Bolehkah Usia Anak Masuk SD di Bawah 7 Tahun? - Salah satu bahasan bahkan yang sering terjadi pro-kontra para netizen adalah tentang usia ideal masuk SD. Banyak teori mengatakan kalau usia ideal masuk SD adalah 7 tahun. Tetapi, bolehkah usia anak masuk SD di bawah 7 tahun?

Secara pribadi, Chi akan mengatakan boleh-boleh aja. Eits! Jangan langsung didebat. Chi akan menjelaskan alasannya di postingan ini.

usia iseal anak masuk sd, usia di bawah 7 tahun masuk sd

Kalau teman-teman googling tentang usia ideal masuk SD, akan banyak deh menemukan pendapat para ahli yang mengatakan usia ideal adalah 7 tahun. Pertama, Chi gak akan berdebat tentang sama pendapat tersebut karena bukan ahlinya. Kedua, Chi juga sebetulnya setuju dengan pendapat-pendapat tersebut.


Kalaupun menulis artikel ini, tujuannya bukan untuk mematahkan pendapat ahli apalagi berdebat. Chi menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Keke dan Nai masuk Sekolah Dasar di bawah 7 tahun. Dan, sekarang mereka sudah SMP. Keke bahkan sudah mau SMA tahun ajaran ini.

Chi rasa, banyak juga orang tua yang saat ini anaknya sudah lulus SD padahal usianya belum 7 tahun. Kemudian bingung, mau manjangin belajar di TK atau masuk SD meskipun usianya masih 6 tahun sekian bulan?


Masuk TK Usia 4 Tahun


Keke masuk TK di usia 4 tahun 4 bulan. Sedangkan Nai masuk TK di usia 4 tahun 2 bulan. Kalau masa sekolah TK itu 2 tahun, berarti mereka lulus saat usia baru 6 tahun. Masih agak jauh ke angka 7, bahkan usia 6,5 tahun aja belum.

Saat anak-anak masih kecil, Chi masih jarang banget internetan. Jadi gak pernah tuh baca pro-kontra tentang usia masuk SD yang tepat. Malah Chi dan K'Aie juga bingung usia yang tepat masuk TK tuh kapan. Kami bingung antara 4 atau 5 tahun. Meskipun sudah ada bayangan mau sekolah yang seperti apa.

Waktu itu, ada PAUD yang baru dibuka di dekat rumah. Sebetulnya, Chi gak pernah tertarik ikutan PAUD. Tetapi, saat iseng tanya-tanya, pembayaran di sana tuh unik. Bayar SPPnya harian. Kalau masuk bayar, gak masuk ya gak bayar. Udah gitu gak mahal pula bayarnya.

Karena bayarnya harian, Chi coba deh daftar. Apalagi masuk sekolahnya sore. Pas banget dengan jam main anak-anak. Waktu mereka kecil kan cuma boleh ke luar rumah sore hari. Tentunya ditemenin ma Chi. Gak dibiarin main sendiri.

Chi pikir, anggap aja Keke punya tempat bermain baru, tetapi harus bayar. Kalau lagi mau, gak usah masuk. Gimana maunya dia aja.

Awalnya dia betah karena gurunya baik banget. Mau dekat dengan semua anak. Tapi, gak lama karena gurunya itu pindah ke Ciamis. Berganti guru baru yang lebih muda. Sayangnya guru yang baru ini hanya mau dekat ke anak-anak mudah akrab. Buat Keke yang karakternya saat itu gak mudah akrab sama orang, jarang banget disapa. Dia jadi lebih sering main sendiri.

Lucunya lagi, guru ini suka salah atau gak hapal saat ngajak nyanyi lagu anak-anak. Jadinya sering dikritik sama beberapa asisten rumah tangga yang juga ikut menemani anak-anak di kelas. Ya kan orang tua atau asisten rumah tangga boleh ikut masuk kelas. Karena mulai kelihatan gak bagus, Chi pun memilih keluar. Keke bermain seperti sebelumnya aja. Lari-larian di taman dekat rumah.

