Ssstt! Ternyata, Ada Proses Seleksi Umur di PPDB Online DKI - Keke Naima

Senin, 15 Juli 2019

Ssstt! Ternyata, Ada Proses Seleksi Umur di PPDB Online DKI

Lha, ada proses seleksi umur di PPDB DKI? Katanya seleksinya berdasarkan NEM. Gimana, sih!

Tenaaang! Seleksi umur memang beneran ada. Tetapi, menurut Chi, belum sampai taraf yang mengkhawatirkan. Apalagi sampai heboh kayak sistem zonasi yang ramai diberitakan. Chi akan jelaskan semua di sini.

proses seleksi ppdb online dki

Ssstt! Ternyata, Ada Proses Seleksi Umur di PPDB Online DKI


Tetapi, sebelumnya mau mengucapkan syukur karena Keke berhasil diterima di salah satu SMAN. Alhamdulillah. Resmi deh jadi anak berseragam putih abu-abu. 😊

Setiap Daerah Punya Sistem PPDB Berbeda


Setiap proses seleksi PPDB dimulai, suka ada aja pro-kontra. Buat Chi, perdebatan sebetulnya bisa jadi hal wajar. Gak ada sistem yang sempurna. Nah, Chi suka gregetan kalau ada yang berdebat, tetapi gak mengerti masalah sebenarnya.

Misalnya, ketika ada seseorang memprotes kebijakan PPDB yang merugikan anaknya. Kemudian ada yang komen membela sistem PPDB. Terjadilah pro kontra bahkan sampai ribut.

Menyedihkan bila yang membela itu tidak merasakan seperti apa rasanya perasaan para orang tua yang bingung mencari sekolah bagi anaknya. Ini kejadian sama salah seorang dari kerabat Chi. Anaknya lulus SD dengan NEM rata-rata 8,6. Lumayan tinggi, 'kan. Jarak rumah ke sekolah pun hanya 900 meteran. Tetapi, tetap terdepak karena banyak yang jarak rumahnya lebih dekat. Padahal NEMnya kecil.

Cari sekolah swasta bukan perkara mudah. Ada beberapa sekolah swasta, tetapi yang  high class. Iya, kalau ekonominya mampu. Kalau enggak? Kejadian ini gak hanya menimpa kerabat Chi. Banyak kejadian seperti ini. Coba baca tentang blind spot area zonasi. Chi tidak akan membahas panjang tentang blind spot area di sini. Sekadar menyarankan saja, kalau menemukan kondisi seperti ini sebaiknya berempati. Kasihan orang tua dan siswa yang sedih karena sulit mencari sekolah padahal NEMnya bagus.

Ada juga kejadian, di mana seseorang yang protes tentang sistem zonasi di kota/kabupaten A. Sedangkan yang membela, bicaranya tentang zonasi kota/kabupaten B. Jelas ini jatuhnya debat kusir.

Sistem PPDB di setiap daerah bisa berbeda-beda. Bahkan tidak hanya antar propinsi. Antar kabupaten aja bisa berbeda. Hanya DKI dan (mungkin) beberapa daerah lain yang aturannya sama sepropinsi.

Yup! Setiap daerah punya aturan PPDB sendiri-sendiri. Makanya setiap kali Chi menulis tentang PPDB baik di Blog atau medsos, selalu menulis lengkap. PPDB online DKI.

Waktu pra-MPLS, kepsek di sekolah Keke bilang masih mendapatkan protes dari beberapa orang tua yang anaknya gagal masuk SMAN tersebut. Orang tua yang protes ini merasa rumahnya dekat dengan sekolah. Tetapi, gagal karena NEMnya kecil. Padahal setau mereka, seleksi PPDB sekarang berdasarkan kedekatan rumah dan sekolah.

Daftar unduhan yang wajib dibaca kalau mau ikut PPDB DKI. Daftarnya masih panjang, tetapi hanya segini yang Chi capture

"Baca ... Baca juknis! Aturan PPDB DKI tidak seperti itu," ujar Kepala Sekolah saat apel perdana pra MPLS.

Seperti Apa Sistem PPDB Online DKI untuk SMPN dan SMAN?


Ini tulisan Chi yang ketiga tentang PPDB online DKI. Pertama kali menulis tentang ini, 3 tahun yang lalu, saat Keke ikut PPDB SMPN online DKI. Sekaligus pengalaman pertama kali bagi kami mengikuti seleksi masuk sekolah negeri.

[Silakan baca: Tips Mengikuti Proses PPDB Online DKI Jakarta]

Chi hanya bisa cerita tentang SMPN dan SMAN karena peraturan dan seleksinya sama. Keke dan Nai kan SDnya di swasta. Jadi gak terlalu paham seperti apa seleksi SDN.

Beberapa hari lalu, memang sempat kepoin hasil seleksi untuk SDN. Sepertinya kalau SDN, seleksi utamanya berdasarkan umur. Tetapi, seperti apa detil pertaturannya, mendingan cek website https://ppdb.jakarta.go.id/. Website ini juga untuk SMPN dan SMAN DKI.

