Nai dan Ambisinya

Chi pernah baca tentang efek orang tua yang terlalu berambisi kepada anaknya. Tentu saja, kami tidak ingin seperti itu. Makanya, suka berdiskusi dengan anak-anak. Biar tau apa yang mereka mau dan pikirkan.
 
anak memiliki ambisi yang tinggi

Nai dan Ambisinya


 
Menjadi, orang tua yang gak ambisius juga katanya lebih asik di mata anak. Karena anak tidak dituntut harus menjadi ini itu untuk menuruti ambisi orang tua. Ya syukurlah kalau memang dianggap sebagai orangtua yang asik. Tetapi, bukan itu juga yang ingin dibahas di sini.

Berusaha menjadi orang tua yang tidak ambisius, ternyata bukan berarti anak tidak memiliki ambisi yang kuat. Bahkan akhir-akhir ini setidaknya ada 2 kejadian yang bikin Nai jadi ngedrop. Dia terlalu memaksakan diri sendiri.


Berambisi Menjadi Ketua OSIS


bila anak berambisi tinggi

Ini kejadian waktu Nai di kelas 8. Dengan riang dan terlihat semangat, dia cerita kalau sedang mengikuti seleksi calon Ketua OSIS dan Ketua Paskibra.

Ekspresi Chi saat itu campur aduk. Senang karena Nai memiliki aktivitas yang bermanfaat. Terkejut karena setahu Chi, Nai ini tipe anak yang introvert. Dia memang senang dengan ekskul Pakibra. Tetapi, gak menyangka aja kalau dia berani mencalonkan jadi kedua.

Perasaan lainnya adalah galau. Menurut Chi, kedua jabatan itu sama-sama bagus. Tetapi, juga memiliki tanggung jawab yang tidak mudah. Chi pun menyarankan ke Nai supaya memilih salah satu. Supaya dia fokus.

Nai bersikeras ingin ikut keduanya. Dan dia tipikal yang keras kalau sudah punya mau. Jadi, Chi paling tarik ulur aja. Tetap mendukung, tetapi juga mengingatkan.

Nai benar-benar serius dengan keinginannya. Dia mengkonsep beberapa program untuk dipresentasikan. Usahanya memang sangat keras. Chi seringkali mengingatkan Nai untuk makan dan istirahat yang cukup.

Pemilihan Ketua OSIS dan Paskibra diselenggarakan berdekatan. Sayangnya, menjelang pemilihan, Nai pun tumbang. Dia sakit hingga gak bisa sekolah.

Nangis banget dia saat itu. Terpaksa mengundurkan diri dari keduanya. Chi ikut merasakan kesedihannya. Rasanya pengen ikut nangis bersama. Tetapi, 'kan harus berusaha tegar di depan Nai.

Chi ajak dia ngobrol berdua secara pelan-pelan. Alhamdulillah, kekecewaan Nai berangsur berkurang. Dia mulai ceria lagi.
 
Selang beberapa bulan kemudian, Nai terpilih sebagai Ketua Panitia Lomba Paskibra yang akan diadakan secara nasional. Setiap tahun, sekolah Nai mengadakan lomba ini dengan peserta se-pulau Jawa. Karena selalu berjalan lancar, rencananya mau ditingkatkan jadi skala nasional. Dan Nai terpilih sebagai ketua panitia. Tentunya bukan tugas yang ringan.

Setelah terpilih sebagai ketua, kesibukan Nai pun bertambah. Sayangnya pandemi COVID-19 datang dan semua kegiatan pun dihentikan. Padahal kalau gak ada wabah kemungkinan Oktober ini lombanya digelar.

Nai: "Bun, Ima heran, deh. Giliran Ima santai, gak kepengen banget gitu terpilih, eh malah dipilih jadi ketua. Tetapi, giliran waktu itu, Ima sampai sakit."

Bunda: "Ya justru karena Adek santai. Makanya jadi lebih fokus. Kalau sebelumnya 'kan Adek terlalu berambisi. Ikut 2 pemilihan pula. Akhirnya Adek stress sendiri."

Nai: "Iya ya, Bun hehehe."


Berambisi Masuk Sekolah Negeri


berambisi masuk sekolah negeri

Ini kejadian yang baru banget. Kurang lebih 1 bulan yang lalu. Chi mulai merasakan ada yang berbeda dari Nai. Dia semakin jarang terlihat keluar kamar. Setiap kali masuk ke kamarnya, Nai lagi di depan laptop. Bahkan hingga larut malam.

Sebetulnya, sejak dulu Chi punya aturan kalau anak-anak gak boleh tidur larut malam. Meskipun ada tugas yang belum selesai, tidur harus tepat waktu. Biar bagaimanapun mereka masih harus terbiasa tidur dengan jumlah waktu yang cukup.

Tetapi, kali ini Nai terlihat ngeyel. Dia memang bukan tipe yang meledak-ledak kalau melawan. Hanya saja suka terlihat masih di depan laptop. Padahal harusnya dia sudah tidur dari tadi.

