Obrolan Tentang Pandemi Bersama Remaja

Obrolan tentang pandemi bersama remaja. Kalau aja gak ada pandemi COVID-19 ...
 
Mungkin saat ini Chi lagi sering menghubungi Keke via telpon atau WA. Mengingatkan dia untuk jangan pulang kemalaman. Trus, Chi suka ngomel-ngomel kalau Keke gak angkat telpon atau balas WA dengan cepat. Padahal dia lebih gercep kalau di-DM lewat Instagram. Begitulah anak generasi Z hehehe.
 
obrolan tentang pandemi bersama generasi z
Komunikasi Terbuka Antara Orang Tua dan Remaja


Keke lagi senang-senangnya ke coffee shop. Seringkali alasannya bukan untuk nongkrong, tetapi buat belajar. Alasannya kalau belajar di rumah, godaan magernya lebih kuat. Selalu pengen main game. Atau malah ngantuk melulu tiap kali lihat kasur. Makanya enakan belajar di coffee shop atau ke perpustakaan nasional.

Iya, Keke juga seneng banget ke Perpusnas. Dia bahkan suka ngajakin Chi untuk sama-sama ke sana. Katanya, tempatnya keren dan asik buat belajar. Tetapi, Chi belum sempat juga ke sana.

Seandainya gak ada pandemi ...

Bisa jadi saat ini Chi lagi gencar mengingatkan Nai untuk tetap disiplin makan dan istirahat. Bila sesuai rencana, harusnya bulan ini sekolahnya mengadakan lomba paskibra tingkat nasional. Nai terpilih sebagai ketua panitia.

Tahun lalu, saat dia menjadi panitia seksi dokumentasi aja udah sibuk banget. Apalagi kalau dia jadi ketua. Pasti Chi bakal lebih bawel lagi mengingatkan Nai tentang pola makan dan istirahat.


Berharap Masa Remaja Tidak Hilang


Nostalgia SMA kita
Indah lucu banyak cerita
Masa-masa remaja ceria
Masa paling indah
 
Sepenggal lirik lagu jadul dari Paramitha Rusady yang berjudul "Nostalgia SMA". Ada yang tau atau bahkan hapal lirik lagu itu? Berarti usia kita sama hahaha!
 
Masa remaja memang masa yang seru. Bagi orang tua, ketika anak memasuki masa remaja mungkin bakal merasakan jungkir balik. Anak mulai merasakan puber, cinta monyet, kenakalan-kenakalan kecil yang sifatnya bukan kriminal, dan lain sebagainya.
 
Beberapa kekhawatiran Chi di saat ini memang ada yang berkurang. Misalnya tentang pergaulan remaja. Suka agak ngeri ya dengan kebebasan pergaulan zaman sekarang. Nah dengan mereka ada di rumah terus selama pandemi COVID-19, setidaknya Chi lebih bisa mengawasi.

Khusus untuk Keke, Chi suka khawatir dengan tawuran. Yakin banget kalau secara pribadi, Keke gak pernah mau tawuran. Selama ini pergaulannya juga kelihatannya positif. Tetapi, bagaimana kalau terjebak di jalan? Apalagi siswa laki-laki lebih berisiko. Udah banyak cerita di media, siswa berseragam jadi korban. Duh!

Saat pandemi melanda, tentu kekhawatiran akan tawuran menjadi hilang. Ini salah satu yang sebetulnya bisa disyukuri. Ya berusaha ambil sisi positifnya aja.

Tetapi, ya sedih juga kalau mikirin setidaknya dalam kurun waktu 1-2 tahun ini mereka akan menghabiskan masa remaja dengan cara yang berbeda. Padahal mereka sedang senang-senangnya beraktivitas dan bergaul. Trus, tau-tau seperti berhenti begitu saja. Chi khawatir masa remaja yang seharusnya dijalankan dengan senang menjadi hilang.

