Rabu, 17 Juni 2020

New Normal Bukan Berarti Euforia Kebebasan

Saat ini, Indonesia mulai memasuki masa new normal. Sedangkan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyatakan bahwa Ibukota RI ini sejak tanggal 5 Juni 2020 memasuki fase PSBB transisi, belum new normal. Artinya berbagai sektor ekonomi mulai dilonggarkan dengan beberapa syarat protokol kesehatan. Tetapi, bila terjadi pelonjakan lagi, maka siap-siap kembali ke PSBB.

new normal bukan berarti euforia kebebebasan

New Normal Bukan Berarti Euforia Kebebasan


Banyak yang antusias menyambut new normal. Bisa dipahami bila antusias ini karena alasan supaya ekonomi kembali bergerak, tetapi dengan kesadaran tinggi mematuhi segala protokol kesehatan. Sayangnya, faktanya new normal justru disikapi dengan euforia. Banyak yang menyerbu pusat perbelanjaan, tempat wisata, atau bahkan sekadar ke minimarket tanpa menggunakan masker. Sedih banget melihat kenyataan ini.


Kesehatan vs Ekonomi


kesehatan dan kebutuhan ekonomi saat pandemi

Saat ini, kesehatan dan ekonomi seperti menjadi 2 faktor yang bertolak belakang. Padahal seharusnya beriringan. Untuk bisa beraktivitas dengan baik membutuhkan tubuh yang sehat. Tetapi, pandemi yang berkepanjangan juga membuat efek domino ke mana-mana, termasuk ekonomi.

Paham banget kalau kesehatan itu penting. Apalagi grafik corona di Indonesia masih terus tinggi. Belum ada tanda-tanda menurun. Pengennya sih di rumah terus karena rasanya memang lebih aman dan nyaman di rumah aja.

Tetapi, di sisi lain kalau PSBB terus berjalan, banyak sektor ekonomi gak bergerak juga bikin sedih. Pandemi COVID-19 ini menghantam hampir semua sektor ekonomi. Pada krisis moneter tahun 1998, UMKM termasuk yang paling bertahan dibandingkan perusahaan besar. Tetapi, saat pandemi ini seperti gak pandang bulu. Siapapun bisa kena efeknya.

Bersyukurlah bagi siapapun yang masih mendapatkan gaji meskipun tidak utuh. Tetapi, banyak yang tetap bekerja, sedangkan gaji ditunda sementara waktu. Malah banyak juga yang kena PHK. Gak mungkin terus-menerus berharap bansos dari pemerintah pusat maupun daerah. Kalau pandemi berkepanjangan, keuangan negara kan juga bisa terganggu. Urusan 'perut' memang kadang-kadang complicated.



Berdamai dengan Corona


berdamai dengan corona

Beberapa waktu lalu, jagat maya juga sempat diramaikan dengan pernyataan presiden Jokowi tentang 'berdamai dengan corona'. Sebetulnya Chi paham maksudnya. Himbauan yang mengajak masyarakat untuk mulai beraktivitas kembali. Tentu saja dengan berbagai persyaratan keamanan yang kita kenal dengan protokol kesehatan.

Tetapi, secara pribadi masih ada rasa penolakan terhadap pernyataan tersebut. Bagi Chi yang namanya penyakit, gak bisa berdamai. Apapun sakitnya, penyakit harus dilawan.

Kalaupun masih ada pandemi dan belum ada vaksinnya, maka wajib berusaha beradaptasi. Caranya ya disiplin dengan protokol kesehatan dan menjaga kondisi tetap sehat.


Ya memang hanya berbeda pemilihan kalimatnya. Karena intinya adalah sama. Disiplin dengan protokol kesehatan, jaga kesehatan, serta di rumah aja kalau gak perlu-perlu banget ke luar rumah itu kunci dalam menghadapi pandemi.


New Normal vs Ignorant People


pandemi, ignorant, covidiot, stupidity

New normal BERBEDA dengan normal. New normal ada dengan alasan supaya perekonomian kembali berjalan secara bertahap. Bukan berarti virusnya sudah hilang. Itulah kenapa protokol kesehatan wajib dipatuhi

Sejak pandemi masuk ke Indonesia, Chi kesel banget dengan ulah masyarakat yang ignorant. Chi selalu menyebutnya covidiot. Padahal ya Chi rasanya gak pernah bilang seseorang itu bodoh, tolol, atau apapun, terutama di media sosial. Tetapi, menghadapi masyarakat yang seperti ini rasanya kekesalan Chi udah termasuk di level tertinggi.



