Strategi Mengikuti PPDB Online DKI untuk SMP dan SMA - Beberapa hari yang lalu di WAG angkatan Nai ramai membicarakan UNBK dan SMAN pilihan para orang tua. Padahal Nai baru aja naik ke kelas 8. Tetapi, waktu memang gak berasa. Insya Allah 1 semester lagi, dia naik ke kelas 9 dna mulai fokus ke UNBK kemudian lanjut PPDB.

strategi mengikuti ppdb online dki untuk smp dan sma

Memilih sekolah bukanlah hal main-main. Makanya perlu banget direncanakan dan bikin strategi.

Biar gimana yang daftar ke sana 'kan gak hanya anak sendiri. Semakin favorit sekolah tersebut, maka semakin banyak yang daftar. Tentu harus pasang strategi. Harapannya supaya bisa diterima di sekolah yang diinginkan.


Pilih Sekolah Swasta atau Negeri


Keduanya sama-sama baik. Setiap orang tua pasti punya alasan kenapa memilih sekolah swasta atau negeri.

Kalau kami, sepertinya akan tetap memilih negeri untuk SMP dan SMA. Tetapi, sebelum mencapai keputusan itu, kami sempat berpikir cukup lama. Apalagi sempat terjadi perbedaan pendapat. Chi bersikeras menginginkan swasta. Sedangkan K'Aie memilih sekolah negeri.


Pertimbangkan baik-baik sebelum memutuskan karena akan menyangkut ke banyak hal

Mengenai waktu pendaftaran, sekolah swasta dan negeri berbeda. Kalau di sini, sekolah swasta lebih dulu buka pendaftaran. Biasanya di akhir semester ganjil (sekitar bulan Oktober atau November) sudah ada yang buka. Sedangkan sekolah negeri menunggu hasil UN dulu.

Kabarnya di beberapa daerah, ada sekolah swasta yang baru buka setelah negeri. Jadi memang sebaiknya cari info pendaftaran di daerah masing-masing atau langsung ke sekolah yang akan dituju, ya.

Selain waktu, sekolah swasta biasanya punya aturan masing-masing. Jadi memang sebaiknya cari info langsung ke sekolah yang akan dipilih. Berbeda dengan sekolah negeri. Diknas setempat yang memiliki aturan.

[Silakan baca: Pilih Sekolah Swasta atau Negeri?]

Yup! Peraturan PPDB memang bisa berbeda-beda bagi tiap daerah. Ada yang sepropinsi sama, ada juga yang tidak. Jangan sekadar kemakan headline berita.

Karena kami memilih sekolah di Jakarta, tentu yang akan dibahas di sini tentang PPDB DKI. Khususnya untuk SMPN dan SMAN.


Daya Tampung Sekolah Negeri di DKI Jakarta


daya tamoung sekolah negeri di dki, ppdb dki

Berdasarkan data dari web ppdb.jakarta.go.id, jumlah sekolah negeri di DKI dan daya tampungnya untuk tahun ajaran 2019/2020 adalah sebagai berikut

  1. SDN (1449 sekolah, 129.275 siswa)
  2. SMPN (285 sekolah, 76.699 siswa)
  3. SMAN (115 sekolah, 31.956 siswa)
  4. SMK (73 sekolah, 20.870 siswa)

Dari data tersebut, semakin tinggi tingkatan sekolah ternyata jumlahnya semakin sedikit. Idealnya kalau jumlahnya sama, maka lulusan sekolah negeri kemungkinan besar bisa lanjut ke sekolah negeri lagi. Tetapi, coba aja lihat jumlah daya tampung SDN ke SMPN, ada selisih 50 ribuan. Dan, sebesar itu pula, anak yang gak keterima di SMPN kemungkinan akan melanjutkan ke sekolah swasta.

Ini belum bicara data jumlah anak dari lulusan sekolah swasta, ya. Seperti Keke dan Nai 'kan lulusan SD swasta. Itu artinya menambah persaingan bagi yang ingin masuk sekolah negeri.


Persiapan Pra-PPDB


Ada beberapa hal yang kami lakukan sebelum mengikuti proses seleksi PPDB DKI. Ini Chi kasih gambaran yang kami lakukan tahun ini. Tetapi, sebetulnya setiap kali kami ikut PPDB kurang lebih sama.


