Seperti apa, sih, kriteria ibu sejati? Biasanya pertanyaan seperti ini akan memicu mom's war tiada ujung. Dari zaman rikiplik hingga sekarang udah zaman gadget, perdebatan ini masih aja ada. Mungkin sampe banyak orang udah bisa wisata ke bulan pun bisa jadi masih ada. Dan, akan semakin ramai kalau menjelang hari ibu hahaha!

Ibu sejati itu (katanya) yang melahirkan secara normal. Hmmm ... berarti Chi bukan ibu sejati. Dua kali melahirkan dan keduanya caesar. *Okeh, melipir cantik, memilih melihat senyum anak-anak :)

Ibu sejati itu (katanya) yang memberikan ASI Eksklusif lalu lanjut menyusui hingga paling tidak si anak berusia 2 tahun. *Yeay! Berarti Chi termasuk ibu sejati.*

Lha tapi yang bener gimana, nih? Kan, Chi gak melahirkan secara normal, tapi memberi ASI hingga berusia 2 tahun (malah lebih). Jadi, Chi termasuk ibu sejati atau bukan? Yang pasti Chi gak akan menjawab. Karena Chi bukan termasuk yang suka mengkotak-kotakkan seperti itu. Jadi silakan bertanya kepada yang suka mengkotak-kotakkan. Kalau Chi terserah, lah, orang mau bilang apa. Buat Chi cukup lihat anak-anak aja. Selama mereka masih nyariin bundanya berarti Chi masih dibutuhkan oleh mereka :D

Etapi, pas hari ibu yang baru saja lewat ada 1 lagi yang rame. Tentang tweet dari salah seorang public figure yang mempertanyakan peran ibu. Menyinggung peran ibu yang hanya bisa 3 jam bertemu anak-anaknya dalam sehari. Apakah yang seperti itu masih bisa dianggap ibu atau lebih cocok dianggap karyawan? :D

Chi gak akan kasih tau siapa public figure ini. Tapi, Chi rasa udah banyak yang tau karena screenshotnya viral sekali hehehe. Kenapa Chi gak mau kasih tau orangnya karena kabarnya itu status dibuat 2-3 tahun lalu. Saat ini Chi gak tau persis apa orang tersebut masih berpendapat yang sama atau tidak. Chi gak follow satupun akun socmednya.

Pesan moralnya yang Chi bisa dapat adalah hati-hati ketika membuat status. Sekali ada orang yang screenshot statusmu kemudian menjadi viral, bisa jadi hingga beberapa tahun ke depan statusmu akan tetap beredar. Walaupun mungkin yang membuat status itu sudah berubah sikap atau jalan pikirannya. Ibaratnya seperti masakan yang dihangatkan terus-menerus walaopun rasanya udah gak nikmat.

Oke, balik lagi ke status tersebut. Teteuupp ... ya, Chi gak mau menyebutkan nama orangnya. Tapi, Chi tergelitik untuk memberikan pendapat pribadi tentang status tersebut. Dan, masih berhubungan juga dengan mengkotak-kotakkan kriteria ibu sejati.

Ada seorang ibu yang setiap pagi sebelum pukul 6 pagi sudah harus berangkat kerja. Menghindari macet adalah alasan kenapa harus berangkat pagi sekali. Karena berangkat lewat pukul 6, beresiko terlambat masuk kantor. Hanya sempat berucap, "Mamah berangkat dulu, ya." Atau malah gak sempat mengucapan apa-apa karena anak-anaknya baru bangun atau sedang di kamar mandi.

Pulangnya paling cepat sampai rumah pukul 9 malam. Waktu dimana anak-anaknya sudah bersiap untuk tidur. Bisa dikatakan dalam sehari belum tentu ada komunikasi antara ibu dan anak. Kuantitas komunikasi lebih banyak dilakukan anak dengan asisten rumah tangga yang sudah mengasuh sejak kecil hingga si anak dewasa. Asisten rumah tangga ini sangat telaten dan setia. Mungkin sesuatu yang langka mencari asisten seperti ini di zaman sekarang.