Kita semua memiliki keinginan yang sama. Ingin tetap sehat, bisa beraktivitas dengan normal seperti sebelum wabah, dan ingin virus corona ini segera pergi dai muka bumi. Sayangnya tidak semua masyarakat bisa patuh. Padahal selama vaksin ini belum ditemukan, untuk melawan virus ini dengan cara kekompakan. Pada kompak untuk patuh dengan himbauan hingga perintah.


Chi sendiri sebetulnya lebih memilih untuk tetap PSBB, karantina, lockdown, atau apapun istilahnya yang penting mayoritas masyarakat tetap di rumah aja sampai grafik corona benar-benar sudah turun. Tetapi, di sisi lain juga ada perut-perut yang harus diisi dan kebutuhan lain yang harus dibayar (listrik, internet, dll). Gak bisa terus-menerus mengharapkan bantuan. Perlahan harus mulai beraktivitas kembali. Chi berusaha memahami kedua sisi, tetapi tidak untuk Covidiot.

Mungkin ada yang beranggapan apalah arti sebuah kata, yang penting kan paham maksudnya. Memang bisa jadi begitu. Tetapi, faktanya juga di masyarakat kita masih banyak yang pemahamannya setengah-setengah.

Berdamai dengan corona dan new normal disikapi dengan euforia. Disangkanya sudah bisa bebas kembali seperti sebelum ada wabah. Tempat wisata penuh, mall diserbu pengunjung, dll. Bubar jalan deh segala protokol kesehatan. Ngeriiii!

"We're fighting 2 pandemics, COVID-19 and stupidity"

Jadi ya kalau pengen kita semua tenang, tolong itu yang ignorant dan euforia pada sadar diri dulu. Bikin masyarakat yang sedang berusaha disiplin jadi was-was dan parnoan melulu. Ulah para ignorant ini memang ngeselin. Udah tau penularannya masif, tapi tetap aja cuek dengan segala alasannya. Pantesan aja keluar istilah Covidiot.

Kan sebetulnya gak dilarang beraktivitas di saat new normal. Beberapa sektor, bahkan tempat wisata pun juga udah ada yang sudah boleh buka. Termasuk kalau udah kepengen traveling pun tetap harus patuh dengan protokol kesehatan.


Tetapi, sebisa mungkin kami memilih di rumah aja, lah. Keluar hanya untuk hal penting. Seperti komika Bintang Emon pernah bilang, "Menunda ke mall sekarang gak bakal bikin mall berubah jadi kantin. Gak ke Puncak sekarang, gak bikin puncak jadi pendek."

Sehat-sehat selalu ya untuk semua. Semoga pandemi ini segera pergi. Aamiin
Keke Naima
Keke Naima

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

89 komentar:

  1. Balasan
    1. Koh Deddy juga, ya. Semoga semuanya sehat. Aamiin

      Hapus
  2. Iya ih saya juga sebel sama orang-orang yang cuek sama imbauan pemerintah untuk menjalani protokol kesehatan (eh namanya Covidiot ya, Mbak :D). Padahal kan itu untuk kebaikan diri sendiri dan membantu orang lain juga..
    Semoga akan segera sadar deh orang-orang yang seperti itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin

      Kalau mengingat penyebarannya yang masif, memang wajar banyak yang sewot dengan ulah covidiot

      Hapus
  3. Bingung juga ya, satu sisi takut terjangkit corona, tetapi satu sisi pengen beraktivitas kembali karena kita butuh pendapatan utk kelangsungan hidup. Klo saya, tetap menjalaninya mbak dgn usaha dan kerja keras. Usaha nyari duit dan usaha juga jaga kesehatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selama belum ada vaksin atau obatnya, mau gak mau memang new normal harus dihadapi. Hanya saja jangan disikapi dengan euforia.

      Hapus
  4. Mengatur orang banyak memang susah Mbak. Semua punya kepentingan masing-masing. Sudah berapa banyak contoh korban Covid di negara ini, namun demi meluruskan kepentingan pribadi dianggapnya gak peduli

    Satu-satunya cara ya memang harus menjaga diri. Toh kalau ada yang susah mereka juga yang merasakan.