Kalau menurut Saskhya Aulia Prima M.Psi, Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, di saat pandemi ini Generasi Z rentan terkena stress. Memang tetap bisa berkomunikasi dengan teman secara virtual. Tetapi, tetap aja rasanya ada yang berbeda. Perlu melakukan sesuatu supaya kesehatan mental mereka tidak terganggu.  
 

 

Meningkatkan Bonding dengan Anak Selama Pandemi

 

Di saat Keke dan Nai mulai sibuk dengan kegiatan di luar rumah, Chi sempat baper banget. Jam sekolah mereka semakin panjang. Udah gitu masih ditambah lagi dengan berbagai kegiatan. Sehingga mereka gak langsung pulang ke rumah setelah sekolah usai.

Baper banget lah Chi jadinya karena merasa kesepian. Tetapi, lama-lama mulai bisa menerima bahkan menikmati. Meskipun tetap ada rasa khawatir kalau semakin lama bonding dengan anak semakin longgar.

Ya karena semakin jarang ngobrol bareng. Meskipun teori idealnya kan yang penting quality time, bukan quantity. Tetapi, tetap aja kekhawatiran itu timbul.

Insya Allah pandemi akan berakhir. Meskipun gak tau kapannya. Tetapi, mungkin ketika sudah berakhir, anak-anak akan kembali sibuk beraktivitas.

Makanya di saat pandemi ini, Chi berusaha memaksimalkan lagi bonding dengan anak. Merasa dapat dikasih kesempatan banget bisa setiap saat sama mereka. Seperti ketika anak-anak masih pada kecil. 
 


Belajar Memahami Dunia Generasi Z di Saat Pandemi


Meningkatkan bonding dengan anak itu prosesnya gak instan. Ada kalanya juga turun naik. Sehingga kami harus tarik ulur. Meskipun kadang-kadang, Chi terbawa emosi juga.

Di awal pandemi, Keke sempat berontak. Merasa kebebasannya jadi terbelenggu. Alhamdulillah, sekarang dia mulai enjoy. Eh, giliran Nai yang mengalami masalah karena ambisinya. 
 
[Silakan baca: Nai dan Ambisinya]

Berkomunikasi dengan mereka masih menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk memahami. Berkomunikasi dengan anak remaja, tentu berbeda dengan saat mereka masih anak-anak.

Harus semakin banyak mendengarkan. Bahkan kalau perlu dipancing untuk menemukan solusinya. Karena kadang-kadang mereka sebetulnya udah tau kok solusinya seperti apa. Hanya mungkin saja masih ragu, pengen dipahami, atau ada alasan lain.

Bunda: "Dek, dulu kan Adek bilangnya betah belajar di rumah. Sekarang, malah pengen balik belajar di sekolah?"
Nai: "Sebetulnya Ima lebih betah belajar di rumah, Bun."
Bunda: "Trus, kenapa waktu itu bilang gak suka ma PJJ?"
Nai: "Ima cuma kangen sama ekskul."
Bunda: "Kangen sama temen-temen?"
Nai: "Ya temen-temen, ya ekskulnya."
Bunda: "Tapi, Adek masih suka ngobrol ma temen-temen kan lewat medsos atau apa gitu?"
Nai: "Masih. Cuma kan tetap aja beda."

Singkat cerita, tidak bisa lagi ikut ekskul menjadi sebuah kemarahan buat Nai. Bisa sangat dimaklumi. Mengingat Nai sangat menyukai paskibra. Lagi semangat-semangatnya beraktivitas, tau-tau harus berhenti begitu aja. 
 
Kalau pun saat ini, para siswa sudah boleh masuk sekolah, tetap aja Nai gak akan bisa ikut ekskul lagi. Kebijakan sekolah kalau udah kelas 9 gak ada kegiatan ekskul. Makanya Nai menjadi sangat sedih dan marah.

