Sudah Divaksinasi, Tetapi Kok Masih Harus Pakai Masker - Beberapa hari lalu jagat medsos, terutama Twitter dan IG diramaikan oleh pro-kontra tentang Raffi Ahmad. Baru divaksinasi, tetapi malamnya sudah party

sudah divaksinasi tetapi masih harus pakai masker
 
Chi termasuk yang ikut gregetan dengan kejadian tersebut. Tetapi, kalau ikutan pro-kontra di medsos malah bahasannya jadi ke mana-mana. Errrghhh makin gregetan ๐Ÿ˜“.


Kurangnya Edukasi Terkait Pandemi COVID-19


alasan pakai masker setelah divaksinasi
 
Rasa gregetan Chi itu gak ada hubungan dengan ngefans atau enggak dengan sosok tertentu. Termasuk, yang ramai tentang vaksin ini.

Udah beberapa minggu terakhir ini, Chi suka curhat ke K'Aie. Hampir setahun pandemi ada di Indonesia, berasa aja edukasinya masih kurang. Pemerintah masih kurang memuaskan menangani COVID-19. Masyarakat juga masih banyak yang mengabaikan banget. 
 
[Silakan baca: Imunisasi Hepatitis A]

Di saat pandemi memang sebaiknya tetap di rumah aja. Tetapi, kemudian timbul berbagai pertanyaan. 
 
Apakah di rumah aja menjamin 100% aman?
Protokol seperti apa yang harus dilakukan bila keluar rumah?

Di rumah aja gak menjamin 100% aman. Katakanlah kita bener-bener gak keluar rumah sama sekali. Belanja segala kebutuhan dilakukan online. Nah, bagaimana protokolnya untuk memastikan barang yang dikirim itu bebas dari virus COVID-19?

Gak semua masyarakat bisa bekerja full dari rumah. Ada yang tetap harus keluar rumah. Bahkan ada juga yang harus keluar rumah karena alasan lain.

K'Aie termasuk yang masih harus ke kantor sesekali. Tante Chi ada yang survivor kanker. Secara berkala masih harus periksa ke rumah sakit. Tentu butuh banget informasi tentang beraktivitas di luar rumah yang aman selama pandemi.

Nah ini yang kadang-kadang dirasa masih kurang. Jangan hanya lihat dari medsos karena gak semua masyarakat punya akun di media sosial. Di dunia nyata juga masih ada yang kurang informasi.

Ketika new normal mulai diberlakukan, sebagian masyarakat hanya 'menangkap' kata normal. Akhirnya keluar rumah udah kayak euforia. Kepadatan di mana-mana, seolah-olah pandemi sudah gak ada. Apa 3 bulan masih kurang untuk memahami tentang pandemi dan protokol kesehatannya? 
 


Alasan Tetap Harus Mematuhi Protokol Kesehatan Setelah Divaksinasi Corona
 
Meskipun masih belum bisa merasa puas dengan penanganan pandemi di Indonesia, adanya vaksin seperti memberikan sebuah harapan baru. Tetapi, (lagi-lagi) Chi merasa edukasinya masih kurang.

edukasi vaksin covid

Berita yang paling sering didapat adalah tentang kedatangan vaksin, efikasinya, bahkan hukuman bila masyarakat menolak. Bukan berarti info-info tersebut gak bagus. Bagus kok dan dukung juga tentang hukuman. Tetapi, Chi sependapat dengan tweet @ProfesorZubairi. Kalau masyarakat udah teredukasi akan dengan kesadaran sendiri mau divaksinasi. Jadi bukan terpaksa karena takut dihukum.

Di hari yang sama pula, Chi nyetatus supaya jangan 'hore-hore' dulu setelah divaksinasi. Itu status pagi hari saat Indonesia mulai melakukan vaksinasi perdana. Pada saat itu, Chi sebetulnya gak tau kalau ada artis yang ikut divaksinasi. Kirain gelombang pertama hanya untuk tenaga kesehatan. 

