“Udah pada sarapan? Makan apa?”

Setiap pagi, Chi selalu bertanya ke Keke dan Nai apakah mereka sudah sarapan atau belum. Sejak dulu, mereka sudah terbiasa menyiapkan sarapan sendiri. Chi hanya menyediakan bahan dan memastikan mereka sudah sarapan.


makna logo pilihan lebih sehat ketika membeli produk pangan

Bebas aja mereka mau sarapan dengan roti, buah, nasi goreng, atau lainnya. Untuk minumnya, kami selalu sediakan susu. Biasanya sih kalau sarapan, menunya lebih praktis.

Di saat pandemi pun, pola makan kami tetap aja sama. Chi lumayan bawel dengan hal ini. Gak boleh berlebihan. Dalam sehari, biasanya kami sekeluarga 5x makan. 3x makan utama yaitu pagi, siang, dan sore/malam. Serta 2x makan camilan yaitu menjelang makan siang dan sore hari.

Begitupun dalam pemilihan bahan makanan. Tentu berusaha memilih bahan pangan yang sehat. Asupan gizinya juga tepat. Apalagi hari gini. Sebisa mungkin jangan sakit deh, ya. Jadi pola dan gizi makanan harus semakin diperhatikan.

Kriteria apa aja yang dipertimbangkan saat memilih produk pangan siap konsumsi? Yakin kita sudah memilih produk pangan yang lebih sehat?


Waspada Penyakit Tidak Menular (PTM)


Sebelum membahas tentang pertimbangan ketika memilih produk, bahas dulu tentang Penyakit Tidak Menular. Saat ini, fenomenanya menunjukkan tanda-tanda peningkatan jumlahnya, lho. Bahkan sudah masuk ke usia produktif.

Menurut Dra. Sutanti Siti Namtini, Apt., Ph D, Direktur Standardisasi Pangan Olahan BPOM, peningkatan kesejahteraan masyarakat telah mendorong terjadinya perubahan pola makan. Perubahan ini menjadi salah satu kontributor terus meningkatnya PTM seperti diabetes, hipertensi, stroke, dan penyakit sendi/encok.

Penyebab kematian terbesar di dunia saat ini adalah karena penyakit tidak menular. Berdasarkan data WHO pada tahun 2016, sekitar 71% penyebab kematian karena PTM.

Lebih dari ¾ kematian karena PTM ada di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Dengan rata-rata usia di bawah 70 tahun. Menurut WHO ada 5 faktor risiko utama penyakit tidak menular yaitu


  1. Tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi dalam darah
  2. Kurangnya asupan buah dan sayur
  3. Obesitas
  4. Kurang beraktivitas
  5. Penggunaan tembakau

prevalensi konsumsi ggl di indonesia

Konsumsi garam, gula, dan lemak (GGL) per hari juga harus diperhatikan. Asupan gula > 50 gram, garam > 2000 mg, serta lemak total > 67 gr per orang per hari berisiko tinggi terhadap hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung.

Pada tahun 2030 s/d 2040, Indonesia akan memasuki masa bonus demografi. Di mana jumlah penduduk usia produktif (15 s/d 64 tahun) jumlahnya lebih besar. Diperkirakan ada sekitar 64% dari jumlah total penduduk Indonesia.

Masa bonus demografi ini seharusnya bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Indonesia. Tetapi, mengingat kecenderungan jumlah penderita PTM semakin meningkat, dikhawatirkan justru akan berdampak negatif. Oleh karenanya perlu kerjasama berbagai pihak, untuk mulai peduli dengan pemilihan produk pangan yang lebih sehat.


Logo “Pilihan Lebih Sehat” Sebagai Cara Cerdas Memilih Produk Pangan


Di saat pandemi ini, kesehatan semakin dirasa sangat penting. Kalau bisa sehat terus, deh. Sekarang gak enak badan sedikit aja bisa bikin parno.

