Selasa, 26 Desember 2017

Menjadi Pribadi yang Apa Adanya

Sumber foto: Pixabay

Dulu, selama bertahun-tahun, Chi sempat sebal dengan yang namanya jaga image. Kalau zaman sekarang mungkin banyak orang menyebutnya sebagai pencitraan. Di mata Chi, orang tua (terlalu) sering mengingatkan tentang jaga image.

Tertawa ngakak sedikit, langsung ditegur supaya jaga image. Padahal kan tertawa lepas itu nikmat. Terlihat sedih di depan umum juga ditegur. Chi juga kerap ditegur karena jalannya gak rapi. Yaaa ... Anak tomboi begini gimana bisa disuruh bergaya feminin seperti perempuan, termasuk gaya jalannya hihihi.

Sekarang Chi merasakan manfaatnya. Apalagi bila bersosialisasi di media sosial. Tempat di mana setiap hari atau bahkan dalam hitungan menit selalu aja ada kehebohan. Tidak jarang pula viral. Kalau gak kontrol, bisa-bisa kebawa arus.

Sekitar 5 tahun lalu, Chi pernah merasakan kebawa arus sosial media. Alhamdulillah, seingat Chi belum pernah sampai menulis atau berkomentar dengan bahasa yang kasar. Tetapi setiap kali ada perbedaan pendapat, rasanya 'gatal' kalau gak ngeladenin.

Lama-kelamaan merasa lelah juga. Meskipun gak sampai saling memaki tetapi terus berusaha mempertahankan pendapat tetap bikin lelah. Padahal kan bisa aja Chi tinggalkan segala perbedaan itu. Lagipula gak akan juga membawa pengaruh yang bagaimana kalau sekadar berbeda [endapat dengan orang-orang yang hanya dikenal lewat media sosial.

Kesedihan lainnya adalah tentang mudahnya menyambung dan memutuskan silaturahmi saat berpendapat. Chi pernah mendapatkan banyak teman yang sependapat. Tapi dalam waktu tertentu, beberapa teman yang tadinya sependapat pun memutuskan silaturahmi hanya karena berbeda pendapat dalam hal lain. Chi jaid mikir, gimana kalau untuk hal lain lagi kemudian kami sependapat?
"Keep your friend close and your enemies closer." - Sun Tzu, The Art of War
Sun Tzu adalah seorang ahli militer dan stratedi asal China yang sangat terkenal. Bukunya yang berjudul 'The Art of War' sudah sangat mendunia. 'Seni perangnya' ini tidak hanya digunakan di dunia militer tetapi juga untuk berbisnis.

"Keep your friend close and your enemies closer" adalah salah satu strategi Sun Tzu. Kalau dalam dunia pertemanan dan keluarga, strategi ini pasti gak cocok banget, lah. Masa gak boleh tulus dalam berteman. Dan masa kita harus selalu curiga dengan orang yang dekat. Tapi dalam dunia politik atau bisnis, strategi itu bisa aja dipraktekkan. Makanya suka ada aja yang bilang kalau masyarakat awam ketika berbeda pendapat khususnya dalam politik bisa berantem sampai memutuskan tali silaturahmi. Padahal politikus sendiri mungkin sedang makan bersama sambil tertawa meskipun berbeda pandangan.

Eh iya, Chi kan sebetulnya sendang ingin menulis tentang menjadi pribadi yang apa adanya, ya? Trus malah kenapa jadi bahas hubungan silaturahmi ketika berbeda pendapat? Hehehe. Tapi sebetulnya ada hubungannya juga, sih terutama kalau dikaitkan dengan yang namanya pencitraan.

Chi merasa sekarang pengertian itu jadi agak bergeser aja. Pencitraan seperti dianggap sesuatu yang salah. Orang yang melakukan pencitraan seperti dianggap sebagai seseorang yang 'palsu' karena selalu menampilkan yang baik seolah-olah tidak memiliki masalah. Padahal hidup tanpa masalah adalah sesuatu yang tidak mungkin.

