalau makin banyak orang kek gini terus kapan bakal pergi si pandemi ini duh
    Aku lagi nunggu kapan rakyat seperti diriku giliran vaksinnya. Bahkan dah bisik-bisik ke suami kalau kelamaan, bayar sendiri aja kami gapapa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Mbak. Saya juga pengen divaksinasi.

      Hapus
  13. Geram banget deh rasanya, udah divaksi terus bisa bebas gak pakai masker. Dikiranya vaksin itu gak bekerja dulu apa ya? Di masa pandemi gini saya juga makin gregetan. Banyak yang udah abai tentang protokol kesehatan, al hasil, kan di daerah saya jadi di PSBB karena kasus Covid 19 melonjak. Rasa-rasanya, perlu banget edukasi yang mendasar bagi mereka-mereka tentang Covid - 19, plus apa itu Vaksin dan fungsinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetapi, sebetulnya saya bingung juga. Ketika influencer itu ditawarin divaksinasi duluan, diedukasi dulu atau enggak?

      Hapus
  14. Kalau menurutku sih walau sudah di vaksin tetap harus menggunakan masker, ini yang setelah aku baca-baca dari berbagai macam artikel. Apalagi jika pandeminya masih ada, tetap prokes jalan terus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Butuh minimal 70% masyarakat dulu yang divaksinasi baru kemungkinan bisa bebas pandemi

      Hapus
  15. Semoga semua proses mengatasi pandemi virus covid 19 ini dimudahkan dan dilancarkan. Sejujurnya aku tu nunggu banget momen vaksin ini, alasannya supaya aku bisa mudik, kedua biar anak-anak bisa belajar di sekolah dan bertemu teman-temannya.

    Meski setelah vaksinasi masih harus tetap memperhatikan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan tetap mencuci tangan sebelum memegang area wajah, perlu adanya pengetahuan juga, after vaksinnya.

    Semoga masyakarat Indoensia mampu kooperatif baik yang menolak maupun yang menerima vaksin. Terlalu banyak hal yang dipertentangkan, semakin sulit Indonesia untuk keluar dari pandemi ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya pun pengennya bisa mudik saat Lebaran nanti

      Hapus
  16. Semoga tulisannya bisa dibaca banyak orang mba, sehingga makin banyak yang sadar 3M, dan pakai masker atau udah vaksin pun bukan berarti bisa bebas ngumpul ngumpul atau maen bareng, semoga pandemi segera berlalu

    BalasHapus
  17. Suka banget informasi di antara komplit sekali karena sangat diperlukan untuk mengedukasi masyarakat bahwa vaksin itu bukan mengobati tapi tentunya akan lebih menjaga imunitas tubuh kita dan mengurangi penularan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Vaksinasi memperkecil risiko bila sampai tertular

      Hapus
  18. Aku malah baru tahu nih jadi kalau misalnya kita pakai vaksin tetap harus patuh dan menjaga protokol kesehatan ya tentunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti kalau nanti sudah divaksinasi harus tetap patuh prokes, ya

      Hapus
  19. Dari awal udah sering didengungkan vaksin tetap pake masker eh influencer yg divaksin duluan itu malah...ya bikin gregetan khawatir nanti dicontoh , abis vaksin jd merasa bebas kesana kemari tanoa masker. Msh banyak orng santuy d kampung sy ada yg kena covid kirain bakal jd taat eh malah komen, kan yg sakit di rmh sakit. Gmn ga gemesh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hadeeeuuh! Memang lebih susah kasih tau orang yang gak mau tau alias abai, Mbak

      Hapus
  20. Awal-awal pandemi aku pernah ambil vaksin flu. Biasa aja, ga takut cuma emang kerasa pegel dikit. Nah kalau sekarang masih harus banyak baca informasi soal KIPI itu biar ga termakan hoax. Tingkat pendidikan dan status sosial ga ngaruh sama yang namanya kesadaran dan filtr informasi ya Mak Chi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengurangi kepanikan juga. Setidaknya udah tau haru ke mana kalau terjadi KIPI

      Hapus
  21. vaksin bukan berarti kita benar benar bebas ya mbak..
    makanya harus tetap disiplin prokes, harus tetap 3M

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selama belum dinyatakan bebas pandemi, prokes wajib terus dijalankan

      Hapus
  22. Ya wajar aja sih kalau.masih banyak orang meragukan vaksin corona ini. Kita mesti gesit mencari tahu info2 tsb. Memang 2x suntikan dlm jeda itu ga menjamin tubuh kita kebal corona ya mbak tapi seenggaknya sudah ikhtiar 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangankan vaksin corona, semua vaksin penyakit apapun belum ada yang memberikan jaminan 100% melindungi. Makanya campak kan sempat mewabah lagi 2 tahun lalu.

