Pemadaman listrik di Jakarta dan sekitarnya, bahkan sampai sebagian wilayah di Jawa Barat, pada hari Minggu (4/8) mempunyai cerita sendiri. Saat itu, Chi lagi gak di Jakarta. Tetapi, di Bandung untuk menghadiri tahlilan 100 harian papah.

Awalnya, Chi masih santai aja dengan pemadaman ini. Apalagi semua bibi bilang kalau ada pemadaman gak pernah lama. Saat itu, memang belum tau kalau pemadamannya luas. Chi memilih untuk tidur aja. Entah kenapa, semalaman gak bisa tidur. Baru bisa tidur setelah subuh, itupun sebelum pukul 7 udah kebangun lagi karena semua keluarga udah pada bangun. Suasana rumah jadi lumayan ramai. Menjelang siang, baru deh ngantuk gak bisa ditahan lagi.

Setelah bangun, baru tau kalau pemadamannya massal. K'Aie yang saat itu lagi ketemuan ma teman-temannya, sampai rumah terlambat. Padahal kami rencananya pulang ke Jakarta setelah makan siang. Semua traffic light padam membuat kemacetan di mana-mana.


pemadaman listrik di jakarta, pemadaman massal, mengasah empati, mati listrik lagi, jakarta padam
Pemadaman Listrik di Jakarta dan Sekitarnya, serta Padamnya Empati
Sumber: Image by mcmurryjulie from Pixabay


Listrik pun menyala kembali sekitar pukul 4 sore. Kami segera pamit pulang. Tetapi, perjalanan kami tidak lantas menjadi mudah meskipun traffic light sudah menyala dan jalanan kembali lancar. Kami gak punya saldo yang cukup untuk pulang ke Jakarta lewat tol!

Sudah banyak ATM dan minimarket yang kami datangi. Gak ada satupun yang bisa top up meskipun listrik sudah menyala. Chi pun nge-tweet ke Jasamarga dan Bank Mandiri untuk menanyakan bisa top up di jalan tol atau enggak. Jawabannya gak bisa dengan alasan sedang perbaikan sistem.



Kami mulai kepikiran untuk pulang lewat jalan lama alias non toll. Tetapi, cobain dulu top up di salah satu aplikasi e-commerce, gagal. Boro-boro top up, apps-nya aja gak kebuka. Ya, pemadaman listrik waktu itu memang berimbas juga ke internet. Kami coba buka apps e-commerce lainnya, berhasil. Setelah transfer melalui salah satu bank, e-money kami pun langsung terisi. Alhamdulillah, bisa pulang!

Memang sesenang itu Chi bisa pulang. Keke 'kan gak ikut ke Bandung. Dia lagi banyak tugas sekolah. Chi lihat informasi di media sosial, pemadaman listrik di Jakarta dan sekitarnya masih terus berlangsung. Kalau Keke ikut, Chi lebih memilih untuk menunda pulang ke Jakarta daripada ribet harus ke sana/i cari ATM dan minimarket buat top up.

Menghibungi Keke pun susah. Gak berhasil menghubungi dia via apapun. Lewat WA, nelpon ke hp, hingga telpon ke rumah, semuanya gagal. Padahal Chi dan K'Aie pengen kasih tau persiapan apa aja seandainya kami sampai rumah kemaleman.

Memang saat itu gak hanya listrik yang padam. Beberapa jalur komunikasi pun mengalami kelumpuhan. Rasanya pengen punya pintu kemana aja Doraemon yang bisa bikin Chi langsung sampai rumah. Sepanjang perjalanan keingetan Keke terus.


Gemerlap Jakarta dan Ketergantungan dengan Listrik


Seorang teman mengatakan kalau Jakarta itu ibarat cahaya lampu yang dikerubungi laron. Tentu yang dimaksud laron di sini adalah kita, para manusia. Menurut Chi, pendapatnya itu tidak menghina kita sebagai manusia, tetapi memang fakta.

Bagi banyak manusia, Jakarta yang modern dan gemerlap memang terlihat 'wow!' Gak heran kalau banyak yang bermimpi bisa menjemput segenggam berlian di Jakarta. Meskipun faktanya gak semudah itu. Jakarta itu keras! Banyak yang terseok-seok juga di Jakarta. Jadi, Jakarta gak sekadar cerita tentang gemerlap dan keberhasilan.

Ketika Chi beperndapat bahwa Jakarta itu keras, bukan berarti daerah lain sebaliknya. Chi gak paham seperti apa kehidupan sehari-hari di daerah lain, apalagi di desa. Chi hanya menggambarkan kota Jakarta, di mana sejak lahir hingga sekarang memang sangat akrab dengan kota ini.

