Menonton televisi bukanlah suatu aktivitas yang kami larang untuk Keke dan Nai. Kami lebih memilih membatasi dan mengontrol. Membatasai jam menonton. Jangan sampai dalam sehari bisa berjam-jam menonton televisi. Mengontrol tayangan apa aja yang boleh atau dilarang untuk ditonton.

Bicara tentang memilih tontonan anak, kami juga punya beberapa kriteria tontonan yang boleh atau dilarang. Kriteria ini belum tentu sama di setiap rumah tangga. Karena setiap orang tua pasti punya kriteria dan standar masing-masing.

Kami menjauhkan sinetron dari anak-anak. Gak terang-terangan melarang tapi kami alihkan dengan totonan atau aktivitas lain yang lebih menarik. Kalau sekarang, sih, Keke dan Nai udah mengerti kenapa mereka tidak dibiasakan menonton sinetron.
Dulu, pernah ada teman yang mengkritik karena Chi pernah cerita kalau Keke dan Nai suka nonton kartun Tom & Jerry. Menurut teman Chi, kartun Tom & Jerry mengandung kekerasan. Kalau anak-anak sampai meniru, bagaimana? Chi gak membantah tapi diam-diam berpikir. Waktu kecil, Chi cukup akrab dengan tayangan Tom & Jerry, Power Ranger, Ksatria Baja Hitam, dan lain sebagainya. Tapi, kenapa Chi gak meniru adegan berantemnya? Nonton ya nonton aja ...

Makanya Chi masih membolehkan Keke dan Nai nonton Tom & Jerry. Bahkan Oggy and The Cockroach. Tapi didampingi dan rutin dikasih tau. Kalau yang mereka tonton itu hanya hiburan, bukan untuk dicontoh. Alhamdulillah hingga saat ini Keke dan Nai tidak mencontoh adegan kekerasan atau bullyingnya.

Tontotan yang katanya aman untuk anak-anak pun gak serta-merta Chi langsung setuju. Teletubbies contohnya. Ketika Keke berusia batita, dia cukup sering menonton Teletubbies. Menurut Chi ini tayangan yang anak-anak banget. Cocoklah buat usia Keke saat itu. Gak cuma sebagai hiburan, Teletubbies juga tayangan yang mengedukasi dengan cara sederhana. Hanya saja buat kami kekurangannya adalah Teletubbies suka menggunakan bahasa bayi ketika berbicara.

Awalnya kami mengabaikan hal itu. Kami pikir mungkin sengaja berbahasa bayi karena segmennya anak batita. Tapi, lama-lama Keke ngikutin cara tokoh Teletubbies ngomong. Yang tadinya udah mulai lancar beberapa kosa kata, jadi kayak bayi lagi. Udah Chi ajarin tapi tetep aja ngikutin gaya Teletubbies ngomong.

Karena terus ikut-ikutan, Chi pun harus mengganti tontonan Keke. Dia jadi sering nonton Barney. Chi pilih yang dubbing bahasa Indonesia supaya Keke terlatih untuk berbicara. Alhamdulillah berhasil. Kosa kata Keke semakin lengkap sejak dia suka nonton Barney dan Sesame Street.

Sempat merasa aneh juga. Keke dan Nai gak mudah terpengaruh dengan adegan kekerasan ala Tom & Jerry. Tapi dengan mudah Keke terpengaruh dengan bahasa bayi ala Teletubbies. Bahkan Chi sampai harus menghentikan nonton Teletubbies. Dan ketika Nai lahi, gak ada Teletubbies lagi di rumah hehehe.

Ya, mungkin karena setiap anak punya karakter masing-masing. Sebagai orang tua, harus belajar paham sama karakter anak. Itulah kenapa Chi katakan kalau kriteria dan standar memilih tontonan memang bisa berbeda-beda.

Memang penting untuk mencari referensi tontonan apa yang baik buat anak. Chi pun masih melakukannya sampai sekarang. Misalnya kalau mau ajak Keke dan Nai menonton bioskop. Tapi tetep aja keputusan ada di tangan masing-masing orang tua.

Bagaimana dengan teman-teman? Tontonan apa yang suka ditonton anak-anak di rumah? Selamat memilih tontonan anak :)