Bunda: "Bunda paham kemarahan Adek. Tetapi, kemarahan gak bisa terus dipendam. Ya anggap aja berarti udah gak bisa ikut ekskul lagi selama SMP. Trus, Adek biasanya gimana kalau lagi marah?"
Nai: "Ima nge-design."
Bunda: "Oh, jadi kalau Adek sibuk nge-design itu sebetulnya lagi marah?"
Nai: "Iya."
Bunda: "Kalau baking gimana?"
Nai: "Ima gak pernah baking kalau lagi marah."
Bunda: "Oh gitu. Alhamdulillah. Adek menyalurkan kemarahan dengan cara positif. Banyak sabar juga ya, Dek. Insya Allah, gak akan seterusnya seperti ini." 
 
[Silakan baca: Nai dan Hobi Baking]

Akhir-akhir ini, Nai lagi sering terlihat mendisain. Platformnya macam-macam misalnya Canva, Power Point, dan lain sebagainya. Dari dulu, Nai memang sudah senang menggambar dan berkreasi. Tetapi, sekarang lebih suka berkreasi di dunia digital. Makanya, Chi sempat berpikir, dia melakukan itu karena memang hobi.

Rupanya hobinya yang satu ini dijadikan penyaluran kemarahan. Tugas sekolah buat presentasi, dia design dulu. Padahal diketik di Word aja udah cukup. Kalau lagi gak ngerjain tugas sekolah, dia design menggunakan foto-foto artis Korea yang lagi jadi favoritnya. *Jangan tanya Chi siapa artis favoritnya, ya. Gak pernah hapal naman-namanya hehehe.

Buat Chi gak apa-apa lah. Setidaknya penyaluran kemarahan dia itu positif. Tetapi, tentunya tetap harus diajak ngobrol secara berkala.

Gak harus sama bundanya. Saat ini, Nai lebih terbuka kalau ngobrol sama ayahnya. Gak apa-apa juga. Bundanya harus tahan baper hihihi. Tetapi, yang penting kan dia mau terbuka dengan salah satu orang tuanya.

Bagaimana dengan Keke?

Sama Keke Chi lebih sering ngobrol dan berdiskusi. Karena dia juga anaknya lebih blak-blakan. Makanya kami berdua suka dianggap Tom n Jerry sama K'Aie. Abisnya suka heboh deh kalau lagi berdua. Entah itu ngobrol, becanda, dan kadang-kadang ribut juga hahaha.

Keke: "Bun, kalau nanti Keke kerja gak berdasarkan passion gak apa-apa?"
Bunda: "Kenapa gitu?"

Keke cerita, sejak pandemi ini dia mulai berpikir untuk tidak jadi orang yang terlalu idealis. Padahal sampai kelas X, dia masih ngotot banget pengen kuliah di jurusan musik. Kalau gak ambil jurusan musik, dia mau kuliah di Fakultas Sastra Indonesia. Alasannya masih ada hubungannya dengan musik. Keke suka menulis puisi. Dia berharap dengan kuliah di fakultas sastra akan menambah skillnya.

Kalau kuliah di Fakultas Sastra Indonesia, Chi gak keberatan. Tetapi, kalau bisa jangan ambil jurusan musik. Meskipun gak pernah melarang kalau kelak dia mau berkarir di dunia musik.

Pandemi mulai mengubah pandangannya. Menurutnya, kalau nanti dia lulus kuliah dan dapat tawaran kerja yang bagus bakal diterima. Meskipun bukan passionnya. Nanti kalau udah merasa sukses secara materi, baru deh dia kejar passion. Nah, karena Bundanya ini sering kali bilang pentingnya punya passion, Keke merasa perlu minta izin dulu.

Bunda: "Sebetulnya gak apa-apa, Ke. Ada juga 'kan yang benar-benar memisahkan kerjaan dengan passion. Meskipun katanya sih idealnya itu kerja yang berdasarkan  passion itu lebih nikmat. Tetapi, kan prakteknya kembali ke masing-masing."

Kemarahan Keke tentang kebebasan yang terbelenggu karena pandemi bisa dikatakan sudah mulai reda. Bahkan dia bisa lebih sabar saat hpnya kecebur dan mati total sampai sekarang. 