Awalnya, Chi pikir dia lagi banyak tugas sekolah. Sempat merasa kesal juga karena tugas sekolah kok gak kira-kira. Nai belajar terus sampai tengah malam. Itupun Chi paksa dia harus tidur. Kalau enggak kapan istirahatnya?
 
 
Ternyata bukan. Dia katanya pengen belajar aja karena ada yang belum mengerti. Nai memang tekun anaknya. Tetapi, kalau sampai larut malam, gak bagus juga. Chi kembali mengingatkan Nai untuk jaga kesehatan.

Sebetulnya Chi udah merasa ada sesuatu yang salah. Nai bukan hanya jadi jarang keluar kamar. Senyumnya juga menghilang. Muram terus ekspresinya. Judes juga kalau diajak ngobrol. Mulai agak sering sakit-sakitan. Ngebaking udah gak pernah dia lakukan lagi.

K'Aie sempat berpikir apa perubahan Nai itu karena PMS. Tapi, Chi yakin bukan. Perubahannya beda, meskipun kelihatan uring-uringan. Lagian kalau PMS paling beberapa hari aja gak sampai berminggu-minggu.  

[Silakan baca: Nai dan Haid Pertama]
 
Nai ini aslinya suka becanda, celetak-celetuk, dan kayak terlihat santai. Ketekunannya juga tinggi. Tetapi, kalau untuk urusan pribadi sangat tertutup. Agak sulit mengorek Nai supaya mau terbuka. Persis banget lah sifatnya kayak ayahnya.

Jadi, Chi juga mau langsung menebak permasalahannya. Meskipun sudah merasa ada sesuatu yang salah. Bahkan udah menebak-nebak kira-kira apa permasalahannya. Paling hanya mengingatkan tentang pentingnya menjaga kesehatan. Jangan sampai lupa minum, makan, dan istirahat. Chi juga bilang kalau ada apa-apa cerita.

Hingga suatu hari, Chi sedang kesal. Nai pun kena pelampiasan marah. Padahal dia gak salah apa-apa. Dia langsung teriak, "Ima benci PJJ!" Dia menangis sampai sesenggukan.

Chi langsung ajak masuk ke kamarnya. Membiarkan Nai nangis sampai puas. Jarang banget lho Nai nangis seperti itu. Setelah selesai menangis, Chi minta Nai untuk bercerita.

Dugaan Chi selama ini benar. Nai belajar supaya nilai-nilainya baik. Tetapi, semakin keras dia belajar, justru nilainya semakin turun. Hal ini bikin dia kecewa dan terpuruk. Selalu terlihat murung dan mulai sakit-sakitan.

"Dek, memang selama ini Bunda pernah menuntut Adek untuk selalu punya nilai sempurna? Memang Bunda selalu langsung marah kalau Adek dapat remedial?"

Nai bilang gak pernah. Ya, kami memang gak pernah memaksa anak-anak untuk selalu mendapatkan nilai bagus apalagi sempurna. Kami juga gak pernah marah kalau mereka ulangannya harus remedial. Selama kami tau mereka sudah berusaha belajar itu cukup.

Karena buat kami yang penting tekun. Kalau sudah tekun belajar, tetapi belum bagus nilainya ya gak apa-apa. Lagipula gak harus juga mereka menguasai semua mata pelajaran.

Nai menjadi begitu keras terhadap dirinya karena dia pengen banget masuk sekolah negeri. Terutama, di sekolah yang sama dengan Keke. Perubahan peraturan PPDB tahun ajaran ini yang drastis memang terlihat sangat tidak menguntungkan bagi Nai. Kans dia menjadi kecil banget.

Sebetulnya Chi udah menebak permasalahan itu sebelum Nai cerita. Ya mungkin ini yang dinamakan feeling seorang ibu. Meskipun anaknya belum mau cerita, tetapi bisa merasakan ada sesuatu yang salah.
 
Hati Chi seringkali merasa pedih banget setiap kali melihat Nai begitu tekun belajar. Chi suka menangis di depan K'Aie. Gak tega rasanya kalau dia sampai gagal masuk SMA Negeri melihat ketekunannya belajar.  Jadi semakin kesel banget dengan perubahan sistem PPDB DKI.

Chi gak akan cerita di sini ya seperti apa perubahannya. Karena udah ditulis panjang banget di blog ini. Jadi meluncur aja ke postingan Chi tentang perubahan peraturan PPDB tahun ini yang membuat banyak sekali orang tua berdemo.
 

"Menurut Adek, memangnya kakak mu jago matematika? Dia beberapa kali remed. Tapi, kakak mu santuy aja kayak gak ada masalah hehehe. Tapi, ya Keke juga punya kelebihan di mata pelajaran lain."

Chi juga cerita zaman masih sekolah. Meskipun masuk jurusan IPA, gak otomatis pelajaran eksak pasti jago. Biologi menjadi kelemahan. Saat kuliah matkul akuntansi yang kepayahan. Udah pasti remed melulu, deh. 
 
"Dek, meskipun Bunda remed melulu untuk beberapa pelajaran, tetapi buktinya Bunda masih hidup dan bahagia tuh sampai sekarang hahaha."