Chi nyetatus seperti itu, karena dari beberapa hari sebelumnya sempat baca pertanyaan pertanyaan dari netizen tentang keharusan pakai masker setelah divaksinasi. Ada yang memang bener-bener bertanya karena gak tau. Tetapi, ada juga yang ngeyel.

Awalnya kirim pertanyaan. Tetapi, setelah dijelasin malah kitanya yang diledek. Lelah yaaaa menghadapi yang begini hehehe.

Kita memang bisa aja cari sendiri semua infonya lewat Google. Tapi, Chi juga berharap ada edukasi yang gencar banget tentang vaksin dari pihak yang berwenang. Supaya semakin masyarakat yang paham dan mau divaksinasi.


Carilah Info Sebanyak-Banyaknya Sebelum Bersedia Divaksinasi

imunisasi anak
Nai kecil seneng banget pakai plester meskipun gak ada luka. Dia merasa keren. Makanya dia suka semangat kalau diimunisasi karena setelahnya akan dikasih plester hehehe/

 

Bila generasi Z seperti Keke dan Nai yang bertanya tentang keharusan tetap patuh protokol kesehatan, rasanya Chi bisa paham. Mereka memang komplit vaksinnya karena selalu tertib dengan jadwal vaksinasi. Ketika divaksinasi kan masih bayi dan anak-anak. Wajar aja kalau gak paham manfaatnya karena menurut aja sama orang tua.  


Tetapi, kalau ada orang tua yang masih bertanya tentang manfaat vaksinasi secara general. Juga belum paham cara kerja vaksin, sempat bikin Chi heran juga. Apalagi kalau mengaku anak-anaknya juga divaksinasi. Memangnya ketika anaknya divaksinasi gak bertanya ke dokter tujuannya untuk apa?

Setiap kali Keke dan Nai diimunisasi, Chi dan K'Aie selalu banyak tanya. Bukan berarti nantinya kami akan menolak. Tetaplah bakal setuju divaksinasi juga. Tetapi, kami merasa berhak untuk tau tujuan dan lain sebagainya. 
 
Setidaknya kalau ada yang nanya-nanya, kami bisa jelasin sedikit. Gak sekadar menjawab, "Menurut aja lah apa kata dokter." Bersyukurnya dokter anak langganan kami gak merasa ribet dapat banyak pertanyaan. Malah selalu bilang kalau ada yang mau ditanya mending langsung ke beliau, jangan telan mentah-mentah informasi. Apalagi yang sekadar 'katanya-katanya'.

Kenapa sih harus pakai Sinovac?
Kenapa harus tetap pakai masker setelah divaksinasi?
Apa efeknya setelah divaksinasi?

Berbagai pertanyaan (gak hanya 3 itu) sebetulnya wajar banget, kok. Apalagi kayaknya belum pernah ada 1 manusia pun di bumi yang pernah divaksinasi untuk COVID-19 sebelum terjadi pandemi. Malah bagus banyak bertanya. Karena kita juga perlu tau apa aja yang akan masuk ke tubuh, termasuk vaksin. Tetapi, jangan sampai menjadikan kita antivaks, ya. 
 
[Silakan baca: Nai dan Plester]


Manfaat Vaksin untuk Pencegahan, Bukan Pengobatan

 perjalanan wabah dan vaksinnya
 
Sebelum terjadi pandemi COVID-19, sebetulnya di pertengahan tahun 2019 itu sedang diramaikan berita tentang penyakit campak yang mulai mewabah di US. Padahal ya sejak awal tahun 2000, pemerintah US pernah mengklaim kalau wabah campak ini sudah hilang di sana. 
 
Sebetulnya gak hanya di US saja. Menurut WHO, di 3 bulan pertama tahun 2019 terjadi lonjakan sebanyak 3x lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan bisa jadi jumlahnya lebih besar. Karena menurut WHO hanya 1 dari 10 kejadian yang dilaporkan.
 