      Salah satu ikhtiarnya tentu dengan tetap patuh prokes. Apalagi belum dinyatakan bebas dari pandemi

      Hapus
  23. Artikelnya lengkap banget, smp ada sejarah berbagai macam penyakit dan vaksinnya. Kezel lah ama orang-orang yg antivaks dan engga cuma di Indonesia. Di negara maju juga ada komunitas anti vaks tersebut. Baca-baca sih, perlu waktu 3 tahun u seluruh penduduk Indonesia bisa divaksin. Sambil berjalan ya mungkin ditemukan vaksin-vaksin yang semakin efektif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, makanya di US penyakit campak sempat mewabah lagi. Ya gara-gara kelompok antivaks

      Hapus
  24. Jangan kan orang awam Mbak Mira, bulan Agustus saya ke Kelurahan Cilegon, ngga ada yang pakai masker, termasuk pak lurahnya
    Cium tangan juga masih dilakukan, pan serem 😢😢😢

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal harusnya Lurah termasuk yang berada di garda depan untuk mengedukasi ya, Mbak

      Hapus
  25. Mbaaa, itu Nai kecil lucuukk banget, demen pakai plester, makanya semangat imunisasi :D
    Kocaakk dan pinter/ anti-mainstream sih Nai :D

    Btw, aku setuju banget sama poin2 yg mba sampaikan di artikel ini.
    semoga bisa mengedukasi banyak pihak ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena menurutnya keren kalau pakai plester hahaha

      Hapus
  26. Protokol kesehatan pakai masker ya belum bisa dilepas lah meski udah divaksin, kan pandemi nya masih berjalan belum kelar ksn

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Harus tetap patuh. Perjalanan masih panjang

      Hapus
  27. Wah iya tuh mba, aku gregetan sm org yang lalai prokes. Pdhl even udh vaksin pun hrs tetap loh prokes kan pandeminya blm berlalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! sabar-sabar ajalah dulu untuk tetap patuh

      Hapus
  28. Program apapun itu, kalau tidak tersosialisasikan dengan baik akan percuma aja. Orang tidak akan paham. Bahkan mengertipun tidak. Bagaimana masyarakat akan tahu kalau hanya mengandalkan sumber informasi yang tidak terkelola dengan baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia yang bikin saya gregetan, Mbak

      Hapus
  29. Momen vaksin ini kutunggu2 mba. Pengen pandemi cepet selesai kehidupan bisa kembali normal. Tapi tetap harus prokes. Rindu suasana normal.
    Semoga pandemi segera usai dan semua masyarakat Indonesia patuh prokes walau sudah divaksin ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kerinduannya masih lama terjawabnya sepertinya, Mbak. Tetapi, kalau kita bisa patuh, insya Allah gak lama banget

      Hapus
  30. Tadinya aku yakin orang serumah bisa vaksin untuk mencegah. Eh ternyata masih ada ketentuan lainnya..jadi gak bisa serumah divaksin semua..karena termasuk kategori yang tidak boleh divaksin (krn lansia dan anak-anak). Tapi apapun itu semoga pandemi cepat berakhir baik akrena vaksin atau perilaku kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi, kan kabarnya vaksin gak hanya Sinovac. Ya semoga vaksin lainnya bisa untuk semua, ya

      Hapus
  31. semoga semua sehat mba. aku ga sabar divaksin ini. cuma emang sangat disayangkan kemaren seleb begitu walau aku ngefans tapi ga ngebenerin begitu, semangat kita smeoga pandemi bisa berlalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fans yang baik memang harusnya seperti ini, Cha. Jangan membela kayak cinta buta. Kalau memang salah harus diingatkan atau paling gak mengakui kalau idolanya salah

      Hapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^