Usia 12 Tahun Gak Bisa Daftar SMP?

persyaratan ikut ppdb dki
Syarat usia maksimal masuk SMPN di DKI

Saat Chi membuat postingan tentang "Bolehkah Usia Anak Masuk SD di Bawah 7 Tahun?", ada beberapa yang japri untuk menanyakan perihal usia masuk SMP. Khawatirnya kalau sebelum 7 tahun udah masuk SD, gak bisa diterima di SMP. Kabarnya usia minimal masuk SMP adalah 12 tahun.

Jadi gini, masa belajar di SD itu 'kan 6 tahun. Kalau anak masuk SD di usia 6 tahun pas pun, maka akan lulus SD pada saat usia 12 tahun, 'kan? Pertanyaan berikutnya, bagaimana kalau di bawah 6 tahun udah masuk SD?

Hingga tahun ini, peraturan usia di PPDB SMPN atau SMAN DKI dilihat dari usia maksimal.

Coba perhatikan screen shot di atas dan di bawah. Terutama di poin nomor 2. Tertulis usia maksimal, bukan minimal. Jadi, selama belum lebih dari usia 15 tahun per 1 Juli, boleh mendaftar SMPN. Begitupun untuk SMAN, maksimal usianya 21 tahun per 11 Juli.

persyaratan ikut ppdb dki
Syarat usia maksimal masuk SMAN di DKI

Jadi, di bawah 12 tahun boleh masuk SMPN? Ya kalau di DKI dibolehkan. Tetapi, Chi gak tau peraturannya seperti apa kalau di daerah lain.

NEM Masih Menjadi Faktor Seleksi Utama

"Bun, nanti UNBK santai aja, lah. Kan, nanti juga seleksinya zonasi. Pilih aja sekolah yang paling dekat sama rumah."

 Chi kaget mendengar omongan Keke. Rupanya dia baca beberapa artikel di media online yang memberitakan tentang sistem zonasi. Artikel pun berbalas artikel. Chi googling tentang sistem zonasi PPDB DKI. Dapat berita terbaru yang mengatakan siste DKI masih mengutamakan kompetisi NEM.

[Silakan baca: Berkomunikasi dengan Remaja - Ibu vs Google]

Chi bilang ke Keke, harus tetap belajar supaya NEMnya bagus. Kalaupun nanti NEM beneran gak kepakai, setidaknya usahanya tidak akan dianggap sia-sia oleh orang tuanya. Daripada dia bersantai-santai, trus ternyata masih tetap seleksi NEM.

Dan, ini beneran kejadian, lho! Chi menemukan beberapa komen di medsos Kemdikbud maupun PPDB DKI yang kecewa karena gak diterima di sekolah yang dipilih karena kalah NEM. Mereka yang kecewa ini merasa rumahnya dekat dengan sekolah, tetapi malah kalah sama yang NEMnya tinggi. Ya, karena di DKI memang seleksinya bukan deket-deketan jarak rumah ke sekolah.

PPDB DKI pun ada Zonasi

jalur seleksi PPDB online dki
Jalur seleksi di sekolah negeri DKI. Ada yang belum di-capture yaitu SMK. Tetapi, kurang lebih mirip, lah

Apakah di DKI ada sistem zonasi kalau seleksinya NEM? Ada.

Dari sejak Keke ikutan 3 tahun lalu juga sudah ada sistem zonasi. Hanya sekarang berubah istilah aja. Sampai tahun lalu istilahnya adalah Jalur Lokal dan Jalur Umum. Sekarang berubah jadi Jalur Zonasi (Jalur Lokal) dan Jalur Non Zonasi (Umum). Tetapi, sistemnya gak banyak berubah.

Jalur Zonasi (Lokal) di DKI dilihat dari kecamatan. Jadi, kalau KK teman-teman di kecamatan A, maka hanya bisa memilih sekolah negeri manapun dari kecamatan yang sama. Gak ada poin-poin jarak, di mana semakin dekat jarak rumah ke sekolah maka poinnya semakin besar.

Peraturan di DKI, semua calon siswa di kecamatan yang sama punya hak yang sama. Boleh memilih sekolah manapun. Nanti seleksinya berdasarkan NEM.

Jalur Non Zonasi (Umum) itu, bebas memilih sekolah manapun di DKI. Misalnya, calon siswa yang sekolah di Jakarta Timur boleh aja memilih sekolah di Jakarta Utara. Seleksinya tetap NEM.

Please! Jangan langsung menuduh orang tua yang memilih jalur umum berarti berambisi banget sama sekolah favorit, ya! Memang benar kenyataan itu ada. Sekolah favorit di DKI masih 'diserbu' oleh banyak calon siswa. Tetapi, gak semua alasannya seperti itu.

Chi mengalami sendiri kejadian 3 tahun lalu. Keke ikut PPDB DKI hanya lewat jalur umum. Bukan karena kami berambisi memasukkan dia ke sekolah favorit. Meskipun sekolanya termasuk salah satu SMP Negeri terbaik di Jakarta Timur. Tetapi, Keke hanya memilih jalur umum karena memang itu satu-satunya jalur yang memungkinkan. Kami memilih sekolah yang terdekat dengan rumah. Sayangnya KK kami dengan sekolah yang dipilih beda kecamatan. Makanya, memilih gak ikutan jalur lokal.