Bunda: "Keke masih marah dengan pandemi?"
Keke: "Enggak lah, Bun."
Bunda: "Tapi, ini kan belum kelihatan ada tanda-tanda usai. Kalau sampai tahun depan masih sekolah di rumah gimana?"
Keke: "Keke percaya aja semua bakal berakhir. Cuma, gak tau kapannya. Lagian manusia tuh harusnya makhluk yang paling bisa beradaptasi. Jadi, kalau sampai sekarang masih harus di rumah ya gak apa-apa."

Ya Allah, sering kali Chi suka pengen nangis kalau udah ngobrol ma Keke dan Nai. Chi suka sedih kalau melihat masa remaja mereka harus dilalui seperti ini. Tetapi, meskipun kadang-kadang mood yang up and down, mereka tuh dewasa juga.

Bahkan malah Chi merasa suka kurang tegar sebagai ibu. Ya karena melihat kedewasaan cara berpikir dan sikap mereka. Chi jadi suka tertampar sendiri. Sekaligus sangat bersyukur memiliki Keke dan Nai.

Ya alih-alih ingin mengajak mereka berdiskusi supaya bisa lebih memahami dunia generasi Z. Malah kadang-kadang Chi yang jadi banyak bersyukur. Chi bisa lebih memahami dunia remaja. Tetapi, juga merasa dikuatkan oleh mereka. Alhamdulillah.
 

Posting Komentar

90 Komentar

  1. Kalau masa remajanya enggak melulu harus diisi dengan cinta2an, kayaknya malah jadi makin krearif cari ide kegiatan, ya

    BalasHapus
  2. Keren mbak, pelajaran banget untuk saya selaku ibu baru :)

    BalasHapus
  3. Remaja jaman now memang agak2 extraordinary dan complicated wkwkwkw
    Tapiii memang kita sebagai ortu banyaaakk belajar dari mereka ya Mba.
    Semangaattt untuk kita semuaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena sumber yang mereka dapat pun banyak hehehe

      Hapus
    2. Betuull banget mba
      Kita mendidik buah hati yg bedaaaaaa banget dgn era kita dulu ya

      Hapus
  4. Memang pandemi ini kesempatan kita ya untuk meningkatkan bonding dengan anak.
    BTW, sama kayak Mbak Chi, saya juga sempat ada pikiran, gimana supaya anak saya tak terjebak tawuran ... apalagi perjalanan pulang dari kampusnya kemarin2 itu melewati beberapa titik kumpul demonstrasi dan ada beberapa demonstrasi yang rusuh huhuhu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena kalau gak ada pandemi, mereka sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing

      Hapus
  5. Iya makchi...
    Mrk para pre teens dan teens ini perlu jg dikuatkan dg bisa kmu dua arah sama kita klo pandemi ini whatsoever ada plus minusnya buat mrk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Makanya harus diajak ngobrol juga

      Hapus
  6. Iya Mbak, aku juga kepikiran, anak-anak ini kasian banget apalagi yang SMP belum kenalan dengan teman barunya. Aku sering nyuruh dia gaul dengan tetangga seumuran, biar nggak terlalu terkurung banget di rumah stres nanti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! usia mereka kan idealnya lagi banyak bergaul

      Hapus
  7. seru mba ngobrolin pandemi sama anak yang udah beranjak remaja, pasti ada banyak opini yang out of the box malah bikin baper heheh apalagi kalo anaknya perempuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama anak laki-laki juga banyak ceritanya hehehe

      Hapus
  8. Semoga pademi ini lekas berlalu ya mba. Semoga semua sehat-sehat selalu ya..

