Cara Mengajarkan Anak untuk Berbagi dan Jangan Takut Berkurban - Insya Allah, sebentar lagi umat Islam akan merayakan Idul Adha. Biasanya anak-anak usia balita hingga SD suka antusias nih menyambut Hari Raya Kurban ini. Anak-anak kan pada umumnya senang dengan binatang. Jadi seneng aja melihat kambing dan sapi di mana-mana.

Tetapi, apakah mereka juga sebetulnya senang berbagi? Mau gak ya mereka diajak untuk berkurban?


Cara Mengajarkan Anak untuk Berbagi dan Jangan Takut Berkurban

Idul Adha memang erat kaitannya dengan semangat berbagi untuk sesama. Bahkan lebih dari itu. Bagi Chi, Idul Adha juga mengajarkan umat Islam untuk taat dan ikhlas.

Chi selalu teringat dengan kisah Nabi Ibrahim yang diuji untuk menyembelih anaknya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Bagaimana sedihnya Nabi Ibrahim dengan perintah tersebut, mengingat Ismail adalah putra yang sudah dinantikan sekian lama.

Keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT yang membuat Nabi Ibrahim mau melakukannya. Ismail pun dengan sabar dan ikhlas menerima keputusan tersebut. Akhirnya, Allah SWT memberi ganjaran berupa domba besar sebagai penggantinya.


Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS. Ash-Shaffat[37]: 102)


5 Cara Mengajarkan Anak untuk Mau Berbagi


Berkurban memang erat kaitannya dengan berbagi. Tetapi, sebagai manusia kadang-kadang sulit untuk berbagi. Masih suka banyak itung-itungannya. Kadang-kadang juga suka kurang ikhlas saat berbagi.

Makanya, sebaiknya berbagi memang diajarkan sedini mungkin. Meskipun ada tantangannya sendiri. Biasanya anak kecil rasa memilikinya cukup besar. Tetapi, kalau tidak diajarkan sejak kecil malah nantinya semakin susah untuk mau belajar berbagi dengan sesama.


Orang Tua Memberi Contoh

Anak-anak adalah peniru yang ulung. Mereka ibarat spons yang masih memiliki daya serap kuat. Mereka akan banyak sekali mencontoh apa yang dilihat, terutama dari lingkungan sekitar.

Paling tepat bila orang tua memberikan contoh bagaimana berbagi yang baik. Bagaimana minta izin bila ingin meminta atau meminjam sesuatu. Begitupun saat menerima, biasakan bilang terima kasih.


Jangan Menghakimi

Usia anak-anak, terutama balita, rasa memilikinya sangat tinggi. Seringkali mereka tidak mau berbagi barang yang dimiliki meskipun sudah diminta dengan baik. Jangan langsung menghakimi dan bilang kalau itu artinya pelit. Memang lagi fasenya seperti itu.

Ingatkan dan bujuk saja dengan baik dan pelan-pelan. Bisa jadi gak akan langsung berhasil. Memang harus konsisten mengingatkan supaya mereka paham artinya berbagi.


Jangan Memaksa

Kurang lebih sama dengan menghakimi. Ketika anak masih juga gak mau berbagi, jangan lantas barangnya direbut atau memaksa untuk mau berbagi. Nanti malah anak semakin gak mau berbagi. Ada baiknya juga sesekali ditanya kenapa anak enggan berbagi. Siapa tau ada alasan lain. Mungkin aja anak gak mau berbagi karena tau bila dipinjamkan ke anak lain suka jadi rusak barangnya. Kan ini juga bikin anak jadi sedih.


Berbagi Itu Menyenangkan

Tunjukkan sisi yang menyenangkan dari berbagi. Misalnya, saat bermain bersama. Bila anak-anak mau saling berbagi mainan bisa bikin suasana bermain jadi semakin menyenangkan. Anak-anak pun jadi memiliki banyak teman.


Beri Pujian

Berbagi yang baik itu perbuatan mulia. Gak ada salahnya memberi anak pujian supaya semakin semangat untuk berbagi. Tentunya jelaskan juga kenapa mereka dipuji. Semakin besar usianya juga semakin dijelaskan lagi makna berbagi.


Jangan Takut Berkurban Dompet Dhuafa


Cara Mengajarkan Anak untuk Berbagi dan Jangan Takut Berkurban

Bila anak sudah mau berbagi, bisa nih mulai dikenalkan dengan yang namanya berkurban. Ya sebetulnya seperti cerita Chi di awal, anak-anak biasanya antusias saat Hari Raya Kurban karena bisa melihat kambing dan sapi di mana-mana. Bahkan waktu SD, Nai pernah bercerita tentang kisah keluarga kambing saat banyak binatang kurban di sekolahnya.

Anak-anak akan semakin senang kalau salah satu dari kambing atau sapi itu adalah milik mereka. Tetapi, mungkin gak mereka kemudian menangis saat binatangnya disembelih? Ya mungkin banget. Bisa jadi mereka sedih melihat binatang miliknya mati. Bisa juga karena gak rela. Ya itulah kenapa penting menjelaskan kepada anak tentang konsep berbagi. Khususnya pada saat Idul Adha.

Bagaimana suasana Idul Adha di tempat teman-teman? Kalau di sini, biasanya aroma sate kambing menyeruak di mana-mana setelah selesai berkurban. Alhamdulillah, ada aja masyarakat yang diberi kemudahan rezeki dan keikhlasan untuk berkurban.

Tetapi, seringkali juga Chi suka kepikiran dengan daerah lain. Ya, memang suka ada kejadian di mana di satu daerah terjadi penumpukan stok daging kurban. Sedangkan di daerah lain malah sebaliknya. Pengen banget bisa berbagi dengan masyarakat di daerah lain yang kekurangan stok daging kurban.


Sejak tahun 1994, Dompet Dhuafa telah menghadirkan program Tebar Hewan Kurban yang menyebarkan hewan kurban ke berbagai wilayah Indonesia. Tidak hanya dirasakan oleh masyarakat perkotaan, tetapi program ini juga tersebar ke seluruh pelosok desa terpencil.


Dompet Dhuafa memang lembaga filantropi Islam yang bisa dipercaya. Bicara tentang kurban, layanan kurban Dompet Dhuafa pun sudah berjalan lama. Bila kita ikut program Tebar Hewan Kurban, akan ada 5 manfaat yang bisa dirasakan (silakan lihat gambar di atas).

Melihat manfaatnya, udah gak perlu ragu lagi, ya. Pokoknya #JanganTakutBerkurban. Ajarkan juga anak-anak untuk paham makna Idul Adha. Semoga kita semua diberi kemudahan rezeki untuk berkurban. Aamiin.