Ketika Chi menceritakan pengalaman remedial diri sendiri dan Keke, mulai terlihat senyum kecil di wajah Nai. Sebetulnya, Nai juga pernah merasakan remedial. Hanya karena kali ini dia sedang terlalu keras dengan dirinya, remedial malah membuatnya jadi terpuruk.

Melihat Nai mulai tersenyum kecil, Chi merasa agak bersalah. Selama ini, Chi memang kurang banyak cerita ke Nai. Lebih terbuka ke Keke.
 
Karena Keke juga anaknya terbuka. Apa aja bisa dia ceritain. Makanya Chi pun suka cerita tentang masa sekolah dan lain sebagainya. Termasuk kalau lagi galau juga kadang-kadang curhat ke Keke hehehe.

Tentu gak sekali itu aja Chi ajak ngobrol. Chi pun mulai lebih banyak ceritain lagi tentang pengalaman masa sekolah dan lain sebagainya. Diselipin juga dengan pesan tentang masuk sekolah negeri. Kalau sampai gak keterima, boleh banget kok kecewa, marah, atau sedih. Asalkan jangan kebablasan. Gak apa-apa masuk SMA swasta kalau memang itu udah jalannya. Gak otomatis, masa depannya jadi suram kalau keinginan belum dikabulkan.

Sama-sama berusaha dan berdo'a. Jangan pula sampai memaksakan diri. Apalagi ini udah kejadian kedua, Nai terlalu keras sama dirinya sampai murung dan sakit-sakitan. 
 
Sehari setelah kejadian Nai menangis, Chi izin ke wali kelas untuk tidak ikut PJJ dengan alasan sakit. Memang bener Nai sedang sakit. Kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk belajar meskipun dari rumah.

Selama sakit, Chi minta Nai untuk membebaskan diri. Terserah mau melakukan apapun, selain belajar tentunya. Dan, dia memilih marathon menonton drakor "It's Okay to Not Be Okay". 
 
Dia juga ketawa-tawa dan sesekali terlihat menari mengikuti boyband Korea favoritnya. Jangan tanya boyband apa yang Nai suka, ya. Berkali-kali dikasih tau, tapi Chi gak pernah hapal juga namanya hehehehe.
 
Gak apa-apa dia mau melakukan apapun. Pokoknya yang penting hatinya senang dulu. Lupakan semua pelajaran sekolah untuk beberapa saat. Jangan pula sampai lalai sholat, makan, minum, dan istirahat.

Secara perlahan, Nai mulai terlihat cerah lagi wajahnya. Mulai suka ngemil dan ngebaking lagi. Celetukannya yang bikin gemes mulai keluar lagi. Alhamdulillah ya Allah. Chi merasa terharu banget karena Nai mulai membaik.
 
[Silakan baca: Nai dan Hobi Baking]


Tips Menghadapi Anak yang Berambisi Tinggi


tip menghadapi anak yang ambisius
Karakter Nai kalau lagi happy ya begini. Suka usil dan bikin gemes

Chi akan coba berbagi tips menghadapi anak yang memiliki ambisi tinggi. Ya mungkin tips ini akan berbeda-beda bagi setiap anak. Tetapi, setidaknya cara ini yang kami lakukan ketika menghadapi Nai.


Introspeksi

Setiap kali anak sedang memiliki masalah, Chi dan K'Aie suka berdiskusi dan introspeksi. Apakah masalah yang sedang terjadi karena kami sudah melakukan kesalahan?

Bisa juga tanya langsung ke anaknya. Seperti yang Chi tulis di atas. Bertanya ke Nai apakah selama ini kami suka memaksakan kehendak sehingga Nai jadi begitu berambisi.


Pahami Karakternya

Sifat Nai yang tertutup untuk urusan pribadi memang seringkali bikin gregetan. Chi pengennya tuh semua anak terbuka. 
 
Karakter Nai memang persis ayahnya. Jadi, gak kaget juga sebetulnya. Memahami karakternya buat Chi lebih baik daripada memaksa untuk berubah. 

Tertutup di sini bukan berarti dia pendiam banget sampai gak pernah ngobrol ma keluarga. Nai dan ayahnya tipe yang menutup diri untuk masalah pribadi. Lebih suka memendam dan menyelesaikan masalah sendiri. Bukan karena gak percaya ma orang. Memang begitu sifat mereka berdua.

Tetapi, kalau untuk hal lain bisa ngobrol. Malah celetukannya suka bikin gregetan. Abis suka gak terduga dan bikin ketawa.


Selalu Ada Untuknya

Sejak kecil, kalau Nai udah nangis sesenggukan sendirian di kamar itu artinya dia lagi sedih banget. Tetapi, gak otomatis dia mau langsung cerita kalau di tanya. Mulutnya bisa tetap terkunci rapat dan memilih bilang, "Gak apa-apa."

Paling yang Chi lakukan adalah tarik ulur. Sesekali dipancing supaya mau terbuka. Kalau dia tetap diam ya udah. Dipaksa untuk terbuka malah bikin Nai semakin menutup diri.
 