Cari Tau tentang Proses Seleksi PPDB di Daerah Masing-Masing

ppdb online

Sudah cukup sering Chi menulis di blog maupun di media sosial kalau proses seleksi PPDB tiap daerah berbeda. Bahkan yang satu propinsi pun bisa berbeda. Misalnya di Jawa Barat, proses PPDB Bandung bisa jadi berbeda dengan wilayah lain di Jabar. Ada juga yang satu propinsi sama. Salah satunya di DKI.

Jadi, kalau ada yang bilang proses PPDB itu begini-begitu, termasuk dari media nasional sekalipun, sebaiknya baca atau dengarkan dengan teliti. PPDB daerah mana yang sedang dibahas?

Mulailah mencari tau seperti apa sistem PPDB yang akan diikuti minimal setahun sebelumnya. Ya memang belum tentu masih akan seperti itu, tetapi setidaknya ada gambaran.

Waktu pertama kali ikut PPDB, persiapan kami agak kurang. Kami pikir, namanya pendaftaran di mana-mana sama aja. Makanya, Chi sempat ketika tau prosesnya begitu. Sempat mengalami drama juga. Begitu ikut PPDB yang ke-2 dan ke-3, Chi udah jauh lebih santai karena sistem seleksinya masih sama.


Proses PPDB DKI Jakarta sebetulnya mudah, cepat, dan transparan. Gak seribet yang dibayangkan.
 
[Silakan baca: Beginilah Cara dan Rasanya Ikut PPDB Online SMPN DKI]


Pilih Jalur yang PPDB

jalur zonasi ppdb dki

Kuota terbesar ada di jalur zonasi, kemudian non-zonasi. Tetapi, di DKI masih ada beberapa jalur lain. Waktu pelaksanaannya juga berbeda-beda. Yang perlu diperhatikan, jalur prestasi di sini bukan NEM, ya. Tetapi, buat calon siswa yang pernah juara lomba. Tentu ada kriterianya. Silakan cek di website PPDB DKI


Semakin Giat Belajar

Di hari pertama Keke masuk SMA, kepala sekolah di upacara penyambutan bercerita kalau banyak orang tua calon siswa yang protes karena merasa rumahnya udah deket banget ma sekolah, tapi gak diterima. Inilah salah satu ketidaktahuan orang tua. PPDB DKI hingga tahun lalu masih mengutamakan seleksi NEM.

Hingga tahun ajaran 2019/2020, proses seleksi PPDB DKI masih mengutamakan seleksi NEM. Mau rumahnya di samping sekolah sekalipun, kalau kalah bersaing di NEM ya gak akan diterima. Tidak ada ketentuan ukur jarak rumah ke sekolah di mana semakin dekat jaraknya, maka poin semakin besar.

Ya, karena seleksi utamanya masih berdasarkan NUN (Nilai Ujian Nasional) atau yang lebih dikenal dengan NEM, makanya strategi utamanya adalah belajar. Bukan kerja keras cari uang, supaya bisa beli rumah di sebelah sekolah 😁.

Chi tidak tau apakah tahun depan masih akan sama atau tidak sistemnya. Kalau Chi pribadi, berharap masih sama. Selama jumlah sekolah negeri belum merata, baik dari segi jumlah maupun kualitas. Chi masih berharap sistem seperti ini yang dipertahankan. Buktinya proses PPDB DKI termasuk yang adem ayem.

Meskipun belum tau sistem tahun depan seperti apa, tetapi bagi teman-teman yang putra/i-nya akan ikut seleksi PPDB DKI sebaiknya tetap saja belajar supaya dapat NEM yang bagus. Daripada nantinya malah menyesal karena meremehkan UN.

Saat SD, Chi masih sanggup membantu mereka belajar di luar jam sekolah. Kali ini, Chi memilih bantuan bimbingan belajar. Pelajaran SMP semakin sulit. Kalau untuk tugas harian, Chi masih bisa bantu. Tetapi, kalau untuk menghadapi UN mending ikut bimbel aja. Apalagi kabarnya soal UN 'kan kebanyakan soal HOTS (Higher Order Thinking Skill).

[Silakan baca: Tanpa Ikut Bimbel, Nilai UN Tetap Bagus? Bisa!]

Keke mulai bimbel saat kelas 9 di semester genap. Jadi gak sampai 6 bulan juga Keke ikut bimbel. Kami pikir kalau kelas 7 dan 8 belum perlu bimbel selama anaknya masih bisa mengikuti pelajaran meskipun nilainya termasuk yang rata-rata.