KK kami sejak dulu di DKI. Bisa aja ikut jalur lokal. Tetapi, kalau ikut jalur lokal, berarti lumayan jauh dari rumah kami yang saat itu masih tinggal di Bekasi. Makanya ikut jalur umum dan risikonya harus bersaing dengan calon siswa se-DKI. NEMnya gede-gede! 😂

Sejak tahun lalu, ada sedikit perubahan dari sistem zonasi. Chi akan jelaskan di bagian bawah, ya. Silakan baca sampai habis 😄

3 Pilihan Sekolah

Saat proses seleksi berlangsung, calon siswa bisa memilih maksimal 3 sekolah. Itu artinya, pilih 1 sekolah pun boleh. Keke dan Nai selalu pilih 1 sekolah. Tahun ini pun rencana awalnya juga Keke tetap memilih 1 sekolah. Tetapi, strategi sedikit berubah saat last minute. Walaupun begitu, pada akhirnya, tetap aja keterimanya di sekolah yang sejak awal sudah dipilih.

Berapapun sekolah yang dipilih, harus ada strateginya. Pengennya Chi cerita di lain tulisan tentang strategi ikut PPDB. Tetapi, sederhananya bila gak keterima dipilihan pertama, akan terlempar ke pilihan kedua. Gak diterima di pilihan kedua, terlempar ke pilihan ketiga. Kalau gak keterima di semuanya, masih bisa pilih sekolah lain selama masih dalam masa waktu proses seleksi.

Pindah Jalur, Gak Perlu Daftar Lagi

Ketika kami memutuskan ikut jalur non zonasi, ada beberapa teman yang tau dan kemudian bertanya, "Perlu daftar lagi kalau pindah jalur?"

Di medsos pun ada beberapa netizen yang bertanya hal serupa ke akun PPDB DKI. Jawabannya, gak perlu.

Token jalur zonasi maupun non 'kan sama. Seperti Keke yang daftarnya pada saat jalur zonasi dibuka, tetapi ikutannya saat non zonasi. Token yang dia punya tetap bisa dipakai. Gak harus daftar ulang lagi. Begitupun dengan calon siswa yang gagal dapat sekolah di jalur zonasi, tetap bisa ikut jalur lain tanpa daftar lagi. Pakai token yang sama.

Cepat dan Transparan

Salah satu hal yang Chi suka dari PPDB DKI adalah prosesnya cepat dan transparan. Setiap detik, siapapun bisa melihat dan mengawasi hasil seleksinya meskipun gak ikutan seleksi. Buat yang ikutan, seringkali bikin deg-degan. Apalagi kalau persaingan NEMnya ketat. Bisa setiap menit posisinya bergeser ke bawah atau malah ketendang.

Memang jadinya lumayan tegang ketika mengamati proses seleksi. Tetapi, Chi tetap suka karena transparan. Gak ujug-ujug posisi anak berada di peringkat tertentu tanpa alasan gak jelas.

Biasanya PPDB dibuka selama 3 hari. Di hari ketiga dibuka sampai pukul 15.00 wib. Hasil akhir akan diumumkan tepat 2 jam setelah seleksi ditutup. Tetapi, karena prosesnya berlangsung cepat dan transparan, sebetulnya begitu teng pukul 3 sore, kita udah tau apakah anak diterima atau enggak.

Gak mungkin bergeser lagi. 'Kan, prosesnya udah ditutup. Sebetulnya jeda 2 jam itu sekadar menunggu laporan resmi.

Kalau masih ragu, discreenshot aja. Pertama kali kami ikutan PPDB juga gitu. Begitu seleksi ditutup, langsung kami screenshot. Jaga-jaga siapa tau webnya error, trus posisi Keke berubah atau malah ketendang. Tetapi, selama ini belum pernah ada kejadian begitu. Alhamdulillah.

Lapor Diri

Setelah hasil seleksi keluar, jangan lupa lapor diri keesokan hari atau lusa. Jadwal lapor diri biasanya berlangsung selama 2 hari untuk setiap jalur. Hari terakhir ditutup pukul 2 sore.

Perlu diingatkan tentang ini karena rupanya masih ada yang belum tau. Disangkanya setelah proses seleksi selesai dan ada nama anaknya di salah satu sekolah berarti udah diterima. Padahal kalau gak lapor diri akan langsung dianggap mengundurkan diri alias gugur.

Kalau sudah gugur, hanya bisa ikutan lagi di jalur non zonasi tahap kedua. Masalahnya adalah tahap kedua ini disebut jalur bangku sisa. Artinya bila ada masih ada sisa kuota, sekolah akan buka jalur ini.  Sisa kuota dihitung dari berapa banyak calon siswa yang gak lapor diri. Jadi jangan heran ya kalau ada sekolah yang hanya buka 1-2 kuota aja untuk tahap kedua.

Malah yang gak buka tahap kedua juga banyak. Itu artinya kuotanya udah full karena semua siswa yang keterima melakukan lapor diri.