Sesekali Chi samperin buat nanya udah makan atau belum. Ingetin dia untuk minum dan istirahat. Elus-elus kepalanya sambil sesekali berkata dengan lembut, "Kalau ada apa-apa cerita ya, Dek." Kalau pun Nai belum mau cerita, setidaknya Chi berharap dia tau bundanya akan selalu ada untuknya.
 
Kadang-kadang, Chi nyamperin dia sekadar untuk bilang, "Dek, udah lama gak bikin kue. Bikin, dong. Bunda kangen nih sama buatan Adek." Ya maksudnya untuk mencairkan suasana. Berharap juga Nai akan berpikir kalau dia punya potensi dan passion yang sebetulnya disukai orang lain.
 
 

Dengarkan, Dipuji, dan Beri Saran

Dari 2 kejadian di atas, Chi suka gregetan pengen bawel. Suka pengen bilang, "Adek nih kenapa sih gak langsung terbuka. Harus nunggu sampai sakit-sakitan dulu. Coba nurut sama Bunda!"
 
Berusaha banget gak Chi lakukan kebawelan itu. Daripada Nai jadi kesel karena diomelin. Bisa-bisa dia semakin menutup diri.
 
Etapi, pas marah keluar juga kalimat, "Kenapa sih Adek tertutup banget! Kesel Bunda lihatnya!" Meskipun setelah Chi marah itu, Nai akhirnya mau cerita. Tapi, sebaiknya jangan dilakukan sering-sering, ya. Khawatirnya malah anak jadi semakin tertutup.
 
Setelah Nai mau terbuka, yang pertama kali Chi lakukan adalah mendengarkan. Biarin aja dia cerita dulu sepuasnya. Jangan disela omongannya. Berusaha jadi pendengar yang baik. Kalau udah selesai, Chi langsung kasih pujian. 

Kenapa harus dikasih pujian?

Karena yang dilakukan Nai bagus, kok. Dia berani mencalonkan diri sebagai Ketua OSIS dan Ketua Paskibra aja udah langkah bagus. Dia tekun belajar, tentu bukan hal jelek. Keinginan kerasnya untuk mencapai sesuatu memang bukan sesuatu yang jelek.
 
ambisi/am·bi·si/ n keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu: ia mempunyai -- untuk menjadi duta besar; pengabdiannya penuh dedikasi, tanpa -- pribadi;

berambisi/ber·am·bi·si/ v berkeinginan keras mencapai sesuatu (cita-cita dan sebagainya); mempunyai ambisi: regu bulu tangkis lawan merupakan tim yang sangat ~ dan perlu diperhitungkan
 
Merujuk dari defini ambisi di KBBI juga berarti gak masalah kalau anak punya ambisi tinggi. Jadi, harus dong tetap dikasih pujian. Supaya Nai tetap mau semangat bila ingin mencapai sesuatu.

Selama belajar di rumah pun dia disiplin dan tekun banget. Dia selalu bangun sendiri tepat waktu. Langsung mempersiapkan segala keperluan belajar, termasuk sarapan. Selama kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh berlangsung, dia tetap duduk menyimak dengan baik. Gak diselingin dengan main game, nonton drakor, dll. Bahagia banget 'kan Chi lihatnya.

Setelah dipuji, langkah selanjutnya memberi masukan. Gak selalu dilakukan dengan cara menggurui. Seringkali diawali dengan berbagai cerita pengalaman pribadi. Ya kayak waktu ceritain ke dia kalau nilai-nilai pelajaran bundanya juga pernah beberapa kali jeblok.

Sambil cerita diselipi dengan saran. Intinya gak apa-apa merasakan gagal. Boleh banget merasa kecewa bahkan marah. Asalkan jangan berlebihan aja.
 
Membolehkan anak merasa kecewa, marah, dan sedih saat merasa gagal bagi kami penting, lho. Memang iya sebagai manusia harus tegar. Tetapi, biarkan sejenak merasakan perasaan yang lain dulu. Itu manusiawi banget, kok.
 
 
"Dek, gak apa-apa kalau nanti akhirnya gagal masuk sekolah negeri. Ayah dan Bunda tetap bersyukur dan bangga sama Adek. Karena tau banget kok gimana usaha Adek supaya bisa keterima. Pokoknya usaha aja terus, tapi jangan sampai membebani diri sendiri. Insya Allah, sekolah di mana pun itu akan jadi rezeki terbaik untuk Adek."


Kritikan Sebagai Langkah Terakhir

Mendapatkan kritikan bisa menimbulkan rasa kurang nyaman. Meskipun beberapa kritik memang bersifat membangun. Tetapi, tetap aja harus disampaikan dengan cara dan waktu yang tepat.

Itulah kenapa Chi menempatkan kritik di langkah terakhir. Menunggu sampai Nai terlihat mulai pulih dulu badan dan perasaannya. Coba deh bayangin ke diri sendiri. Kalau lagi bad mood trus ada kritikan, biasanya rentan baper. Tapi, kalau perasaannya enak, bisa lebih menerima.
 