    BalasHapus
  9. Aku jadi auto nyanyi lagunya Hivi yang judulnya "Masa Remaja" hahaha
    Kyknya gak cuma remaja mbak, semua org merasa bosan sama aktivitas rutin dan pengen break tapi kalau break kelamaan yo bosan juga hehee.
    Masa remaja nih keknya krusial dan butuh pendampingan ekstra yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Semua punya masalah di saat pandemi. Terkhusus usia remaja, juga saat ini sedang mencari jati diri. Jadi harus diajak ngobrol

      Hapus
  10. aaiih seneng deh baca cerita2 cerita bunda mira dan kekenai. soalnya jd kebayang gmn bbrp tahun ke depan duo bocilku jd remaja spt kenai.

    baca pendapat keke soal kerjaan, duh dewaaa banget mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Mbak. Sampai bisa bikin emaknya baper hahahha

      Hapus
  11. ah sudah punya anak remaja ya mbak, lagi menghadapi masa masa seru ya

    BalasHapus
  12. Kadang dari obrolan yang berujung debat, ada kalimat anak-anak yang malah jadi pembelajaran, mbak. Ucapan mereka kadang menyadarkan kita bahwa anak-anak ternyata bisa lebih dewasa dalam proses pertumbuhannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! Kalau gak diajak ngobrol malah kita gak tau, kan

      Hapus
  13. iyaa aya mba.. aku kalau ngobrol sama anak - anak soal pandemi memang nano nano deh.. kadang mereka suka karena online mulu kadang sebel karena ngga bisa keluar

    BalasHapus
  14. Ya emang enak kalau anak tuh diajak ngobrol sih. Jadi inget ibuku dulu, waktu anak2 masih remaja, kami tuh sering banget rumpi2 ama ibu. Smpe kalau ada cowo yang nemabak juga curhatnya ke ibu dulu, bukan ke temen.

    BalasHapus
  15. Seneng banget aku baca kisah kak Myra mengasuh dua remaja.
    Dan yang unik, karena sepasang, laki dan perempuan.
    Pasti makin berwarna diskusinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudut pandangnya beda-beda, ya hehehe

      Hapus
    2. Iyaa...
      Dan yang paling seru juga cara berkomunikasinya yaa, kak Myra..
      Sama anak perempuan bisa panjaaang ngomongnya...tapi sama anak bujang, bagaimana?

      Hapus
    3. Justru yang anak bujang lebih terbuka hehehe

      Hapus
  16. Ada plus dan minusnya ya mbak nikmatin masa remaja pandemi gini tuh. Bisa ambil sisi positifnya juga Keke sama Nai jadi bisa berpikir dewasa ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, sebisa mungkin minimalkan negatifnya

      Hapus
  17. Selama pandemi ini anak saya juga nampaknya bosan di rumah, Mbak. Dan dia menyalurkan kebosanannya itu dengan menggambar. Sudah hampir seribu kertas digunakannya untuk menggambar sejak bulan Maret lalu. Semoga pandemi ini segera berakhir yaa. Biar anak-anak bisa ketemu temannya lagi di sekolah. Nai juga bisa ekskul lagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang membosankan, apalagi kalau selama ini anaknya aktif berkegiatan

      Hapus
  18. aku jadi diingetin selama pandemi suka marah-marah berantakin rumah soale anak-anak. beberes terus2an gak berhenti-berhenti.
    Jadi pengen ngobrol lama ama anak-anak. biasanya mereka cuma sekedar cerita saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selama masih ada anak, susah bikin rumah beres hehehe

      Hapus
  19. kadang saya suka mikir, anak2 skrg yg mengalami pandemi akankah punya cerita menarik bersama teman2nya? saat perpisahan sklh aja mereka harus melakukannya secara virtual 😪

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mungkin setidaknya pengalaman menghadapi pandemi akan menjadi kenangan mereka

      Hapus
  20. Pandemi ini memang memperlihatka sekali bahwa betapa hidup generasi Z dan milenial sangat signifikan dalam menggunakan sosial media dan teknologi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau untuk dunia digital, memang mereka bisa lebih menguasai. Tetapi, meskipun begitu, medsos ternyata belum bisa menggantikan kehidupan sosial mereka sepenuhnya

      Hapus
  21. Setiap generasi selalu punya tantangan yang berbeda ya.. Galau anak2ku masih kecil2, kita di masanya mreka akandiuji apa ya. Well prepared for being parent

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya selalu ada tantangannya masing-masing