Selain ikut bimbel, kami juga beli banyak buku kumpulan soal UNBK SMP. Keke belajar lagi di rumah dengan melahap banyak soal dari buku-buku tersebut.


Tentukan Target NEM

Giat belajar aja gak cukup. Begitu Keke naik ke kelas 9, Chi mulai menentukan target. Chi bikin data sederhana beberapa sekolah favorit di DKI. Chi buat susunan NEM tertinggi dan terendah yang diterima di sekolah-sekolah tersebut dalam rentang waktu 1-3 tahun terakhir.

Gak semua sekolah favorit yang ada di-list bakal jadi pilihan. Contohnya SMAN 8 dan SMAN 81 yang selalu jadi peringkat ke-1 dan 2 untuk sekolah favorit di DKI berdasarkan passing grade. Tetapi, kedua sekolah ini gak akan kami pilih karena lokasinya lumayan jauh dari rumah. Kami tetap masukkan ke daftar sekadar menentukan target.


Dari data sederhana yang Chi buat, minimal NEM yang ditargetkan adalah rata-rata 9. Data 1-3 tahun terakhir menunjukkan NEM terendah untuk SMAN 8 adakah 89-90. Makanya, Chi pikir kalau Keke bisa dapat rata-rata 9 aja, cukup lah modalnya buat dia memilih sekolah yang diinginkan.
 
Tentu aja dari 4 mata pelajaran yang diujikan punya kelebihan dan kekurangan untuk Keke. Kelebihan Keke ada di pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Makanya, di kelas 9 semester ganjil, Chi minta dia memaksimalkan nilai kedua mata pelajaran tersebut dengan cara terus mengisi kumpulan soal UN. Begitu masuk semester genap, baru deh fokus sama 2 matpel lainnya (IPA dan Matematika).

Prinsip Chi sama kayak kalau ngerjain soal ujian. Kerjain yang mudah dulu, baru yang susah. Ya, karena Keke kelebihannya di pelajaran bahasa, jadi Chi minta dia fokus sama 2 itu dulu. Kalau nilainya bagus 'kan bisa ngangkat 2 matpel lainnya.


Cek Pilihan Sekolah


Di Jakarta ada beberapa jalur penerimaan. Kalau Chi biasanya memperhatikan 2 jalur aja yaitu Zonasi dan Non Zonasi (dulu namanya Lokal dan Umum).

Tahun ini, Chi agak santai karena sekolah yang dipilih masih satu zonasi dengan Kartu Keluarga. Jadi kuotanya lebih banyak. Kalau waktu Keke ke SMP, kami hanya bisa memilih jalur Non Zonasi karena sekolah yang dipilih gak satu kecamatan dengan KK.

Zonasi di DKI ditentukan oleh kecamatan bukan jarak ke sekolah. Misalnya kecamatan Tebet berarti hanya bisa memilih sekolah di kecamatan yang sama. Tetapi, 2 tahun ini ada irisan kelurahan juga. Jadi lumayan ada penambahan pilihan sekolah.


Maksimal Usia


"Anak saya gak bisa pilih sekolah negeri. Abisnya usianya saat lulus SD belum sampai 12 tahun. Jadi gak bisa."

Ada beberapa yang berpikir seperti ini. Padahal di PPDB sekolah negeri untuk tingkat SMP dan SMA di DKI gak ada persyaratan usia minimal. Adanya usia maksimal. Kalau untuk SMP 15 tahun, SMA 21 tahun.

Jadi, kalau anak lulus SD di usia 10 tahun pun tetap bisa kok ikut PPDB SMPN DKI. Yang penting jangan melebihi usia 15 tahun per tanggal 1 Juli. Begitu pun dengan SMA, jangan lebih dari 21 tahun.


Domisili

Misalnya kita baru pindah ke Jakarta, kebetulan di dekat rumah ada sekolah negeri. Bisa gak ikut PPDB DKI.

Tetapi, jalurnya tergantung dari KK yang dimiliki. Kalau belum satu kecamatan dengan sekolah yang dipilih, hanya bisa ikut jalur non zonasi. Setahu Chi juga ada jangka waktu minimal berubah KK, deh. Kalau gak salah, minimal 6 bulan. Maksudnya, kalau Kartu Keluarga baru diubah kurang dari 6 bulan, tetap gak bisa ikut zonasi.