Tetapi, untuk menjaga kesehatan juga harus diupayakan. Mulai bergaya hidup sehat. Salah satunya dengan memperhatikan pola makan dan asupan gizi.

Ketika memilih produk pangan, biasanya yang Chi lihat pertama kali kemasan. Chi gampang tergoda bila kemasannya menarik. Setelah itu baru lihat apakah ada logo halal atau tidak. Kemudian lanjut ke tanggal kedaluwarsa. Label gizi pada kemasan, biasanya dilihat sepintas aja.

Seringkali alasannya karena udah percaya. Apalagi kalau Chi udah loyal dengan produk pangan dari brand tersebut, misalnya NestleNestlé. Ya udah, langsung percaya aja sama kualitasnya. Paling pastikan aja jangan sampai udah lewat tanggal kedaluwarsa.


cara membaca informasi nilai gizi pada produk pangan
informasi nilai gizi pada kemasan

Label gizi pada kemasan juga seringkali hurufnya kecil-kecil. Mana tulisannya banyak pula. Jadi pusing mau dibaca. Akhirnya balik lagi aja pilih brand yang udah dipercaya.

Padahal penting banget lho baca label gizi. Sayangnya konsumen kita masih banyak yang belum terbiasa dengan hal ini. Tingkat literasi yang rendah juga penyumbang faktor kenapa masyarakat masih enggan membaca label gizi. Ada juga yang sudah tau tentang pentingnya membaca label gizi, tetapi memang memilih tidak mau tau.

“Membaca label gizi pada kemasan merupakan salah satu solusi dalam membantu konsumen untuk lebih cerdas dalam memilih produk pangan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh dan mengetahui seberapa besar sumbangan zat gizi tertentu yang berasal dari produk pangan yang kita konsumsi. Dalam keseharian, pemenuhan asupan gizi seimbang secara teratur akan memberi manfaat bagi kesehatan tubuh kita secara umum, dan selanjutnya dapat mendukung produktivitas kita,” jelas Dr. Rimbawan dari Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor, dalam webinar (30/9) bersama Nestlé Indonesia yang bertajuk Cara Cerdas Memilih Produk Pangan dengan Logo “Pilihan Lebih Sehat”


pelabelan gizi pada label
logo pilihan lebih sehat

Untuk memudahkan konsumen lebih cerdas memilih produk pangan yang sehat, BPOM mengeluarkan peraturan nomor 22 tahun 2019. Dalam peraturan ini salah satunya mencantum logo “Pilihan Lebih Sehat”.

Pencantuman logo ini terlihat jelas pada kemasan. Sehingga konsumen bisa langsung mengetahui produk apa saja yang baik untuk dikonsumsi membandingkan dengan produk sejenis dan dikonsumsi dalam jumlah wajar.

Membandingkannya memang harus apple to apple. Misalnya, ketika kita membeli minuman siap konsumsi harus dibandingkan dengan yang sejenis. Jangan dibandingkan dengan produk lain, misalnya makanan.

Mengkonsumsinya pun tetap harus dalam jumlah wajar. Jangan mentang-mentang ada logo “Pilihan Lebih Sehat” kemudian bisa bebas dikonsumsi sebanyak apapun kita mau.

Tujuan pencantuman logo ‘kan untuk memudahkan konsumen memilih produk yang lebih sehat. Karena suka ribet kalau baca info label gizi di kemasan. Bukan supaya bisa dikonsumsi sebanyak-banyaknya, semau kita.

Menurut Yusra Egayanti, S. Si, Apt, Mp, Kepala Subdit Standardisasi Pangan Olahan Tertentu BPOM, saat ini pencantuman logo “Pilihan Lebih Sehat” baru terbatas pada jenis kelompok pangan yaitu minuman siap konsumsi serta mie dan pasta. Sifatnya pun masih bersifat sukarela untuk para produsen. Tetapi, tetap harus ada persetujuan BPOM

Ke depannya akan lebih banyak kelompok pangan yang bisa mendapatkan logo “Pilihan Lebih Sehat”. Saat ini, sedang disusun kriteria pangan yang sehat untuk setiap kategori.