Kebalikan dari pencitraan adalah apa adanya. Beberapa kali Chi perhatiin menjadi apa adanya dibandingkan dengan pencitraan. Singkatnya menjadi orang yang apa adanya lebih baik daripada pencitraan. Pernah Chi mengingatkan seseorang untuk jangan menulis status menggunakan capslock semua. Terkesan marah-marah. Tapi pendapat Chi itu malah dibalas dengan omelan. Katanya Chi gak paham dengan kebebasan berpendapat. Suka-suka dia mau nulis apapun. Lagipula dirinya merasa orang yang apa adanya. *Hmmm ... 😏

Melakukan pencitraan gak selalu berarti jelek, kok. Chi sendiri lebih suka dicitrakan sebagai orang baik. Kalaupun tetap ada yang berprasangka jelek, paling Chi introspeksi. Kita memang gak bisa mengatur penilaian orang terhadap diri kita. Tapi setidaknya kita bisa berusaha yang terbaik.

Kalaupun Chi sering menampilkan hal baik seolah-olah tanpa masalah, bukan karena 'palsu'. Smeua yang diceritakan adalah apa yang dialami dan dirasakan. Bukan berarti pula gak pernah mengalami masalah. Tapi yang namanya masalah sebaiknya disimpan rapat-rapat. Kalaupun diceritakan ke media sosial biasanya setelah masalahnya sudah selesai. Itupun dengan pertimbangan yang panjang tentang kepantasan menceritakan masalah tersebut dan apakah ada pihak-pihak yang tersinggung atau tidak. Sesuatu yang menurut kita sepele belum tentu bagi orang lain.

Menjadi apa adanya juga gak selalu berarti bagus. Lihat sudut pandangnya juga. Ada yang merasa menjadi (terlalu) blak-blakan adalah sesuatu yang bagus. Lebih baik menyindir hingga memaki seseorang daripada bermanis-manis dengan seseorang yang kita gak suka. Padahal ya kalau kita memang gak suka, gak perlu juga disindir atau dimaki-maki tapi gak perlu bermanis-manis juga. Ada kalanya mengabaikan menjadi lebih nyaman buat semuanya. Di FB, setiap saat ditanya 'What's on your mind?' Janganlah ditelan mentah-mentah dengan mengartikan bahwa kita bebas menuangkan segala hal yang dipikirkan tanpa filter.

Tulisan ini sebetulnya semacam reminder juga. Chi seringkali mengingatkan Keke dan Nai supaya berhati-hati di media sosial. Apalagi mereka kan masih muda. Seringkali darah muda masih bergejolak. Seringkali pula kejadian yang viral di media sosial diawali dengan emosi. Menulis status dengan emosi yang tinggi, akhirnya viral deh. Padahal yang melakukan itu juga gak selalu dari netizen yang berusia muda, lho.

Beberapa waktu lalu, Keke kesenengan kalau akun IGnya difollow sama selebgram idolanya. Chi gak bertanya kenapa bisa follow Keke. Apa karena Keke sering komen atau karena hal lain? Chi gak bertanya sama sekali. Chi pun gak bilang kalau bisa jadi seleb tersebut sekadar follow kemudian unfollow setelah Keke balik folback. Buat Chi gak semua instagramers seperti itu termasuk yang seleb. Kalau Chi ngomong gitu sama aja menghentikan kebahagiannya. Lagipula jauh sebelum itu, Keke sudah follow duluan si seleb ini.

Jadi Chi paling cuma nasehatin supaya semakin dewasa berinteraksi di media sosial. Seringkali kita gak pernah tau siapa yang memperhatikan diri kita di dunia maya. Gak masalah melakukan pencitraan selama yang ditampilkan bukanlah hal yang dibuat-buat. Dan menjadi pribadi apa adanya juga harus tetapi bukan berarti kebablasan dengan alasan 'saya kan memang apa adanya, gak ada yang ditutupi.'

Selain itu, Keke juga mulai kritis dengan berbagai hal yang terjadi di dunia maya, termasuk tentang politik. Kadang dia suka ikutan komen ini-itu kalau lagi ngobrol ma teman-temannya. Mendukung sosok ini dan itu. Tentu aja Chi gak akan melarang Keke dan Nai untuk berpendapat.  Sebagai masyarakat awam pun harus belajar melek politik dan jangan terlalu naif. Tapi ya jangan sampai jadi ribut juga. Itulah yang sering Chi ingatkan ke anak-anak terutama ke Keke yang saat ini mulai berpendapat.

Yang juga harus dipahami anak-anak adalah berkomunikasi di dunia tulisan lebih rawan salah paham daripada komunikasi langsung. Seperti contoh di atas di mana Chi menyarankan untuk jangan pakai capslock semua. Padahal belum tentu yang menulis sedang marah.