Begitu juga dengan Nai, kalau perasaannya sedang nyaman dia bisa menerima semua kritikan dengan santai. Pokoknya beda banget ekspresinya, deh.
 
 

Bersabar dengan Proses

Chi bukan ibu peri yang punya kesabaran super duper tinggi, kok. Kadang-kadang terpicu marah juga. Tetapi, menghadapi kejadian begini memang salah satu kuncinya bersabar. 
 
Ketika Nai sudah mau terbuka, bukan berarti semua akan langsung berjalan lancar. Tetap akan ada masa up and down. Jadi bersabar aja dengan semua proses.
 
Chi bilang ke Nai kalau segala ambisinya jangan sampai berhenti. Orang tua merasa bersyukur melihat anak yang tekun dan berkemauan tinggi. Tetapi, jangan sampai kebablasan. Harus belajar mengukur kemampuan. Jangan sampai terlalu keras sama diri sendiri yang akhirnya malah merugikan. KAlau bisa sih jangan terlalu tertutup, lah.
 
Kritikan sebagai langkah terakhir bukan berarti permasalahan selesai. Tetap secara berkala Chi ajak diskusi. Mulai lebih sering mengajak dia ngobrol, mengingat ini bukan kejadian pertama Nai 'tumbang' karena ambisinya.

Sempat ada rasa khawatir kalau Nai bisa depresi bila terlalu berambisi, sedangkan dirinya tertutup. Duh! Naudzubillah min dzalik.

Pikiran tentang depresi, Chi coba tepi jauh-jauh. Anggap aja itu hanya kekhawatiran sesaat. Insya Allah gak terjadi bila masih memiliki iman. Juga memiliki circle yang mendukung dan ada untuknya.
 
Chi tetap Nai anak yang tangguh. Hanya memang perlu belajar lagi dan menahan diri untuk tidak terlalu berambisi. Jangan sampai menekan dirinya terlalu keras hingga batas kemampuan. Karena yang terjadi malah berantakan. Semoga aja Nai bisa ambil pelajaran dari kejadian yang pernah dialaminya. Aamiin.

Alhamdulillah Nai udah kembali ceria. Semoga keinginan dia untuk masuk sekolah negeri, khusus SMAN yang sama dengan Keke, bisa dikabulkan oleh Allah SWT. Mohon do'anya untuk Nai ya, Teman-teman 😘

Bunda: "Dek! Masih betah gak PJJ?"

Nai: "Hehehe."

Bunda: "Ih! Adek mah ditanya malah ketawa. Mau balik belajar ke sekolah, gak?"

Nai: "Enggak!"

Nai menjawab sambil ketawa-tawa usil. Chi udah paham maksudnya. Alhamdulillah, Nai udah kembali ceria lagi.

Posting Komentar

89 Komentar

  1. Anak yang cenderung ambisius biasanya karakternya thingking introvert, karena karakter tujuannya ke Tahta. Anakku termasuk ambisius juga, harus ada pemahaman mengenai hal ini ketika apa yang dia mau gak terwujud.. dia punya Bagan belajar sendiri, punya harapan2 yg dia tulis di agenda. Panjaaang sekali. Selama hal impiannya positif saya dukung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya baru tau hubungan kecenderungan ambisius dengan thinking introvert. Berarti dugaan saya selama ini gak salah juga. Saya selalu menduga kalau Nai memang introvert. Makanya sempat cukup kaget ketika dia memiliki beberapa ambisi seperti menjadi ketua

      Nai juga suka menulis di agenda. Sayangnya saya belum bisa lihat isinya. Dia jaga banget agendanya :D

      Hapus
  2. Di satu sisi bagus juga anak berambisi. Di sisi lain, begitu mentok, mudah stres ya. Alhamdulillah Mbak Chi dan suami mengerti dan tidak pernah memaksa anak mencapai ambisinya ataupun ambisi orang tua. In syaa Allah ke depannya akan lebih mudah bagi Nai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya dia termasuk yang santai dan gak mudah stress juga, Mbak. Asalkan jangan sampai terllau berambisi. Kalau ambisinya lagi kuat banget, jadinya begitu deh

      Hapus
  3. saya baca postingan mbak malah terharu, semoga saya bisa seperti mbak ya nantinya, dekat dengan anak-anak, sehingga anak2 mau terbuka dengan ibunya. apalagi anak saya cuma satu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Rasanya senang kalau anak mau terbuka dengan orang tua

      Hapus
  4. Aku pernah tuh kaya Nai. Berusaha dapat nilai bagus, tapi akhirnya malah turun terus karena terlalu berambisi. Beruntung kalau ortunya kaya Mbak Myra. Jadi tetap ada dukungan, bukan malah diamuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau terlalu mem-push diri ternyata efeknya memang kurang bagus, ya

      Hapus
  5. Syukurlah Nai sudah kembali ceria. Memang agak susah kalau anak-anak tipenya introvert, dan ketiga anakku juga, kalau tidak 'dipancing-pancing', lebih memilih diam, gak cerita. Tapi sebagai ortu memang ada insting ya, kalau anak ada sesuatu 'masalah', kelihatan kok mereka gak seperti biasanya, baik dari raut muka maupun tingkah lakunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikatan batin ibu ke anak ya, Mbak. Jadi suka langsung merasa 'ngeh' kalau ada yang berubah