Syarat lapor diri dari panitia PPDB hanya datang ke sekolah di mana siswa diterima dengan membawa bukti cetak pendaftaran dan form surat pernyataan lapor diri. Tetapi, setiap sekolah ada juga yang punya syarat tambahan seperti meminta pas foto, mengisi beberapa form, atau lainnya. Saran Chi, sebaiknya datang saat hari pertama lapor diri. Jadi kalau ada syarat tambahan, gak grabak-grubuk nyiapinnya.

Keke datang sendirian ke sekolah saat lapor diri. Ayahnya gak bisa cuti. Untungnya sekolah Keke hanya meminta form lapor diri dan bukti cetak pendaftaran. Sebelumnya form surat pernyataan lapor diri sudah ditandatangan oleh ayahnya. Cuma datang sebentar, urusan langsung selesai.

Ada cerita yang menyedihkan tentang proses Lapor Diri. Dari beberapa obrolan, rupanya ada juga yang sengaja gak lapor diri karena ikut PPDB tujuannya sekadar coba-coba. Jadi, sebenarnya udah memilih sekolah di swasta.

Bikin sedih kalau kayak gini karena kalau sampai keterima, itu artinya ada anak lain di luar sana yang tereliminasi dari sekolah pilihannya. Kebayang bagaimana sedihnya kalau sampai ketendang dari sekolah pilihan. Ngebayanginnya aja udah gak tega.

Kalau ikutan PPDB niatannya cuma untuk coba-coba, mendingan jangan, deh! Cukup pantengin web PPDB DKI aja. Seperti yang Chi tulis di atas, proses seleksinya 'kan transparan. Ya kira-kira aja dengan NEM segitu dapat SMAN mana, tapi jangan ikutan daftar.

Yang Berbeda di PPDB DKI Tahun Ini


proses seleksi ppdb dki
Tahun lalu dan sekarang udah bisa tersenyum saat ikut proses PPDB. Gak kebingungan lagi 😆

Secara umum, peraturan serta sistem seleksi PPDB DKI tetap sama sejak pertama kali kami ikutan. Jadi, kami sudah memiliki bayangan yang cukup jelas. Gak bingung lagi. Bahkan sudah pede kalau ada yang nanya-nanya hehehe.

Tetapi, bukan berarti kami mengabaikan juknis. Tetap kami baca juknisnya sampai selesai. Siapa tau ada perubahan.

Bila ada yang mau ditanyakan perihal juknis, bisa ke twitter @PPDBDKI1. Ini akun resmi PPDB DKI dan adminnya aktif menjawab berbagai pertanyaan.

Bisa juga ke @PPDBDKI. Meskipun ini unofficial account, tetapi Chi juga sering mengandalkan akun ini. Informasinya valid dan adminnya juga gercep. Malah bisa jadi penyeimbang akun resmi. Pernah kejadian, admin akun resmi salah kasih informasi. Langsung dikritik sama akun ini.

Atau bisa juga cari tau di blog ini. Chi sudah membuat beberapa tulisan tentang PPDB DKI. Tanya ke Twitter @ke2nai juga boleh *modus 😂* Insya Allah, akan dijawab sepanjang yang Chi tau.

Pra Pendaftaran Dihapus

formulir ppdb dki

Ada 4 tipe calon siswa di sekolah negeri DKI yaitu:

  • Calon siswa dengan KK DKI, asal sekolah DKI
  • Calon siswa dengan KK DKI, asal sekolah luar DKI
  • Calon siswa dengan KK luar DKI, asal sekolah DKI
  • Calon siswa dengan KK Luar DKI, asal sekolah luar DKI

Ya sebetulnya ada lebih dari 4 kalau lihat form screenshot di atas. Tetapi, ini Chi bikin jadi 4 aja.

Waktu Keke ikut PPDB 3 tahun lalu, 3 dari 4 tipe calon siswa tersebut harus melakukan pra pendaftaran. Hanya calon siswa dengan KK dan asal sekolah DKI saja yang tidak perlu melakukan.

Waktu itu, Chi udah merasa proses pra pendaftaran ini sebetulnya sesuatu yang gak perlu. Dari 4 tipe ini aja kan kode formnya berbeda. Ngapain juga melakukan pra pendaftaran? Kalau kemudian setelah itu daftar lagi dengan membawa form yang sama. Tahun lalu, proses pra pendaftaran udah gak ada. Semua calon siswa bisa langsung ikut proses pendaftaran. Alhamdulillah.

Penting yang harus diperhatikan adalah jangan salah download formulir pendaftaran. Tiap tipe calon siswa kode formnya berbeda.

Seleksi Umur di PPDB DKI

dasar dan cara seleksi ppdb dki

Adanya seleksi umur di PPDB DKI memang benar adanya. Ketentuannya seperti screenshot di atas. Sampai tahun lalu, peraturannya sedikit berbeda. Di langkah ketiga adalah urutan nilai matpel di NEM.

Jadi tahun lalu itu, bila ada 2 anak atau lebih yang total rata-rata NEMnya sama di satu sekolah, maka akan dilihat pilihan sekolah. Misalnya si A memilih sekolah X sebagai pilihan pertama. Sedangkan si B memilih sekolah X sebagai pilihan kedua. Maka peringkat si A akan di atas si B.