Bersikap Tenang Saat UNBK


Seperti biasa, seminggu menjelang UNBK, Chi biarkan Keke lebih santai. Gak ada lagi tuntutan belajar. Kami memilih main ke Funworld seharian. Pengennya sih naik gunung lagi kayak sebelumnya. Tapi, situasi dan kondisi saat itu sedang tidak memungkinkan. Jadi ngemall aja lah. Yang penting pikiran kembali relax.

Belajar dari pengalaman sebelumnya saat ikut UN, Keke sedikit terpancing emosinya ketika pelajaran matematika. Menurutnya guru pengawasnya jutek. Bikin dia jadi gak fokus ngerjain soal dan agak asal-asalan. Huuuft! Untung aja nilainya masih lumayan.

Chi pun mengingatkan Keke untuk bersikap lebih tenang. Abaikan aja pengawas yang jutek selama kita gak salah. Tetap bersikap tenang juga kalau sampai ada kendala saat ujian. Misalnya tiba-tiba mati listrik, jaringan ngadat, tiba-tiba log out gak jelas, dan lain sebagainya.


Ketika PPDB Dibuka


Kembali Membaca Peraturan

List yang diunduh lebih banyak dari ini


Beberapa minggu sebelum PPDB SMAN dibuka Chi kembali melihat situs PPDB DKI. Baca lagi semua peraturan. Siapa tau ada yang berubah.

Tahun ini, ada sedikit perubahan di aturan dasar dan cara seleksi. Kalau tahun sebelumnya bila NEM anak sama, maka akan dilihat urutan mapelnya. Misalnya si A dan si B NEMnya sama-sama 93, maka akan dilihat mapelnya. Tertinggi adalah Bahasa Indonesia. Kalau si A nilainya lebih tinggi, maka dia berada di atas B untuk urutan seleksi. Kalau masih sama juga, maka lihat mapel yang kedua.


Siapkan Berkas yang Dibutuhkan


Mulai siapkan berkas yang dibutuhkan. Bawa yang asli untuk ditunjukkan, bukan diserahan. Hanya berkas foto copy yang diserahkan.

Sebaiknya sudah cetak dan isi form pendaftaran dari rumah. Memang bisa aja di lokasi. Tetapi, yang daftar 'kan gak hanya kita. Dengan berkas sudah disiapkan dari rumah, bisa menghemat waktu antrean. Hati-hati jangan sampai salah print formulir, ya.


Daftar di Sekolah Negeri Manapun

Sebelum mendaftar, siapkan semua berkas yang diperlukan termasuk form pendaftaran. Form ini ada beberapa kelompok. Jangan sampai salah print.

Semua berkas, termasuk formulir, dibawa ke sekolah negeri untuk mendapatkan token. Nanti token ini dipakai untuk login daftar online. Saran Chi, cari sekolah negeri yang sepi biar daftar ulangnya gak pakai antre lama.

Kalau sekolah favorit yang daftar pasti ribuan. Antreannya bisa sampai sore. Padahal kita bisa daftar di sekolah manapun. Meskipun anak kita gak akan mendaftar di sekolah tersebut, gak masalah. Yang penting jangan salah tingkatan sekolah aja. Tujuan mendaftar 'kan memang hanya untuk mendapat token. Mau ke SMAN malah daftarnya di SMPN.


Aturan Dasar dan Cara Seleksi


Chi akan sedikit jelaskan aturan dasar dan seleksi ini. Aturan ini dilihatnya secara berurutan. Jadi kalau bisa selesai sampai aturan pertama ya gak perlu lagi diberlakukan urutan kedua dan seterusnya.

Pertama adalah seleksi NEM. Semakin tinggi NEM-nya, maka peringkatnya semakin di atas. Mulai deg-degan deh tuh kalau peringkat anak udah di nomor buncit sementara waktu pendaftaran masih panjang. Begitu ada calon siswa lain yang daftar di sekolah sama dengan NEM lebih tinggi, maka yang nomor buncit akan tereliminasi dari sekolah tersebut.

Kalau ada 2 anak dengan NEM yang sama, maka yang dilihat adalah urutan pilihan sekolah. Misalnya si A memilih SMAN X sebegai pilihan pertama, sedangkan si B pilihan kedua. Maka, si A peringkatnya di atas B.

Eh, ternyata urutan pilihan sekolahnya masih juga sama. Dilihat deh umurnya. Kalau si A lebih tua dari B meskipun cuma selisih beberapa hari, tetap A yang peringkatnya di atas B.