Ketika hari weekend tiba, biasanya ibu ini akan mengajak anak-anaknya ke mall. Belanja atau hanya sekadar makan bersama. Memangnya ibu ini gak bisa masak? Ho ... Ho ... Jangan salah. Ibu ini pintar masak. Gak hanya memasak, menjahit pun jago. Ketika anak-anaknya masih kecil, semua bajunya gak ada yang beli di toko. Semua hasil jahitan ibu ini. Sempat berhenti menjahit karena anak-anaknya sudah mulai memilih baju sendiri. Sekarang ketrampilan menjahitnya kembali diasah karena setelah resign mulai membuka usaha jahit kecil-kecilan sekadar mengisi waktu.

Ibu ini adalah Mamah Chi. Yup! Kalau secara kuantitas, mungkin tidak sebanyak anak-anak lain yang ibunya di rumah. Bahkan Chi lebih banyak berinteraksi dengan asisten rumah tangga yang Chi sebut Bi Enoh. Tapi, tetep aja Chi menganggap beliau mamah. Mamah Chi yang (dulunya) seorang karyawan. Gak pernah sedikitpun Chi berpikir apakah mamah lebih pantas disebut karyawan atau ibu? Atau berpikir mamah Chi adalah bi Enoh karena sehari-hari lebih banyak bersamanya. Enggak sampe segitunya, lah, yaaa ... Mau 3 jam, 8 jam, atau seminggu sekali,  ibu tetaplah ibu.

Lagipula yang mamah lakukan itu bukan keluyuran gak jelas. Chi memang gak pernah sekalipun bertanya kenapa mamah harus bekerja. Tapi, Chi cukup tau kalau yang mamah lakukan juga pasti untuk keluarga. Papah juga gak keberatan kalau mamah bekerja.

Itulah kenapa Chi juga gak pernah mau berdebat dengan urusan ibu bekerja vs ibu rumah tangga. Lha, Chi ini kan anak dari seorang ibu yang bekerja. Kalau Chi anggap ibu bekerja itu gagal, berarti Chi menyesal dengan kehidupan Chi sekarang. Nyatanya Chi happy aja, tuh. Kalaupun pilihan Chi sekarang menjadi ibu rumah tangga pastinya karena sudah ada pertimbangan sendiri tanpa menyalahkan pilihan yang bersebrangan.

Jadi, kenapa sih kita harus mengkotak-kotakkan peran ibu? Jujur aja, Chi gagal paham hehehe. Bahkan ada peran-peran pekerja perempuan yang bikin kita nyaman, kan? Contohnya, nih, peran dokter kandungan perempuan. Hayo, yang merasa lebih nyaman diperiksa kandungannya oleh SPOG perempuan ikut menyalahkan perempuan pekerja, gak? Atau sekarang, kan, ada ojek khusus perempuan, tuh. Gimana tanggapannya kalau begitu? Hehehe ...

Tapi, saran Chi, sih, kalau ada yang mengkotak-kotakkan seperti itu mendingan cuekin aja. Mom's war (dan laki-laki juga ada yang memicu. Contohnya yang tweet itu hahaha) akan berhenti kalau kita gak ikutan terjun ke dalamnya. Cuekin aja, lah, walaupun hati panas. Pengalaman Chi lebih baik lihat ke diri sendiri. Lihat juga ke wajah (perasaan) anak-anak. Hanya kita yang bisa mengukur kebahagian diri sendiri.

Chi udah mengalaminya. Ketika ada yang berkomentar miring tentang ibu pekerja, Chi melihat diri sendiri. Anak dari seorang ibu pekerja. Chi baik-baik aja, kan? Ketika ada yang berkomentar miring tentang ibu rumah tangga, maka Chi akan melihat anak-anak. Selama Keke dan Nai masih butuh ibunya berarti gak masalah hahaha. Udah, lah, mendingan dibawa happy aja :)