    Saya udah masa bodoh mbak lihat orang-orang yang nggak mau diatur. Capek ngasih tau😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun sebetulnya udah pengen masa bodoh aja. Tetapi, mengingat penularannya yang masif, rasanya masih sulit bersikap seperti ini. Setidaknya para tenaga kesehatan akan terus bekerja keras selama masih banyak yang masa bodoh. Saya gak tega. Apalagi kalau sampai mereka juga jadi korban. Makanya sebisa mungkin saya sounding terus

      Hapus
    2. Iya Mbak setuju. Semua orang pengen masa bodoh tapi tetap saja itu virus masih gentayangan di negeri ini.

      Hapus
    3. Justru di saat new normal ini kewaspadaan semakin dilipatgandakan, ya

      Hapus
  5. Amin...
    Aku sendiri milih tetap di rumah saja karena kerjaan juga bisa dari rumah. Yang bikin gemas itu orang-orang yang gak ngikutin protokol kesehatan. Meski sudah berbulan-bulan, tetap saja ada yang belum mengerti

    BalasHapus
    Balasan
    1. malah bisa jadi bukan belum mengerti, tapi memang gak mau mengerti. Mau seenaknya sendiri

      Hapus
  6. jadi inget, di group whatsapp ibu-ibu komplek, ada yang ngajak ke Mall karena udah pada buka, dan aku nyengir2 dibuatnya. untung sudah ada yang mewakili nasehatin hmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan setelah dinasehati jadi pada mengerti, ya

      Hapus
  7. Aku setuju banget mbak new normal bukan berarti bebas yang tidak terarah. Semoga pandemi selesai dan bisa kembali melakukan kehidupan normal ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. Kalau ingin segera kembali ke new normal, seharusnya kita semua kompak ya, Mbak

      Hapus
  8. Buat aku yang punya balita dan dalam kondisi hamil sekarang ini new normal kayak dilema mba. Apalagi tetangga tidak ada yang menjalankan protokol kesehatan. Semua balas bebas aja. Jadi harus menahan diri dirumah aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, sedih saya bacanya. Semoga segera pada sadar. Jaga-jaga kesehatan ya, Mbak

      Hapus
  9. Intinya, mau gak mau kita harus hidup berdampingan dengan virus.
    Solusibya biar gak terjangkiti ya dengan patuh pada protokol kesehatan yang udah ditetapkan pemerintah.
    Itulah yang disebut New Normal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Patuh pada protokol itu kunci banget, deh

      Hapus
  10. Duh mba aku juga nggak tahu ya mau bilang apa. Lihat banyak yang nggak pakai masker beneran masa bodoh. Dan padahal ini belum normal loh. Sampe capek negur ornang buat pakai masker

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Lelah hati saya lihat yang ignorant ini

      Hapus
  11. Pemerintah mungkin lagi bingung kali ya mbak, ibarat kata kaya buah simalakama. Satu sisi harus mikirin soal ekonomi yang dampaknya dahsyat banget buat kalangan menengah kebawa. Tapi sisi lain harus mikirin kesehatan masyarakat.

    Kepala desa di tempatku pas baru Awal Psbb bikin kebijakan larangan adanya pasar malam dan pasar mingguan. Kebijakan bertahan sekitar sebulanan soalnya pak kepala desa di demo warga yang kerjaannya sebagai pedang di pasar malam tsb. Bingung juga... Akhirnya larangan tersebut dilonggarkan tapi untungnya warga yang lain sadar pentingnya dirumahaja jadinya walaupun ada pasar malem tapi pengunjung nya sedikit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya, kalau tentang hal ini bukan karena pemerintah bingung juga. Perekonomian kan bisa menggerakan negara. Nah kalau mayoritas masyarakatnya dikarantina terus, gimana ekonomi bisa bergerak. Padahal kita semua butuh ekonomi, kan.

      Tapi, ya selama vaksin atau obatnya belum ditemukan, masyarakat juga harus mau beraktivitas dengan protokol kesehatan. Tujuannya untuk meminimalisir angka penularan

      Hapus
  12. Suka greget sendiri dengan mereka yg bebas keluyuran di kampung kami, padahal mereka pemudik dari zona merah.
    Akhirnya kami deh yg mengisolasi sendiri dari mereka. Bukan mereka yg jaga jarak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah jadinya malah aneh kan, ya. Kita yang sadar malah kita yang seperti terpenjara