Karena pernah ikut PAUD, beberapa bulan kemudian Chi aja K'Aie untuk survey ke beberapa TK yang dekat sekolah. Keke tentu aja diajak supaya kami bisa melihat ekspresinya. Dia juga bisa menilai sendiri seperti apa sekolahnya. Sempat ikut juga trial di beberapa sekolah.

Setelah mencari, akhirnya dapat deh sekolah pilihan. Di sana kebanyakan anak usia 4 tahun yang masuk TK. Keke sempat masuk PAUD dulu beberapa bulan karena katanya waiting list di TK. Tetapi, bila lulusan dari sekolah yang sama bisa diutamakan.

[Silakan baca: Pilih Sekolah Swasta atau Negeri?]


Memilih SD yang Tepat untuk Anak Usia di Bawah 7 Tahun


Sepertinya memang waktu Keke baru mau lulus TK. bahasan tentang usia ideal mausk SD belum ramai. Bahkan masuk SDN dimulai 7 tahun baru sebatas wacana. Chi jadi ingat waktu itu owner sekolah mengabarkan di acara pertemuan sekolah dan orang tua murid mengenai wacana Diknas tentang aturan usia minimal 7 tahun bagi yang ingin melanjutkan ke sekolah negeri.

Memang saat itu masih berupa wacana. Tetapi, owner sekolah merasa perlu menyampaikan hal tersebut supaya para orang tua jangan kaget bila anaknya lulus TK ternyata gak diterima di SD Negeri karena peraturan sudah diberlakukan. Mungkin mulai mempertimbangkan masuk sekolah swasta.

Chi coba menyampaikan tentang wacana tersebut di salah satu group Yahoo. Group yang banyak membahas tentang pendidikan. Eh, malah dianggap menyebarkan hoax! Ya memang Chi juga gak bisa membuktikan karena baru sekadar wacana. Padahal dari awal pun Chi udah bilang kalau itu wacana. Ya sudahlah, terima aja dituduh begitu. ๐Ÿ˜“

Meskipun sudah ada wacana, Chi tetap cari sekolah negeri dulu. Kebetulan ada yang dekat rumah. Tetapi, kondisi bangunannya menyedihkan. Chi gak tega masukin anak-anak ke sana. Sekolah swasta pun menjadi pilihan. Tentu aja disesuaikan dengan ekonomi kami.


Sekolah yang Memiliki Halaman dan Tempat Bermain Seperti TK

Banyak SD swasta yang bagus di dekat rumah. Semuanya punya keunggulan fasilitas masing-masing. Tetapi, yang bikin Chi langsung suka dengan SD anak-anak dulu adalah masih memiliki beberapa halaman terbuka yang luas. Salah satunya ada tempat bermain seperti perosotan, jungkat-jungkit, ayunan, dan lain sebagainya.

Buat Chi, ini penting banget. Dari TK ke SD itu ada masa transisi. Memang betul, kalau pelajaran SD semakin susah. Tetapi, jangan sampai mereka berhenti bermain. Terutama untuk anak-anak kelas bawah (kelas 1 s/d 3). Makanya seneng banget ketika masih ada tempat bermain seperti itu di sekolah anak-anak. Ketika udah gedean dikit, tempat bermainnya biasanya pindah ke lapangan basket dan futsal.


Ramah Anak

Setiap sekolah, terutama swasta, biasanya punya kurikulum masing-masing. Chi lupa dulu sekolah anak-anak pakai kurikulum apa. Pokoknya seluruh buku pelajarannya pakai bahasa Inggris terbitan Singapore. Cuma pelajaran bahasa Indonesia dan PPKn aja kayaknya yang tetap bahasa Indonesia. Mengajarnya pun bilingual. Tetapi, apapun kurikulum yang ditawarkan oleh sekolah swasta, yang selalu Chi tanyakan adalah sekolahnya ada PR atau enggak.

Jam belajar sekolah swasta lebih lama dari sekolah negeri. Makanya Chi gak mau dong mereka pulang sekolah masih bawa PR. Hampir semuanya bilang gak ada PR. Kalau di sekolah anak-anak, PR tetap ada. Tetapi, biasanya itu tugas sekolah yang gak selesai. Jadinya dibawa pulang. Keke dan Nai biasanya sering selesai, makanya jarang ada PR. Paling belajar sendiri aja setelah maghrib.