Indonesia adalah negara yang memiliki banyak pemandangan alam yang sangat indah. Tetapi, Jakarta nyaris tidak memilikinya. Pantai di Jakarta tidak sebagus daerah lain. Ada sih beberapa pantai di Kepulauan Seribu, tetapi untuk menuju ke sana gak cukup hanya dengan mengendarai motor atau mobil. Kalau udara sedang bersih, warga Jakarta lumayan beruntung lah bisa melihat Gunung Salak dan Gunung Gede dari kejauhan. Tentunya ini pemandangan yang gak bisa dinikmati setiap hari mengingat tingkat polusi kota Jakarta.

Segala kenikmatan di Jakarta, seringkali berbayar. Pas rasanya kalau dikatakan 'gak ada makan siang gratis'. Pendapatan rata-rata masyarakat Jakarta mungkin saja lebih besar dari daerah lain. Tetapi, biaya hidupnya juga besar. Sekadar bisa menikmati kesejukan aja, pilihannya pakai AC bukan menghirup udara segar. Ke luar rumah, udah berhadapan dengan polusi. Pakai AC tentu ada biaya yang harus dikeluarkan. Belum lagi kalau membahas biaya-biaya lain.

Jadi, setiap daerah baik itu kota besar maupun kecil memang punya kenikmatan dan persoalan masing-masing. Jakarta memang minim pemandangan alam yang indah. Tetapi, Jakarta memiliki pasokan listrik dan koneksi internet yang mungkin saja lebih lancar dari kota lainnya. Apalagi Jakarta ini kan kota bisnis. Terlepas apakah ibukota jadi pindah atau enggak, Jakarta akan terus menjadi pusat bisnis. Kebutuhan listrik dan internet tentu besar. Apalagi tuntutan zaman digital globalisasi memang seperti itu, kan?

Kesibukan kota Jakarta gak hanya sekarang aja, sih. Kalau mengikuti sejarahnya, Jakarta memang sejak dulu sering menjadi pertemuan banyak orang dari berbagai daerah dan bangsa asing.  Terutama para pedagang yang datang ke Jakarta. Makanya Jakarta selalu jadi kota yang sibuk. Akulturasi budaya pun tercipta di kota ini.


Lepas dari Zona Nyaman Butuh Proses


Pernah merasakan berada di zona nyaman? Chi rasa sekecil apapun itu, akan ada zona nyaman. Hanya saja mungkin bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Contoh sederhananya, bisa nonton serial criminal favorit di tv tanpa diganggu itu udah zona nyaman buat Chi.

Kalau zona nyaman diusik, reaksi pertama kita mungkin kesel. Ya walaupun berusaha disabar-sabarin, tetapi tetap aja ada rasa gak nyaman.

3 tahun lalu, drama banget saat Keke baru masuk SMP. Harus banyak stok sabar pada saat itu. Tetapi, Chi juga berusaha memahami. Sekian tahun di sekolah di swasta, ketika SMP masuk negeri. Fasilitas, kultur, dan lain sebagainya semuanya beda.

Keke gak sendiri, kok. Kalau ngobrol sama keluarga dan teman-teman yang anaknya dari swasta ke negeri, hampir semua mengalami hal sama. Ada masa di mana penuh drama. Tapi, lama kelamaan dia beradaptasi. Sekarang, udah SMA gak ada drama kayak 3 tahun lalu.

Cung! Adakah teman-teman yang asalnya dari kota kecil atau desa dan sekarang mengadu nasib di Jakarta? Bagaimana rasanya?

Chi ada sodara yang tiap kali diajak nyebrang jalanan di Jakarta, pegangannya keceng banget. Kadang-kadang meluk, sampai rasanya engap saat dipeluk. Alasannya pusing dan takut dengan keramaian jalanan di Jakarta. Sangat berbeda dengan kotanya yang sepi. Tetapi, setelah beneran merantau ke Ibukota, lama-lama dia terbiasa. Bisa nyebrang jalan sendiri dengan santai.

Ya gitu deh kalau kita harus keluar dari zona nyaman. Mau itu karena kemauan sendiri atau terpaksa melakukan. Tetapi, tahap awalnya akan ada rasa tidak nyaman. Secara perlahan baru proses adaptasi. Kalau gak bisa beradaptasi juga, biasanya akan balik lagi ke zona nyaman.


Siapkan Emergency Bag, Asahlah Empati


Jakarta dan sekitarnya padam listrik, langsung jadi trending topic. Berbagai komentar netizen pun bermunculan. Gak sedikit yang menganggap warga Jakarta itu manja. Baru padam segitu aja sampai trending topic. Padahal di daerah lain juga banyak yang padam sampai berkali-kali bahkan setiap hari.

