Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan Bersama Prudential Indonesia - Limbung! Itulah yang Chi lihat dari mamah pasca papah wafat. Tentu saja mamah berusaha tidak memperlihatkannya. Selalu berusaha terlihat tegar di depan banyak orang, termasuk anak-anaknya. Tetapi, sesekali Chi melihat dan merasakan kalau pikiran dan perasaan mamah seperti sedang terobang-ambing. Apalagi kalau udah curhat tentang uang.

pelatihan literasi keuangan untuk perempuan bersama prudential indonesia

Papah memang meninggalkan sejumlah harta. Uang peniun pun ada. Kami, anak-anaknya pun akan terus berusaha memperhatikan mamah. Tetapi 'kan tetap aja ada yang beda.

Sebelumnya, papah yang mencari nafkah dan mamah mengelola. Setelah pensiun, papah melanjutkan kerja lagi di salah satu perusahaan. Kalau mamah sudah lama sekali resign sebagai karyawan swasta dan memilih jadi ibu rumah tangga saja. Wafatnya papah yang mendadak, membuat semua berubah begitu cepat.


Konferensi Pers Literasi Keuangan untuk Perempuan  


konferensi pers literasi keuangan untuk perempuan prudential dan kpppa, ojk

Jauh sebelum papah wafat, Chi dan K'Aie mulai rutin membahas investasi. Pengennya saat hari tua nanti, kami bisa merasakan kebebasan finansial. Syukur-syukur kalau bisa dari sekarang. Dengan kejadian yang mamah alami, bikin Chi semakin berpikir tentang investasi.

Kamis (14/11) bertempat di KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) RI, Jakarta, Prudential Indonesiamengadakan workshop Literasi Keuangan untuk Perempuan. Chi dan beberapa blogger akan ikut pelatihan tersebut. Tetapi, sebelumnya ada konferensi pers terlebih dahulu.

Dr. Pribudiarta Nur Sitepu, MM, Sekretaris Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia mengatakan bahwa terkait dengan peningkatan literasi keuangan perempuan, saat ini KPPPA sedang berdiskusi mengenai program 5 tahun ke depan tentang isi ketahanan keluarga. Keluarga adalah unit terkecil di masyarakat. Bila memiliki keluarga yang kuat, maka ketahanan masyarakat pun akan kuat.

Amanat Presiden Republik Indonesia kepada KPPPA antara lain:


  1. Meningkatkan jumlah perempuan bekerja di sektor formal atau informal
  2. Memastikan sektor keluarga menjadi lebih kuat. Salah satu isunya adalah menguatkan di sektor ekonomi.
  3. Mendorong adanya kerjasama dengan berbagai pihak

Fakta dan data menunjukkan bahwa tingkat berdaya ekonomi kaum perempuan masih lebih rendah dari laki-laki. Diharapkan dengan adanya teknologi digital saat ini, jumlah perempuan yang produktif secara ekonomi bisa meningkat. Karena perempuan bisa memiliki penghasilan meskipun di rumah.

Ibu rumah tangga juga ibarat menteri keuangan dalam rumah tangga. Menjadi penting bagi perempuan untuk mengetahui bagaimana caranya mengelola keuangan rumah tangga dengan baik.

KPPPA tidak memiliki kegiatan yang sifatnya implementasi ke lapangan. KPPPA bergerak di bidang kebijakan dan berkoordinasi dengan lintas kementrian dan lembaga. Tugas KPPPA membuat berbagai kebijakan seperti bagaimana agar perempuan bisa mendapatkan akses modal, pelindungan ketika menjalankan usaha, akses terhadap teknologi dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk implementasi ke lapangan, bantuan dari berbagai pihak seperti Prudential Indonesia akan sangat membantu. Sejak tahun 2009, Prudential sudah mengadakan pelatihan literasi keuangan untuk para perempuan Indonesia. Memasuki tahun ke-10 ini, sudah hampir 36.000 perempuan Indonesia yang tersebar di 36 kota mendapatkan pelatihan ini.

Jens Reisch, President Director Prudential Indonesia, menjelaskan bahwa program pelatihan ini sejalan dengan fokus 'We DO Good' Prudential Indonesia. Di mana fokus utamanya adalah membangun masyarakat Indonesia menjadi lebih baik dengan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, kesehatan, serta kesejahteraan secara menyeluruh.

Fakta di lapangan, banyak ibu rumah tangga yang mengaku sudah paham mengurus keuangan rumah tangga. Padahal faktanya, baru sebatas pemahaman dasar. Ketrampilan mengelola keuangan harus dilakukan secara terus-menerus. Awalnya memang memahami dasar, kemudian berlanjut belajar bagaimana bisa menghasilkan uang, hingga kemudian mulai terpikir untuk berinvestasi. Level tertingginya memiliki kemerdekaan finansial.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh OJK, tingkat literasi perempuan Indonesia pada tahun 2019 adalah 36,13%. Masih sedikit lebih rendah dari laki-laki yaitu 39,94%. Tetapi, persentase ini mengalami peningkatan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

"Sisih atau sisa? Kebutuhan atau keinginan?"

Sondang Martha, Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjelaskan, boleh banget mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sifatnya konsumtif. Tetapi, harus diatur dengan bijak. Jadilah perempuan yang cerdas mengelola keuangan.