Agak susah sebetulnya untuk menilai apakah sekolah tersebut ramah anak atau enggak. Udah ikut trial pun gak menjadi jaminan kalau kegiatan sekolahnya memang bener-bener seperti itu. Tapi, setidaknya udah ada sedikit gambaran seperti apa kalau anak sekolah di sana. Bisa tanya-tanya juga ke keluarga atau teman yang anaknya sekolah duluan di sana bila ada. Selebihnya ya mengandalkan feeling.

Alhamdulillah feeling kami menyekolahkan anak-anak di sana tepat. Mulai dari lingkungan sekolah, kegiatan belajar dan mengajar, serta seluruh staff di sana termasuk para guru, semuanya ramah. Keke dan Nai seneng banget sekolah di sana. Chi pun begitu. Rasanya gak pernah was-was selama mereka sekolah di sana. Makanya gak heran ketika anak-anak lulus, Chi sampai mewek. Sedih banget berpisah dengan sekolah seramah itu.


Sekolah yang ramah juga bisa berimbas ke kegiatan belajar dan mengajar. Kurikulum saat ini sudah jauh berbeda dengan zaman Chi sekolah dulu. Udah gak ada lagi pelajaran "Ini Budi". Kelas 1 aja udah seperti dituntut harus bisa membaca, menulis, dan berhitung. Salutnya dengan para pengajar di sana, mereka mampu meracik kurikulum apapun dengan cara yang menyenangkan. Anak-anak jadi tidak terbebani pada saat belajar.


Rasio Murid dan Guru

Ketika owner sekolah TK Keke dan Nai bilang tentang wacana SD minimal 7 tahun, salah satu alasannya adalah kemandirian. Di SD Negeri kan 1 kelas jumlah muridnya banyak. Sedangkan gurunya cuma 1. 7 tahun dianggap sudah mandiri karena nanti ketika sudah masuk sekolah diharapkan fokus dengan pelajaran. Wali kelas tidak lagi mengurus berbagai hal lain.

Berbeda dengan swasta. Setidaknya dengan SD Keke dan Nai aja udah beda banget. Rasio di sekolah mereka itu 2:24 untuk anak kelas 1 dan 2. Artinya satu kelas hanya diisi maksimal 24 anak (pengalaman kami, rata-rata sekelas paling 20 siswa), tetapi gurunya ada 2. Bandingkan dengan sekolah negeri yang mungkin bisa sampai 40 anak per kelas dengan guru hanya 1.

Jumlah murid yang sedikit per kelasnya memungkinkan para guru dan murid lebih bisa berkonsentrasi. Kalaupun di kelas bawah dibutuhkan 2 guru per kelas karena usia di bawah 7 tahun kemungkinan masih ada yang belum mandiri.

Ketika ada anak yang mau ke toilet, salah seorang guru mendampingi. Hingga guru tersebut yakin muridnya sudah mandiri, baru dibolehkan ke toilet sendiri. Ketika ada murid yang masih suka mondar-mandir di kelas, salah satu guru yang akan menangani. Dengan kata lain, saling kerjasama dalam kegiatan belajar dan mengajar.

Kemandirian pada anak tidak datang tiba-tiba. Usia 7 tahun dianggap ideal bukan berarti otomatis anak akan langsung mandiri di usia tersebut. Ada anak yang di bawah 7 tahun sudah mandiri. Tetapi, ada juga yang sudah lebih dari usia tersebut masih belum mandiri.

[Silakan baca: Full Day School Boleh Saja, Asalkan ...]

Bila ingin anak masuk SD di usia 7 tahun, maka tanggung jawab orang tua untuk mengajarkan kemandirian di rumah. Kalau sehari-hari anak diasuh oleh nenek, baby sitter, atau asisten rumah tangga, maka bekerjasamalah dengan mereka untuk pola asuhnya. Pastikan ketika masuk sekolah, anak sudah mandiri. Jangan mengharapkan hasil sim salabim. Begitu 7 tahun sudah langsung mandiri dengan sendirinya.