Bila pilihan sekolah masih sama, maka akan dilihat urutan nilai per mata pelajaran. Kalau SMP urutan matpelnya adalah Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA.

Misalnya si A dan si B rata-rata NEM-nya sama. Mereka pun memilih urutan sekolah yang sama. Maka akan dilihat siapa yang nilai Bahasa Indonesia paling tinggi. Kalau si A lebih tinggi, urutannya akan di atas B meskipun nilai matematika atau IPA kalah. Kalau nilai Bahasa Indonesia masih sama, akan dilihat matematika. Begitu terus sampai nilai IPA.

seleksi umur ppdb dki
Ini dasar dan cara seleksi tahun lalu. Nai ikut PPDB pada tahun 2018

Tahun ini, ada perubahan. Nilai per matpel gak lagi dilihat. Diganti dengan seleksi usia. Hitungannya per 1 Juli. Siapa yang paling tua, maka peringkatnya lebih di atas.

Kalau umurnya masih sama juga, akan dilihat waktu pendaftaran. Mengenai waktu pendaftaran dihitung sejak pertama kali ikut seleksi. Contohnya Keke yang sudah ambil token sejak jalur zonasi dibuka. Tetapi, dia baru ikutan memilih di jalur non zonasi. Waktu pendaftarannya dihitung sejak dia mulai memilih sekolah di jalur non zonasi.

Jangan langsung khawatir. Biasanya jarang seleksinya sampai tahap seleksi umur apalagi sampai ke waktu pendaftaran. Baru sampai level rata-rata NEM aja udah banyak kelihatan seleksinya. Atau paling juga sampai batas pemilihan sekolah.

Lantas kenapa juga harus dibuat langkah seleksi seperti itu? Menurut Chi, untuk memperkecil kemungkinan masalah timbul. Karena memang gak menutup kemungkinan, meskipun jarang, proses seleksinya sampai batas umur bahkan waktu pendaftaran.

Kalau begitu apa mendingan masuk SDnya di usia 7 tahun aja? Ya, kalau itu kembali ke pilihan masing-masing. Cuma berdasarkan pengalaman, memang jarang kalau sampai tahap ke seleksi umur. Apalagi kalau NEM anak juga tinggi. Keke dan Nai 'kan masuk SDnya juga di bawah 7 tahun. Alhamdulillah hingga saat ini mereka keterima di sekolah negeri pilihan.

Chi gak berani menjamin kalau tahun depan atau tahun-tahun berikutnya seleksi PPDB DKI masih tetap mengutamakan NEM. Siapa tahu tahun depan berubah. Tetapi, gak ada salahnya tetap belajar supaya nilai UN bagus, buat yang ingin masuk SMPN atau SMAN di DKI tahun depan. Sekarang persaingan NEM semakin ketat.

Walaupun alat seleksi utama hingga saat ini masih NEM, tetapi ada beberapa strategi yang sebaiknya dilakukan. Postingan berikutnya Chi ceritakan tentang strategi apa yang kami lakukan, ya.

[Silakan baca: Beginilah Cara dan Rasanya Ikut PPDB Online SMPN DKI]

87 komentar:

  1. Tapi memang rasanya semakin banyak yang mengeluh ya dengan sistem-sistem baru ini. Nah kalau pakai NEM ini menurutku lebih enak. Karena ya sudah, sesuai dengan nilai dan kemampuan anak kan sekolahnya. Kaya jaman aku sekolah dulu deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup! Yang banyak dikeluhkan memang sistem PPDB online yang ada ukur jarak rumah ke sekolah dan dikasih poin. Beberapa mungkin diuntungkan dengan sistem ini. Terutama yang rumahnya semakin dekat dengan sekolah meskipun NEMnya kecil

      Hapus
  2. Wahh, semoga aturan2 Kemendikbud ini makin berpihak pada siswa dan ortu ya Mba
    Supaya ngga bingung cari sekolah
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya berharap demikian. Menurut saya pribadi, selama jumlah sekolah belum merata memang sebaiknya nilai anak juga dilihat

      Hapus
  3. Mau belajar aja semakin ribet ya semakin ke sini kalau kuperhatikan. Ada baiknya kualifikasi didasarkan pada kemampuan, bukan aspek lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu yang masih terjadi di Jakarta. NEM anak masih jadi alat seleksi utama

      Hapus
  4. Lengkap banget ulasannya ya. Saya meski tinggal di daerah dan tidak seratus persen menerapkan sistem itu tapi senang bisa mendapat wawasan baru. Apalagi seputar daftar ini memang lagi naik daun ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, siapa tau juga beberapa tahun ke depan pindah ke Jakarta ya, Teh. Dan sistemnya masih seperti ini :)

      Hapus
  5. hari ini aku belum ribet, tapi suatu saat aku pasti ribet banget nih nyari sekolah, karena banyak yg curhat pro kontra masalah zonasi ini. Mudah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi, kalau di DKI, PPDBnya cenderung tanpa kisruh. Mungkin karena kompetensi anak masih dilihat

      Hapus
  6. Sistem ini cukup banyak pro kontranya especially di media sosial. Sebenarnya paling enak seperti jaman dulu, satu kota ada sekolah unggulan 1 sampai sekian, jadi NEM yang tinggi-tinggi masuk ke unggulan 1 dan apabila tidak lolos bisa lanjut daftar di unggulan 2 dan begitu seterusnya~ hehe lebih mempermudah orang tua juga sepertinya. Tapi apapun keputusan sistem terbaru yang dibentuk pemerintah, semoga itu yang terbaik untuk anak dan orang tua pada masa sekarang. Hehe selamat juga ya untuk Keke sudah diterima di SMAN, semoga lancar studinya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu yang masih terjadi sampai saat ini di DKI. Memang setiap daerah punya sistem PPDB yang berbeda.