Proses seleksi keempat adalah waktu mendaftar. Kalau sampai seleksi ketiga masih juga sama, makan akan dilihat siapa yang duluan daftar. Tetapi, rasanya belum pernah Chi temuin yang sampai seleksi ke-4. Sampai seleksi ke-3 aja jumlahnya jarang.

[Silakan baca: Ssstt! Ternyata Ada Seleksi Umur di PPDB Online DKI]


Urutkan Pilihan Sekolah dengan Tepat


Chi lupa ini screenshot sekolah mana. Dari ss tersebut terlihat sekolah ini memiliki daya tampung 163 siswa untuk MIPA dan 18  siswa untuk IPS. Sedangkang yang minat ke sekolah ini bisa 4-5 x lipat dari daya tampung.

Calon siswa bisa memilih maksimal 3 pilihan sekolah. Maksimal, ya. Berarti gak wajib pilih 3. Kalau cuma pengen 1 sekolah aja juga bisa. Waktu memilih SMPN buat Keke dan Nai, kami selalu milih 1 aja.

Kesannya pede banget ya cuma milih 1 sekolah. Tetapi, bagi kami jarak sekolah dengan rumah itu termasuk syarat yang cukup mutlak. Bila anak gak diterima di sekolah negeri dekat rumah, mendingan cari sekolah swasta aja yang dekat. Meskipun ya deg-degan juga karena sekolah swasta dekat rumah udah pada tutup pendaftaran. 😅

Bila memilih lebih dari 1, harus hati-hati menentukan peringkat pilihan. Saran Chi, jangan berdasarkan mana yang lebih disukai. Tetapi, lihat passing grade sekolah di tahun-tahun sebelumnya. Cara mencari tahu passing grade bisa googling aja. Kalau sudah dapat datanya, maka tempatkan sekolah yang passing grade tinggi di peringkat pertama.

Logikanya, kalau calon siswa terdepak dari pilihan pertama, maka masih ada kesempatan untuk bersaing di pilhan kedua. Tetapi, bila passing grade pilihan kedua lebih tinggi dari pertama, calon siswa bisa langsung terdepat ke pilihan ketiga. Itupun dengan catatan di pilihan ketiga juga gak lebih tinggi.


Pilih IPA atau IPS?

Penjurusan di SMA sudah dimulai sejak kelas X. Mau masuk IPA atau IPS. Di beberapa sekolah, meskipun segelintir, masih ada jurusan Bahasa. Mau pilih keduanya juga bisa. Misalnya pilihan pertama SMAN X IPA, pilihan kedua SMAN X IPS.


Bila Diterima, Maka Wajib Daftar Ulang


Alasan lain kenapa harus bijak memilih sekolah adalah supaya jangan menyesal. Kalau calon siswa sudah diterima di salah satu SMPN/SMAN, maka wajib daftar ulang di sekolah tersebut. Kalau gak dilakukan sampai batas waktu tertentu, akan dianggap mengundurkan diri dan gak bisa ikut seleksi tahap lainnya kecuali di tahap ketiga.

Masalahnya, tahap ketiga ini dikenal juga dengan nama seleksi bangku sisa. Maksudnya gak semua sekolah buka pendaftaran di tahap ini. Kalau kuota sudah terpenuhi di tahap 1 dan 2, maka tidak buka lagi tahap 3.

Ini beberapa kali Chi baca kejadiannya di Twitter. Ada yang udah keterima di SMPN/SMAN tertentu, tetapi kemudian memilih gak daftar ulang karena inginnya ke SMPN/SMAN lain. Sesuai peraturan, akan dianggap mengundurkan diri. Jadi, harus bijak ya memilih sekolah. Bagusnya jauh sebelum PPDB dibuka, pertimbangkan masak-masak pilihan sekolah yang diinginkan.

Bila memungkinkan, daftar ulang sejak hari pertama dibuka. Semua persyaratan daftar ulang di seluruh sekolah sebetulnya sama. Tetapi, pelaksanaannya bisa beda-beda. Ada sekolah yang meminta semua persyaratan diselesaikan sekaligus, ada yang tidak.

Sekolah Keke termasuk yang tidak. Yang penting bisa menunjukkan bukti kalau diterima di sekolah tersebut, sudah cukup. Ada form yang harus diprint juga. Persyaratan lainnya bisa menyusul. Keke juga melakukan daftar ulang sendiri. Gak ditemani orang tua.


Bagaimana dengan PPDB SMK?