Chi juga pernah ribut ma seorang teman lama di salah satu group socmed sampai banyak yang melerai. Saat itu rasanya sangat kesal sampai Chi gak pengen kenal lagi ma dia. Tapi begitu ketemuan, kami malah cekikikan dan menertawakan kekonyolan kami.

Di lingkungan keluarga pun begitu. Sampai akhirnya ada solusi untuk mengurangi bahasan sensitif di dunia maya. Memang berasa sih perbedaannya. Kalau ngobrol langsung, apapun bahasannya suasana bisa lebih cair. Mungkin karena kita bisa lihat mimik lawan bicara. Ngobrolnya pun sambil ngemil dan ngopi atau ngeteh bareng, kan.

Semoga Keke dan Nai terus belajar bagaimana menjadi netizen yang baik. Chi maupun K'Aie juga akan terus belajar. Apalagi dunia internet selalu berkembang. Menghindari juga sepertinya sulit.

21 komentar:

  1. Dunia makin berkembang, challenge nya juga berbeda. Semoga aja dengan bekal ilmu yang diberikan chi, anak-anak bisa lebih bijak bergaul maupun bersosmed yaa :)

    Cheers,
    Dee - heydeerahma.com

    BalasHapus
  2. Saya juga deg-degan nih seiring Rumi makin gede mungkin bakal minta HP atau semacamnya. Terima kasih tips-nya, Chi.

    BalasHapus
  3. Yap betul mba anak2 harus dikontrol untuk memegang hape, ponakanmu sering ga ke kontrol nih sering liat postingan yg memprovokasi 😥

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau begitu harus sering dikasih tau, Mbak :)

      Hapus
  4. Anak anak ya, tetap harus dikontrol pegang hape atau bersos med ya

    BalasHapus
  5. Berbeda pendapat itu wajar saja sih, tapi kalau temen deket sampai memutuskan silaturahmi,, hmm susah juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, kalau keluarga dan teman dekat justru saling mengerti. Yang sering terjadi di saya justru pertemanan di socmed. :)

      Hapus
  6. Mungkin krn aku ga suka ribut, jd semua perdebatan di medsos biasanya aku hindari. Ga mau terlibat, dan kdg juga males aku baca. Drpd kebawa panas, trs hubungan ama si teman jd jelek, mndinga ga tau jadinya :) . Tp kalo udh kelewatan, mau ga mau, orangnya lgs aku unfriend ato block mba. Demi ketentraman sosmed saat dibuka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga sebisa mungkin menghindari ribut. Sama, lebih baik saya unfollow atau block

      Hapus
  7. Menjadi pribadi yang baik, memang perlu terus-menerus dibangun, pada diri ortu maupun pada anak. Tentu saja ini bukan soal jaga image atau pencitraan, tapi pembangunan karakter yang tentu saja sangat bermanfaat, apalagi di era media sosial yang luar biasa ini ya, Mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, Mas. Harus terus dibangun sejak kecil

      Hapus
  8. Ada kalanya saya butuh pencitraan,tapi di lain waktu masa bodoh dengan pencitraan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, sih tapi setidaknya jangan sampai menjatuhkan diri sendiri.

      Hapus
  9. yes setuju mba Myr, pencitraan asal sesuai batas malah penting menurut aku, karena gak ada ruginya toh menjaga perasaan orang lain dan berusaha tampil baik?. Yes, semoga kita semua makin bijak bersosmed ya aminn..

    BalasHapus
  10. Aku pun kalau bersosial media berusaha menekan keinginan untuk berkomentar kontra atau kalau tidak sependapat mending ditinggalkan saja. Jaga image lah walaupun sebenernya pengen nimbrung berkomentar, karena yang baca bukan cuma yang kita komentarin, jadi kemungkinan orang lain tersinggung juga besar.

    BalasHapus
  11. Seiring waktu yg saya rasakan adalah semakin dewasa dan bijak dalam bersosialisasi di mana pun. Emang semua itu berproses ya, mba.

    Kalo medsos, saya udah ngurangi banget interaksi di dunia maya. Ga kuat saya mba sama aura negatif yg dikit2 nyinyir. Mending saya yg menjauh sendiri.

    BalasHapus

Terima kasih banyak sudah berkenan berkomentar di postingan ini. Mulai saat ini, setiap komen yang masuk, dimoderasi dulu :)

Plisss, jangan taro link hidup di kolom postingan, ya. Akan langsung saya delete komennya kalau taruh link hidup. Terima kasih untuk pengertiannya ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...