Beberapa negara maju yang sebetulnya sudah bebas dari penyakit campak, mulai mengalami peningkatan. Gerakan kelompok antivaksin yang semakin masif diduga menjadi penyebab penyakit campak kembali merebak di sejumlah negara. 

Chi ingat banget kalau kejadian ini sempat menghebohkan jagat medsos. Tetapi, entah apakah sampai saat ini campak masih merebak atau tidak. Karena hanya dalam kurun waktu beberapa bulan, cerita hebohnya sudah berganti menjadi pandemi COVID-19.

Bila melihat infografis tentang perjalanan wabah dan vaksinnya, penyakit-penyakit yang tertulis di sana memang pernah menakutkan. Kemudian bisa 'ditaklukan' ketika vaksin mulai ditemukan. Tetapi, bukan berarti penyakitnya menjadi hilang total.
 
Sifat vaksin itu mencegah, bukan mengobati. Belum ada vaksin mana pun yang efikasinya sampai 100%. Berarti yang sudah divaksin juga tetap bisa terkena penyakit tersebut. Misalnya, anak yang sudah divaksinasi campak, bukan berarti gak akan terkena penyakit ini. Tetap aja masih bisa kena. Hanya saja risikonya menjadi lebih kecil.


Menciptakan Herd Immunity untuk Menekan Laju Pandemi COVID-19 

konsep kerja herd immunity kekebalan populasi
 
Sejak adanya pandemi, kita jadi lebih akrab dengan istilah 'Herd Immunity' yang dianggap bisa menekan jumlah penyebaran. Kekebalan kelompok atau herd immunity ini bukan istilah baru di dunia media. 
 
Menurut Wikipedia, istilah "kekebalan kelompok" pertama kali digunakan pada tahun 1923. Kekebalan kelompok diakui sebagai fenomena yang terjadi secara alami pada 1930-an, ketika diamati bahwa setelah sejumlah besar anak menjadi kebal terhadap campak, jumlah infeksi baru ternyata menurun untuk sementara waktu, termasuk di antara anak-anak yang rentan. Sejak saat itu, vaksinasi massal umum dilakukan untuk memicu timbulnya kekebalan kelompok dan terbukti berhasil mencegah penyebaran banyak penyakit menular. Penolakan terhadap vaksinasi menghambat timbulnya kekebalan kelompok dan memungkinkan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah tetap ada atau kembali muncul pada masyarakat yang memiliki tingkat vaksinasi yang tidak memadai.
 
Herd immunity bisa didapat dengan 2 cara yaitu alami atau vaksin. Keduanya sama-sama membutuhkan jumlah masyarakat yang banyak untuk terciptanya kekebalan populasi. Tetapi, cara alami dinilai lebih berisiko.

Dengan cara alami, sejumlah besar masyarakat harus terinfeksi dan sembuh dulu. Tetapi, semakin banyak yang terinfeksi, jumlah kematian juga bisa semakin tinggi. Makanya kemudian diperkecil risikonya dengan cara vaksin.

Yup! Divaksinasi memang tubuh diberi kekebalan. Tetapi, menangkapnya jangan setengah-setengah. Kan, namanya 'kekebalan kelompok' artinya butuh sejumlah besar masyarakat yang sudah divaksinasi baru tercipta herd immunity.

Itulah alasan kita masih harus patuh protokol kesehatan, termasuk menggunakan masker, meskipun sudah divaksinasi. Baru sedikit jumlah masyarakat yang divaksinasi. Perjalanan masih panjang untuk bisa mengatakan bebas dari pandemi COVID-19. Rajin di-swab juga gak bisa jadi alasan untuk mengabaikan protokol kesehatan.
 
Lagipula tubuh memerlukan waktu berproses untuk membentuk antibodi. Gak tiba-tiba tubuh jadi langsung kebal. Bahkan bisa juga timbul efek samping. Makanya disarankan untuk tidak langsung meninggalkan lokasi sekitar 30 menit setelah divaksinasi.