Benarkah warga Jakarta manja karena ini? Chi gak sependapat. Bukan manja, tetapi gak terbiasa. Warga Jakarta gak biasa mati listrik sampai sekian lama. Apalagi gak hanya listrik, hampir semua aspek juga lumpuh.

Beberapa headline media online mengabarkan kalau Presiden Jokowi marah dengan kejadian blackout setelah mendengar penjelasan Plt Dirut PLN. Sikap lebay seorang presiden? Menurut Chi, enggak juga bahkan memang sudah seharusnya.

Singkirkan dulu pikiran kalau Chi berpendapat seperti itu berarti mendukung Jokowi. Hadeuuuhh, jangan segala dikotak-kotakkan, deh. Chi juga mengapresiasi kinerja Gubernur DKI, Anies Baswedan, yang gercep menangani transportasi di Jakarta (TJ dan MRT). Serta memantau langsung beberapa lokasi vital.

Pada saat pemadaman massal waktu itu memang gak hanya para petinggi hingga karyawan PLN yang bergerak cepat dan tanpa henti hingga listrik kembali normal. Banyak pihak yang gercep mulai dari presiden, gubernur, hingga di keluarga.

K'Aie aja sampai gak ngantor karena benerin genset. Saking lamanya gak dipakai, ternyata gensetnya rusak saat dibutuhkan hehehe. Begitu listrik menyala pun, K'Aie ikut bantuin beberes rumah. Jadi, kalau mau berterima kasih, bakalan banyak pihak yang bakal Chi kasih ucapan terima kasih.

Dengan banyaknya pihak yang gerak cepat, masih boleh gak mengeluh? Buat Chi, boleh aja selama bukan sumpah serapah. Namanya juga gak biasa mati listrik, wajar aja kalau kemudian bingung. Bisa  jadi mengeluh karena mulai timbul masalah dan bingung harus bagaimana.

Seperti pendapat Chi tentang zona nyaman. Pasokan listrik, internet, dan segala kemoderenan lainnya memang jadi kenyamanan bagi warga Jakarta. Begitu zona nyaman ini terganggu, kepanikan dan keluhan pun terjadi. Bukan berarti gak peduli dengan daerah lain, gak menghargai kerja pegawai PLN, bahkan ada juga yang bilang gak bersyukur sama sekali. Katanya, malu sama para tunanetra kalau cuma sekian jam dikasih gelap aja mengeluh.

Hmmm ... Chi kok malah jadi mikir, ya. Orang yang selalu bisa bersyukur itu apa gak pernah merasakan panik? Bukankah panik dan mengeluh itu sesuatu yang manusiawi selama tidak berlebihan? Namanya juga manusia, tempatnya khilaf.

Gak perlu membandingkan kondisi diri sendiri dengan yang lain juga kayaknya. Baguslah kalau kita memang cepat bersyukur ketika menghadapi kejadian apapun. Tetapi, ketika melihat orang lain yang kelihatan lebih lama mengeluhnya, mungkin karena tingkat keribetannya lebih besar.

Chi ingat sama pengalaman sendiri aja. Waktu anak-anak masih kecil, biasa aja saat mati listrik siang hari. Menjelang malam pun mereka masih senang karena bisa bermain di luar lebih lama. Bahkan mereka senang aja bisa main lilin. 

Tapi, begitu mau tidur, mulai deh rewel. Gelap, panas, dan banyak nyamuk bikin mereka rewel. Bisa semalaman tuh Chi dan K'Aie gak tidur buat ngipasin mereka. Capek lah pastinya. Ya, mau gimana lagi. Setelah remaja kayak sekarang, drama-drama rewel saat padam listrik udah nyaris gak ada.

Pemadaman listrik pertama terjadi di hari Minggu. Sebagian warga Jakarta, menjadikan pemadaman itu sebagai momen untuk berkumpul dengan keluarga. Tadinya sibuk dengan gadget masing-masing, gara-gara mati listrik jadi saling ngobrol. Itu memang salah satu hikmah yang bisa didapat saat pemadaman. Bahkan mungkin kenikmatan yang cukup langka bagi penduduk kota besar.

[Silakan baca: 5 Aktivitas Bersama Anak Saat Mati Lampu di Malam Hari]

Tetapi, gak semua langsung mendapatkan kenikmatan langka seperti itu. Pemadaman massal bukan berarti gak ada masalah. Coba deh lihat video warga yang pada terjebak di terowongan MRT. Memang sih di video itu masyarakat kelihatan tenang. Bisa jadi karena para petugasnya gercep. Coba kalau itungan waktunya sekian lama gak dievakuasi. Apa gak panik juga terjebak di dalam kereta yang ada di terowongan?