      Hapus
  13. Kalau untuk urusan ibadah dan pekerjaan aku masij bisa memahami sih. Tapi kalo new normalnya buat hore-hore nih yang aku rasanya gimana gitu. Mbok ditahan dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak. Sebetulnya traveling udah dibolehkan. Tetapi, ya tetap harus patuh dengan peraturan dan protokol kesehatan

      Hapus
  14. Banyak yang bilang, bisa hidup sekarang, makan teratur, kumpul bersama keluarg sudah menjadi kebahagiaan. Aku sepakat. Udah paling pentingkita jaga diri sendiri dan keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah sangat disyukuri banget deh, Mbak. Saat detik ini masih bisa kumpul dan makan bersama keluarga dalam keadaan sehat semua

      Hapus
  15. Baru-baru ini temanku reaktif pas dites covid loh Chi. Ikut sedih deehh.. Dia ketularan suaminya yang dapetnya di kantor. Saat tes rapid ketauan tuh sekantor ada beberapa yang kena. Dia sampe stress loh ketika tau dia positif kena Covid. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya turut prihatin dengan apa yang dialami temannya ya, Mbak. Semoga lekas sembuh. Aamiin

      Hapus
  16. setuju bangeet Chie..aku juga baru menulis hal yang serupa di blogkku. Ini tetap beda dan perlu perubahan sikap dan mental dari kita semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kedisiplinan dan kesadaran itu penting banget ya, Mbak

      Hapus
  17. New Normal dibolehin kemana saja asal ikuti protokoler who dan menkes. cek suhu tubuh, cuci tangan, dan jaga jarak. tapi aku masih belum berani untuk keluar rumah apalagi naik angkutan umum...butuh keberanian yang kuat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Sekarang sudah semakin dilonggarkan. Tetapi, kitanya harus disiplin. Kalau kita masih takut untuk keluar, itu memang pilihan masing-masing. Lagipula memang dihimbaunya pun sebaiknya tetap di rumah

      Hapus
  18. Kami sekeluarga termasuk belum berubah kebiasaan meski sudah ada New Normal.
    Tetap saja, tinggal di rumah, kecuali ada hal mendesak seperti logistik sembako menipis.

    Eits hampir lupa, kecuali hubby yang memang frontliners, pengemudi mobil online, sudah mulai bekerja namun dengan protokol. Masker, social distancing dll.

    Seperti kata Chi, aku juga masih sering menyaksikan oknum covidiot di kota domisili aku.

    ... I am speechless!


    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya bisa mengerti kok kalau pun ada yang keluar rumah selama itu patuh dengan protokol kesehatan. Tapi, ya kesel aja sama covidiot

      Hapus
  19. Dilema juga sebenrnya yah mba, mau terus psbb tanpa diterapkan new normal, tapi sektor ekonomi mandeg dan banyak masyarakat yg merasakannya. Emang sih aku juga sebel sama org2 yang ignorant. Anw, Saya yakin pemerintah juga memikirkan dari berbagai macam sisi. Thats why penerapan new normal ini tetap dengan harus dan wajib mengikuti dan menjalani protokol kesehatan. Demi bangkit bersama untuk melawan Covid-19 dan kembali bisa “beneran normal”. Stay safe and stay healthy yah mba ;).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemerinta pusat dan daerah sudha memikirkan berbagai sisi dan mengeluarkan kebijakan untuk masyarakat. Sekarang, masyarakatnya juga harus patuh. Lagipula peraturan protokol kesehatan memang gak hanya di Indonesia. Seluruh negara yang saat ini terkena wabah ada peraturan ini. Makanya kesel aja sih saya kalau masih ada yang ignorant.

      Sehat-sehat juga untuk Mas Adhealbian, ya

      Hapus
  20. Bener new normal ini bukanlah kebebasan, justru kita harus tetap menerapkan protokol kesehatan. Aku sedih pas lihat yang foto dijalan itu.

    Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan ya.