      Tentu aja saya pun berpikir sistem apapun tujuannya bagus. Tetapi, memang sebaiknya lihat fakta di lapangan juga

      Hapus
  7. Sistem zonasi memang mengecewakan banyak pihak terutama yang anaknya berprestasi.sehingga terasa kurang dihargai..usahanya...,

    Enakan sistem Nem sih.. juga membuat anak giat belajar...

    Kalo gini ..ntar rame2 pindah rumah biar dekat ..wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah kalau di Jakarta masih sistem NEM. Jadi gak usah pindahan rumah hihihi

      Hapus
  8. Oh saya baru tahu batas usia itu maksimal bukan minimal ya.. jadi kalau melebihi batas maksimal anak tdk bs masuk SMP/SMA Negeri ya? Swasta bebas kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti begitu. Tetapi, ini PPDB DKI ya, Mbak. Saya gak tau kalau di daerah lain ketentuannya bagaimana. Begitupun dengan sekolah swasta

      Hapus
  9. Wah lengkap dan niat banget Mba jelasinnya hehe , meskipun aku rada ga ngerti juga sama sistem pendidikan sekarang cuma dari yang aku denger emang rada ribet ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya PPDB DKI termasuk yang paling praktis. Tetapi, memang kalau baru ngejalanin suka masih bingung

      Hapus
  10. Saya juga baru dapat pencerahan dari teman, bahwa masuk SD usianya ngga harus minimal 7 tahun. Untung dibahas lagi disini sama mba Chi. Jadi lega mau daftarin sekolah SD nantinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau di DKI di bawah 7 tahun masih bisa. Tetapi, memang seleksi umur. Makanya kebanyakan yang diterima itu usia 7 tahunan

      Hapus
  11. Sekarang luar biasa ya tantangannya Nggak cuman buat anak tapi juga buat orang tua untuk mempersiapkan anak masuk sekolah terutama dengan banyaknya peraturan-peraturan baru ini ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang harus dibaca juknisnya. Setidaknya tau alurnya seperti apa

      Hapus
  12. Sistem pendidikan sekarang agak ribet sih menurutku, apalagi keponakan yang kemarin daftar sampai sekarang blm masuk sekolah karena tergusur peringkatnya di sekolah yang sesuai zonasi dia. Thanks for sharing info mbak, aku jadi bisa baca-baca lbh lanjut infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tergusur peringkatnya karena kalah jarak rumah atau kalah NEM? Kalau kalah jarak rumah, pastinya bukan di DKI. Lagipula PPDB DKI sudah selesai prosesnya

      Hapus
  13. Lengkap bangeettt... Penjelasannya. Memang ini kebijakan sesuai otonomi daerah, ya. Ternyata batas usianya maksimal ya, bukan minimal.
    Selamat buat putranya sudah diterima di SMAN harapan 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Peraturan PPDB tiap daerah bisa berbeda-beda

      Hapus
  14. Iqro'!
    aturan panjang lebar kudu dibaca mendetail kalau mau sukses ikutin PPDB Online DKI ini.
    Nantilah aku fokusnya kalau SID udah mau masuk SD aja, hehehe.

    BalasHapus
  15. Wah udah keduluan Myra bikin postinannya, aku malah gak jadi buat udah beda lagi nih tahun ini sistemnya. Tahun lalu kuota jalur nem di sekolah Pascal masih 83 orang sedangkan tahun ini cuma setengahnya aja makin ketat banget apalagi sekolahnya cukup dekat cuma gak masuk zonasi.
    Kalau dibatasi umur 15 th untuk pendaftar SMP artinya gak boleh tinggal kelas 3 kali di SD ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di luar Jakarta, seperti Bekasi memang kuota zonasi yang jarak kedekatan rumah ke sekolah semakin besar. Kuota NEM jadi makin kecil

      Hapus
  16. Lemah banget akutu karena belum apa2 udah stres duluan sama zonasi2an di PPDB online ini lho hahaha. Akhirnya karena males ngulik seperti dirimu aku langsung nyerah gitu, Kayla masuk swasta aja karena berasanya KTP dan KK aku kabupaten, sedangkan lokasi SMA di area kotamadya.