Tips Donna Agnesia Tetap Menjaga Kesehatan Keluarga Selama Pandemi


susu milo uht pilihan lebih sehat

Narasumber lain yang hadir di webinar ini adalah Donna Agnesia, sosok ibu inspiratif. Sebagai keluarga yang selalu terlihat aktif, perubahan yang paling terasa adalah semua aktivitas jadi lebih banyak berada di rumah.

Meskipun demikian, berbagai aktivitas tetap dilakukan. Sejak dulu, keluarga Donna Agnesia memang selalu menerapkan pola hidup sehat.

Ketika, memilih produk saat belanja, Donna mengaku banyak belajar dari Darius, suaminya, yang memang lebih detil. Langkah BPOM mempermudah masyarakat untuk memilih produk pangan dengan logo “Pilihan Lebih Sehat” tentu saja disambut baik oleh Donna.

Tips menjalani healthy lifestyle ala keluarga Donna Agnesia adalah menjaga asupan dan pola makan, rutin beraktivitas, istirahat yang cukup, serta menjaga pikiran tetap positif. Semuanya harus serba seimbang. Orang tua harus mengajarkan kebiasaan ini sejak dini meskipun mungkin saja tidak mudah menjalankannya.


Komitmen Nestlé Indonesia dalam Menjaga Kualitas Gizi Masyarakat Indonesia


nestle indonesia logo pilihan lebih sehat

“Sejalan dengan tujuan untuk terus meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi ke masa depan yang lebih sehat, Nestlé Indonesia berharap dapat berperan aktif mendukung masyarakat untuk lebih bijak dalam membaca label produk dan bisa memperhatikan asupan gizi yang dibutuhkan, ujar Ganesan Ampalavanar, Presiden Direktur Nestlé Indonesia.

Lebih lanjut dikatakan bahwa pengetahuan tentang asupan gizi seimbang serta pembatasan asupan gula, garam, dan lemak di Indonesia merupakan masalah yang membutuhkan perhatian semua pihak. Oleh karenanya Nestlé Indonesia mendukung pemerintah untuk mendorong masyarakat dalam memilih pangan yang baik melalui logo “Pilihan Lebih Sehat.”

Konsumsi GGL di masyarakat saat ini masih sangat tinggi. Sebagai produsen, Nestlé Indonesia mengurangi kadar gula pada MILO Activ-Go sebanyak 25%. Serta 0% sukrosa pada Dancow Nutritods. Untuk membantu memenuhi kekurangan micronutrient, dilakukan berbagai fortikasi produk.

Menurut Debora Tjandrakusuma, Direktur Corporate Affairs, Nestlé Indonesia, untuk membantu konsumen membaca label, Nestlé Indonesia sudah melakukan kemudahan dengan mencantumkan informasi nilai gizi pada bagian utama label. Milo UHT sudah diluncurkan ke pasaran dengan mencantumkan logo “Pilihan Lebih Sehat”. Sedangkan Dancow UHT dan Bear Brand akan hadir dengan kemasan baru pada quartal keempat 2020.

Berbagai produk lainnya sedang diusahakan untuk mendapatkan logo “Pilihan Lebih Sehat.” Dengan cara membuat formula baru agar dapat memenuhi persyaratan BPOM. Dan, tentu saja rasanya juga harus bisa diterima oleh masyarakat.

Di saat pandemi ini, harusnya juga jadi momentum bagi kita semua untuk mulai lebih memperhatikan asupan gizi. Mulai mau menjalankan gaya hidup. Supaya tuh tetap fit, imunitas tetap terjaga.

Dengan adanya logo “Pilihan Lebih Sehat” juga membantu menghemat waktu saat belanja, lho. Apalagi saat pandemi begini ‘kan rasanya gak ingin berlama-lama di luar rumah. Jadi pilih aja produk yang sudah ada logo ini, ya