    BalasHapus
  21. Iya,horor banget mbak tingkahnya, dikira new normal itu Corona hilang dari Indonesia apa ya jadi euforia, padahal kita yang terpaksa keluar rumah karena kudu cari makan di tengah corona

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah gagal paham deh saya sama orang yang kayak begitu, Mbak

      Hapus
  22. Aku juga berpikir bahwa new normal bukan euforia mbak. Karena nggak mungkin kita bisa kembali ke kehidupan sebelum pandemi. Pasti ada kebiasaan-kebiasaan baru yang harus dijalankan di era new normal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi ini kan vaksin atau obatnya belum ditemukan. Justru harus waspada banget

      Hapus
  23. Sepakat, chi. Semoga dengan new normal kita semua mendapat dampak yang baik-baiknya saja, yaaaaaaaa. :)

    BalasHapus
  24. Aku lumayan kesel banget yang ngerasa hore banget pas mulai berlaku new normal. Pada jalan2, nyerbu mall.. Disini mulai pada banyak yang nggak pake masker Mak Chi, lumayan bikin hati nyesek sih lihatnya.. Sedih aja gitu

    BalasHapus
  25. Iyaa niih, Semarang banyak orang yang kayak kesenangan gitu jadi ke mall dan kafe atau piknik. Huhuuee, aku sebel tapi gimana, gak kenal juga sama mereka. Cuma bisa ngasih tahu anak-anak yang udah besar semua agar tidak pergi-pergi kalo gak penting urusan kerja atau kuliah. Aku sendiri memilih stay at home, dan menjaga protokol kesehatan tiap kali belanja ke supermarket deket rumah.

    Sehat sehat ya mbak Chi sekeluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak apa-apa juga sih sebetulnya ke kafe, mall, dll. Faktanya memang boleh dibuka karena alasan perekonomian. Cuma ya kitanya juga sadar keadaan aja. Kalau memang tetap pengen jalan-jalan harus taat sama protokol kesehatan

      Hapus
  26. Memang di Indonesia banyak orang yang tidak peduli bahkan saat PSBB saja banyak yang abai. Aku aja pernah debat tuh mba sama driver kantor, karena dia tak setuju soal PSBB, padahal PSBB/lockdown itu bisa mencegah penularan. Memang perlu kerjasama yang baik antara peraturan pemerintah dan masyarakat itu sendiri.
    Dan menurutku secara pribadi, untuk saat ini kita tidak lelah mengingatkan untuk tetap stay save dan hidup disiplin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau gak ingat virus ini masif banget penularannya, rasanya saya lelah dan masa bodo aja lah sama yang masih cuek

      Hapus
  27. Tapi yg kejadi, si sekitarku orang2 udah ngga terlalu concern dgn himbauan untuk jaga jarak, maskeran dll. . Tampaknya situasi new normal justru lebih ngeri dibanding pas kmrn psbb dan sepi

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu! Padahal seharusnya new normal membuat kita menjadi lebih waspada

      Hapus
  28. Aku juga sebel ini banyak bnget new norml kongkow2 huhuhu

    Sekarang tiap sore di lapangan bintaro sini rame nongkrong sepedaan jajan kayak ngabuburit biasanya. .

    Semoga geliat ekonomi nambah gede dengan tentunya menurut penularannya ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya semoga ekonomi kemnali bangkit. Tetapi, penularan wabahnya menurun. Caranya? Ya harus patuh dengan protokol kesehatan

      Hapus
  29. Saya juga tak sependapat dengan Pak Jokowi tentang berdamai dengan corona ini. Karena, kalau bisa dan harus bisa jangan berdamai tapi kita harus menang melawan corona. Kalau berdamai, artinya harus sepakat antara kedua belah pihak. Laaah pihak sana, si corona ini, mana ada mengenal sepakat berdamai karena ia akan membabat habis siapapun yang dihinggapinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Gak hanya sama Corona. Pokoknya kalau sama penyakit, saya gak mau berdamai

      Hapus
  30. Setuju banget kak!
    New Normal bukan berarti kita sudah bebas sepenuhnya dari bahaya Covid-19. melainkan kita harus merubah pola hidup dengan protokol kesehatan yang baru. Harus terbiasa dengan kebiasaan baru. Emang kalau bisa masih di rumah aja, dan kleuar jika ada yang penting saja yaah kak :) stay safe kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena alasan new normal adalah untuk menggerakkan perekonomian. Ya tentu aja ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Wabahnya belum pergi

      Hapus
  31. Aku tmsk salah satu yg dikelilingi oleh lingkungan ignorant mba. Kadang bingung gimana mau kasih saran yg bener ke lingkunganku. Sudahlah susah2 jaga anak spy di rumah aja. Tp hampir tiap hari sll ad tamu dtg sembarangan. Apalagi pas new normal ini, udah dianggap kek normal biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh sedih banget kalau begitu, Mbak. Semoga mereka segera sadar, ya