Jadi inget kejadian saat Chi masih SMA. Sekolah di Bandung, orang tua tinggal di Bekasi. Hampir setiap Sabtu pagi pulang, ke Bandung lagi Minggu sore. Selalu naik kereta Argo Parahyangan kelas Eksekutif. Suatu hari, keretanya mogok di lokasi yang jauh dari keramaian.

Kelas Eksekutif yang seharusnya menjadi kelas ternyaman, saat itu berubah 180 derajat. Berjam-jam mogok, AC dimatikan, suasana di kereta pun berasa panas dan pengap. Mau keluar, gak berani jauh-jauh. Paling cuma sampai di pintu karena malam mulai datang dan sepi. Dengan kondisi saat itu, rasanya jadi enak yang memilih kelas ekonomi. Gak perlu keluar kereta untuk menghirup udara. Tinggal buka jendela di tempat duduk masing-masing aja udah bikin udara di kereta jadi lebih adem. *Dulu, kereta ekonomi belum pakai AC kayak sekarang, ya.


mati listrik di mall, pemadaman massal di jakarta
Kejadian kekitar 6 tahun yang lalu


Pernah mengalami padam listrik di mall? Chi pernah, tetapi bukan kejadian kemarin. Udah agak lama kejadiannya. Saat kejadian, kami sedang berada di toko buku. Satpam toko buku langsung menutup rolling door begitu listrik padam. Sepertinya itu SOP mereka untuk mencegah kehilangan barang.

[Silakan baca: Mati Listrik di Mall]

Setelah menunggu beberapa menit, satu per satu diizinkan keluar melalui pemeriksaan. Begitu keluar, Chi langsung melihat ke lift mall yang terbuat dari kaca. Beberapa pengunjung terjebak di sana. Langsung deh Chi bersyukur 'hanya' terjebak di toko buku.

Kalaupun belum boleh keluar, buat Chi gak masalah juga. Di dalam toko gak gelap gulita karena emergency lamp langsung menyala. Di dalam toko bisa nunggu sambil duduk atau baca-baca buku. Coba kalau terjebaknya di lift?

Chi lihat video evakuasi seorang pemuda yang terjebak di dalam lift selama sekitar 1 jam pada saat pemadaman massal. Pemuda tersebut mengaku panik kemudian sesak napas. Ya iyalah panik. Mana lift gedung yang tertutup begitu. Tiba-tiba jleb padam listrik dan terperangkap wajar banget jadi panik.

Persoalan yang timbul saat listrik padam di Jakarta dan sekitarnya memang gak sekadar ibu-ibu yang gak bisa cuci piring, masak nasi gak bisa di magic jar, dan hal-hal seperti itu. Bahkan di kalangan ibu aja, ada yang khawatir stok ASIP mencair dan rusak. Padahal mengumpulkan setetes demi setetes ASI kadang-kadang bukan perkara mudah. Sepupu Chi, salah seorang ibu yang khawatir akan hal ini. Sampai keliling ke sana/i buat beli genset demi menjaga kualitas ASIP. Sayangnya di mana-mana genset habis!

Di awal, Chi cerita susahnya top up e-money dan khawatir banget karena Keke gak bisa dihubungi. Di sisi lain, ada orang tua yang resah karena anaknya gak kunjung pulang. Ditelpon juga gagal terus. Rupanya, gak ada satupun kendaraan umum saat itu. Kendaraan online susah banget ngordernya karena internet lumpuh. Beberapa transportasi umum massal juga berhenti karena gak ada pasokan listrik. Kendaraan umum yang tersisa tentunya penuh penumpang. Jalan kaki deh anak itu untuk pulang dan baru sampai ke rumah beberapa jam kemudian.

Ini belum lagi kalau bicara kerugian bisnis dari skala kecil hingga besar. Memang bukan kapasitas Chi untuk menghitung kerugian ini. Tetapi, mengingat Jakarta adalah kota bisnis, bahkan masih menjadi ibukota, banyak asset vital di Jakarta. Jadi, rasanya wajar aja kan kalau sampai level Presiden pun marah dan semua pihak bergerak cepat.

Ada seseorang yang berpendapat bisa jadi apa yang terjadi di Jakarta semakin menimbulkan kecemburuan sosial. Saat listrik padam berkali-kali di berbagai daerah, sepertinya adem ayem aja. Berbagai pihak juga seperti gak bergerak cepat. Giliran Jakarta, semua bertindak cepat. Tetapi, warganya masih ada aja yang mengeluh.