      Hapus
  22. Aku jg pengen nanyak sama anak remaja yang punya gebetan di sekolah. Pandemi begini trus ga bisa CCPan ya? mau wa jg sungkan kalau masih PDKT, hahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha coba ditanya deh, Mbak. Siapa tau ada jawaban menarik :D

      Hapus
  23. Masa pandemi ini masa penuh kesabaran ya mba, gak ortunya gak anaknya juga semoga pandemi ini segera berakhir ya

    BalasHapus
  24. Makasih kaak udah berbagi cerita dan pengalaman kak. Luar biasa dan sangat bermanfaat banget kak. banyak hal yang dapat menjadi pelajaran yah kak

    BalasHapus
  25. Buat saya, menemani anak melewati masa remaja bener bener harus deh kita HARUS banyak sabar. Trus nanganin anak perempuan ama anak laki ya beda. Aku udah melewati masa remaja dua anak. Sisa satu yang udah mulai tanda tanda. Tapi emang intinya anak harus nyaman ngobrol ama kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, Mbak. Justru saat remaja nih harus semakin diperhatikan.

      Hapus
  26. Keren nih bounding Mba Mira dengan anak-anaknya.. Aku di rumah tinggal dua anak juga satu sibuk kuliah online satunya lagi sekolah online tapi aku ajakin kegiatan baru ngajar anak-anak tetangga... sedikitan aja..soalnya mereka pada kumpulnya di rumah ya sudah daripada main ga jelas aku ajakin belajar ngaji dan bahasa inggris...alhamdulillah jd ngajarin anak jadi guru juga si bungsu ikut ngajar... mudah2an dengan cara ini dia ga bosan menjalani hari2 di rumahnya...sejauh ini terlihat happy sih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau happy ya, Mbak. Memang kitanya juga yang harus bikin anak menjadi nyaman

      Hapus
  27. Aku gak tau lagunya Paramitha Rusadi Itu hehehe. . Alhamdulillah dengan lebih banyak di rumah, jadi hubungan anak-anak bersama ortu lebih dekat ya.

    BalasHapus
  28. Masa remaja tuh yaaa....penuh dengan lika liku yang sulit dimengerti wakakaka..tp meskipun begitu pasti remaja akan survive dengan caranya d masa pandemi ini, yg ptg ortu selalu mendampingi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Masa remaja memang akan penuh dengan cerita. Termasuk di saat pandemi ini

      Hapus
  29. pandemic ini emang membawa banyak banget perubahan yaa, terutama mungkin buat para remaja yang bahkan belajar pun harus melalui online, berharap semoga bisa segera normal kembali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah, remaja akan beradaptasi seperti kata Keke

      Hapus
  30. Berbicara Santai dengan anak remaja seperti ini semakin membuka kan banyak hal yang mbak apalagi anak-anak diajar untuk berpikir dewasa menghadapi masa pandemi

    BalasHapus
  31. Beda jauh banget ya kehidupan anak remaja sekarang dengam remaja zaman kita dulu ditambah lagi dengan kondisi pandemi gini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Remaja zaman sekarang lebih complicated hehehe

      Hapus
  32. Sungguh menyenangkan ya bisa membersamai anak-anak di saat remaja gini. Rejekiku malah harus berjauhan dengan anakku di saat dia meniti masa remajanya. Hiks, jadi kangen iiihh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di saat pandemi begini juga tetap di pesantren, ya?

      Hapus
  33. Saya juga punya adek kelas 3 SMA yang PJJ aja di rumah, meski beberapa kali keluar dengan teman-temannya, main bareng tapi kayaknya masih kurang gitu. Apalagi meski PJJ tugas mereka numpuk karena sekolah di kejuruan, hehehe. Kasihan juga kadang melihatnya, alhamdulillah ya Bun punya Keke dan Nai, semoga pandemi segera berakhir amiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena masa remaja memang lagi senang bergaul. Pandemi seperti meredam dunia sosial mereka

      Hapus
  34. Wah saya jadi dapet wawasan gimana cara memperlakukan anak Abg gen Z yang gaya hidupnya jauh beda sama zaman emaknya dulu.