So, menurut Chi 3 hal tadi penting banget untuk dipertimbangkan ketika memilih SD. Apalagi bila usia anak masih di bawah 7 tahun. Semakin muda usia anak, semakin banyak yang harus dipertimbangkan. Kesiapan anak untuk sekolah jugan jangan diabaikan.

Tentunya ini kembali kepada pertimbangan masing-masing. Menurut Chi, di bawah 7 tahun masih oke untuk masuk SD dengan syarat tertentu. Tetapi, bila ada yang tetap ingin usia 7 tahun baru masuk SD ya silakan aja. Jangan saling menjelekkan apalagi menyalahkan pilihan orang lain. Chi juga memang gak mau larut berpro-kontra untuk usia ideal anak masuk SD sejak dulu. Chi anggap setiap orang tua tau apa yang terbaik untuk anaknya.

Kalau pengalaman Chi pribadi, Keke dan Nai baik-baik aja. Mereka mandiri dan bisa mengikuti pelajaran. Nilai raport juga selalu baik. Mereka juga lulus SD dengan NEM yang baik dan bisa diterima di SMPN pilihan.

[Silakan baca: Tanpa Ikut Bimbel, Nilai UN Bisa Tetap Bagus? Bisa!]

Saat masuk sekolah negeri, usia siswanya lebih beragam. Biasanya lulusan swasta lebih muda. Mereka tetap bisa bergaul dengan siapapun. Alhamdulillah, tahun ini, Keke lulus dengan NEM yang baik. Diterima juga di SMAN pilihan.

K'Aie malah saat masih sekolah pernah ikut akselerasi. Makanya sejak SMA, dia sering jadi yang paling muda. Alhamdulillah sampai saat ini pun berjalan baik-baik saja. Meskipun sering jadi yang paling muda juga tetap bisa berbaur dengan teman-temannya.

[Silakan baca: Nilai Raport Tetap Bagus Walaupun Tidak Belajar Saat UAS]

Perhatikan juga ketentuan dari setiap sekolah maupun pemerintah. Meskipun sekolah Keke dan Nai dulu menerima anak di bawah usia 7 tahun, tetapi kalau di bawa 5,8 tahun sudah ingin masuk SD ada syarat tambahannya. Harus membawa surat rekomendasi dari psikolog yang menyatakan anak sudah siap masuk SD.



Permendikbud tentang penerimaan siswa TK, SD, SMP, SMA, dan SMK pun ada yang baru. Permendikbud no 52 tahun 2018, memungkinkan anak berusia di bawah 7 tahun untuk masuk SD (lihat screenshot di atas).

Awalnya, Chi sempat bingung membaca permendikbud tersebut. Setelah tanya sana-sini, rupanya anak usia 7 tahun sudah masuk usia wajib sekolah. Makanya sekolah pun wajib menerima anak di usia tersebut. Bila berencana masuk SD di bawah 7 tahun, bisa lihat di poin berikutnya.

Sebaiknya jangan terlalu dini juga memasukkan anak ke SD. Di bawah 6 tahun pun memang bisa dengan rekomendasi psikolog profesional, tetapi Chi pernah baca kalau terlalu dini anak bisa tidak terdata di Dapodik (Data Pokok Pendidikan).

Sampai tulisan ini dipublish, Chi masih belum mendapatkan info detil tentang syarat minimum anak sekolah masuk Dapodik. Malah nemunya artikel tentang rencana pemerintah menghapus NISN karena cukup dengan NIK. Ya pokoknya apapun itu, kalau memang terlalu dini, mendingan konsultasi dulu sama berbagai pihak. Jangan sekadar melihat anaknya mampu atau tidak.

Selamat menimbang-nimbang sekolah, ya. Apapun keputusannya, semoga yang terbaik untuk anak-anak. Aamiin Allahumma aamiin.

(Update Juli 2021: Sejak UN ditiadakan, peraturan PPDB berubah banget. Usia jadi faktor penentu. Semakin tua, semakin diuntungkan. Tapi, ya, peraturan PPDB di negara kita masih suka berubah-ubah. Mungkin tahun-tahun berikutnya bisa ganti lagi.)