      Hapus
  6. sebagai ortu kita harus ngenali karakter anak ya mbak agar tahu cara menyikapi dengan tepat

    BalasHapus
  7. Keren bun. aku seneng baca sharingnya.
    aku pernah diposisi Nai, ambisius masuk kampus gajah di Bandung, belajar mati2an, justru aku malah masuk kampus yg tetangganya yang waktu itu belajarnya lebih santai. disaat udah ikhlas mau fokus di kuliah saat ini, iseng2 test masuk lagi tahun ke-2 justru lolos.

    semangat untuk naiiii :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak untuk ucapan semangatnya, ya.

      Sepertinya memang begitu. Kalau terlalu berambisi malah jadi beban banget. Akhirnya, berantakan dan semakin terpuruk

      Hapus
  8. Nai hebaaattt
    Emaknya juga hebaaattt!

    Salut sama kalian berdua, Mbaaa
    Daku masih pontang-panting nih memformulasikan gimana parenting style untuk anak ABG.
    Gak mudah sama sekali :D

    Semangaaatttt!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Parenting itu tentang pembelajaran seumur hidup kayaknya, Mbak. Saya pun masih terus mencari hehehe

      Hapus
  9. Alhamdulillah..Nai sudah ceria lagi ya.. Semoga Allah mengijabah keinginan Nai utk sekolah di SMAN yg sama dg kakaknya.. Aamiin.. Terus semangat ya, Nai cantik..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih banyak untuk do'a dan ucapan semangatnya :)

      Hapus
  10. Alhamdulillah Nai sudah ceria lagi ya, semoga selalu ceria ya dan semangat menjalankan PJJ ya Nai.

    BalasHapus
  11. Sisi baiknya kita orang tua gak perlu bersusah-susah menyuruh anak belajar ya, kasihan juga kalau dia gagal, saya takutnya terlalu berambisi bisa fatal jika gak sesuai yang diharapkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya gak apa-apa kok Mbak kalau dia mengalami kegagalan. Dari kegagalan 'kan juga bisa dapat banyak pelajaran berharga. Lagipula dalam hidup gak selalu berhasil.

      Justru kalau ambisi tingginya ini diketahui sejak awal, saya berharapnya bisa menasehati dan berdiskusi dengannya tentang cara mengelola ambisi. Juga bagaimana menyikapi kegagalan. Makanya, yang pertama kali saya lakukan justru memuji usahanya

      Hapus
  12. senangnya nai udah ceria lagi ya mbaak, semangat terus buat Nai, dan sukses selalu yaa buat kedepanya hihihi

    BalasHapus
  13. Saya contoh anak yang sering mencoba mengikuti ambisi orang tua dan sempat kesulitan berkomunikasi. Tapi saya sadar bahwa sebenarnya tujuan itu semua baik untuk saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua tujuan orangtua pada dasarnya baik, kok. Hanya penerapannya aja. Kalau terlalu berambisi, ada kemungkinan imbasnya juga gak bagus

      Hapus
  14. Wah jadi belajar banyak nih karakter anak-anak memang macam-macam sih ya... Aku anak lima semuanya beda-beda. Tapi tetap yang utama aku buat dia paham agama dalam tatanan aplikasi termasuk konsep hidup sementara, ada pertanggungan jawab di alam sana... ternyata itu bagus membuat anak2ku jadi dewasa, bertanggung jawab dan aku enggak terlalu capek membentuknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agama tentu jadi pondasi utama, Mbak. Alhamdulillah kalau gak terlalu capek membentuknya, ya

      Hapus
  15. anak memiliki ambisi pribadi memang bagus ya mbak, karena dengan demikian dia melakukan segala sesuatunya memang minat, tapi tetap harus didampingi yaa. Agar kalau tidka terwujud dia tidak menjadi kecewa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi di saat masa remaja begini. Di mana jiwanya dan moodnya juga masih turun naik

      Hapus
  16. Aamiin Nai semoga keinginannya dikabulkan oleh Allah yaa . Anak anak apapun ambisinya kita dukung jika itu baik untuknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iya, Mbak. Sebisa mungkin tetap didukung

      Hapus
  17. Alhamdulillah. Lega ya kak anak sudah mulai ceria lagi. Banyak pembelajaran nih buat aku yang calon ibu. Mudah mudaham aku bisa. Mengemban amanah dengan baik. Aamiin

    BalasHapus
  18. Kak Myr...
    Ku sungguh bersyukur ada tulisan ini...

    Anak pertamaku tuh...gini banget.
    Kalau di sekolah, ada nilainya yang ga sempurna, dia bisa nangis. Bahkan dia pernah tanya ustadzahnya...salah dimana?

    Iiih...aku mah gak pernah punya sifat gitu...kalo dibilang turunan maah..

    Jadi bener, kak Myr yaa..
    Harus introspeksi lagi sebagai orangtua.