    Selama penyaluran emosinya positif sebagai orang tua tinggal memantau dan memfasilitasi ya mba.

    Semoga masuk jurusan Sastra yang diimpikan yaa Ke..
    Mangats terus mba, moga pandemi lekas bye

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya beda banget. Zamannya udah berbeda hehehe

      Hapus
  35. Aku sama banget kayak Keke. Kalo kerja di rumah, bawaannya mager dan pengin rebahan, tapi kalo ke kedai kopi bisa lebih produktif. Hehe.

    BalasHapus
  36. Aku pun sedih banget Chi lihat anak-anak, harusnya mereka riang masuk sekolah baru, sekarang ngga seperti itu yaa, bahkan untuk main keluar rumah aja awal-awal penuh ketakutan. Remaja sekarang pun sudah pada cerdas-cerdas banget yaa aku seneng deh lihatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Anak sekarang lebih punya banyak pendapat

      Hapus
  37. Wah, Keke mau masuk Musik ya. Sama kaya aku dulu, hihi. Komunikasi dengan anak itu memang penting ya. Aku ngerasain banget soalnya, karena ortuku hangat, aku jadi terbuka banget sama mereka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sempat pengen ke musik. Tetapi, sekarang lagi minat ke yang lain

      Hapus
  38. Alhamdulillah Chi dikarunia anak yang ngerti banget. Semoga aku juga dikarunia anak yang demikian bisa mengerti keadaan. Alhamduliilah, selama pandemi ini anakku sesekali rewel minta main-main di playground, Chi. Akan tetapi, setiap kali diberi pengertian dia bisa ngeti.

    Aku kalau pas lagi judeg banget, alias banyak pikiran suka baking, Mbak. Rasanya kayak tak ublek-ublek tuh masalah jadi adonan kue. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Iya gak apa-apa anak sesekali rewel. Itu bagian dari emosi. Asalkan kemudian bisa dikasih pengertian

      Hapus
  39. Salut sama Nai yang bisa melampiaskan kemarahannya dengan cara yang positif dan kreatif seperti nge-design itu. Jadinya sekalian mengasah bakat nge-desain Nai menjadi makin maksimal. Keren!

    BalasHapus
  40. Beberapa tahun ke depan juga anakku beranjak abege nih alias remaja, harus mulai dipupuk daari sekarang sih ya komunikasinya biar bondingnya terus terjaga dan mereka mau komunikasi sama kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak karena proses begini gak instan

      Hapus
  41. Pandemi ini membuat bonding keluarga semakin berkualitas, karena kalau aku kebetulan suami wfh dari Maret jadi di rumah anakku happy banget. Bisa ditemani belajar bergantian, makan bersama, sholat berjamaah, dan main bersama. Alhamdulillah sampai hari ini gak bosan dia di rumah jadi aku pun sambil ngasih pengertian tentang pandemi, padahal anaknya pengen ke liburan kayak teman-temannya.

    BalasHapus
  42. Komunikasi itu penting banget ya kak antara anak dan orang tua. Untung saja aku dan mama terutama orangnya terbuka, kalo suka dibilang suka klo ndk suka ya bilang ndk suka. Jadi endingnya akan sama enak dua"nya ndk ada istilah tuh, diakhir kan bigini kan begitu. Dan masa remaja emang butuh perhatian lebih sih dr orang tua mengingat lingkungan sekarang ya sudah mulai "rawan" banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah kenapa saya ingin terus berkomunikasi dengan anak. Zaman sekarang banyak banget godaannya

      Hapus
  43. terkadang anak anak emang lebih kuat dan lebih sabar menghadapi sesuatu dibandingkan kita ya mbak.. maybe karena pikiran mereka masih lurus belum kena polusi kayak kita hihihi.. sehat sehat yaaa anak anaknya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya bisa juga begitu. Sayangnya masih ada yang suka meremehkan anak-anak

      Hapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^