kesasar, pasar
Nyasar di Pasar


Nyasar di Pasar - Teman-teman suka ke pasar tradisional? Kalau Chi antara suka dan enggak. Gak sukanya karena suka malas jalannya. Ke pasar berarti mengambil jatah tidur Chi ๐Ÿ˜‚ Biasa deh kalau anak-anak udah mulai berangkat sekolah, Chi lanjut tidur. Kalau gak gitu, gak bakal bisa tidur lagi. Apalagi kalau anak-anak udah pulang sekolah. Seringnya tambah gak bisa tidur.

Kalau harus ke pasar, jam tidurnya jadi kepotong hehehe. Sebetulnya ada tukang sayur keliling, tapi jualannya kan gak komplit. Memang enak langsung belanja di pasar aja kalau jumlahnya banyak. Lebih irit juga. *Chi paling ke pasar 2-3 hari sekali.

[Silakan baca: Antara Pasar Tradisional dan Pasar Modern]

Untuk pemilihan waktu, lebih suka rada siangan karena gak antre. Kalau pagi, cari parkir aja udah rada susah. Trus di pasarnya suka antre karena banyak pembeli. Apalagi kalau pembelinya udah ngobrol dulu ma penjual hehehe. Kalau berangkat udah siang kan enak bisa langsung dilayani.

Tapi kadang memang suka ada serunya sih kalau pasar lagi rame. Suka rupa-rupa kelakuan pelanggan pasar hehehe. Apalagi yang namanya pasar tradisional kan suka ada aja ibu-ibu yang saling ngobrol, bikin belanjanya jadi makin lama ๐Ÿ˜‚

Walaupun agak siang (biasanya sekitar pukul 10 atau 11) tetap masih segar lah sayur-mayur yang ada di sana. Kalau untuk lauknya, Chi memang dari dulu jarang beli di pasar. Paling di pasar Chi beli lauk seperti ikan mas atau lele, telur, atau ikan asin. Selebihnya mulai dari ayam hingga daging selalu beli di supermarket. Pernahlah sesekali beli ayam di pasar meskipun jarang. Tapi kalau daging belum pernah sama sekali, selalu di supermarket.
 
Tumben Chi cerita tentang pasar?



Iya karena pas lagi buka HP ada foto pasar dekat rumah. Kalau di rumah, pasar tradisional tapi udah agak modern. Lumayan bersih pasarnya dan cukup komplit meskipun gak terlalu besar. Chi juga suka belanja di sana karena semua penjual kasih harga jual yang sama. Tinggal kitanya aja lebih suka belanja di mana. Kalau Chi ada 1 lapak penjual sayur favorit tapi biasanya gak belanja semuanya ke sana. Ada kalanya 1-2 item, Chi beli di penjual lain.

[Silakan baca: Pasar Mini - Manfaat yang Didapat]

Tentang harga, Chi pikir tadinya semua pasar tradisional begitu. Tapi sepertinya enggak. Ketika belanja di pasar tradisional dekat rumah mertua, tiap lapak bisa beda-beda harga jualnya. Bahkan bisa beda lumayan jauh *Pernah sebel aja gitu begitu tau harga 1 ons cabe rawit hijau antara lapak yang satu dnegan yang lain beda lumayan jauh dan Chi udah terlanjur beli dengan harga lebih mahal ๐Ÿ˜•* Makanya kalau belanja di pasar tradisional dekat rumah mertua, harus hapal lapak penjual yang bisa kasih harga murah.

Tapi memang PR buat Chi kalau udah belanja di pasar tradisional dekat rumah mertua. Selain harus hapal lapak favorit juga harus hapal jalan masuk. Jadi pasarnya masih model tradisional gitu yang biasanya para penjual sayur dan daging terletak di basement.

Kalau di basement gitu gak hanya kotor tetapi juga agak gelap. Udah gitu tekak-tekuk. Lapaknya kayak kios-kios gitu. Nah, tekak-tekuknya ini yang bikin bingung. Lupa di mana pintu keluar hahaha. Beneran gak lucu kalau nyasar di pasar hehehe. Kalau pasar dekat rumah kan udah kayak aula besar. Lapak-lapaknya terbuka jadi kelihatan lah dari ujung ke ujung.

Pernah ada satu kejadian, Chi salah keluar. Malah ada di sisi lain pasar. Sempat bingung sesaat tapi tetap bisa pulang, sih. Cuma jadi lebih jauh aja. Kan cape jadinya ๐Ÿ˜…

Teman-teman punya cerita seru apa tentang belanja di pasar tradisional?