    Barakallahu fiik, Nai...
    In syaa Allah kak Nai sukses dan sukses dan sukses selalu, cantik sholihaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Meskipun rasanya kita gak pernah memaksa. Rupanya anak juga tetap punya karakter sendiri

      Hapus
  19. Baca tentang anak berambisi gini, jadi ingat si sulung saya. Duh, anaknya ambisius banget pada suatu hal, tapi bisa jadi di sesuatu lain, dianya malah lempeng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Persis, Mbak. Naima juga seperti itu hehehe

      Hapus
    2. Huaaaa...sempat mikir ini apa cuma anak saya (Rani) doang yang gini.

      Ku harus banyak belajar sama Mbak Myra nih, hahaha...sebagai yang punya anak dengan tipikal yang sama.

      Hapus
    3. Sama-sama belajar kita ya, Mbak :)

      Hapus
  20. ambisi memang perlu yaaa mba tapi terukur dan didampingi dengan proses yang mendidik, bukan hanya mengejar hasil akhir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Harus belajar merasakan dan menghargai kegagalan juga

      Hapus
  21. Wuuah memang harus pinter-pinter untuk mengerti karakter anak nih, biar gak salah untuk mendidik, membimbing dan mengarahkan kepada tujuan yang pingin mereka capai dalam hidupnya.

    BalasHapus
  22. Anak yg berambisi berarti anak yg selalu mencapai target. Kekurangannya kalau gagal cepat patah semangat. Bersyukur anak sudah mengerti dan kembali ceria ya mbak. Kehadiran kita sangat berarti mbak buat anak2 hebat kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu kalau terlalu berambisi dan akhirnya menjadi keras terhadap dirinya sendiri. Jadi harus diajarkan untuk seimbang

      Hapus
  23. maasyaallah kalo anaknya yang punya keinginan dan ambisi yang kuat terhadap hal yang positif apalagi bisa berprestasi, sebagai orangtua kita hanya bisa mendukungnya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Tetapi, juga harus terus diingatkan supaya jangan terlalu ambisius

      Hapus
  24. Nai kayak anak bujangku, si sulung yang susah mengoreknya. Beda sama adiknya yang cewek, lebih terbuka.
    ALhamdulillah Mbak Chi paham dengan karakternya dan memperlakukannya sesuai karakter jadi anaknya bisa lebih nyaman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di saya kebalikannya. Malah yang cowok yang lebih terbuka hehehe

      Hapus
  25. Salut dengan Nai, mengingatkan aku dulu yang pernah ber-ambisi meraih sesuatu, malah akhirnya semua seolah jadi lepas kendali.

    Ambisi is good, Nai, dan semoga tercapai yang dicita citakan, terutama masuk sekolah negeri yaaa...

    jadi ingat kutipan dari buku Laura Ingalls Wilder about ambition;

    Ambition is necessary to accomplishment. Without an ambition to gain an end, nothing would be done. Without an ambition to excel others and to surpass one's self there would be no superior merit. To win anything, we must have the ambition to do so.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Mbak. Sebetulnya jangan sampai anak gak punya ambisi. Tetapi, diingatkan aja jangan sampai berlebihan

      Hapus
  26. Aku pun termasuk anak yang hidup karena ambisi mamahku dulu, tapi kadang ambisi itu bisa sirnah karena sesuatu hal. Dulu kuliah dan jurusan yang aku ambil adalah maunya mamahku, sampai aku harus ikutan les apapun itu mamahku semuanya. Sampai akhirnya ambisa dia berubah jadi ambisi lain karena nonton drama Korea jaman dulu itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari tontonan juga bis aberubah, ya. Dulu ninton drakor apa? :)

      Hapus
  27. Nai kalo diliat2 hampir sama sifatnya kayak wkt aku dulu sekolah, terlalu ambisius thp sesuatu. Sekali punya kemauan hrs dikejar. Jika gak tercapai, langsung kecewa.
    Dan kalau sudah seperti ini memang hrs ada pendekatan dr orgtua ya.
    Bedanya dulu aku gak ada pendekatan orgtua, jadi ya aku punya ambisius sendiri, aku sendiri yg bisa menenangkan. Untungnya gak salah arah aja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ya, Lin. Tetapi, kalau zaman sekarang kayaknya saya ngeri juga bila anak dibiarkan sendiri

      Hapus
  28. Mengenali karakter anak jadi lebih memahami bagaimana caranya untuk menghadapinya dan dukungan apa yang bisa diberikan kepada anak ya mba

    BalasHapus
  29. Senangnya mba, anak masih punya ambisi. Jadi dia semakin semangat menjalani kehidupannya. Sehat sehat ya Kak Nai dan smoga terkabul ya :)

    BalasHapus
  30. Hahhaa, Nai..Nai..keren ini ambisius. TApi tetep ya ortu mah cuma mendukung dan memberi semangat dengan tujuannya meski kadang khawatir ya Chi, Olive kebalikan dari Nai loh.
    Anak2 tuh lucu2 karakternyaaa,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuma harus sedikit diredam aja, Teh hehehe

      Hapus
  31. Bunda, kayaknya saya juga mirip Nai deh. Ada ambisiusnya, kadang suka drop kalau udah terlalu rajin, tertutup hehe. Saya jadi belajar cara bunda Chi ngetreat Nai yang tangguh dan ambisius ini. Kuncinya di santai. Semoga saya ikutan santai juga ya bun :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, boleh banget kok punya ambisi. Malahan bagus juga. Tetapi, jangan sampai terlalu keras sama diri sendiri

      Hapus
  32. Keren Kak Nai, sudah punya target dan tujuan yang ingin dicapai, berani menjalani prosesnya juga..salut...