      Hapus
  32. buat aku, kuncinya memang disiplin. Muslai dari diri sendiri. Dan aku ngga segan menegur orang yang ngga disiplin mba, kayak ngga pakai masker atau batuk sembarangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, Mbak. Kesadaran harus mulai dari diri sendiri

      Hapus
  33. Ini bagaikan simalakama, tapi kita harus tetap menomorsatukan kesehatan. Betewe saya galfok sama desain gambarnya. keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setidaknya tetap disiplin dengan segala peraturan protokol kesehatan. Dengan disiplin, udah meminimalka risiko penularan

      Hapus
  34. Sekarang aja udah mulai kelihatan orang yang kebablasan, dengan bebasnya melenggang di jalanan dan bergerombol. Duuhh.. new normal itu bukanlah kenormalan seperti sebelumnya. Pengin gemas tapi kok ya banyak sekali yang abai gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah, Mbak. Kan, saat ini berbagai aktivitas sudah dilonggarkan. Ya sekarang tinggal kesadaran kitanya untuk patuh

      Hapus
  35. Sekarang di Jogja banyak banyak orang pada naik sepeda. Bukan buat kerja atau sekolah kaya zaman dulu tapi buat seneng-seneng aja gitu makChi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau mengikuti peraturan new normal, ya sebetulnya gak apa-apa. Asalkan patuh dengan protokol kesehatan. Bukan sepedaan seperti saat masa normal sebelum pandemi

      Hapus
  36. Aku pun kalau keluar ada kepentingan aja Mba, soalnya ya masih takut lho.
    Protokol wajib tetep kubawa biar aman akunya. Masker nyantol terus ehehhe kadnang liat yang lain santai tanpa masker kok miris sendiri lho.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Kitanya harus disiplin. Saya gagal paham deh sama yang ignorant

      Hapus
  37. Bener banget mbak. Saya pribadi aja masih parno bawa keluar anak-anak. Walau yang namanya bosan pasti ada. Tapi duh itu angka kasus Covid-19 usia anak-anak, makin hari makin ngeri. Emang udah paling bener deh diam di rumah aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tingkat kewaspadaan kita harus semakin tinggi di saat new normal

      Hapus
  38. huah aku setuju bgt mbak! gak sedikit org yang menganggap new normal ya bisa hidup kaya dulu lgi padahal kao sekarang harus berdampingan dengan korona disertai melindungi diri dengan protokol kesehatan huft

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu. Namanya juga 'new'. Pastinya kan beda dengan masa normal

      Hapus
  39. Betul mbak yang namanya penyakit memang nggak bisa diajak damai. Kita harus tetap waspada. Tapi kesel juga ya d... New normal orang mensikapinya seolah-olah sudah terbebas dari Corona. Tempat-tempat umum seperti kafe sudah mulai dipenuhi pengunjung ... Nyesek banget ngelihatnya ya mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cafe seharusnya punya standar keamanan. Begitupun dengan para pengunjungnya

      Hapus
  40. Saya termasuk yang menyambut baik new normal ini. Sejujurnya perekonomian sudah sangat buruk. Etapi bukan berarti jalan-jalan. Hanya berharap roda ekonomi berjalan sesuai protokol. Dan semoga keadaan ekonomi segera membaik. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Biar bagaimana roda perekonomian harus tetap jalan.

      aamiin

      Hapus
  41. Amin.

    Aku tercerahkan sekali membaca artikel ini seolah ada new normal dan new spirit didalamnya*

    BalasHapus
  42. Sabtu dan Senin kemarin terpaksa keluar rumah dengan jarak jauh, sengaja jalan pagi biar nggak terlalu ramai, selama perjalanan pergi pulang, selalu was-was dan parno gitu. Padahal sudah diterapkan protokol kesehatan. Parno karena masih ada saja orang yang nggak peduli.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita menjadi parno karena sikap-sikap yang ignorant itu

      Hapus
  43. iya deh, aku termasuk yang vokal banget, menyebut stupidity adalah a part of some people in Indonesiaaa

    jadi ketawa baca covidiot... seseorang itu bodoh, tolol karena ignore dengan kondisi covid

    BalasHapus
  44. Enggak banyak tempat yang aku singgahi walau udah new normal. masih khawatir sih, namun tidak bisa selamanya di rumah aja. tetap aja gemes kalau keluar melihat orang udah nongkrong aja di tempat kopi, rameee tanpa masker.

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^