Hmmm ... bisa juga. Chi ada setujunya dengan pendapat ini. Membayangkan kalau tinggal di daerah yang sering byar pet, bakalan kesel melihat kejadian di Jakarta.

Etapi, gak usah membayangkan tinggal di tempat yang jauh, ding. Beberapa tahun lalu, waktu masih tinggal di Bekasi juga lumayan sering padam. Suka ngiri melihat rumah mertua di Jakarta yang gak pernah padam. *Auto nyanyi lagu Sandhy Sandoro 😂*. Trus, Chi harus kesel gitu sama mertua? Bisa-bisa gak dianggap menantu nanti kalau Chi kayak gitu huahaha.

Memang kurang tepat sasarannya kalau yang dinyinyirin adalah warga Jakarta. Mereka sedang kebingungan karena gak biasa mati listrik seperti itu. Eh, masih juga dinyinyirin. 

Kalau pun  ada warga daerah lain yang jadi makin kesal karena berbeda nasib dengan Jakarta, merasa semakin dianaktirikan, itu berarti masalah pemerataan. Yuk, tanyakan ke pihak terkait tentang masalah ini. Harapan kita semua kan pastinya kalau listrik dan pelayanannya pun membaik secara merata?

Chi gak geram ketika warga Jakarta dianggap manja. Rasa geram Chi udah habis saat Keke dituding manja 3 tahun lalu saat masuk SMP Negeri. Ya memang gak secara langsung ke Keke, tetapi general ke anak-anak lulusan sekolah swasta yang kemudian masuk negeri.

[Silakan baca: Pilih Sekolah Swasta atau Negeri?]

Saat itu, Chi merasa geram. Udahlah anak lagi banyak drama, masih juga dituding seperti itu. Padahal mereka itu butuh waktu untuk berproses. Bagi yang bertahan, lama-lama juga akan terbiasa. Terbukti sama Keke. Dia jadi seneng ma sekolah dan teman-temannya. Bagi yang gak mampu beradaptasi, akan kembali lagi ke swasta.

Tudingan seperti itu awalnya terasa menyakitkan. Seperti tidak memberi kesempatan. Tetapi, setelah melihat Keke mulai santai, Chi juga jadi ikut tenang. Chi jadi berpikir, kalau seperti ini memang masalah empati. Seberapa besar empati kita untuk bisa memahami sudut pandang orang lain?

Tadinya Chi berharap dengan banyaknya keluhan akan banyak juga yang share tips. Apalagi buat mereka yang sudah terbiasa padam listrik. Tentunya akan lebih tau bagaimana menghadapi kondisi ini. Tetapi, ya sudahlah kalau memang banyak yang mengolok-olok meskipun gak semua seperti itu.

Chi malah cukup takjub dengan WAG. Biasanya suka ada aja tuh 1-2 group WA yang ngomonginnya politik melulu. Sampai jengah rasanya kalau udah timbul perbedaan pendapat. Tetapi, gara-gara pemadaman ini, malah banyak yang berbagi tips. Bagaimana menjaga ASIP supaya tetap bagus saat listrik padam, apa aja isi emergency bag, dan lain sebagainya.

Cukuplah buat Chi untuk berpikir bila memikirkan bencana atau musibah apapun, gak cukup sekadar menyiapkan emergency bag. Empati pun harus diasah.

Minimnya empati malah bisa menimbulkan berbagai masalah baru. Sekarang aja malah mulai timbul bentrokan pendapat sesama masyarakat. Padahal faedahnya apaan. *Netijeeeen .... Ada aja yang harus diramaikan. Hadeuuuuh!

Kelak kejadian ini akan jadi salah satu kenangan. Gak perlu menunggu bertahun-tahun. Setelah pasokan listrik lancar aja, kami sudah bisa bercerita pengalaman keliling sana/i untuk top up e-money dengan santai smabil tertawa kecil. Beberapa teman pun Chi lihat sudah bisa bercerita sambil tertawa. Padahal saat kejadian mah deg-degan dengan berbagai pengalaman yang berbeda-beda.

Tulisan ini juga bukan untuk menggurui. Sekadar reminder bagi diri sendiri untuk berusaha mengasah empati. Termasuk kewajiban mengajarkan tentang empati ini ke Keke dan Nai. Kalaupun masih sulit, setidaknya belajar untuk tutup mulut dan tahan jari-jari supaya tidak menyakiti perasaan siapapun yang sedang terkena cobaan.

Listrik padam, empati jangan ikut padam, lah.