    Ya udahlah, dari pada kita stres dan deg2an terus udah cus weh ke swasta hahaha aku lemaaah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sana mah pakai zonasi yang ukur jarak rumah - sekolah, ya? Lieur kalau itu hehehe

      Hapus
  17. Ya aku rencana juga kalau bisa cari SMP Negeri yang dekat-dekat rumah saja. Tapi bagaimanapun kualitas NEM tetap dipertahankan dengan baik. Makasih sudah berbagi ya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di DKI sampai saat ini NEM masih jadi proses seleksi utama

      Hapus
  18. Aku sih berharap tahun depan proses sleksi ppdb nya ada kuota jalur NEM lagi di bekasi. Jadi mulai deg-degan nih pasahal Alvin baru kelas 4

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini kayaknya adek kakak bakal barengan ikut PPDBnya 2 tahun lagi :)

      Hapus
  19. Saya gak ikut riweuh urusan zonasi nih..padahal rumah strategis banget kalau utk sistem zonasi..anaku ga mau ke negeri soale..yasudah gmn anaknya aja jadinya..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mbak. Kalau anaknya memang gak mau ke negeri, gak akan riweuh sama zonasi :)

      Hapus
  20. masya allah, lengkap banget mba.
    serius deh ini bener bener membantu orangtua yang kebingungan perihal daftar sekolah anaknya. makasih ya mba

    BalasHapus
  21. Kak Myr...
    Kalau di DKI begini, transparansi jumlah siswa masing-masing jalur, diberi tahu gak...?
    Menarik yaa...
    Ini perjuangan orangtua zaman sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Transparan banget. Makanya saya suka dengan sistem PPDB DKI

      Hapus
  22. Makanya sekarang saya lebih milih memasukkan SD ank anak saya 7 tahun kak. Rasanya memang lebih mantap dan anak juga lebih matang. Setiap anak mah orang tuanya kan yang paling tau ya? Jadi pasti segala sesuatu sudah dipertimbangkan baik baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup! Kembali ke pertimbangan masing-masing keluarga

      Hapus
  23. Ikut geregetan deg2an sama zonasi yg kmrn tapi emang sih kebijakannya beda2 dan bikin banyak ortu bingung haha. Entahlah tahun ini aku malah mutusin anak entar aja sekolahnya kemungkinan pilih swasta. Moga2zaman anak gede ini kebijakan udah pakem, pasti gak berubah2 lagi pas ganti menteri atau sekalian aja sekolah di luar ya naaakk haha
    Byw selama Keke dan Nai atas sekolah barunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha. Iya, setiap daerah berbeda-beda sistemnya

      Hapus
  24. Wah, ini juga nih yang jadi kekhawatiran aku saat mau daftarin anak di tahun kemaren. Takutnya nanti dia gak bisa ujian karena belom 7 tahun saat masuk. Belom tahu juga sih detailnya katak gimana PPDB di sini. Tapi demi aman, aku akhirnya pilih tahun inj. Saat anak udah usia 7 tahun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi lulus SD udah di atas 12 tahun, malah 13 tahun, ya

      Hapus
  25. Sistem zonasi emang bikin kesel deh, dulu udah sih diterapkan di kota Semarang. Dan anakku NEM nya kalah sama yang dekat rumah. Akhirnya masuk ke swasta, alhamdulillah malah sesuai dengan pilihannya karena ada jurusan Bahasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun ini adikku yang pusing saat anaknya masuk SMA. Tapi alhamdulillah, masuk juga dengan sistem prestasi

      Hapus
    2. alhamdulillah. Semoga betah di sekolahnya

      Hapus
  26. ini akan jadi masalah untuk aku dan Bo mba, karena Bo loncat 2 kali di NYC, sehingga sekarang sudah kelas 3 SMP walaupun umurnya belum 13 tahun..

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga akan selalu ada peraikan ke depannya. Aku masih terus deg-degan sampai Bo lulus SMP nanti :(

      Hapus
    2. Kalau dari yang saya tulis ini, kayaknya gak masalah selama belum lebih dari usia maksimal. Tetapi, memang sebaiknya nanti ditanyakan lagi

      Hapus
  27. Betul Mbak, saya juga baru ikut deg-degan sama sistem zonasi ini. Keponakan saya nilai rata-ratanya 9 ke atas, sempat kegeser-geser terus sampai nyaris ga dapat sekolah. Bersyukur ada kuota tambahan yang hanya menggunakan NEM. Jadi bisa masuk sekolah yang diharapkan. Duh, kita baru bisa membela atau mengkritisi dengan adil kalau memang pernah ada di situasi yang kurang menyenangkan akibat suatu kebijakan ya Mbak....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau tidak merasakan sendiri, memang sebaiknya tidak terlalu membela atau menghakimi. Coba berempati dengan yang gagal masuk sekolah pilihan karena sistem

      Hapus
  28. Tulisannya informatif banget Mbak. Meski anak saya masih lama masuk sekolahnya tapi ini pembahasannya penting juga buat saya. Ya meski gak tahu pas dia sekolah sistemnya masih sama seperti sekarang atau udah berubah. Btw bener banget nih yang Mbak bilang, sekalipun sekarang masuk sekolahnya berdasarkan sistem Zonasi tapi tetap NEM juga penting. Dan terbukti ya, ada yang meski jarak rumahnya dekat dengan sekolah favorit tapi tetap ditolak karena NEMnya rendah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di DKI masih seperti itu. Fokusnya ke NEM