[Silakan baca: Imunisasi Influenza]
 
Baidewei, produsen vaksin kan banyak. Ada Sinovac, Pfizer, Moderna, dan lain sebagainya. Vaksin mana yang terbaik?

Hmmm ... sebetulnya postingan ini untuk menuliskan kegregetan Chi tentang pendapat beberapa netizen yang merasa percuma aja udah divaksinasi, tetapi masih harus pakai masker.

Tetapi, gak apa-apa lah diulas sedikit. Kalau dari hasil googling, setiap vaksin ada plus minusnya. Jangankan vaksin Corona, vaksin-vaksin penyakit lainnya aja ada berbagai macam. Misalnya vaksin DPT kan ada yang menimbulkan demam dan tidak. Keduanya sama-sama baik. Silakan aja mau pilih yang mana.
 
Bersikap kritis dan hati-hati tentu penting banget. Apalagi vaksin Corona kan termasuk baru banget. Vaksinnya sendiri masih butuh banyak penyempurnaan, meskipun WHO sudah mengizinkan untuk penyuntikan massal karena kondisi darurat.
 
Seperti yang Chi tulis di atas. Mencari info sebanyak-banyaknya bukan hal yang salah, kok. Tetapi, jangan abaikan pendapat yang dari pihak-pihak yang kompeten. WHO sudah mengizinkan vaksin, BPOM sudah mengeluarkan pernyataan, begitu juga dengan MUI.

kejadian ikutan pasca imunisasi
Info daftar rumah sakit rujukan yang menangani KIPI di DKI Jakarta ada di IG @dkijakarta

 

Jangan sebatas mencari tau tentang kewajiban menggunakan masker setelah divaksinasi aja, ya. Cari tau sebanyak-banyaknya. Kelompok mana aja yang boleh/tidak divaksinasi. Sependek pengetahuan Chi, setiap produsen vaksin punya aturan berbeda. Apa efek setelah divaksin dan bagaimana tindakannya. Pokoknya cari tau sebanyak-banyaknya.

Tujuannya bukan untuk menolak vaksin. Tetapi, agar pilihan kita semakin mantap. Kembali ke cara kerja vaksin dan terbentuknya herd immunity. Bisa dilihat dari infografis di atas. Konsep kerja vaksin adalah saling melindungi. Semakin banyak yang diimunisasi, semakin terlindungi. 
 
Nah kalau nanti banyak yang menolak, bisa semakin lama terbentuk kekebalan populasinya. Padahal katanya udah bosen pakai masker. Pengen cepet-cepet bisa dalam kondisi normal lagi seperti sebelum pandemi.
  
swiss cheese model covid 19

Selama pandemi belum dinyatakan tuntas, keamanan berlapis terus diberlakukan. Ibaratnya seperti 'Swiss Cheese Model'. Belum ada satupun cara yang menjamin 100% aman. 
 
Cara proteksi yang pertama adalah protokol kesehatan 3M yaitu Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak aman. Semakin banyak layernya, semakin aman. Salah satu layernya ya vaksin.

Jadi, jangan sampai mengabaikan protokol kesehatan, ya. Ikhtiar semaksimal mungkin. Insya Allah, pandemi akan berlalu juga. Aamiin Allahumma Aamiin.

Sumber:

  1. https://www.liputan6.com/news/read/4330770/infografis-perjalanan-wabah-dan-vaksinnya
  2. https://www.mlive.com/news/2014/12/how_do_vaccinations_work_the_s.html
  3. https://www.bbc.com/indonesia/dunia-47943955
  4. https://womantalk.com/health/articles/akibat-tren-anti-vaksin-wabah-campak-merebak-di-amerika-serikat-D51WB
  5. https://tirto.id/apa-itu-kekebalan-kelompok-atau-herd-immunity-dan-vaksinasi-f619
  6. https://www.ayojakarta.com/read/2021/01/15/29649/vaksinasi-covid-19-pemprov-dki-tunjuk-21-rs-rujukan-jika-muncul-efek-samping-ini-daftarnya