Perlukah uang jajan untuk anak? Sebelum membahas perlu atau tidak, disamakan dulu pengertian tentang uang jajan, ya. Menurut Chi, uang jajan itu adalah uang yang memang hanya untuk jajan. Ya, boleh aja, sih, kalau uang jajan itu ditabung. Tapi hitungan uang jajan gak termasuk uang transport. Karena pernah beberapa kali ada obrolan tentang uang jajan, ternyata setelah uang jajannya dirinci, di dalamnya udah termasuk transport.

Perlu atau tidaknya anak diberi uang jajan itu tergantung alasan masing-masing orang tua. Chi gak sependapat kalau semakin mahal biaya sekolah, maka akan semakin besar uang jajannya. Ada anak yang bersekolah di sekolah mahal, tapi malah gak pernah dikasih jajan. Begitu juga sebaliknya, sekolahnya gak mahal tapi setiap hari anaknya jajannnya banyak. Keke dan Nai, masing-masing uang jajannya hanya Rp10.000,00/minggu. Itupun kadang-kadang mereka masih bisa nabung.

Kenapa Keke dan Nai uang jajannya segitu? Trus bagaimana mereka bersikap ketika tahu ada beberapa temannya yang mendapat uang jajan besar setiap harinya?


Membawa Bekal ke Sekolah


Setiap hari Keke dan Nai bawa bekal ke sekolah. Masing-masing bawa 2 bekal yang dimasukkan ke dalam lunch box. Isi bekal bisa berubah-ubah. Dulu, Keke wajib bawa nasi untuk 2 bekalnya. Sekarang, dia udah gak mau. Keke maunya 1 bekal berisi nasi (bisa juga diganti dengan pasta atau mie). Bekal kedua berisi roti atau camilan lainnya. Membawakan bekal yang isinya mereka suka itu penting, supaya mereka gak merasa terpaksa.

Di sekolah Keke dan Nai memang ada kantin. Catering juga ada. Tapi setelah dihitung-hitung, sepertinya lebih irit bawa bekal. Walopun itu berarti Chi gak bisa santai setiap pagi karena harus menyiapkan bekal. Sekarang masih mending, sih, karena bekalnya udah gak dibento lagi hehehe.


Belajar Bertransaksi


Sebetulnya, dengan dikasih bekal setiap hari maka Keke dan Nai udah gak perlu uang jajan lagi. Tapi, Chi tetap kasih supaya mereka belajar bertransaksi. Belajar bertransaksi itu juga penting, lho. Pertama kali mereka diminta untuk bertransaksi sendiri, masih menolak karena malu. Udah gitu di awal-awal masih suka bingung sama uang kembalian. Pokoknya berapapun uang kembalian yang dikasih penjual, mereka terima aja. 


Kasih Penjelasan Hingga Mereka Mengerti


Ada beberapa teman Keke dan Nai yang memang dikasih uang jajan besar. Chi rutin kasih pengertian ke Keke dan Nai kenapa uang jajan mereka gak besar. Ajak mereka berdiskusi karena biasanya kalau cuma dikasih penjelasan masih kurang. Setidaknya begitu buat Keke dan Nai yang memang rajin bertanya :D


Jangan Mudah Iri dan Jangan Mudah Terima Gratisan Apalagi Sampai Meminta-minta


Walaupun mereka mengerti kenapa gak setiap hari mendapat jajan, tapi bukan berarti mereka gak bisa iri. Namanya juga manusia. Chi ingatkan mereka untuk jangan mudah iri ketika melihat temannya mendapatkan uang jajan yang jauh lebih banyak dari mereka. Ajarkan juga mereka mendapatkan jawaban yang tepat bila suatu saat ada temannya yang bertanya kenapa uang jajan mereka gak banyak.

Meminta-minta kepada teman, sangat Chi larang. Kalau memang mereka butuh uang jajan lebih, sebaiknya ngomong sama orang tua tapi sambil berikan alasan yang bisa diterima. Keke dan Nai pernah beberapa kali mencoba, tapi setelah dipertimbangkan, kami merasa uang jajan yang sekarang sudah cukup. Dan, mereka pun mengerti.

Ada beberapa temannya juga yang dengan mudah mentraktir. Keke dan Nai biasanya suka cerita kalau ditraktir temannya. Chi gak melarang tapi mengingatkan untuk selalu mengucapkan terima kasih. Chi juga mengimbau ke Keke dan Nai untuk tidak terus-terusan menerima traktiran apalagi dari teman yang sama. Tidak bermaksud berprasangka buruk, tapi memang sebaiknya jangan dilakukan. Sesekali Keke dan Nai juga harus bisa menolak bila ada temannya yang mau traktir. Walopun ada pepatah yang mengatakan 'Gratisan itu enak' :D


Jualan


Walopun gak sering, kadang mereka jadi kreatif untuk mendapatkan uang jajan. Keke pernah belajar jualan di sekolah, begitu juga Nai. Beberapa temannya juga ada yang begitu. Bahkan sempat menjamur sampai akhirnya sekolah membatasi kalau barang yang dijual maksimal hanya seharga Rp10.000,00 itupun dilakukan di jam tertentu. Gak boleh mengganggu kegiatan belajar-mengajar. Bagus, sih, mereka pada punya semangat untuk berjualan. Chi paling ingetin aja untuk gak berjualan yang aneh-aneh (walopun belum pernah kejadian, tapi tetap wajib diingatkan) atau gak maksa teman-temannya untuk beli.

Jadi memang perlu atau tidaknya memberi uang jajan kepada anak-anak itu kembali ke alasan masing-masing. Chi pengennya, sih, anak-anak setiap hari bawa bekal. Tapi kembali lagi semuanya tergantung kondisi.

Kayak Chi dulu waktu masih sekolah setiap hari dikasih uang jajan. Pas SMA malah lebih sering memilih bawa bekal walopun dikasih uang jajan. Kuliah mulai jajan lagi. Tapi sejak SMA, Chi mulai minta jajan bulanan bukan harian. Ya, itung-itung belajar mengatur pengeluaran, lah. Mungkin Keke dan Nai juga akan mengalami berbagai perubahan untuk urusan uang jajan. Tapi untuk saat ini, uang jajan Rp10.000,00/minggu itu udah cukup, lah. :)

Senengnya, tuh, ketika saatnya mereka dapat uang jajan, senengnya kelihatan banget. Mungkin karena mereka gak setiap hari terima uang jajan, jadi begitu dapet uang kelihatan senengnya. Udah kayak orang dewasa kalau abis terima gaji kayaknya hahaha.