      Hapus
  29. Duh Mba aku kok puyeng ya soal zonasi ini
    Aku degdegan karena bakalan melewati masa ini pula
    Makanya dari saat booming info zonasi, aku sering pantengin status Mba dan artikel blog. Ben paham bener bener.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sering pantengin tulisan saya tentang PPDB. Tapi, kita beda daerah, lho. Kayaknya sistemnya berbeda juga

      Hapus
  30. di daerahku, masuk sekolahnya belum pakai zonasi, Mba. Jadi para orang tua di sini masih santai-santai aja saat pendaftaran siswa baru kemarin :)

    BalasHapus
  31. Iya masalah umum ini, baca juknis juga enggak, cuma berdasar katanya, udah teriak macam-macam soal zonasi.
    Salut lho mbak, ortu yang mau "repot" baca juknis itu nggak banyak jumlahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah yang kadang-kadang jadi drama. Penyebabnya karena gak baca juknis

      Hapus
  32. anak masih Sd dan tk jadi bener2 belum perhatikan soal detail penerimaan siswa baru ini. cuma baca2 berita aja dan belum ngerti mau komen pro atau kontra krn setiap kebijakan pasti ada plus minusnya. kalau aku pribadi, umpama dulu uda diterapin zonasi pasti kesel juga ga bisa skolah di sekolahan impian hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi mudah-mudahan sistem semakin baik, ya

      Hapus
  33. Sistem zonasi bikin stres ya mba, banyak yang cerita ke aku anaknya gak dapat sekolah negeri meski KK dll sama zonasinya tapi gak kedapetan. Btw makasi buat reviewnya mba, bermanfaat banget ini buat buibu yang anaknya mau masuk SMP ataupun SMA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak dapatnya karena kalah NEM atau kalah dekat jaraknya? Tiap daerah bisa beda

      Hapus
  34. puanjang xlebar ya kalau membahas sistem ppdb online dan zonasi. Padahal saya juga punya pengalaman tapi malas mau nulis karena kalau gak lengkap gak puas rasanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biar sekalian jadi catatan pribadi untuk saya

      Hapus
  35. ini yang lagi rame terus ya mba Chi, btw aku langsung klik artikel yang anak dibawah 7 tahun masuk SD soalnya anakku 6 tahun masuk SD tahun ini mba Chi

    Setuju sih harus tetap belajar kalaupun hanya jarak yang menentukan ya mba

    BalasHapus
  36. Aduh pusing aku. Ngebayangin aja udah pusing gimana nanti mencari sekolah buat anak-anak. Belum lah harus siapin dana, siapin mental enak, masih harus mempelajari sistem penerimaan siswa baru yang sering gonta-ganti setiap tahun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di DKI setidaknya udah 3 tahun belum ganti sistem

      Hapus
  37. Dengan polemik tahun ini untuk epmemasukkan anak2 ke sekolah bikin saya degdegan dan agak cemas sedikit,, terus masih ngawang2 tahun depan Shakila udah masuk SMP dan pakai sistem apa lagi ya nanti?.

    BalasHapus
    Balasan
    1. DKI belum ganti-ganti kok sistemnya. Fokus ke NEM aja kalau memang masuk DKI, Mel. Tapi, gak tau deh kalau daerah lain

      Hapus
  38. Sekarang lebih banyak aturan tentang sekolah ini yaa.. aku belum fokus karena anak masih balita.. taoi penting sih baca2 dari sekarang yaa hhee

    BalasHapus
  39. Rame banget deh yang bahas tentang PPDB ini. Banyak yang mengeluh dan pro kontra. Wajar sih karena ini baru saja diterapkan, tapi semoga saja kedepannya lebih baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pro kontra yang rame untuk sistem di daerah tertentu sebetulnya. Di DKI nyaris tanpa kisruh, kok

      Hapus
  40. kalau di jamanku dulu ada namanya sistem rayon, mba...jadi kalau mau ke SMP tertentu, yang boleh daftar harus lulusan SD tertentu, setelah saringan rayon baru deh liat NEM.
    Menurutku lebih fair sih kalau masih pakai NEM, jadi jelas gitu lho kriterianya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yip! Makanya saya suka dengan sistem PPDB DKI

      Hapus
  41. Mba aku sd raffi taun depan. Kalau di tangsel sama ga ya aturannya. Duh kudu buru2 nyari ini. Malah kita cari2 sd swasta --"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda, Cha. Coba lihat aturan PPDB Pemprov Tangsel, ya

      Hapus
  42. anak saya dua kali daftar sekolah kepentok sama umur, kalah sama yang umur 7 tahun atau lebih padahal rumah lebih dekat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di daerah mana, Mbak? Kalau di DKI memang seleksinya berdasarkan umur. Jadi meskipun rumah kita lebih dekat, ya gak bakal pengaruh

      Hapus
  43. sebaiknya memang setiap orangtua mau membaca secara detail tentang informasi PPDB ini terutama untuk daerah masing-masing untuk meminimalisir kesalahan dan menuai permasalahan berikutnya ya mba chi.

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^