Chi gak bisa cerita banyak tentang PPDB SMK. Tetapi, bagi yang tertarik memasukkan putra/i-nya ke SMK bisa lihat peraturannya di website PPDB DKI. Masih di website yang sama dengan PPDB SDN hingga SMAN.


Apakah PPDB DKI Tahun Ajaran 2020/2021 Akan Tetap Sama?


Nah ini Chi gak tau. Udah jadi rahasia umum juga 'kan ya kalau peraturan pendidikan di negara kita ini terlalu sering berubah. Apalagi Mendikbud RI baru lagi. Ya tentunya Chi punya harapan besar juga, semoga lebih baik.

Tetapi, bila dibandingkan dengan proses PPDB di beberapa daerah yang menggunakan ukur jarak rumah ke sekolah, mendingan PPDB DKI aja, deh. Program zonasi yang ramai diberitakan itu memang sebetulnya bagus. Hanya saja, kondisi saat ini jumlah sekolah belum merata. Masih banyak blind area alias jauh rumahnya dari sekolah.

PPDB DKI itu transparan dan gak ribet. Siapapun bisa setiap saat memantau pergerakan seleksi. Bahkan kita yang gak ikutan PPDB pun bisa lihat. Kalau persaingannya ketat, seleksi yang transparan begini bikin deg-degan banget hahaha.

Pengumumannya juga cepet banget. Bisanya proses PPDB setiap tahapannya berlangsung selama 3 hari. Di hari ketiga, ditutup pukul 4 sore. 1 jam kemudian sudah ada pengumuman resmi.

Tetapi, karena prosesnya transparan, begitu pukul 4 ditutup juga udah bisa lihat siapa aja yang keterima. Gak akan ada pergerakan lagi di website. Kita juga udah gak bisa daftar. Jadi pukul 5 sebetulnya formalitas aja.

Dengan sistem seleksi NEM aja masih bisa terjadi yang mengejutkan, lho. Tahun ini persaingannya luar biasa!

Ketika NEM Keke keluar dengan nilai rata-rata di atas 9, Chi langsung berasa santai banget. Karena dari list passing grade SMAN favorit selama 1-3 tahun terakhir yang Chi buat, selisih angkanya ya gak jauh.




Ternyata tahun ini jauh di luar dugaan. Coba aja lihat sebaran NEM tahun 2017 s/d 2019 di atas. Pada tahun 2017 dan 2018, gak ada satupun siswa yang lulus dengan NEM 400,00 -395,01. Tetapi, di tahun 2019 ada 11 orang.

Sampai NEM 380,01 dari tahun 2017 s/d 2018 jumlah kumulatifnya gak sampai 200 siswa. Sedangkan tahun 2019 ada 2755 siswa! Coba berapa persen itu kenaikannya? Luar biasa banget deh kenaikannya.

Chi yang tadinya sempat santai juga jadi ikut deg-degan. Alhamdulillah Keke masih keterima di SMAN yang dipilih.


Siap-siap, Nai!


Insya Allah, Nai akan ikut PPDB DKI 2 tahun lagi. Ya gak juga 2 tahun lagi masih seperti ini atau enggak. Setidaknya dari sejak Keke masuk SMP sampai SMA, sistemnya masih sama.

Chi lebih memilih mempersiapkan dulu aja. Di WAG sekolah juga udah mulai ada pembahasan tentang bimbel. Kenaikan NEM tahun lalu yang gila-gilaan memang bikin beberapa orang tua angkatan Nai mulai khawatir. Udah mulai ngebayangin persaingannya akan seketat apa bila sampai terjadi lagi.

Sekarang udah memasuki akhir semester ganjil. Biasanya sekolah swasta di Jakarta, terutama yang ternama, sudah mulai buka pendaftaran. Bisa mulai tuh dipertimbangkan akan masuk swasta dan negeri. Semua sama bagusnya.

Bila masih ada kebingungan pada saat pelaksanaan PPDB, bisa tanya ke akun Twitter @PPDBDKI1 atau @ppdbdki (unofficial). Kedua akun ini termasuk gercep menjawab pertanyaan netizen. Akun yang kedua memang unofficial, tapi recommended banget. Seringkali membantu akun resminya. Informasi dari akun unofficial bisa dipercaya. Mudah-mudahan seterusnya juga begitu.

[Silakan baca: Tips Mengikuti Proses Pendaftaran Online PPDB DKI Jakarta]