    BalasHapus
  33. Bersyukur Nai punya amnbisi yang baik seperti itu Mbak jadi semangat untuk menggapainya dan orang tua tinggal mengarahkan tidak harus menyemangatinya lagi karena api ambisinya sudah berkobar dengan sendirinya. Semoga kelak kalau kuliah Nai bisa jadi ketua BEM.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin allohumma aamiin. Alhamdulillah kami bersyukur punya anak yang tekun dan berambisi. Tetapi, memang tetap harus diingatkan juga dengan ambisinya kalau udah ketinggian

      Hapus
  34. Anak yang selow bikin gemes, yang berambisi juga bikin gemes ya. Tp setidaknya ankanya jd paham soal prioritas dan bisa berusaha fokus meraihnya.
    Cuma memang perlu jg diingatkan supaya gak terlalu ambisius yang berdampak pd kesehatan fisik maupun menatl ya mbak, noted TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ambisinya lagi terlalu tinggi memang harus diingatkan :)

      Hapus
  35. Sulung saya juga tipe ambisius, Mbak. Dia selalu ingin mendapatkan nilai baik dan bersekolah di sekolah favorit. Padahal saya tidak pernah menuntut nilai bagus tetapi lebih mementingkan EQ-nya. Dia anaknya gak introvet malah cenderung terbuka, semua diceritain. Alhamdulillah sekarang bisa kuliah di jurusan yang dicita-citakan.
    Semoga nanti Nai juga bisa tercapai semua yang dicita-citakan ya ....

    BalasHapus
  36. Salut banget sama Nai yang sudah punya target pencapaian tertentu di usia semuda ini. Di sini emang peran ortu ya, Mbak Chi supaya anak bisa menyalurkan ambisinya dengan sehat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Berusaha mengontrol. Biar Nai juga belajar dari semua kejadian

      Hapus
  37. Ah inspiratif tulisannya mbak.
    Sbg ortu aq jadi instropeksi diri, kadang suka g sabar lihat anak berproses...
    Makasih sharingny y mbak

    BalasHapus
  38. I personally have ambition through children, but still with understanding and through discussions and even direct surveys to the location, so that we both support each other and believe in what they want.

    keep fighting Nai

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya harus ada diskusi dan saling support

      Hapus
  39. Makasih sharingnya mbak, memang bercerita pengalaman kita dengan anak itu penting ya...
    Semangat nai, semoga usahanya ingin masuk sma negeri memberikan hasil terbaik...

    BalasHapus
  40. Wahhh aku ngalami drama dengan anak sulung juga dua tahun lalu. KArena si sulung yang juga ambisius ini dari kecil terbuka sama aku, apa-apa selalu curhat. Terutama tiap pulang sekolah, lha kok mendadak begitu mau lulus kuliah dan kerja anaknya berubah jadi pendiam. Ngajakin bertengkar terus, ternyata sedang ada masalah. Alhamdulillah sekarang udah baikan sih, kembali bercanda lagi seperti dulu

    Wajah Nai kecil kelihatan ya jahilnya, ikutan foto dengan wajah nyengir gitu, bikin gemes emang ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nai memang aslinya jail. Makanya saya suka kangen kalau dia lagi mendadak pendiam :D

      Hapus
  41. Memang strateginya beda-beda ya ngadepin anak dengan karakter yang berbeda. Agar anak mau terbuka dan menjadikan orang tua tempat diskusi aneka masalah. Bagus banget tipsnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! Tiap anak punya karakter masing-masing

      Hapus
  42. Perjalanan menjadi orang tua anak remaja sebuah fase yang semakin menantang ya Mba... mereka tumbuh dan semakin memiliki sikap sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semakin gede, semakin bikin jungkir balik hahaha

      Hapus
  43. Selalu belajar banyak dari pengalaman pengasuhan Mbak Myra. Sebenarnya saya termasuk yang gak sabaran sebagai orangtua, tapi karena Najwa juga saya jadi berusaha menahan diri. Termasuk ttg target dan capaian diri, saya membebaskan Najwa untuk menentukannya.Paling cuma mengingatkan kalau dia mulai lupa sama komitmennya.

    BalasHapus
  44. Nai hebat ya. Di usianya yg masih belia, dia bs memutuskan ingin melakukan apa dan menyusun program2. Kalo saya dulu kok gak pengen apa2 ya. Apa anak sekarang begitu? Anak saya esok gimana ya...kudu belajar dari chi, nih

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^