Banyak kejadian di mana masyarakat terkena investasi bodong, terutama di kalangan ibu. Menurut ibu Sondang, kuncinya adalah 2L yaitu Legal dan Logis. Masyarakat bisa cek apakah jasa keuangan tersebut legal atau tidak melalui OJK. Pilihlah penawaran yang logis. Jangan mudah tergiur dengan janji manis.

Bila masyarakat menerima berbagai penawaran dari jasa keuangan, jangan hanya bertanya manfaatnya. Tanya juga risiko yang mungkin diterima. Tetapi, bila terjadi masalah, jangan langsung melapor ke OJK. Selesaikan dulu di industrinya.

Bila tidak selesai di level industri, baru lanjut ke OJK. Oleh karena itu ibu Sondang menyarankan kepada industri untuk tidak menganggap setiap aduan nasabah adalah cost. Tetapi, jadikan investasi agar produk yang dimiliki semakin baik.

Mengenai pelatihan literasi keuangan untuk perempuan, Nini Sumohandoyo, Sharia Government Relations and Community Investment Director Prudential Indonesia menjelaskan meskipun materinya adalah literasi keuangan dasar, tetapi selama 10 tahun sudah mengalami evolusi. Selalu mengikuti perkembangan zaman. Misalnya, saat ini tantangannya adalah bagaimana para perempuan bisa berdaya secara ekonomi dengan memanfaatkan dunia digital.

Prudential Indonesia memang bergerak di dunia asuransi. Tetapi, materi pelatihannya bersifat general. Bagaimana persentase membagi pos keuangan hingga perempuan mampu memproteksi dirinya.

Fokus pelatihan di tahun ini lebih ke Indonesia Timur, yaitu Kupang, Mamuju, Gorontalo, Ternate, dan Bima. Beberapa kota lain juga tetap ada pelatihan, termasuk Jakarta.


Tips Mengelola Keuangan untuk Perempuan


tips mengelola dana keuangan untuk perempuan, mengenal berbagai produk dan jasa keuangan

Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan Prudential Indonesia menyasar kepada kaum perempuan di kalangan menengah ke bawah. Tujuannya untuk memaksimalkan ketrampilan mengelola keuangan keluarga agar lebih sejahtera.


Membuat Perencanaan Keuangan

Sumber penghasilan setiap orang berbeda-beda. Ada yang tetap (gaji) dan tidak tetap (komisi, insentif, upah lembur, dan hadiah). Apapun itu, membuat perencanaan keuangan adalah hal penting agak bisa hidup lebih sejahtera.

4 hal dasar pengelolaan keuangan adalah sebagai berikut


  1. Pengeluaran wajib (membayar cicilan, SPP, biaya transportasi, dll)
  2. Pengeluaran tambahan (uang jajan anak, traveling, membeli handphone, dll)
  3. Pengeluaran darurat (sakit, kecelakaan, kehilangan pekerjaan, meningga dunia)
  4. Dana simpanan (membeli rumah, tabungan haji, modal usaha, modal menikah, dll)

Buatlah rencana keuangan jangka pendek (0 s/d 1 tahun), jangka menengah (1 s/d 4 tahun), dan jangka panjang (>5 tahun). Rencana keuangan ini bisa berbeda bagi setiap individu. Status lajang, menikah, serta menikah dan punya anak akan mempengaruhi untuk memahami kebutuhan keuangan.


Mengelola Pendapatan

Sisih dan sisa. Mindset itulah yang harus tertanam bila ingin mengelola keuangan dengan bijak. Pola pikir lama adalah membelanjakan terlebih dahulu pendapatan yang diterima. Bila ada sisa baru ditabung. Sedangkan pola pikir baru sebaliknya.

Sisihkan pendapatan minimal 20% terlebih dahulu untuk ditabung dan 10% untuk dana darurat. Sisanya baru dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Disarankan memiliki 2 rekening tabungan, yaitu

  1. Rekening aktif untuk kebutuhan sehari-hari
  2. Rekening pasif untuk tabungan dan dana darurat

Berhutang itu boleh, tetapi jangan lebih dari 30%. Hutangnya pun sebaiknya hutang yang produktif, bukan konsumtif. Hutang produktif bisa untuk menambah aset dan kesejahteraan, misalnya membeli motor untuk keperluan usaha.

Penyimpanan juga dibagi 3, semakin pendek jangka waktunya adalah bentuk tabungan bisa segera dicairkan bila sewaktu-waktu dibutuhkan


  1. Jangka Pendek (0 s/d 1 tahun) - Emas, tabungan/deposito, simpanan koperasi
  2. Jangka Menengah (1 s/d 4 tahun) - Tabungan berjangka waktu tertentu, asuransi
  3. Jangka Pendek (> 5 tahun) - Asuransi, properti


Mengenal Berbagai Jasa Keuangan dan Produk Keuangan

Sebelum memutuskan jasa dan produk keuangan apa yang akan dipilih, sebaiknya banyak mencari tahu dulu. Apa manfaat dan risikonya? Apa yang menjadi hak dan kewajiban nasabah? Serta, bagaimana bila terjadi masalah? Pastinya jangan langsung mudah terbujuk. Ingat! Banyak jasa keuangan bodong yang sudah memakan korban. Jangan sampai kita menjadi salah satunya.

Pastinya kunci utama dari seluruh pengelolaan keuangan adalah DISIPLIN.


literasi keuangan untuk perempuan, ojk, mengenal jasa dan produk keuangan